Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Istri Pak Tomi


__ADS_3

Apa yang dilakukan Pak Tomi pada Asiyah mulai tercium oleh istrinya, Bu Wela.


Bu Wela memang sering sekali ke kantor suaminya hanya untuk bermain-main. Melihat-lihat keadaan di kantor, menghilangkan kejenuhannya di rumah.


Bu Wela memang tidak bekerja, Ia hanyalah IRT. Tetapi pengasuhan kedua orang anaknya ditangani oleh baby sitter. Urusan rumah tangga, seperti memasak, mencuci pakaian dan yang lainnya juga ditangani oleh para pekerjanya.


Bahkan pernah Asiyah melihat Bu Wela menyuruh suaminya hanya untuk menghubungi pihak laundry karena pakaian kotor sudah menumpuk di rumah, dengan wajah yang muram dan nada ketusnya, karena memang saat itu kata Bu Wela, pembantunya sedang izin cuti.


Tetapi keterlaluan sekali rasanya jika seorang istri tidak membantu suaminya dalam urusan rumah tangga sementara Dia sendiri tidak memiliki kesibukan dan udzur lainnya, apalagi cara Bu Wela memerintahkan Pak Tomi seolah-olah Pak Tomi tidak punya harga diri saja sebagai seorang suami.


Padahal Pak Tomi sudah begitu bertanggung jawab dengan segala kemewahan yang diberikannya pada Bu Wela.


Asiyah juga seringkali melihat Bu Wela bersikap kasar pada kedua anaknya. Padahal Asiyah tahu Bu Wela menyerahkan sepenuhnya pengasuhan pada baby sitternya, apa tidak ada rasa rindu ingin memeluk dan menggendong anak-anaknya? Setidaknya bersikaplah halus dan lembut.


Miris rasanya. Seperti tidak ada rasa kasih sayang saja terhadap anak-anaknya.


 


Betapa terkejutnya Bu Wela, saat masuk ke ruangan Pak Tomi. Berdiri di depan meja kerjanya. Dilihatnya Pak Tomi sedang senyum-senyum sendiri memandangi ponselnya.


Saat itu Pak Tomi tidak menyadari kehadiran Bu Wela di belakangnya. Pak Tomi duduk di kursi kebesarannya, memutar kursi itu, menghadap ke dinding.


Bu Wela hanya diam. Pak Tomi memandangi foto Asiyah.


 


Sebenarnya Bu Wela paham betul watak suaminya. Yang kurang handal dalam menahan hasratnya pada perempuan.


Sakit sekali rasa hatinya. Bu Wela pura-pura tidak tahu saja. Berharap sesuatu yang Ia takutkan tidak akan terjadi pada akhirnya.


Suara deheman Bu Wela mengakhiri drama siang ini. “Hhhhhmmm..” suara Bu Wela mengejutkan Pak Tomi.


Pak Tomi segera membalikkan badannya. Menutup ponselnya. Menghilangkan jejak tentang foto Asiyah yang dipandanginya tadi.


 


Bu Wela segera mengambil tindakan. Bagaimanapun Tomi adalah suaminya. Bagaimanapun mereka sudah memiliki dua orang anak. Bu Wela tidak mau dimadu.


Memang Bu Wela sudah banyak mendengar selentingan kabar dari berbagai omongan para stafnya bahwa suaminya ingin menikah lagi. Pak Tomi sedang mencari istri ke dua. Mencari madu untuk dirinya. Apalagi tampaknya kali ini Pak Tomi benar-benar menyukai Asiyah.


Bu Wela juga sedikit banyak mengetahui tentang Asiyah. Asiyah adalah perempuan yang sholeha menurut cerita orang-orang kantor. Latar belakang keluarganya juga baik.


Inilah yang Bu Wela cemaskan. Pak Tomi telah menemukan perempuan yang tepat untuk dijadikan istri ke duanya.


