Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Mobil Untuk Mama


__ADS_3

Ternyata pembicaraan malam itu, tidak membuahkan hasil.


Abu-abu saja jawaban dari suaminya. Pak Sendi hanya diam mendengar pernyataan serta pertanyaan Asiyah. Asiyah pun tak dapat bertanya lebih tentang sikap suaminya itu. Yaa, Asiyah tak mau dirinya hanya menjadi pemicu pertengkaran di antara mereka jika terus bertanya.


Dua hari sejak malam itu pun berlalu.


Siang ini cuaca di luar terasa panas. Tampak sinar matahari terik menyengat.


Asiyah membaca buku di ruang perpustakaan lantai atas rumah mereka.


Ttiiinn... tiiiinnn... suara klakson mobil itu berbunyi keras penuh desakan.


Asiyah pun terkejut mendengar suara itu. Sontak Ia berdiri dari kursinya. Melihat ke arah kaca jendela besar ruangan itu. Terlihat jelas pemandangan di depan rumah mereka.


Mobil adik iparnya. Yaa Pak Sendi juga lah yang membelikan mobil itu untuk mereka pergunakan ke sana dan ke mari.


Memang kini yang tinggal bersama Mama hanya adik bungsu Pak Sendi saja. Ketiga adik Pak Sendi yang lainnya telah menikah dan tinggal di rumah mereka masing-masing. Makanya, Mama kalau pergi ke mana-mana hanya adik bungsunya sajalah yang menemani.


Laura. Nama adik bungsunya. Sekaligus menjadi ipar Asiyah sekarang.


Mama dan Laura keluar dari dalam mobil. Mereka masuk ke dalam rumah.


Asiyah hanya mengintip mereka dari lantai atas dari jendela itu, hingga mereka masuk kemudian duduk di kursi santai ruangan tengah rumahnya.


Asiyah penasaran, apa yang akan Mama lakukan di sini. Tumben saja mereka datang di siang bolong seperti ini. Biasanya Asiyah lah yang selalu mampir walaupun sebentar hanya untuk mengantarkan lauk pauk untuk Mama dan adik iparnya.


Asiyah cukup pengertian dengan keadaan Mama yang hanya hidup berdua dengan Laura, mengurus rumah yang lumayan bagus tanpa adanya asisten rumah tangga. Makanya Asiyah suka bantu-bantu Mama menyiapkan masakan dari rumah kemudian diantarkan ke rumah Mama, atau dikirimkan saja lewat ojek online.

__ADS_1


Mama dan Laura tampak serius berbicara dengan Pak Sendi. Wajah mereka begitu memelas, memohon dan meminta.


"... Laura kan sudah dewasa Nak, Dia butuh mobil untuk Dia pakai ke mana-mana sendiri. Keperluannya banyak. Laura harus punya koneksi yang banyak juga kan supaya cepat mendapatkan jodohnya... " jelas Mama pada anak lelakinya itu.


Suami Asiyah itu diam mendengarkan penjelasan Mama.


Sementara Laura juga seakan serius dengan niatnya. Ingin menikah, mencari jodoh. Terlihat dari tatapan penuh harapnya.


"Iya Mas, Laura juga butuh mobil untuk mempermudah Laura ke sana ke mari untuk mulai merintis usaha sendiri... " ucap Laura mempertegas keinginannya dengan berbagai macam alasan agar dikabulkan oleh kakaknya itu.


"Hhhhmmm.. iya iya nanti yaa, Mas coba hitung dulu keuangan Mas, soalnya Kamu dan Mama tahu sendiri kan kalau Mas kerja sendirian, istri Mas sudah gk punya penghasilan lagi, juga kerjaan Mas akhir-akhir ini mengalami kemunduran," jelas Pak Sendi pada Laura dan Mama. Berharap mereka mengerti dengan keadaannya saat ini.


"Hhhhhh.. " dengus nafas Laura yang seakan kecewa dengan pernyataan kakaknya itu.


"Jangan begitu dong Nak, kasihan adik Kamu, Mama juga kan punya banyak urusan pribadi, butuh mobil untuk ke mana-mana. Nanti biar Mama saja yang beli mobil baru yaa, biar Laura pakai mobil yang lama saja," ucap Mama dengan wajah memelasnya.


