Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Sampai di Pondok Pesantren


__ADS_3

“Ash-Shalaatu khairum-minannaum..” 


Kumandang adzan subuh telah terdengar. Berbisik lembut di telinga mereka. Asiyah membuka matanya perlahan. Duduk di kasurnya. Diam sejenak. Kemudian berjalan pelan ke arah jendela kamar hotel.


Asiyah membuka tirai jendela. Kaca jendela itu terlihat basah karena tempelan embun pagi. Sedikit kabut nampak luarnya.


Entah di lantai ke berapa kamar mereka saat ini, pikir Asiyah. Masjid kecil di sebelah hotel ini terlihat sayup di bawahnya. Asiyah melihat para jamaah sholat subuh itu berbondong-bondong memasuki masjid kecil itu.


Tidak jauh dari hotel mewah tempat mereka menginap ini, memang ada masjid megah yang sudah dikenal masyarakat sampai ke luar pulau. Tapi yaa cukup jauh jika harus berjalan kaki ke sana. Naik ojek mungkin tidak akan membuat mereka merasakan capai.


Caca dan Cita juga menyusul terbangun dari tidurnya. Melihat Asiyah berada di sudut jendela menatap ke arah bawah hotel.


Tapi kali ini Asiyah memilih untuk menunaikan sholat subuhnya di kamar hotel saja.


Berjalan menuju kamar mandi. Berhenti sejenak. Menatap Caca dan Cita yang masih berada di atas tempat tidur, mengumpulkan nyawa.


"Ayo Caca, Cita, kita sholat subuh, mau jamaah ayokk, Mbak mau sholat di sini saja, tidak ke masjid, sesak sekali kelihatannya masjid di sebelah itu," ucap Asiyah. Mengajak dua asisten pribadinya itu agar segera bergerak.


"Iya Mbak," ucap Caca dengan suara seraknya.


"Kamu duluan saja Ca, nanti Aku sholat sendiri saja, Aku pinjam mukenah Kamu yaa nanti, Aku nggak bawa mukenah soalnya, ketinggalan, Aku baru ingat," ucap Cita.


"Hhmmm iya iya nggak apa-apa," jawab Caca, serak. Masih berada di atas tempat tidurnya.


Asiyah telah siap di atas sajadahnya.


Caca menyusul, bergerak cepat, lalu berlari kecil keluar dari kamar mandi. Kemudian berdiri di sisi kanan Asiyah.


"Ohh iya, astaghfirullah.." Cita tersentak berbisik. Menepuk keningnya. Segera membongkar kantong kresek di dalam tas cantiknya. Cita menemukan mukenah travellingnya. Alhamdulillah, ternyata Cita tidak lupa membawa alat sholatnya itu.


Cita segera menyusul untuk dapat sholat berjamaah bersama Caca dan juga Asiyah. Wudhu telah selesai, Cita telah siap menutup auratnya, juga telpah berada pada posisinya berdiri di sisi kiri Asiyah, tak lupa menepuk pundak Asiyah sebelumnya, pelan.


Dua jam berlalu.


Tirai jendela kamar hotel itu masih terbuka. Sinar matahari menebas wajah mereka.

__ADS_1


"Hhhhhmmm.. aarrghhh.." Caca bersuara. Dan terbangun karena silaunya. Yaa selepas sholat subuh berjamaah tadi, Caca kembali tidur.


Melihat ke sebelah nya. Kemana Mbak Asiyah? Tempat tidurnya kosong. Yang ada hanya Cita yang masih sibuk di atas tempat tidur dengan ponselnya.


Jadwal hari ini telah tersusun rapi oleh Cita.


Ustadz Hamdal di tengah-tengah kesibukannya juga telah menyempatkan waktu untuk mereka.


Pintu kamar hotel perlahan terbuka. Sepertinya ada yang mau masuk ke dalam kamar. Ternyata Asiyah. Asiyah kembali ke kamarnya. Entah dari mana.


"Ayo cepat, kita harus segera berangkat, biar nanti ada banyak waktu di pesantren, mudah-mudahan bisa putus pembicaraan kita hari ini sama Ustadz Hamdal, Pak Nomo juga sudah Saya beritahukan tadi agar cepat bergerak," suruh Asiyah pada Caca dan Cita.


Melihat Asiyah masuk ke dalam kamar dengan ligatnya sembari langsung mengemas barang-barang miliknya, Caca dan Cita segera bersiap. Bos sudah lebih dahulu siap, mereka harus cepat menyusul.


Satu jam perkiraan perjalanan mereka. Enam puluh menit waktu perjalanan mereka menuju pondok pesantren jika tidak ada kendala di jalan. Waktu yang cukup lama.


Pak Nomo juga telah siap dengan tugasnya. Mobil carteran yang sebelumnya telah Ia pesan, telah berada tepat terparkir di depan hotel. Tidak susah mencari jasa sewa mobil di sini, kata Pak Nomo. Di internet banyak berseliweran iklan-iklan jasa sewa mobil ini, di daerah sini.


"Bismillahirrahmanirrahim," Asiyah telah duduk di dalam mobil carteran ini.


"Siap yaa Mbak?" tanya Pak Nomo pada Asiyah dengan aba-aba membara.