 


Seperti istri-istri pada umumnya. Bu Wela mengambil langkah cepat sebelum terlambat.


 


Bu Wela mendekati Asiyah.


Berusaha masuk ke dalam lingkaran kehidupan Asiyah.


 


Awalnya Asiyah memang tidak menyadari bahwa Bu Wela telah mengetahui kelakuan Pak Tomi yang terus berusaha mendekatinya.


 


Pantas saja jika Bu Wela akhir-akhir ini berusaha mengakrabkan diri pada Asiyah. Menjadikannya sebagai teman dengan perlakuan yang sangat baik. Ternyata ada hal terselubung yang sedang diantisipasinya.


 


Awalnya sih, Bu Wela meminta Asiyah untuk mengantarkannya berbelanja di Mall, tentunya dengan izin atasan Asiyah.


Kata Bu Wela ini harus segera. Kakinya sedang keseleo jadi tidak bisa menyetir mobil sendiri. Bu Wela tidak mau diantarkan oleh supir kantor. Lagian Bu Wela juga biasanya tidak pernah diantarkan oleh supir ke mana-mana. Bu Wela selalu nyetir mobil sendiri.


Asiyah memang bisa menyetir mobil, karena memang dulu Asiyah pernah punya mobil juga yang dibelikan oleh Abi.


Sesekali Asiyah juga lah yang membawa mobil kantor jika ada keperluan yang membutuhkan mobil sebagai kendaraannya.


 


“Kamu tahu Asiyah, teman Saya yang dipoligami oleh suaminya yang Saya ceritakan kemarin sudah meninggal dunia,” kata Bu Wela saat makan siang bersama Asiyah dan Maya di sebuah cafe.


 

__ADS_1


“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un,” ucap Asiyah dan Maya seketika mendengar kabar ini.


 


“Kok bisa Bu? Tanya Maya.


 


“Dia ditabrak menggunakan mobil oleh istri pertama suaminya saat menyeberang jalan,” jawab Bu Wela.


 


“Lalu bagaimana dengan istri pertama suaminya sekarang Bu?” tanya Asiyah.


 


“Dia menghilang, suaminya masih terus mencari keberadaannya hingga saat ini,” ucap Bu Wela.


 


“Astaghfirullah,” Asiyah dan Maya berucap cepat.


 


“Lalu bagaimana dengan anak-anak mereka?” Tanya Maya.


 


“Saya tidak tahu tentang hal itu, yaa semoga semuanya cepat selesai dan tidak ada lagi hal-hal seperti ini yang terjadi, aamiin,” ucap Bu Wela.


Seperti sedang mengancam Asiyah saja. Tegas sekali ucapan Bu Wela.


 


“Aamiin, semoga yaa Bu,” ucap Asiyah.


 


“Aamiin,” sambung Maya.


 


 


Asiyah menjadi sedikit kaku.


Tangannya gemetar saat menyuapi makanan ke mulutnya. Sendok dan piring beradu kencang. Berdentang denting suaranya.


Asiyah gugup.


Gaya makannya seperti seorang prajurit perang yang siap melawan musuh. Berdetak-detak hentakan pisau saat memotong steak daging di dalam wadahnya.


Walau semestinya Asiyah tidak perlu takut, toh Dia sama sekali tidak berniat menerima tawaran Pak Tomi untuk menjadi istri ke duanya. Tapi tetap saja rasa gugup itu ada.


 


Bu Wela nampak sekali sedang memendam amarah dalam ucapannya tadi. Bersikap seolah santai, namun nyatanya Bu Wela sedang melakukan apa yang sudah direncanakannya. Diam-diam.


Sama seperti Asiyah yang sedang berusaha bersikap santai dalam persembunyiannya menyembunyikan tentang sikap Pak Tomi padanya.


Walau Asiyah sebenarnya sedikit menyadari, bahwa Bu Wela sepertinya sudah mengetahui tentang semua hal ini.