"Iyaaa Maaa, nanti Sendi hitung dulu keuangan rumah tangga Sendi yaa Maa," tekan Sendi. Lembut.


"Yaa sudah dehh, kalau gitu, Mama pulang saja, jangan lupa yaa Nak, jangan sampai nggak jadi loh mobil untuk Mama," pinta Mama dengan tatapan paksaannya.


"Oo iyaa Kak Asiyah mana?" tanya Laura.


"Ada di ruang baca, di atas, kenapa?" jawab Sendi.


"Oohh, nggak, itu loh Mas, mobil Kak Asiyah masih ada kan yaa?" tanya Laura, halus. Sepertinya menyindir.


"Ada, ada di dalam garasi, kenapa?" tanya Sendi.

__ADS_1


"Nggak kok, mobil Kak Asiyah bagus juga sih Mas, yaa kalau memang Mas nggak bisa membelikan mobil baru untuk Mama, yaa nggak apa-apa mobil Kak Asiyah saja penggantinya, toh itu kan mobil istrinya Mas, berarti sudah menjadi harta milik Mas juga dong, dari pada nganggur di rumah tu mobil," jelas Laura. Sungguh memaksa sekali.


"Ohh iya boleh-boleh tuh Nak, lumayan juga harganya mobil Asiyah itu, kalau nggak salah sekitar 2 Milyar lebih kan yaa? Nggak apa-apa Mama pakai yang bekasan Asiyah juga Mama ikhlas kok Nak," sambung Mama dengan kata-kata palsunya, seakan ikhlas diberi namun sejatinya ingin merampas harta orang lain dengan semena-mena, demi kesenangannya sendiri.


Wajah licik Mama semakin terlihat. Didukung oleh Laura yang juga sama-sama semakin nampak keserakahannya akan milik orang lain.


Pak Sendi hanya diam. Menatap Mama yang sungguh tak tega Ia melihatnya memelas sesuatu seperti itu kepada dirinya.


Mama adalah keramat bagi Pak Sendi. Benar lah memang. Pintu surga terbaik akan didapatkan dengan cara berbakti kepada kedua orang tua. Tetapi apakah dengan cara memenuhi segala permintaan Mama maka hal itu suduh cukup dikatakan berbakti.


Mama pulang bersama Laura dengan meninggalkan beban pikiran untuk Pak Sendi. Juga Asiyah. Yang ternyata sedari tadi mengintip dan mendengarkan pembicaraan mereka hingga usai.


Setelah melihat Mama keluar dari rumahnya, Asiyah kembali ke posisi duduknya semula, di kursi ruang baca itu. Seakan tak tahu apa yang terjadi barusan. Berpura-pura tak mendengar apa-apa. Berpura-pura tak menyaksikan apa-apa.


Pak Sendi masuk ke kamar mereka.


Asiyah termenung di ruang baca itu. Duduk menatap kosong ke arah buku yang terbuka lembarannya. Seakan tangan itu membuka buku, juga mata itu seakan membaca. Namun ternyata Asiyah hanya sedang menangis. Tangisan yang tak dapat terurai. Karena sembunyi dari kesedihan yang tak berkesudahan ini, adalah pilihan satu-satunya bagi Asiyah.


Menyadari istrinya tak kembali ke kamarnya dalam waktu yang cukup lama. Pak Sendi menyusul Asiyah ke ruang baca.


Diam-diam Pak Sendi membuka pintu ruang baca itu. Diintipnya ke dalam. Ada Asiyah. Tampaknya Asiyah sangat lelah. Pak Sendi melihat Asiyah yang sedang merebahkan kepalanya di meja. Menunduk. Tangannya melingkar menutupi wajahnya. Dengan buku sebagai alas kepalanya.


Cukup lama Asiyah tak bergerak. Pak Sendi akhirnya menghampiri Asiyah.


Dipegangnya kepala perempuan itu. "Istriku.." ucap Pak Sendi, pelan. Sedikit digoyangkannya kepala Asiyah.


Ternyata Asiyah telah tertidur. Tak ada gerak yang didapati oleh Pak Sendi dari tubuh Asiyah kecuali nafasnya.

__ADS_1


__ADS_2