
Seperti yang direncanakan Asiyah tadi siang. Malam ini Asiyah akan memberitahukan rencananya pada Umi. Sekaligus memberitahukan pada Umi, bahwa Ia telah mendapatkan seorang supir pribadi yang in syaa Allah dapat Ia percaya.
Selepas sholat maghrib, makan malam adalah waktu yang tepat bagi Asiyah untuk membicarakan apa yang ingin Ia sampaikan. Lebih santai. Suasana kekeluargaannya juga terasa sangat erat saat makan malam.
Taanngg.. teenngg.. ttiinngg.. teenngg.. Suara sendok garpu yang saling bertabrakan dengan piring keramik saat makan malam itu.
"Hhmmm.. Umi, ada yang mau Asiyah bicarakan sama Umi," ucap Asiyah di tengah-tengah makan malamnya. Sedikit gugup. Beberapa kali mendelik wajah Umi.
"Apa Nak? Bilang saja," jawab Umi sambil menyantap makan malamnya. Santai.
Aisyah dan Ali juga beberapa kali mendelik ke wajah Kak Asiyah dan Umi. Sepertinya mereka berdua mengerti dengan kegelisahan hati yang sedang melanda Kak Asiyah.
"Mengenai rencana Asiyah yang akan memakai supir pribadi untuk pergi ke mana-mana itu loh Umi," jelas Asiyah.
"Iya Nak, bagaimana? Apa Asiyah sudah menemukan calonnya?" tanya Umi lagi.
Yang awalnya Asiyah sedikit gugup membicarakannya pada Umi, kini seakan mendapatkan celah untuk mengungkapkan semuanya. Memang, ada rasa sedikit tak enak pada hati Asiyah terhadap Umi, karena penerimaan abang rujak itu sebagai supir pribadinya tanpa melibatkan persetujuan Umi sebelumnya.
"Umi, hhmmm.. sebenarnya Asiyah sudah mendapatkan supir pribadi itu Mi," ucap Asiyah.
"Oo yaa? Alhamdulillah kalau begitu Nak, yang mana orangnya? Umi mau lihat wajahnya, apa Dia baik dan jujur Nak?" tanya Umi. Antusias. Menatap wajah Asiyah, yang sibuk dalam makan malamnya.
Umi sebetulnya tau, bahwa saat ini Asiyah sedang tak enak hati dengannya, karena telah mengambil keputusan sendirian dalam memilih supir pribadi.
Karena memang, sebelumnya mereka pun telah membicarakan rencana kedepannya nanti yang akan membawa supir pribadi itu ikut serta tinggal bersama mereka di rumah ini.
Makanya pengambilan keputusan dalam penerimaan orang baru pun harus melibatkan keputusan serta kerelaan hati bersama.
"Asiyah bertemu dengan abang rujak itu di pinggir jalan tadi siang Umi, saat Asiyah hendak ke Mall, Asiyah tak sengaja membuatnya celaka," ucap Asiyah, seraya melambatkan ayunan sendok garpunya.
__ADS_1
"Maksudnya gimana Nak? Celaka bagaimana?" Umi terkejut, seketika kepanikan itu datang. Kini giliran Umi yang melambatkan ayunan sendok garpunya.
"Asiyah tak sengaja mengerem mobil mendadak saat berhenti di pinggir jalan tadi siang, dan qadarullahnya abang rujak itu menjadi tak sengaja juga menabrak mobil Asiyah dari belakang karena melakukan hal yang sama."
"Lalu?" tanya Umi.
Aisyah dan Ali yang mendengar pembicaraan Kak Asiyah dan Umi, mendadak menjadi diam. Memperhatikan pembicaraan mereka, serius.
"Lalu motornya terhempas ke aspal, juga kotak kaca buah-buahannya terhempas terus pecah, buahnya berserakan di jalanan, motornya ringsek Umi," Asiyah berucap lesu karena rasa bersalahnya.
"Tapi Asiyah sudah mengganti semuanya kok Umi, malah Asiyah menawarkannya pekerjaan untuk menjadi supir pribadi Asiyah," sambung Asiyah, cepat.
"Lalu, apa Asiyah menerimanya menjadi supir pribadi, karena Asiyah merasa bersalah saja Nak?"
Umi diam sejenak. Menatap wajah Asiyah.
"Kejujurannya, pengabdiannya, dan asal usulnya harus jelas Nak," sambung Umi.
