Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Tes Kerja


__ADS_3

Satu bulan sudah Asiyah menganggur di rumah. Hanya kuliah pada malam hari saja kesibukannya saat ini. Siang harinya setelah menyebar lamaran pekerjaan, Asiyah membantu Umi di rumah mengemas kerupuk dan keripik jualan Umi.


Krrsseekk.. kkrresseekk.. suara plastik kemasan kerupuk yang sedang dikerjakan oleh Asiyah pengemasannya. Sedikit lagi selesai. Asiyah bisa mencari informasi lagi mengenai lowongan pekerjaan yang baru.


Memang, tidak dapat dipungkiri bagi Asiyah, walau rasanya berat saat ini menjalani hari-hari tanpa sebuah pekerjaan tapi rasa takut yang seringkali tiba-tiba datang karena ulah Pak Tomi dan rekan kerjanya dirasakan berkurang. Rasa tenang mulai sedikit demi sedikit belajar untuk kembali merasuk ke dalam dirinya.


Dulu, hampir setiap malam bayangan itu datang. Sekelibat kejadian demi kejadian yang tidak Asiyah harapkan di kantor itu kadang muncul tiba-tiba tanpa bisa Ia kendalikan.


"Astaghfirullah.." seketika Asiyah terbangun dari tidurnya di tengah malam yang sepi kala alam bawah sadarnya mengingatkan dirinya akan hal-hal yang tak menyenangkan di kantor itu. Dan setiap kali itu pula lah, Asiyah seketika berwudhu dan sholat meminta pertolongan dan perlindungan pada Allah agar senantiasa menjaga dirinya kapan pun dan dimana pun berada.


"Ya Allah.. ya Rahman.. ya Rahim.. hamba serahkan segalanya hanya kepada-Mu ya Allah, hamba pasrahkan hidup dan mati hamba hanya kepada-Mu, hamba memohon pertolongan serta perlindungan dari sisi-Mu ya Allah, hamba sungguh sangat tidak berdaya tanpa pertolongan-Mu, maka tolonglah hamba ya Allah, berilah ketenangan pada jiwa hamba, berilah ketenangan pada hati dan pikiran hamba, berilah hamba jalan keluar dari segala permasalahan yang sedang hamba hadapi, hanya kepada-Mu lah hamba memohon ya Allah, hanya kepada-Mu lah hamba meminta. Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah wa qina 'adzabannar. Allahumma sholli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad."


Begitulah do'a yang selalu dipanjatkan Asiyah, ketika Ia terbangun karena kegelisahannya. Berulang-ulang.


Memang tidak berkurang sedikit pun dari tubuh Asiyah selepas Ia keluar dari kantor Pak Tomi. Memang Allah masih melindunginya dari berbagai niat para lelaki yang tak mengenal batas itu. Beralasankan syariat, namun ujungnya memaksa dengan jalan yang menyimpang. Mereka ingin menikahi Asiyah 'katanya' mengatasnamakan agama, tapi tidak memenuhi tata cara dan syarat yang ditentukan oleh agama.


Asiyah tak menyangka bisa berada dalam situasi serumit ini.


Betapa Asiyah tak pernah tergoda dengan tawaran berpacaran dari lawan jenisnya. Karena pacaran bukanlah hal yang menjadi ujian baginya. Tetapi Maha Kuasa Allah yang punya cara lain untuk mengujinya dengan lawan jenis, melalui berbagai tawaran kemewahan harta yang diterimanya, segenap harga diri dan imannya dipertaruhkan untuk melawan itu semua.


Di tengah tekanan perekonomian yang menghimpit keluarganya, Allah datangkan mereka sebagai ujian bagi dirinya.


Tapi begitulah Asiyah. Allah karuniakan pada dirinya, akhlak yang baik, sifat yang cuek pada apa yang tidak ada pada dirinya. Asiyah adalah tipikal perempuan yang fokus pada apa yang Dia miliki, memperbaiki apa yang salah, berusaha melengkapi apa yang kurang, lalu berbagi atas apa yang menjadi kelebihan dan apa yang berlebih yang ada pada dirinya.


Dengan segala problematika yang dihadapinya, Asiyah merasa sangat bertanggung jawab atas kebahagiaan keluarganya. Walau tak dapat dipungkiri, ini lah batas kemampuan dirinya dalam menghadapi segalanya. Untuk saat ini memang tak ada jalan lain, selain memasrahkan diri pada Allah.


