Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Abi Sudah Tenang


__ADS_3

Hampir tiga tahun sejak Abi terkena serangan stroke, hidup mereka berubah drastis.


Umi dan Asiyah lah yang paling merasakan perubahan hidup mereka. Sudah berpuluh-puluh tahun yang lalu mereka mendapatkan dan merasakan kemewahan yang diberikan Allah melalui Abi.


Sementara Abi saat jatuhnya kehidupan mereka kini mungkin tidak terlalu merasakannya karena Abi sedang berjuang melawan penyakitnya, mana mungkin Abi sibuk dengan segala kemewahan lagi, sudah dikasih sehat saja, Abi sudah sangat bersyukur.


 


Pengobatan Abi masih terus rutin dilakukan, tetapi mengapa Abi belum juga menunjukkan perkembangannya.


Kata dokter, memang penyakit seperti yang dialami Abi ini sulit untuk sembuh dalam waktu singkat. Terakhir saat diperika, jantung Abi juga bermasalah. Abi jadi sering sesak nafas. Bukannya membaik tetapi malah semakin parah. Innalillahi.. Sudah berat sebenarnya apa yang dialami oleh Abi. Kasihan juga jika Abi harus tetap dipaksa bertahan dalam keadaan seperti ini.


 


Akhir-akhir ini Abi banyak maunya. Kalau disuapin makanan banyak nolaknya. Abi jadi lebih cerewet sekarang soal makanan.


Kemarin Umi masak sop ayam untuk Abi. Abi tidak mau memakannya. Abi membuang mukanya, tidak mau melihat sama sekali masakan Umi. Umi diam. Meneteskan air mata melihat Abi. Kenapa Abi jadi seperti ini? Apa yang salah dengan masakannya? Apa salah Umi? Apa Abi sudah bosan dengan masakan Umi?


 


Abi juga lebih sensitif. Seperti biasa Ali memang suka sekali meluapkan isi hatinya jika sedang marah, senang ataupun sedih.


Siang hari sepulang sekolah, Ali langsung saja masuk ke kamar Abi, Ali bercerita, menyampaikan keluh kesahnya pada Abi.


Kata Ali tadi di sekolah makanannya jatuh saat dibawanya, soalnya Ali ditabrak oleh teman satu sekolahnya yang sedang berlari, bukannya mengganti makanannya, temannya itu malah pergi saja menghilang. Ali kesal.


Seperti biasa Ali sedikit mengamuk saat bercerita. Tetapi entah apa yang ada di pikiran Abi tentang Ali saat itu, Abi malah membentak Ali, “Eeeee.. eeeee..” ucap Abi dengan nada yang keras. Mata Abi melotot pada Ali.


Abi tampaknya marah pada Ali. Ali merasa takut. Ali keluar dari kamar Abi. Ali berlarian menemui Umi di depan televisi. Ali menceritakan semuanya pada Umi. Umi memeluk Ali. Menenangkan anak laki-laki gempalnya itu. Ali tampak takut. Umi diam mendengarkan semua cerita Ali.


Umi heran. Umi jadi berpikir. Apa yang terjadi pada Abi. Abi benar-benar banyak berubah sikapnya akhir-akhir ini.


 


Sepulang kuliah malam ini, Asiyah membawakan es krim untuk Ali dan Aisyah.


Aisyah memakan es krimnya di sebelah Abi.


Abi melihat Aisyah, “Mmmm.. mmmm..” panggil Abi pada Aisyah dengan bahasa isyaratnya.


 


Aisyah melihat Abi. “Abi kenapa? Abi mau es krim Aisyah ya?” tanya Aisyah pada Abi.


“Mmmmm..” jawab Abi. Sedikit mengangguk.


Tanpa pikir panjang, Aisyah langsung saja menyuapi Abi es krimnya.


Abi memakan es krim dengan lahap. Tumben sekali Abi seperti ini. Es krimnya habis.


“Abi mau lagi? Nanti Aisyah bilang sama Kak Asiyah biar dibelikan lagi untuk Abi, tanya Aisyah pada Abi.


 

__ADS_1


“Mmmmmm..” jawab Abi. Mengangguk.


 


“Ya sudah, Abi tunggu sebentar yaa, Aisyah mau bilang dulu sama Kak Asiyah,” ucap Aisyah.


 


Aisyah menghampiri Kak Asiyah yang sedang istirahat di kamarnya. Bersebelahan dengan kamar Abi.


Yaa rumah itu memang hanya ada dua kamar. Rencananya nanti kalau ada rezeki lebih, in syaa Allah akan dibangun lagi satu kamar di belakang, karena tidak mungkin kalau Ali ikutan tidur bertiga terus dengan Kak Asiyah dan Aisyah.


 


“Kak, Abi mau es krim kayak Aisyah Kak, belikan lagi ya Kak, kasihan Abi Kak,” ucap Aisyah pada Kak Asiyah.


Asiyah sedang rebahan di kasurnya. Capek sekali. Asiyah diam sejenak. Berpikir. Tumben Abi seperti ini. Tidak biasanya Abi suka makan es krim, apalagi sampai menghabiskan es krimnya Aisyah.


 


Kak Asiyah mengangguk. Asiyah segera pergi membeli es krim untuk Abi di toko pinggir jalan depan gerbang perumahan.


Pulang dari toko, Asiyah sendirilah yang langsung memberikan es krimnya pada Abi. Asiyah menyuapi Abi. Dilihatnya wajah Abi. Abi lahap sekali memakan es krimnya. Sampai tumpah-tumpah ke lehernya. Di bersihkan oleh Asiyah mulut dan leher Abi, dilapnya menggunakan tissue.


