
Mungkin sebaiknya memang Asiyah tidak usah bekerja kantoran dulu. Asiyah ingin menenangkan dirinya dulu. Asiyah masih belum merasa aman. Bayang-bayang tentang banyaknya orang yang ingin menyakitinya selalu hadir.
Asiyah terus berdo’a pada Allah, memohon petunjuk. Apa yang harus Dia lakukan sekarang? Sementara cicilan rumah harus dibayar dan adik-adik harus tetap bersekolah,
Setelah sebelumnya Asiyah mengambil alih tanggung jawab sebagai tulang punggung utama di dalam keluarganya, kini Asiyah malah merasa menjadi beban bagi Umi.
Umi memang punya penghasilan sendiri lewat usaha rumahannya, tetapi mana cukuplah untuk memenuhi semua kebutuhan. Untung yang didapat dalam berjualan makanan kecil itu tidaklah seberapa, apalagi jangkauan pemasaran Umi hanya di sekitaran rumahnya saja.
Asiyah kemudian berpikir untuk mengikuti jejak Umi saja. Tetapi Asiyah ingin memasarkan produknya dengan jalan yang berbeda dengan Umi. Kalau Umi menjualnya secara langsung, nah Asiyah akan berdagang melalui media online saja. Dan juga Asiyah akan menjual sesuatu yang keuntungannya jauh lebih besar dari dagangannya Umi. Yang pasti, yang dagangannya nanti adalah produk yang bakalan sering dicari oleh anak muda, terutama kaum hawa.
Rencana ini harus dibicarakan dengan Umi. Asiyah tentu membutuhkan dukungan dari Umi untuk melancarkan usahanya. Bukan kah ridho orang tua adalah ridhonya Allah?
"Umi.. rencananya Asiyah mau buka lapak online saja Umi, untuk sementara waktu," ucap Asiyah pada Umi saat makan malam itu.
Pembicaraan santai pada makan malam sederhana. Yaa benar-benar sederhana, karena malam ini mereka berempat makan nasi hanya ditemani dengan telor dadar saja. Harus menghemat kata Umi, yang pnting masih bisa makan bersama-sama, dan beruntungnya Ali dan Aisyah pun tak rewel, mereka semakin mengerti dengan keadaan ini.
"Iya Nak, apa pun yang Asiyah lakukan akan Umi dukung, selagi itu baik untuk Kita, Umi percaya sama Asiyah."
Kali ini senyuman Umi benar-benar menenangkan hati Asiyah. Umi tak menuntut apa-apa lagi dari anak sholehanya itu.
"Kakak mau jualan apa Kak? Ali ikut yaaa?" ucap Ali dengan polosnya tanpa tahu medan yang akan dilalui Kak Asiyah, Ali mengira Kak Asiyah akan berjualan seperti Umi.
__ADS_1
"Aisyah juga mau ikutan dong Kak, Aisyah mau lihat Kakak jualan.."
Aisyah dan Ali memelas. Mereka belum paham tentang 'Online Shop'.
Asiyah dan Umi tertawa melihat tingkah Ali dan Aisyah.
"Kakak jualannya di rumah sayang, ya kan Mi?" ucap Asiyah tertawa.
"Yaaaa.." serentak dua kembar itu bersorak, lesu. Sepertinya dalam bayangan mereka Asiyah akan berjualan seperti pedagang yang membuka lapak di pasar-pasar. Pasti akan ramai sekali dan seru.
Alhamdulillah.. Umi mengerti sekali kondisi mental Asiyah saat ini. Umi sama sekali tidak melarang apapun yang ingin Asiyah lakukan. Yang penting kata Umi, Asiyah bisa bahagia dan segera bangkit dari traumanya. Soal rezeki bisa kita minta sama-sama pada Allah. Diiringi dengan ikhtiar yang maksimal, in syaa Allah jalannya pasti terbuka.
Asiyah memulai usahanya dengan berdagang produk perawatan kecantikan, mulai dari perawatan tubuh hingga wajah. Harganya lumayan mahal.
Asiyah memang tidak menyetok barang dagangannya, Alhamdulillah distributornya masih satu kota dengannya jadi Asiyah hanya tinggal menjualnya saja, nanti Asiyah akan mendapatkan komisi dari setiap penjualannya.
