
Ranjang rumah sakit berlari untuk ke dua kalinya.
Grajakk.. grujukkk.. grajakk.. grujuukk.. Suara roda ranjang itu bergetar. Asiyah terbaring lemah tak sadarkan diri di atasnya.
"Asiyah, bangun Nak, Asiyah.." ucap Umi berulang kali berusaha menyadarkan Asiyah. Lirih, dengan air mata yang berderai.
Umi menangis sepanjang jalan. Sudah satu jam Asiyah masih belum sadarkan diri.
Lari kaki-kaki itu berhenti di sebuah unit gawat darurat rumah sakit.
Umi menunggu di luar ruangan. Sementara Asiyah segera ditangani oleh para perawat dan dokter yang bertugas di sana.
Alhamdulillah, setengah jam berlalu. Setelah diperiksa dokter serta diberikan obat-obatan, Asiyah sadar.
Kata dokter Asiyah terlalu banyak pikiran dan memang sudah dua hari Asiyah tidak makan. Nanti Asiyah sudah bisa pulang. Tunggu cairan infusnya habis dulu masuk ke tubuhnya.
Alhamdulillah, Umi lega. Umi duduk di sebelah Asiyah.
Asiyah masih berbaring lemah di ranjangnya.
Umi duduk di sebelah Asiyah, memegang tangan anak gadisnya itu. Diciumnya kedua pipi Asiyah. Umi menangis.
Asiyah juga meneteskan air matanya.
"Kenapa Nak? Kenapa tidak makan?" tanya Umi lirih.
"Asiyah lupa Umi, Asiyah selalu terbayang wajah Umi, Asiyah tidak mau Umi membenci Asiyah," Asiyah meneteskan air matanya. Ucapannya pelan, terbata-bata.
"Mana mungkin Umi membenci anak sholehah Umi Nak, Asiyah itu anak pembangkit rumah tangga Umi dan Abi, kehadiran Asiyah yang melengkapi kebahagiaan Umi dan Abi untuk pertama kalinya Nak," jawab Umi seraya memeluk kepala putri sulungnya itu. Mengecupnya. Lembut.
“Umi, Asiyah mohon, mengertilah Umi, sabaarrr..” ucap Asiyah lirih. Matanya berkedip satu kali. Pelan. Sudut matanya basah. Air mata kesedihan itu mengalir. Asiyah tengah dalam kekecewaannya pada Umi.
“Iyaa.. Nak.. maafkan Umi yaa,” Umi mencium tangan Asiyah. Diciumnya kening dan pipi Asiyah lagi.
Kini, Umi sadar akan kesalahannya. Umi sadar Asiyah lebih berharga dari pada kemewahan yang didambanya. Umi sadar selama ini Ia hanya terpedaya oleh kemewahan yang ditawarkan oleh Pak Tomi.
Sebenarnya juga Umi percaya pada Asiyah, tidak mungkin Asiyah melakukan kesalahan pada Pak Tomi hingga menyebabkan kerugian mencapai satu milyar. Umi gelap mata. Walau bagaimanapun Umi hanyalah manusia biasa yang bisa saja khilaf dan terperdaya dalam godaan. Dulu Abi senantiasa dengan sabar membimbing Umi, tapi sekarang, Umi bak hilang arah jika tiba godaan datang pada dirinya.
Umi dan Asiyah telah tiba di rumah.
Mereka segera mencari solusi atas permasalahannya dengan Pak Tomi. Secepat mungkin menyusun rencana sepulangnya mereka dari rumah sakit, bagaimana caranya menghadapi Pak Tomi nantinya.
Ponsel Umi berbunyi. Pak Tomi mengirim pesan. Malam ini ba’da maghrib, Pak Tomi akan ke rumah untuk menemui Umi dan Asiyah, tidak sabar mendengar kabar baik untuknya, katanya begitu. Dengan penuh percaya diri. Karena dilihatnya waktu itu, Umi sudah termakan dengan rayuannya untuk menikahkannya dengan Asiyah.
__ADS_1
“Umi siap?” tanya Asiyah, seketika setelah menerima telepon dari Pak Tomi.
“In syaa Allah, Umi siap. Asiyah siap?” tanya Umi balik.
“In syaa Allah Asiyah juga siap Umi,” mereka saling menatap. Senyum licik.
Ba’da maghrib. Jam dinding menunjukkan pukul tujuh. Pak Tomi belum juga datang. Adzan isya berkumandang. Asiyah dan Umi sholat dulu. Sudah jam sepuluh malam. Asiyah dan Umi sampai lelah dan ketiduran di sofa ruang tamu menunggu Pak Tomi. Benar-benar tidak tepat waktu. Lelaki seperti ini yang mau dipercayai ucapannya. Tidak tepat janji.
