Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Harapan Baru


__ADS_3

Siang ini tampak sangat terik sekali mataharinya. Di luar cuacanya sangatlah panas. Di dalam rumah Asiyah memang tidak ada AC karena biaya listriknya lumayan mahal, tidak mungkin rasanya jika harus mengeluarkan uang hanya untuk membayar listrik saja sementara untuk makan saja Asiyah dan Umi harus menyisihkan uang sedikit demi sedikit dari usaha mereka.


Tapi tak apalah, toh di rumah juga ada kipas angin. Asiyah sudah membeli kipas angin dari gajinya saat bekerja di kantoran dulu. Lumayan juga untuk mengademkan diri dengan angin yang dihasilkannya.


Pukul 01.00 siang.


Asiyah hanya menonton televisi di rumah bersama Umi.


Ali dan Aisyah tidur siang di dalam kamarnya. Seperti biasa, mereka berdua beristirahat setelah seharian lelah belajar di sekolah dan juga karena capai bermain.


Ttookk.. ttookk.. ttookkk.. "Assalamu'alaykum, selamat siang," terdengar suara dari depan pintu rumah Asiyah. Ada seseorang yang datang sepertinya. Seorang tamu.


"Wa'alaykumussalam," jawab Umi sedikit berteriak. Umi bergegas membuka pintu depan rumahnya. Mengecek siapa tamu itu.


"Maaf Bu, apa benar ini rumahnya Asiyah?" bertanya pada Umi. Lelaki itu sembari menunjukkan foto Asiyah yang beredar disurat kabar pada saat kasus pemfitnahannya di restoran waktu itu.


"Iya betul ini rumahnya Asiyah," jawab Umi. Sedikit heran saat bertemu lelaki itu, apalagi saat Ia menunjukkan foto Asiyah disurat kabar itu.


"Siapa Mi?" tanya Asiyah dari depan pintu kamarnya. Ia segera bersiap untuk masuk ke kamarnya, hendak memakaikan kerudung di kepalanya seketika Umi membukakan pintu rumah tadi.


Umi menghampiri Asiyah. Meninggalkan lelaki itu sejenak di depan pintu. "Tidak tahu Umi, katanya mencari Kamu Nak, laki-laki, gayanya aneh, ayo kita temui, kita tanya maksud kedatangannya," jelas Umi, mengajak Asiyah.


"Iya Mi, Asiyah pakai kerudung dulu sebentar," Asiyah bergegas menyempurnakan hijab yang telah dipasang di kepalanya. Menutup auratnya.


Kini Asiyah dan Umi tengah berhadapan dengannya. Seorang tamu laki-laki. Gayanya seperti anak-anak gaul kebanyakan. Anak-anak yang terbawa arus mode penampilan pada zamannya.


Rambutnya berwarna merah terang, disisir rapi ke kanan. Mukanya putih bersih, licin sekali. Sepertinya ongkos perawatan kulitnya mahal. Seakan lalat saja akan terpeleset jika mampir di kulitnya. Pakaiannya oke, juga nampak mewah dan mahal, terlihat dari merknya yang menjuntai keluar di sela-sela jahitan kain itu. Merk luar negeri.


Subhanallah.. mau apa laki-laki ini mencari Asiyah? Pikir Umi dan Asiyah dalam hati. Pemikiran mereka kompak dengan pertanyaan yang sama.


Laki-laki itu masih menunggu di luar. Melihat-lihat keadaan di sekitaran rumah. Mencolekkan jari telunjuknya ke jendela depan rumah, lalu dirasakannya dengan menggosokkan debu pada jari telunjuk itu ke jari jempolnya, kemudian meniupnya dengan gaya yang angkuh.

__ADS_1


Entah apa yang sebenarnya sedang Ia lakukan. Apa maksudnya melakukan hal-hal seperti itu di rumah Asiyah.


Umi menpersilahkan lelaki itu masuk ke dalam rumah. Asiyah mengikuti.


"Ayo mari Pak, silahkan masuk dulu, sepertinya ada hal penting ya? Mari kita bicarakan di dalam saja," ucap Umi seraya mengisyaratkan telapak tangan kanannya mengarahkan lelaki itu masuk ke dalam rumah. Sopan.


"Iya Bu, terima kasih, Saya hanya sebentar, tidak lama," jawab lelaki itu dengan senyum ramahnya.


Melangkahkan kaki masing-masing, berjalan masuk ke dalam rumah menuju ruang tamu. Kini mereka duduk berhadapan di kursi ruang tamu itu.


"Jadi begini Bu, Saya Sendi dari manajemen artis, Saya berniat mengajak Asiyah untuk bergabung di manajemen artis milik Saya, dengan kontrak kerja resmi berbadan hukum pastinya, Ibu bisa melihat kartu nama Saya," jelas Sendi dengan singkat dan cepat seraya mengulurkan kartu namanya pada Umi.


Umi menyambut kartu nama itu dengan tangannya.


Asiyah memperhatikan dan turut memeriksa kartu nama itu bersama Umi.


"Artis apa maksudnya Pak? Dan kontrak kerja bagaimana maksudnya? Saya kurang paham," tanya Asiyah yang tampak bingung.


Asiyah masih diam. Ragu dengan perkataan lelaki itu.


"Asiyah tenang saja, jangan khawatir, Saya sudah menyiapkan kontrak kerjasama kita, Saya yakin Asiyah tidak akan menolak tawaran Saya, Asiyah bisa baca-baca dulu, Saya tunggu hasil keputusannya besok di kantor Saya, dengan menyerahkan surat kontrak ini yang sudah Kamu tanda tangani," jelas Pak Sendi sembari menyerahkan surat kontrak kerja sama itu pada Asiyah.