"Iya Umi, maafin Asiyah Umi, tapi Asiyah yakin kali ini Bang Nomo adalah orang yang tepat untuk bekerja dengan kita,"
"Ya sudah, kalau memang Asiyah yakin, Umi setuju saja, siapa tadi namanya Nak? Nomo?" jawab Umi, dengan tanyanya.
"Iya Umi namanya Nomo, mmmmm.. makasih yaa Umi, maafin Asiyah sebelumnya tidak melibatkan Umi dalam pengambilan keputusan ini," ucap Asiyah. Masih dengan rasa tak enak hatinya.
"Iya Nak, nggak apa-apa, ayok lanjut lagi makannya," ajak Umi, dengan senyum keibuannya.
"Aisyah, Ali, ayokk Nak makan lagi yang banyak," Umi melihat kedua anak kembarnya itu, tak bersemangat menyantap makan malamnya karena pembicaraan ini.
Mereka semua melanjutkan makan malamnya.
__ADS_1
Tangg.. teenngg.. tangg.. tenggg..
"Umi, in syaa Allah hari Rabu malam, pekan depan, kita makan malam sama mereka yaa Mi di sini, Cita, Caca dan Nomo, untuk membahas segala macam aturan selama bekerja dengan Asiyah dan juga sekaligus perkenalan diri sama keluarga kita," jelas Asiyah.
"Iya Nak, nanti akan Umi persiapkan semuanya yaa," jawab Umi.
"Oo yaa, karena anggota di dalam rumah kita akan semakin banyak, dan juga dengan rumah sebesar ini, kayaknya nggak mungkin kalau Umi yang mengurusnya sendirian, juga dengan makan kita, pokoknya semuanya sendirian, Umi bisa kecapekan, belum lagi Umi mau mengurus beberapa bisnis Umi kan," ucap Asiyah.
"Nanti in syaa Allah Asiyah mau nambah tiga orang asisten rumah tangga lagi Umi di rumah kita, jadi nggak perlu laundry pakaian di luar lagi, pokoknya semuanya nanti kita akan pekerjakan asisten rumah tangga yang netap di rumah saja Umi, biar Umi juga nggak repot mengatur mereka nantinya," sambung Asiyah.
"Bagaimana menurut Umi?" tanyanya lagi.
"Iya Nak, Umi setuju saja, nanti biar Umi yang carikan orang-orangnya yaa, Umi dengar-dengar juga, warga kampung sebelah masih banyak yang membutuhkan pekerjaan, lebih aman juga jadinya kalau kita mengambil orang kepercayaan dari warga sekitar rumah kita, dan juga sekaligus kita bisa mensejahterakan mereka dengan pekerjaan ini, mensejahterakan orang-orang di sekitar kita terlebih dahulu," jelas Umi.
"Iya, Asiyah setuju Umi," ucap Asiyah.
Beberapa menit kemudian. Makan malam ini selesai. Berakhir dengan cukupnya mereka menghabiskan makan malam dengan menghilangkan rasa lapar. Alhamdulillah. Nikmat dari Allah bisa berkumpul bersama keluarga dengan lezatnya masakan buatan Umi yang tiada tandingannya.
Kesepakatan dalam keluarga ini pun pada akhirnya tercapai juga. Adalah salah satu hal terpenting didalam keluarga agar setiap individu di dalam keluarga merasa di hargai keberadaannya.
Memang dari semasa hidupnya Abi dulu, Abi sering mengajarkan tentang pentingnya komunikasi di dalam keluarga mereka.
Keterbukaan dalam segala hal yang sifatnya untuk kepentingan bersama, memang sangat diperlukan. Salah satunya agar terciptanya rasa kasih sayang yang dalam karena satu sama lain saling melibatkan dalam pengambilan keputusan dan merasa dihargai.
Sekaligus mengajarkan pada keluarganya bagaimana mengambil keputusan dengan mempertimbangkan segala sesuatunya dari berbagai aspek kehidupan serta dari sudut pandang yang berbeda. Bermusyawarah di dalam keluarga sangatlah penting, begitu kata Abi dulu.
Beberapa hari pun berlalu.
Malam Rabu yang ditunggu semakin dekat. Rasa penasaran Umi terhadap tiga orang baru pilihan anaknya akan segera terjawab. Tiga orang baru yang akan menemani mereka di rumah ini selama waktu yang belum ditentukan.
__ADS_1