"Assalamu'alaykum Bunda, Asiyah mau ngambil barang siang ini yaa ke tempat Bunda, Asiyah dapat pesanan 2 set skin care wajah untuk kulit normal Bunda," ucap Asiyah melalui ponselnya.
"Wa'alaykumussalam, alhamdulillah syukurlah, iya Nak silahkan, barang ready di tempat Bunda yaa," jawab Bunda itu dengan ramah.
Bunda adalah sebutan bagi pemilik distributor alat kecantikan tempat Asiyah mengambil barang dagangannya. Bunda sangat ramah pada siapa pun, tak heran jika Asiyah memilih bergabung bersama grup dagang milik Bunda.
__ADS_1
Asiyah mengenal Bunda saat Ia sedang berselancar di dunia Maya, mencari ke mana arah langkah kakinya untuk diikhtiarkan mendapatkan rezeki. Hingga sampailah Asiyah pada akun online milik Bunda. Mereka mulai berkenalan dan hingga akhirnya menjalin kerjasama. Beruntungnya alhamdulillah untuk menjadi member dagang produk dari Bunda, Asiyah tidak perlu membayar sepeser pun, alias gratis.
Dengan tekun Asiyah mengantarkan barang dagangannya pada konsumen terdekat, kalau Asiyah mendapatkan konsumen yang jauh, Asiyah bisa menjualnya dengan sistem dropship saja. Dengan ramah Asiyah merespon setiap pesan dari konsumen yang masuk ke ponselnya. Dengan penuh kejujuran Asiyah bermuamalah.
Yaa.. tidak ada pekerjaan tanpa hambatan. Ujian menjadi seorang pedagang online juga tetap ada.
Pernah satu kali Asiyah ditipu. Asiyah bermaksud membuka kepercayaan seluas-luasnya pada konsumen. Karena menurutnya, kalau tidak dari kita yang mencoba mempercayai lalu kapan lagi akan terbentuk jalinan dalam membangun kepercayaan muamalah yang baik? Tapi ternyata, tidak semua orang mempunyai niat yang sama dengan Asiyah. Sebagian dari mereka mencoba mengambil keuntungan dari kebaikan orang lain dengan cara yang curang.
Waktu itu, Asiyah sudah melakukan perjanjian untuk melakukan transaksi di tempat pertemuan. Kalau bahasa dagang onlinenya COD (Cash On Delivery). Orderannya lumayan banyak.
Dengan penuh semangat Asiyah membawa produknya kesebuah persimpangan jalan, sesuai perjanjian, transaksinya akan dilakukan tepat di persimpangan jalan itu. Sepi sekali suasana sekitar sore itu, hanya ada penjual kacang rebus yang mangkal di ujung jalan sana. Lima belas menit sudah Asiyah menunggu.
Tiba-tiba ponsel Asiyah berbunyi.
Kata si pembeli, Asiyah harus turun dari motor dan melambaikan produknya ke arah kanan persimpangan. Asiyah pun segera melakukannya. Ngennggg.. bruummm.. brruumm.. sekelebat hebat motor itu menyambar Asiyah. Produk yang dipegangnya tadi hilang lenyap bersama motor yang lewat tadi. Asiyah dijambret oleh konsumennya sendiri. Selesai sudah. Asiyah tak mampu berteriak. Percuma saja. Jalanan sepi. Tidak ada yang bisa menolongnya. Asiyah menanggung kerugian kali ini.
Qadarullah.. ini sudah Allah tetapkan. Asiyah harus berhati-hati lagi untuk ke depan, tidak apa-apa, ini namanya pengalaman buruk yang sangat baik untuk dijadikan pelajaran, pikir Asiyah.
Lagi-lagi Asiyah menemukan kendala dalam usahanya. Online shopnya sepi pembeli. Padahal iklan di media sosialnya tak pernah lupa Ia bagikan.
__ADS_1
Kalau begini terus Asiyah tidak akan bisa membantu keuangan keluarga. Wajarlah, tidak mungkin setiap saat konsumen hendak membeli produk skin care karena yang namanya produk skin care bisa bertahan lama tergantung pemakaian. Dan lagi yang menjadi pedagang online juga bukan hanya Asiyah saja, masih banyak yang lain yang berusaha menggaet pelanggan dengan cara yang lebih menarik dibanding Asiyah. Apalagi Asiyah masih sangat pemula dalam dunia online shop ini.
Memang Asiyah harus lebih banyak belajar lagi dalam dunia marketing seperti ini.