Asiyah menyambutnya dengan tangannya, masih dengan rasa ragu di wajahnya namun penuh harap.


Umi tampak serius. Seperti agak mencurigai Pak Sendi, tapi berusaha menutupi pikirannya dari Asiyah. Bisa jadi ini hanyalah perasaannya saja. Tidak boleh berpikir negatif terlalu cepat. Toh Pak Sendi telah menunjukkan identitasnya. Juga bersikap sopan sedari tadi.


"Baiklah, Saya rasa semuanya sudah jelas, Saya masih ada urusan di tempat lain, terima kasih sudah menerima kedatangan Saya dengan baik yaa, Umi, Asiyah, Saya permisi dulu," Pak Sendi berdiri dari kursi. Terburu-buru. Sepertinya memang ada hal lain yang harus dikerjakannya. Dan urusan dengan Asiyah kali ini memang sudah selesai. Hanya ingin menyampaikan perihal itu saja.


"Ohh iya, Asiyah bukannya mempunyai adik kembar yaa? Di mana mereka?" tanya Pak Sendi seraya membalikkan badannya hanya untuk bertanya perihal itu saja.


"Hhmm.. iya Pak, Aisyah dan Ali namanya, mereka ada di dalam kamar, tidur siang," jawab Umi.

__ADS_1


"Iya iya, biasalah yaa jam-jam segini memang waktunya anak-anak tidur siang," Pak Sendi melemparkan senyuman, ramah.


Umi dan Asiyah melepas kepergian Pak Sendi dengan penuh pengharapan akan kebenaran ucapannya. Umi dan Asiyah menunggui kepergian Pak Sendi sampai Ia benar-benar menghilang dari pandangan mereka.


Walaupun penampilannya tampak seperti anak-anak muda, tetapi wibawanya dalam bersikap tetap terjaga sebagai seseorang yang memiliki sebuah nama yang cukup besar, jika dilihat dari kartu namanya tadi. Asiyah dan Umi saja sampai terkagum melihatnya. Yaa secara otomatis rasa hormat itu muncul untuk Pak Sendi.


Kembali masuk ke dalam rumah. Umi dan Asiyah segera membaca isi surat kontrak kerja sama yang diberikan Pak Sendi tadi.


"Maa syaa Allah, Umiiii.. Asiyah tidak salah lihat ini kan? Satu milyar Mi! Uang sebanyak ini bisa untuk melunasi hutang kita pada Pak Subroto dan juga melunasi cicilan rumah ini, bahkan dengan uang ini kita juga bisa membiayai sekolah Aisyah dan Ali sampai selesai Mi," ucap Asiyah antusias. Betapa terkejutnya Ia. Hampir copot rasa jantungnya melihat nominal angka yang tertera di kontrak kerja sama itu.


"Coba, mana Umi lihat," Umi segera mengambil berkas itu dari tangan Asiyah. Membacanya teliti.


"Maa syaa Allah, ya sudah tandangani saja Nak, besok in syaa Allah Umi temani Kamu ke kantor Pak Sendi, ini adalah rezeki dari Allah, Allah telah menjawab do'a-do'a kita Nak," tanpa pikir panjang Umi berkata seperti itu. Seakan Ia mempercayai Pak Sendi 100% setelah melihat nominal angka yang besar tadi.


"Aamiin ya rabbal'alamin, iya Umi," Asiyah segera mempersiapkan segala keperluannya untuk menemui Pak Sendi besok pagi bersama Umi. Tak lupa berkas kontrak kerja sama itu langsung ditanda tanganinya.


Satu jam berlalu. Asiyah telah siap dengan segala perlengkapannya esok hari.


Tiba-tiba Asiyah keluar dari kamarnya dan segera menemui Umi yang sedang menonton televisi.


"Mi, apa Umi yakin, besok kita tetap akan pergi menemui Pak Sendi?" Asiyah sedikit cemas. Tampaknya sedari tadi di dalam kamar Ia telah berpikir panjang akan keputusannya ini.


"Kenapa memangnya Nak? Tidak apa-apa, kita percaya saja yaa, nggak ada salahnya mencoba kan?" Umi tersenyum pada Asiyah. Walau rasa takut itu juga ada pada pikiran Umi.


"Asiyah takut kena tipu Mi, bisa saja kan, lelaki itu mengetahui keadaan kita yang sedang dalam masa sulit ini, lalu Ia mengambil kesempatan akan hal itu?" duga Asiyah dalam kecemasannya. Asiyah benar-benar merasakan ketakutakan.


"Sudah sudah, percaya saja pada Umi, besok kan kita perginya sama-sama, jadi, kalau besok ada hal-hal yang dirasa mencurigakan, kita batalkan semuanya yaa, bereskan?" jelas Umi. Dengan penuh keyakinan menenangkan Asiyah.


"Iya Mi," Asiyah mengangguk. Kembali ke kamarnya. Meninggalkan Umi di depan televisi.


Pokoknya, Asiyah harus tetap semangat berikhtiar. Kapan lagi Asiyah bangkit? Kalau bukan ini saatnya mencoba lagi. Dilihatnya Ali dan Aisyah yang sedang terlelap dari tidur siangnya. Demi mereka, yaa.. semua demi mereka. Bismillah..

__ADS_1


__ADS_2