Yaa hanya do'a senjata bagi Asiyah saat ini. Pikirannya tengah benar-benar menemui jalan buntu.


Siang ini seperti biasanya, Asiyah membantu Umi mengemas jualannya.


Sedikit lagi selesai Asiyah mengemas kerupuk dan keripiknya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi.


 


“Selamat siang, benar ini dengan saudari Asiyah?”


 


“Benar mbak.”

__ADS_1


 


“Kami dari PT. Berlian Bersinar, Benar saudari Asiyah tanggal 15 Februari kemarin mengirim surat lamaran pekerjaan ke kantor kami?”


 


“Iya Benar mbak.”


 


“Nah.. bisa kah mbak Asiyah melakukan tes kerja sekaligus wawancara hari Senin besok tanggal 10 Maret pukul 08.00 pagi bertempat di kantor kami, PT. Berlian Bersinar?”


 


“Bisa mbak, bisa.. Saya akan datang tepat waktu,” ucap Asiyah sigap.


 


“Oke kami tunggu kedatangannya ya mbak, terima kasih, selamat siang.”


 


“Iya mbak, terima kasih kembali, selamat siang.”


 


 


Melompat-lompat. Girang dan sangat bersemangat. Melupakan kerupuk dan keripiknya tadi. Sejak saat Asiyah berhenti kerja dari kantor Pak Tomi dua pekan yang lalu, ini adalah kali pertama pancaran kebahagiaan itu terpancar dari wajah Asiyah.


Asiyah langsung memanggil Umi. Berteriak-teriak mengabarkan apa yang baru saja didapatnya.


“Ummmiiiiiii.. Umiiiii....”


Umi berlarian cepat dari kamar mandi menghampiri Asiyah. Umi kaget. Hampir saja terpeleset menginjak lantai dapur yang licin.


 


“Apaaaa Nak, ada apaa..?” tanya Umi panik. Dikiranya ada hal apa yang membahayakan.

__ADS_1


 


“Asiyah dipanggil untuk tes kerja hari Senin besok Umi,” Asiyah antusias sekali. Melompat-lompat memegang erat tangan Umi. Menatap wajah perempuan paruh baya yang masih nampak menawan itu.


 


“Alhamdulillah,” ucap Umi. Umi senyum senang. Sumringah.


 


“Alhamdulillah, do’akan Asiyah lulus ya Umi, mudah-mudahan kali ini kantornya aman, soalnya akan ada tesnya untuk dapat masuk di sana," Asiyah memeluk Umi erat.


 


Hari yang ditunggu-tunggupun tiba. Sesuai dengan panggilan tes kerja waktu itu. Pukul 08.00 pagi Asiyah sudah harus berada di PT. Berlian Bersinar.           


 


Pukul 07.30 pagi Asiyah sudah menunggu di kantor. Asiyah tidak mau datang terlambat. Asiyah harus mengatur nafasnya dulu nanti sebelum tes. Harus merapikan pakaiannya dulu, bercermin memperbaiki kerudungnya dan lain sebagainya.


 


Asiyah masuk ke ruangan tes. Gugup.


 


Kali ini Asiyah benar-benar di hadapkan dengan lembaran kertas soal-soal psikotes. Bukannya takut justru Asiyah malah bersyukur, berarti Asiyah berada di tempat yang benar. Kantor yang profesional. Kantor yang benar-benar mencari staf untuk bekerja di perusahaan ini, bukan kantor yang mencari istri ke dua untuk bosnya.


Seperti kantornya yang dulu.


Tes yang cukup melelahkan.


Dua jam juga prosesnya. Tes tertulis dan wawancara.


Hampir patah jari-jari tangannya tadi rasanya. Hampir copot rasa jantungnya tadi saat wawancara.


Tapi Asiyah merasa senang, karena memang pekerjaan yang didapat dari tes seperti ini yang Ia harapkan.


Setelah selesai mengikuti tahapan demi tahapan tes, Asiyah disuruh menunggu satu pekan lagi untuk kabar diterima atau tidaknya Ia bekerja di kantor ini.

__ADS_1


 


Asiyah harus bersabar. Walau panik itu tetap ada. Menunggu kabar ini adalah hal yang sangat mendebarkan bagi Asiyah.


__ADS_2