
Maa syaa Allah, di sepanjang perjalanan mengelilingi pondok pesantren ini, angin sejuk terus saja mengiringi langkah mereka. Berhembus, ssssshhhhhh.. Sinar matahari juga menyuguhkan keteduhannya. Menyambut tamu istimewa yang datang membawa niat baik pagi ini.
Sudah satu jam lebih Asiyah dan yang lainnya di temani Ustadz Zulfikar mengelilingi pesantren.
"Ada sesuatu yang jauh lebih indah di sini, mungkin kalian juga ingin melihatnya?" tanya Ustadz Zulfikar, dengan senyuman tampannya, berlesung pipi di kiri dan kanan bagian wajahnya.
"Boleh Ustadz, apa itu?" jawab Asiyah dengan tanyanya, menatap wajah ustadz muda berkopiah hitam itu sekelabat.
"Ayoo, lima menit kurang lebih yaa, ada sungai kecil yang sudah kami tata sedemikian rupa di belakang sana, sehingga sungai itu bisa masuk melintasi kawasan pesantren," jelas Ustadz Zulfikar, singkat. Sembari menunjukkan jari telunjuknya ke arah tempat tujuan yang akan mereka datangi.
Masih berjalan santai.
Di sebelah kanan sisi mereka. Tepat di ujung pondok pesantren ini. Langkah kaki mereka terhenti.
Ada sebuah tembok, tinggi sekali. Di tengahnya ada pintu kecil dengan dua buah daun pintu yang menyatu membentuk huruf 'n' yang lancip ujung kepalanya. Di atas pintu itu terdapat tulisan yang bertuliskan 'Pintu Surga'.
Yaa ini adalah tembok pembatas antara sungai dengan kawasan gedung pondok pesantren yang dikatakan oleh Ustadz Zulfikar tadi.
Ustadz Zulfikar membuka pintunya. Tidak dikunci ternyata. "Ayo marii, silahkan masuk," ajak Ustadz kepada Asiyah dan ketiga rekannya.
Langkah kaki itu terasa ringan. Asiyah dan ketiga rekannya segera memasuki 'Pintu Surga' itu.
Hhhmmm.. hhhaaahhh.. maa syaa Allah segar sekali aroma ini. Tercium oleh mereka seketika memasuki tempat ini, yaitu aroma segar, perpaduan antara dedaunan hijau, buah-buahan serta kemurnian air.
Kedua bola mata itu juga seketika berbinar. Tak kuasa menahan haru akan apa yang sedang disaksikannya. Asiyah dan ketiga rekannya benar-benar terkesima dengan semua yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Di hadapan mereka mengalir air yang sangat jernih kebiruan. Tak ada satu pun sampah yang masuk, ternyata di hulu sungai yang masuk ke dalam area pesantren ini, sudah dipasangakan jaring untuk saringan sampahnya.
Sungai ini juga dihiasi dengan berbagai macam bebatuan besar di tengah nya dan juga bebatuan kecil yang bertaburan di tepi nya. Bebatuan itu pun sudah di cat dengan warna-warna yang indah. Warna emas untuk bebatuan besar dan warna-warna cerah yang berwarna-warni untuk bebatuan kecil.
Di sekeliling sungai itu juga telah dihiasi dengan rerumputan sintetis yang menghijau. Di hulu sungai yang masuk ke dalam kawasan pesantren ini di buat menyerupai air terjun mini yang sangat indah dengan bebatuan besar berwarna emasnya.
Tembok yang mengelilinginya juga ditutupi oleh tanaman sintetis, rerumputan yang menjuntai, sehingga tak tampak lagi bentuk dindingnya, seolah penghuninya sedang berada di dalam sebuah hutan mini yang indah dengan tanamannya yang segar. Juga dengan bentuk-bentuk bebatuan dinding yang dirancang sedemikian rupa menyerupai aslinya.
Pepohonan kecil juga turut menghiasi pinggiran sungai. Buahnya benar-benar dapat dimakan jika musim berbuah dan telah masak. Ada pohon jeruk, mangga, bahkan pohon strawberry yang disusun di bagian atas langit-langit sekitarnya.
Pohon sakura sintetis di pasang di muara penghujung sungai itu, tepat di ujung tembok yang memotong penghujung sungai di area pesantren, sungguh berwarna cerah sekali. Dan terlihat seperti aslinya.