"Menjemput jodoh, let's gooooo.." ucap Pak Nomo dengan semangat membaranya. Sedikit berteriak. Dengan mimik wajah candanya.


"Let's gooooooo," jawab para perempuan single yang duduk di dalam mobil ini. Juga dengan semangat 45 nya. Tertawa kecil.


Asiyah berdo'a diam-diam di dalam hatinya. Berharap Allah memudahkan urusannya kali ini. Juga terus berdzikir hingga kering bibirnya.


"Mudah-mudahan Allah pertemukan jodoh Mbak Asiyah di sana, terus jodohku juga menyusul, aamiin," Caca berseloroh. Mengaminkan ucapannya sendiri dengan mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajahnya.


Cita dan Asiyah tersenyum. Turut mengaminkan.


Satu jam kurang. Mereka telah sampai. Qadarullah, meleset dari perhitungan waktu sebelumnya. Tapi alhamdulillah ini adalah pertanda baik dari Allah, mereka justru lebih dulu tiba dari perkiraan. Jalanan sepi, mulus tanpa hambatan.


Pesantren ini sungguh sangat menakjubkan, maa syaa Allah. Sungguh jauh dari pemukiman warga. Terletak di tengah-tengah hutan yang cukup luas. Diantara pepohonan yang tinggi. Sungguh keren. Seperti gedung-gedung di film hollywood yang berada di tempat terpencil yang menghasilkan berbagai eksperimen keilmuwan di dalamnya.

__ADS_1


Mereka mulai memasuki persimpangan depan pesantren ini menuju gerbang depan, gerbang utama. Mobil terus melaju, lamban.


Takjub. Mereka melihat dengan saksama di sekelilingnya. Maa syaa Allah semua tertata dengan sangat rapi. Di kiri dan kanan jalan tertanam pepohonan yang rindang, menghijau, rapi terawat. Bersih, tidak ada satu pun sampah yang terlihat di sana. Tampak juga di pasang CCTV di beberapa pohon. Juga berjejer tulisan kaligrafi asma'ul husna yang ditata sedemikian agung.


Maa syaa Allah, ini baru saja melewati jalan menuju gerbang. Tentu akan lebih menakjubkan lagi ketika memasuki gerbang besar itu. Pikir mereka.


"Maa syaa Allah," Caca, Cita, Asiyah, bergantian mengucapkan puji-pujian kepada Allah subhanahuwa ta'ala saat melihat apa yang ada di depan mata mereka, tak ketinggalan Pak Nomo.


"Kata Ustadz Hamdal, kita harus melapor dulu pada petugas keamanan di sini, baru bisa masuk, nanti kita berhenti dulu di depan sana ya Pak," jelas Cita, juga suruhnya pada Pak Nomo, saat mobil hendak berhenti di depan gerbang. Menunjukkan jari telunjuknya ke arah pos keamanan pesantren.


"Siap Mbak Cita," ucap Pak Nomo, dengan santainya.


Cita segera turun dari mobil seketika mobil berhenti di depan pos penjagaan pesantren. Tepat di depan gerbang besar yang menjulang tinggi itu.


"Assalamu'alaykum," terdengar sayup dari dalam mobil, saat Cita mengucapkan salam kepada petugas jaga yang tidak jauh dari posisi mobil mereka. Lalu sedikit berbincang dan menjelaskan sesuatu, memperlihatkan ponselnya pada petugas jaga. Tentu tentang perihal kedatangan mereka.


Tak lama Cita kembali masuk ke dalam mobil. Gerbang utama pun di buka oleh petugas jaga yang mengenakan seragam sekuriti itu.


"Bismillahirrahmanirrahim," Asiyah berucap.


Mobil berjalan pelan. Melewati batas pintu masuk.


"Waaahhhh, maa syaa Allah kubahnya begitu indah," ucap Cita seketika melihat kubah masjid pesantren yang begitu besar dengan keindahan warna emasnya dengan sentuhan kaligrafi indah yang mengelilinginya.


"Pemandangan pesantrennya juga sangat keren, inikah surga dunia?" seloroh Caca.


Tak hentinya Asiyah juga mengucapkan maa syaa Allah ketika memandangi sekelilingnya.


Pak Nomo terus memainkan setir mobilnya. Mencari halaman parkir untuk meletakkan mobilnya. Tetap fokus walau pemandangan mata sangat menggoda.


Lumayan jauh ternyata.


"O iya Pak Nomo, kita masuk ke dalam lumayan jauh yaa Pak, Ustadz Hamdal dan beberapa guru besar pesantren ini ternyata memang tinggal di dalam kawasan pesantren ini. Tadi kata petugas keamanannya, lurus saja terus masuk ke dalam, mengikuti jalan aspal pesantren ini, nanti di ujung jalan pesantren akan terlihat kawasan perumahan para pengurus pesantren, nah kita masuk saja ke sana, di sana juga ada petugas keamanannya sebelum memasuki perumahan, nanti kita tanya saja sama mereka yang mana kediaman Ustadz Hamdal," jelas Cita pada Pak Nomo.


"Siap Mbak Cita," ucap Pak Nomo, terus menjalankan mobilnya pelan.

__ADS_1


__ADS_2