 


Maya melihat ke arah Asiyah. Kemudian memalingkan tatapannya pada Bu Wela. Ada apa ini? Ada apa dengan mereka berdua?


 


Setiap kali pergi bersama Asiyah, Bu Wela terus saja bercerita tentang bagaimana kehidupan poligami yang sangat menyiksa kaum perempuan jika suaminya adalah seorang lelaki yang belum paham betul tentang hukum-hukum agama. Bahkan bisa-bisa nanti seorang suami pelaku poligaminya sendirilah yang akan tersiksa jika belum memahami bagaimana cara mengatur dua istri.


Yaa bagaimana bisa seorang lelaki menahkodai dua kapal sekaligus sementara kapal yang satu akan tenggelam. Menjalankan syariat poligami ini butuh ilmu yang dalam. Bukan hanya sekedar melampiaskan hawa ***** saja. Begitu kata Bu Wela.


 


Bu Wela juga sering sekali bercerita tentang masa lalunya dengan Pak Tomi pada Asiyah.


Katanya, suaminya dulu suka main perempuan. Tidak tahu kalau sekarang, mungkin sudah berubah. Dulu, Bu Wela sering memergoki Pak Tomi teleponan mesra dengan seorang perempuan. Tiap kali ditanya, katanya hanya teman.

__ADS_1


Kadang juga Pak Tomi bilang itu tadi teleponan dengan laki-laki, hanya candaan saja, pura-pura seperti seorang kekasih. Huuuhh.. Bu Wela tahu Pak Tomi sedang berbohong. Jelas saja, Bu Wela mendengar suara itu adalah suara seorang perempuan. Suaranya besar sekali keluar dari speaker telepon.


Berkali-kali pula Bu Wela melihat Pak Tomi sedang jalan dengan perempuan lain, kata Pak Tomi sih rekan bisnis. Tapi mana mungkinlah rekan bisnis penampilannya seksi begitu, mana jalannya hanya berdua saja, di Mall pula.


 


Pernah beberapa kali Bu Wela bertanya tentang berbagai film yang menceritakan tentang poligami pada Asiyah. Menyindir Asiyah maksudnya, mengingatkan Asiyah, atau mungkin sebagai ancaman lagi agar menjauh dari Pak Tomi.


Asiyah sangat menyadari hal itu. Tetapi Asiyah tetap memilih sikap pura-pura tidak tahu. Toh Asiyah sama sekali tidak berniat untuk menikah dengan Pak Tomi. Apalagi sebagai istri ke duanya, menjadi madunya Bu Wela. Jauh sekali dari pikiran Asiyah.


 


Asiyah kemudian berpikir, apa mungkin perempuan yang teleponan mesra dengan Pak Tomi waktu di parkiran siang itu adalah perempuan simpanannya Pak Tomi?


Apa Pak Tomi sebenarnya belum berubah?


Apa Bu Wela sama sekali tidak menyadari kelakuan liar suaminya di luar sana hingga saat ini? Entahlah.


Sejak awal Asiyah sudah curiga dengan Pak Tomi saat melihatnya teleponan mesra di luar kantor. Bukan hanya satu kali. Tetapi sudah terhitung empat kali Asiyah menyaksikannya sendiri.


Seperti takut ketahuan orang-orang saja. Sembunyi-sembunyi.


Memang benarlah kata orang-orang, yang tahu siapa diri seorang lelaki yang sebenarnya adalah istrinya sendiri dan keluarganya. Bukan orang lain. Karena memang orang lain hanya melihat bagian luarnya saja. Sedikit hal yang hanya menampakkan kebaikan-kebaikannya saja.


Memang Pak Tomi tampak sholeh dengan sholatnya saat di kantor. Tetapi siapa yang sebenarnya tahu tentang akhlaknya yang sebenarnya jika tidak dibeberkan sendiri oleh istrinya seperti ini.


Orang yang baru mengenalinya jelas akan tertipu.


