Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Adam dan Hawa


__ADS_3

Begitulah kehidupan yang Allah berikan kepada setiap hamba-Nya. Di balik setiap ujian selalu ada harapan yang menjadi penguat langkah untuk terus berjalan.


Harapan akan datangnya sebuah keajaiban. Yaitu hikmah yang Allah berikan.


Sepi sekali hari-hari yang Asiyah jalani. Tanpa adanya konflik yang membuatnya sakit hati berulang kali. Sepi yang tenang. Tak ada waktu yang terpakai untuk berlelah-lelah bekerja di luar rumah.


Karena kehidupannya kini benar-benar telah diatur oleh Sang Maha Pengasih hanya untuk anak yang sedang bertumbuh di dalam rahimnya.


Maa syaa Allah, betapa istimewanya Asiyah. Pada masa-masa ini, Allah jauhkan dirinya dari segala keburukan, hingga Asiyah hanya berfokus pada perkembangan anaknya.


Allah jauhkan dari seorang suami yang keras hati. Allah jauhkan dari mertua yang tamak lagi kasar ucapannya. Allah dekatkan Asiyah dengan Umi dan juga adik kembar kesayangannya.


Bahkan untuk biaya kehidupannya sehari-hari, juga untuk anak dalam kandungannya, Asiyah tak perlu takut lagi kekurangan seperti saat masih bersama suami pelitnya dahulu.


Alhamdulillah, usaha yang Umi jalankan selama ini telah banyak memberikan hasil. Umi sangat tekun dan sabar dalam merintisnya.


Dengan modal uang yang diberikan oleh Asiyah dulu. Kini semuanya justru berbalik. Yaa kebaikan Asiyah pada orang tuanya tidaklah sia-sia. Malah kebaikan itu pula lah yang menjadi penolongnya saat ini.


Kebaikan yang dulu Ia titipkan pada Umi, kini kembali mencari asal mulanya. Yaitu seorang Asiyah, seorang calon Ibu yang tengah mengandung sepasang anak yatim di dalam rahim sucinya.


Sore hari yang sejuk, sendu. Angin bertiup dingin. Dedaunan di taman depan rumah Asiyah ikut bergoyang.


Asiyah duduk santai di kursi goyang pinggir taman. Dengan Al-Qur'an kecil berada di tangannya. Lantunan ayat suci Al-Qur'an itu terdengar begitu lembut serta merdu sekali diucapkan oleh Asiyah. Maa syaa Allah, seraya mengelus perut besarnya, mengajak kedua anak yatimnya turut mendengar lantunan ayat suci itu.


Kursi itu pun terus bergoyang. Seakan mendengar perintah Allah untuk senantiasa memanjakan Asiyah. Angin yang bertiup juga sesekali mengibaskan lembut hijab yang ada pada tubuhnya.


Aisyah dan Ali yang kini berada dekat di sisinya tak pernah kurang lagi rasa bahagianya. Rindu yang dulu tertahan kini terobati. Bersamaan dengan penantian akan hadirnya dua keponakan kembarnya.


"Kak, mau Aisyah ambilkan apa?" tanya Aisyah ketika menghampiri Asiyah yang sedang menikmati sore ini di taman depan rumah mereka.


"Belum ada Sayang, nanti kalau Kakak butuh sesuatu, Kakak panggil Aisyah yaa," ucap Asiyah lembut seraya tersenyum pada adik perempuannya itu.


"Ali saja Kak, biar Ali saja yang ambilkan, karena Ali kan satu-satunya laki-laki dalam keluarga kita, jadi Ali akan bertanggung jawab untuk Kakak dan calon keponakannya Ali!" sambung Ali seketika. Memotong saja pembicaraan antara kedua kakaknya. Bersemangat. Terlihat begitu meyakinkan dalam perkataannya. Sok dewasa dan seakan bisa mengambil alih semuanya.

__ADS_1


"Hhhh.. Ali," ucap Aisyah yang mendengar perkataan itu.


"Iya Sayang, Ali juga boleh membantu Kakak dan calon keponakan Ali yaa," ucap Asiyah tersenyum senang dengan tingkah kedua adik kembarnya itu.


Tak terasa sembilan bulan sudah usia kehamilan Asiyah. Tubuh Asiyah yang dulunya kurus kini telah menggemuk. Jalannya terasa semakin berat. Langkah kakinya semakin sulit diangkat. Gerakan sholatnya pun juga turut terbatas.


"Waktunya semakin dekat Nak, kita harus segera mempersiapkan pakaian untuk Kamu dan anak-anak Kamu nanti untuk dibawa ke rumah sakit," jelas Umi pada Asiyah dalam ketenangan rumah mereka.


"Iya Umi," jawab Asiyah, patuh.


"Jangan panik yaa Nak, Asiyah yang tenang, Umi akan menemani Asiyah nanti sampai anak-anak Kamu lahir," sambung Umi dengan nasihatnya. Lembut menenangkan ucapan itu. Seraya mengelus perut Asiyah.