Tookk.. tokk.. tookk.. “Assalamu’alaykum.” Suara mengetok pintu dari luar. Suara laki-laki mengucapkan salam.
Asiyah dan Umi terbangun dari tidur yang baru dimulainya. Mereka segera mengintip dari tepi gordent jendela. Walau rasanya malas sekali karena sudah sangat berat rasanya mata mereka saat ini.
Ternyata ada seorang pria di depan pintu. Siapa? Asiyah tidak mengenalinya. Bukan Pak Tomi.
Umi membukakan pintu. Berdiri di hadapan pria itu.
Asiyah yang berdiri di belakang Umi, turut menatap aneh pada pria yang tak dikenalnya ini. Mau apa pria ini datang malam-malam begini bertamu ke rumahnya?
Tiba-tiba muncul Pak Tomi di belakangnya. Tersenyum. “Maaf Saya terlambat, tadi ada urusan sedikit, Ini teman Saya," ucap Pak Tomi seraya memperkenalkan lelaki yang mengetuk pintu tadi pada Umi.
Asiyah mengikuti di belakang.
Kini.. Pak Tomi dan temannya juga Umi dan Asiyah, mereka berempat duduk di sofa ruang tamu. Suasana tampak sangat serius. Mencekam.
“Jadi..??” Pak Tomi menatap Asiyah. Senyum percaya diri.
Asiyah menundukkan pandangannya dari Pak Tomi.
“Maaf Pak, kami menolak tawaran itu,” tegas Umi.
"APA?! Bukankah kita sudah sepakat waktu di cafe itu, bukankah Ibu sudah berjanji akan membuat Asiyah mau menikah dengan Saya?!” Pak Tomi tiba-tiba saja marah. Dan dengan spontannya membentak. Apa ini akhlak sebenarnya Pak Tomi? Kasar.
__ADS_1
“Maafkan Saya Pak, setelah Kami pikir.....”
Belum selesai ucapan Umi, Pak Tomi memotong.
“Tidak bisa! Kalau begitu Asiyah akan Saya penjarakan dan harus mengganti kerugian sebesar satu milyar! Kalian sudah membuat Saya menunggu sia-sia, kalian sudah mempermainkan Saya!” Pak Tomi memotong ucapan Umi. Meluapkan amarahnya. Pak Tomi telah merasa dipermalukan. Dijatuhkan harga dirinya oleh Umi dan Asiyah. Benar-benar keluar sifat aslinya Pak Tomi, yang tadinya tampak lembut dan berwibawa, kini berubah menjadi seorang yang arogan.
“Coba saja kalau Bapak berani, mana buktinya? Tidak ada kan! Saya tidak pernah merasa melakukan kesalahan apa pun apalagi sampai merugikan perusahaan senilai satu milyar, Saya tahu sejak awal ini semua hanya permainan Bapak saja agar Saya mau menikah dengan Bapak, lebih baik Bapak pergi dari sini sekarang, kami sudah capek dengan semua ini!” Bentak Asiyah. Asiyah benar-benar marah. Kesabarannya sudah hilang. Lagi-lagi Asiyah menunjukkan sisi manusiawinya, yang juga bisa meledak amarahnya.
“Apa kamu bilang?!” Pak Tomi balik membentak.
“Astaghfirullah, tolong Pak, Saya mohon pergiii..!!! atau kami akan teriak." Asiyah mengancam.
Umi dan Asiyah berdiri dari kursi duduknya.
Pak Tomi dan temannya juga seketika berdiri setelah menatap Asiyah dan Umi yang tampaknya sudah mengeras dalam pendiriannya.
Umi segera mendorong tubuh dua laki-laki itu ke luar rumah mereka. “Cepat pergi!! Jangan pernah kalian menemui kami lagi, kami tidak butuh harta kalian,” Umi menutup pintu rumahnya rapat-rapat seketika kaki mereka selangkah berada di luar rumah. Menguncinya cepat.
“Kurang ajar kalian!!” Pak Tomi memaki dari balik pintu.
“Ayo kita pergi saja,” ucap Pak Tomi pada temannya. Dadanya tampak menghela nafas dengan susah payah. Tak terpikirkan sebelumnya, hal ini yang akan didapatnya malam ini.
Asiyah dan Umi tersengal-sengal. Mereka tertawa di dalam rumah. Melakukan tos tangan.
Lega rasanya. Baru kali ini Asiyah seperti ini. Bersikap kasar. Ini juga berkat dukungan Umi. Asiyah berani membela diri dengan tegas. Lagi pula Asiyah sudah mengundurkan diri dari kantornya Pak Tomi. Jadi, tidak akan bertemu lagi dengan Pak Tomi, in syaa Allah.
Walau kemungkinan buruk lainnya masih menghantui.
Pak Tomi bisa saja mengambil langkah lain untuk membalas Asiyah.
__ADS_1