Juga ada beberapa lampu yang dipasang di antara rerumputan dinding dan bagian atap jembatan untuk memberikan kesan bercahaya di dalam tempat ini ketika lampu dihidupkan.
Kriiicciikkk.. krriiicciikk.. kkrrriicciikk.. Bunyi gemericik air sungai yang mengalir, sungguh terdengar riang, meramaikan suasana sepi di dalam tempat ini.
Gerombolan ikan yang berwarna cerah orange sedang berenang di dalam sungai yang airnya sangat jernih kebiruan. Mereka menyusup berenang diantara bebatuan besar di tengah sungai. Maa syaa Allah.
Ikan-ikan itu telah terkurung di dalam area pondok ini, karena memang telah dipasangkan jaring pembatas agar mereka tak dapat keluar.
Di tengah sungai ini pun di buat sebuah jembatan kayu nan kokoh yang memiliki atap. Maa syaa Allah jembatan ini dipenuhi oleh hiasan tumbuhan hijau serta bunga-bunga yang menyelimutinya, seakan rumput liar pun tumbuh lebat menjuntai dari atasnya.
Klik, suara cetekan saklar berbunyi. Ustadz Zulfikar tiba-tiba menekan tombol yang ada di balik rumput dinding itu. Seketika terdengar suara lantunan ayat suci Al-Qur'an yang bergema lembut.
"Maa syaa Allah, indah sekali Ustadz, sebuah pemandangan menakjubkan dengan lantunan suara ayat-ayat Allah yang sangat lembut. Seperti sebuah khayalan tentang surga yang diwujudkan ke alam nyata," ucap Asiyah dengan rasa terkejutnya. Tangannya mengepal kuat di depan badannya, tak kuasa menahan geram.
__ADS_1
"Maa syaa Allah, benar-benar indah," ucap Cita.
Caca dan Pak Nomo juga tak dapat menyembunyikan kekagumannya.
"Yaa ini lah sungai kecil itu, memang sengaja kami tata dan hiasi sedemikian rupa agar menjadi bagian dari keindahan dari pondok pesantren ini," jelas Ustadz Zulfikar.
"Memang jauh lah kalau mau di bandingkan dengan surga akhirat yang Allah ciptakan, bahkan sebesar butiran debu saja tidak akan mampu menyamai keelokannya." Sambung Ustadz Zulfikar.
"Kenapa di beri nama 'Pintu Surga'? Yaa hanya sebagai pembelajaran saja untuk para santri, memberikan pelajaran kepada mereka bahwa surga di akhirat nanti akan sangat jauh keindahannya jika dibandingkan dengan apa yang ada di sini," jelas Ustadz Zulfikar lagi.
Mereka mendengar penjelasan Ustadz Zulfikar dengan saksama. Asiyah masih terkesima dengan apa yang ada di dalam 'Pintu Surga' ini.
Di sini memang tidak ada kursi untuk mereka sejenak duduk dan beristirahat. Memang sengaja oleh pihak pondok nya. Berdiri saja jika ada yang masuk. Hanya boleh untuk sekedar melihat-lihat sebentar. Agar tidak ada yang rusak per bagian dari tempat ini, karena memang perawatannya juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
"Mohon maaf Ustadz, apa Saya boleh mengambil gambar di dalam area pondok ini termasuk tempat ini?" tanya Asiyah.
Ustadz Zulfikar tersenyum pada Asiyah, seraya menunjukkan tangannya ke arah sebuah tulisan yang terpampang di salah satu dinding, 'Di larang mengambil gambar dan mendokumentasikan tempat ini dalam bentuk apa pun'.
Asiyah tersenyum, sungkan.
"Nah ayookk, sudah selesai melihat-lihatnya, matahari sudah mulai meninggi, sebentar lagi Ustadz Hamdal akan pulang, in syaa Allah, mudah-mudahan urusan beliau dimudahkan oleh Allah di sana, aamiin," ajak Ustadz Zulfikar.
Mereka berjalan keluar dari tempat yang luar biasa ini. Maa syaa Allah.
Memutarkan langkah kaki lagi. Asiyah dan juga ketiga rekannya mengikuti Ustadz Zulfikar menuju rumah Ustadz Hamdal.
__ADS_1
Lima belas menit berlalu.
Motor Ustadz Hamdal tampak melintasi jalan menuju komplek perumahan. Pandangan mata Ustadz Hamdal tampak lurus dan fokus, hingga tak tampak lagi olehnya ada rombongan Asiyah di sekitar jalanan pondok.