"Tetap berdo'a, minta kemudahan pada Allah atas jihad melahirkan ini," jelas Umi lagi.


"Iya Umi," jawab Asiyah lagi, patuh.


Subuh ini terasa sangat berbeda. Entah mengapa bangun dari tidur kali ini tubuhnya terasa lain. Pinggang belakangnya terasa sedikit nyeri. Asiyah tetap berusaha bangkit dari kasurnya untuk menunaikan sholat subuh.


Semakin lama, kakinya ikut merasakan nyeri yang perlahan menjalar sampai ke pangkal paha. Ada apa ini? Asiyah heran. Perutnya juga mulai terasa keram dan semakin kaku.


"Umiii.."


"Umiii.."


"Aisyaahh.. Aliiiii.."


Semakin terdengar teriakan itu.


Gruudukkk.. gruudukk.. sssaatttt.. pintu kamar Asiyah terbuka, terhempas ke dinding belakangnya. Ali datang dengan cepatnya.


"Kakkkk Ali datang, ada apa Kak?" ucap Ali dengan penuh kepanikan. Tersengal setelah terhenti dari larinya.


"Aliiii.. tolong Kakak Dek, tolong panggilkan Umi, sepertinya keponakan Ali mau keluar," ucap Asiyah yang begitu bahagia melihat Ali datang menepati janjinya untuk selalu menjaga dirinya. Ternyata benar-benar adik lelaki gempalnya itu yang diizinkan oleh Allah untuk mendengar suara teriakannya pertama kali pagi ini.

__ADS_1


"Iyaa Kak, siaapp, keponakan Ali akan lahir yaa?! Ali akan panggilkan Umi," jawabnya penuh kesigapan.


Umi datang menghampiri Asiyah. Melihat darah yang memberikan tanda akan segera lahir anak di dalam kandungannya.


Sesegera mungkin Asiyah di bawa ke rumah sakit terdekat. Ali dan Aisyah juga mau ikut, bersikeras tak mau tinggal. Tas yang sudah berisi segala macam persiapan untuk lahiran juga tak lupa dibawa.


Kesehatannya telah diperiksa. Kata dokter, anak ini akan lahir sekitar dua jam lagi. Umi terus mendampingi Asiyah. Kontraksinya semakin terasa. Semakin kuat.


Ali dan Aisyah dengan patuhnya menunggu berdua di kantin rumah sakit, sembari menikmati sarapan pagi mereka. Yaa sebelumnya Umi telah menitipkan mereka berdua dengan penjaga kantin. Dua anak kembar yang begitu sopan. Tidak banyak tingkahnya. Mereka semakin besar, semakin mengerti akan kondisi yang terjadi pada diri mereka.


Mereka berdua sudah berjanji akan menjaga Kak Asiyah dan keponakan kembarnya. Sebagaimana perjuangan Kak Asiyah yang telah membawa keluarga mereka hingga semapan ini.


Jum'at, pukul 08.00 pagi.


"Eeaakkkk... eeeaaakkk..." terdengar sangat ramai suara tangisan bayi itu. Kencang menggema.


Ali dan Aisyah begitu peka akan pendengarannya. Mereka segera berlari keluar ruangan kantin.


Umi masih sibuk di dalam ruangan persalinan. Ternyata benar, alhamdulillah, maa syaa Allah, suara tangisan yang didengar oleh Aisyah dan Ali tadi adalah suara keponakan kembarnya yang sedang memberikan kabar pada om dan tantenya, bahwa mereka sudah hadir untuk menjadi bagian dari keluarga ini.


"Maa syaa Allah Nak, Asiyah, anak Kamu benar-benar sepasang anak kembar, yang begitu cantik dan tampan, wajah mereka begitu mirip dengan wajahmu Nak," ucap Umi lembut, mengabarkan berita bahagia ini pada Asiyah yang masih lemah tenaganya setelah merasakan proses lahiran normal lima belas menit yang lalu.


Kini mereka telah berkumpul di ruang rawat inap rumah sakit. Asiyah tak hentinya meneteskan air mata kebahagiaan itu. Betapa bersyukurnya Ia dianugerahi oleh Allah sepasang anak kembar yang sehat juga elok rupanya.


Juga dengan kesedihan menerima kenyataan, bahwa anak-anaknya terlahir sebagai anak yatim.


"Bagaimana Nak, siapa nama anak-anak ini?" tanya Umi, sambil menggendong bayi lelaki itu.


Sementara bayi perempuan itu berada dipelukan Asiyah.


"Adam dan Hawa.." nama itu terucap lembut perlahan begitu saja dari mulut Asiyah. Seraya tersenyum menatap kedua anaknya bergantian.


"Maa syaa Allah, nama yang bagus Nak, Umi setuju," jawab Umi. Senyum senang.

__ADS_1


Ali dan Aisyah pun juga tak hentinya memandangi kedua keponakannya itu dengan penuh kasih sayang dan suka cita.


__ADS_2