 


“Tuh kan Kak, Abi suka sekali kan es krimnya,” ucap Aisyah.


 


Asiyah teringat dulu bagaimana Abi menyuapinya es krim, menyuapinya makan dan minum, kini Asiyah lah yang melakukan semuanya untuk Abi. Berkaca-kaca mata Asiyah. Asiyah tiba-tiba merasakan kesedihan yang dalam malam ini. Mengenang kasih sayang Abi padanya.


 


“Sudah Abi? Es krimnya sudah habis,” tanya Asiyah pada Abi.


 


Abi mengangguk.


 


“Asiyah keluar dulu ya Abi,” ucap Asiyah pada Abi yang berbaring di sebelahnya. Asiyah mencium kening Abi kemudian pergi.


 


Aisyah masih baring di sebelah Abi. Aisyah tampaknya sangat ngantuk. Matanya mulai terpejam, perlahan Aisyah tertidur di sebelah Abi. Aisyah memeluk Abi.


 


Malam sudah larut.


 

__ADS_1


Umi masuk ke kamar, hendak tidur. Dilihatnya ada Aisyah tidur pulas di sisi kiri Abi. Diusapnya kepala Aisyah, diciumnya pipi gadis kecil itu. Kemudian dilihatnya wajah tua Abi. Usia Abi sudah lebih dari 60 tahun. Entah kenapa malam ini Umi merasa sangat rindu pada Abi. Dilihatnya wajah keriput itu. Abi lemah di atas kasurnya. Abi sedang tidur. Tidak seperti biasanya. Abi tidur pulas sekali


malam ini. Abi tampak tenang.


 


“Abi.. cepat sembuh yaa, Umi kangen banget sama Abi,” bisik Umi. Diciumnya kening Abi, pipinya yang kiri dan kanan. Diambilnya tangan kanan Abi, diciumnya.


Umi dan Aisyah malam ini tidur memeluk Abi. Tampak sangat tenang.


 


Seperti biasa Umi bangun untuk menunaikan sholat subuh. Selepas sholat subuh Umi membuat sarapan di dapur. Setelah selesai membuat sarapan Umi kembali ke kamar membangunkan Aisyah untuk mandi. Dilihatnya Abi masih tidur, biarlah. Nanti siangan dikit baru membangunkan Abi.


Asiyah, Aisyah dan Ali sudah selesai mandi dan sarapan. Mereka berangkat bersama menggunakan motor, berboncengan dengan motor Kak Asiyah.


Umi kembali melihat Abi di dalam kamar. Abi masih belum bangun dari tidurnya. Umi keluar lagi beres-beres rumah. Pukul sepuluh pagi, pekerjaan Umi sudah selesai semua. Masak, mencuci, menyapu dan yang lainnya. Lelahnya Umi. Umi beristirahat sejenak.


Tiba-tiba Umi teringat Abi lagi. Biasanya Abi akan memanggil Umi dengan membunyikan suaranya ketika sudah bangun dari tidurnya. Tapi kali ini kenapa Abi tidak memanggilnya. Umi segera mengecek Abi ke dalam kamar lagi. Dilihatnya dari depan pintu kamar, Abi masih tidur. Umi heran. Merasa ada yang aneh. Didekatinya Abi. Umi duduk tepat di sebelah Abi. Dipegangnya tangan Abi. Dingin. Lemah sekali. Mata Abi masih terpejam.


Umi cemas.


Bismillahirrohmanirrohim.


Umi gugup. Meletakkan jari telunjuknya di bawah hidung Abi. Umi memeriksa hembusan nafas Abi. Diletakkannya kepalanya di dada Abi. Umi memeriksa detak jantung Abi.


Umi terdiam.


Umi gemetar.


Terkulai lemah badan Umi. Umi tidak merasakan apa pun pada diri Abi. Tanda-tanda kehidupan itu menghilang. Semua sudah sirna. Abi telah tiada.


Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.


Air mata Umi tak terbendung. Tangisan Umi pecah.


“Abbbiiiiiiiiii.....” ucap Umi lirih.


 


Asiyah segera pulang. Izin dari kantornya. Asiyah langsung menjemput Ali dan Aisyah di sekolahnya, izin dulu sama gurunya.


Sesegera mungkin Asiyah bergerak menuju rumahnya. Sesampainya di rumah, Asiyah menyaksikan pemandangan yang tidak ingin Ia lihat, rumahnya sudah ramai dikunjungi tetangga dan sanak saudara. Abi terbujur kaku di atas kasur.


Di ruang tengah itu, tampak Abi yang telah tidur untuk selamanya. Asiyah, Ali dan Aisyah seketika itu langsung menangis dan memeluk Abi.


“Abiiiiiiiii..”


Umi berada di sebelah Abi dari tadi. Terus berurai air matanya membacakan do’a-do’a.


Asiyah yang biasanya tampak tenang, kini tak kuasa menahan kesedihannya. Rasa itu akhirnya meluap juga ke permukaan.


Yaaa Asiyah adalah seorang perempuan biasa yang kadang juga tidak bisa menyembunyikan emosinya. Ali dan Aisyah masih saja menangis tersedu-sedu. Mereka tampak sangat terpukul dengan kepergian Abi.

__ADS_1


Mereka mengerti. Mereka memahami keadaan Abi saat ini. Abi telah pergi untuk selamanya.


__ADS_2