 


Bagi Asiyah, Bu Wela adalah perempuan baik dan bijaksana dalam menyikapi kelakuan Pak Tomi.


Sebaliknya, Pak Tomi juga adalah sosok suami yang sangat memanjakan Bu Wela.


Yaa walau pada kenyataannya mereka berdua sama-sama memiliki kekurangan masing-masing di baliknya, tetapi hingga saat ini mereka masih bertahan untuk bersama.


 


Siang itu Bu Wela mengajak Asiyah dan Maya makan bersama lagi. Untuk kesekian kalinya.


Seiring dengan seringnya Bu Wela membahas tentang permasalahan poligami pada Asiyah, Asiyah pun memberanikan diri bertanya pada Bu Wela.


“Bu, kalau seandainya Ibu dipoligami, bagaimana?” tanya Asiyah, pura-pura biasa. Sambil menyantap makanannya.


 


“Yaa mau bagaimana lagi Asiyah, yang namanya takdir tidak bisa ditolak, tapi kalau Saya bisa memilih, lebih baik tidak sama sekali,” jawab Bu Wela.


Bu Wela tampak terpancing amarahnya dengan perkataan Asiyah. Sangat Tegas. Tiba-tiba naik darahnya saat dilontarkan pertanyaan seperti ini. Nafasnya berhembus kuat. Bu Wela tampak salah tingkah.


 


“Saya juga tidak mau dipoligami Bu, Saya belum mampu menjalaninya. Apalagi untuk menikah dengan laki-laki yang sudah beristri, Saya tidak siap kalau nantinya akan menghancurkan rumah tangga orang lain. Saya tidak mungkin melakukan hal itu Bu, masih banyak laki-laki bujangan yang siap menikah, kenapa harus laki-laki yang sudah beristri.”


Asiyah berusaha menenangkan Bu Wela dengan perkataannya.


Asiyah tahu betul, ada rasa takut pada diri Bu Wela tentang dirinya.


 


Terlihat jelas sekali, Bu Wela tidak mau dipoligami. Bu Wela tampak lega dengan pernyataan Asiyah barusan.


“Hhhhhhh..” Bu Wela menghela nafasnya.


Asiyah paham betul dengan hembusan nafas itu. Hembusan angin surga yang melegakan hati Bu Wela. Asiyah menahan senyumnya. Asiyah berusaha bersikap biasa saja. Ada rasa tidak enak dalam hatinya terhadap Bu Wela, walaupun Asiyah tidak pernah merespon rasa cinta Pak Tomi sama sekali padanya.


Asiyah tidak mungkin melakukannya. Asiyah juga tidak mau dipoligami. Menjadi madu dari seorang perempuan baik seperti Bu Wela.


Bu Wela tampak sabar sekali mendekati Asiyah, mengawasi Asiyah secara diam-diam. Menjadikan Asiyah sebagai temannya. Padahal jelas sekali bahwa Asiyah adalah perempuan yang dicintai suaminya. Bu Wela begitu hebat mengontrol hatinya. Begitu hebat mengontrol sikapnya.


Dalam hal ini, Asiyah akui kalau Ia mengagumi Bu Wela. Asiyah harus belajar dari Bu Wela tentang kesabaran dan kekuatan seperti ini.


Mungkin ini juga adalah salah satu faktor yang menjadikan rumah tangganya dengan Pak Tomi hingga saat ini masih berjalan.


Sebenarnya mereka saling mengisi satu sama lain dengan kekurangan dan kelebihan yang mereka miliki masing-masing, tanpa mereka sadari, makanya rumah tangga mereka tetap bertahan hingga saat ini, takdir jugalah yang memainkan perannya dalam hal ini.


 

__ADS_1


Okee.. satu permasalahan selesai. Asiyah berharap Bu Wela tidak akan berprasangka buruk lagi padanya mulai detik ini. Aamiin ya Allah.


__ADS_2