
Riuh suara canda tawa saat pembagian oleh-oleh malam ini.
Terdengar suara adzan isya. Berkumandang merdu di tengah asiknya gurauan mereka.
Dunia memang melalaikan. Tapi tidak bagi Asiyah. Di setiap kesibukannya, Asiyah selalu menunaikan kewajibannya setiap kali suara adzan itu memanggil dirinya.
"Cita, ikut Saya sebentar, ke kamar," ajak Asiyah pada Cita. Juga dengan isyarat lirikan matanya ke arah kamar yang berada di atas.
Cita menengok. "Iya Mbak," mengikuti Asiyah dari belakang.
"Ini kontak pemilik koper ini, dan ini juga ada alamat rumahnya," ucap Asiyah kepada Cita ketika berada di dalam kamarnya. Menyerahkan selembar kertas yang diambilnya dari map berkas milik pria itu.
"Iya Mbak," Cita menyambutnya.
"Saya sholat dulu yaa, nanti kalau ada apa-apa beri tahu Saya yaa Cita," ucap Asiyah.
"Baik Mbak, Saya juga mau sholat dlu Mbak, habis sholat in syaa Allah Saya hubungi pria ini," jelas Cita.
Cita menuruni tangga usai melaksanakan sholat isya.
Segera menghubungi pria pemilik koper itu. Duduk di sofa ruang tengah, Cita mulai memencet tombol ponselnya.
Taatt.. ttiitt.. ttuuttt.. taatt.. ttuuutt..
Tuuuuttt.. ttuutttt.. telepon itu belum juga terhubung.
Cita melihat ke arah jam dinding. Masih jam setengah delapan malam. Tidak mungkin rasanya kalau pria ini sedang tidur.
Ditelponnya lagi. Ttuuutt.. ttuuutt.. tuuutt.. Sudah sepuluh kali Cita mencoba menghubungi nomor pria ini, namun tetap tidak ada hasilnya.
Umi menghampiri Cita. Setelah melihat Cita yang tampak serius memegang ponsel sendirian di sofa santai ruang tengah mereka.
"Ada apa Cita? Ngapain sendirian di sini? Lagi galau yaa?" tanya Umi tersenyum. Bercanda.
"Hhmmm.. Umi, galau apa coba? Cita kan nggak ada pacar, fokus cari uang dulu," jawab Cita dengan logat manjanya saat mendengar gurauan Umi.
"Iya iya Umi percaya Nak, ya kan Umi heran saja, Kamu kenapa sendirian di sini kayak orang kebingungan?" tanya Umi lembut. Duduk di sebelah Cita.
"Gini loh Mi, koper kabin milik Mbak Asiyah tertukar sama koper milik seorang pria saat di pesawat, terus Cita sedang mencoba menghubungi pria itu, kebetulan di dalam koper itu kita menemukan berkas-berkas penting milik Dia, termasuk kontak ponsel dan alamatnya," jelas Cita.
"Ya sudah langsung saja dihubungi pria itu, Dia juga pasti sedang kebingungan mencari jalan, bagaimana caranya supaya kopernya kembali," jelas Umi cepat.
__ADS_1
"Iya Mi, ini dari tadi Cita mencoba menghubunginya, sudah sepuluh kali loh Mi, tapi nggak diangkat teleponnya," jawab Cita lagi.
"Coba besok saja lagi, mungkin sekarang Dia sedang sibuk, kalau tidak diangkatnya juga besok saat ditelepon, langsung saja datangi kediamannya sesuai alamat yang kalian dapat di dalam koper itu," jelas Umi lagi.
"Iya Umi," jawab Cita.
"Umi, Cita ke atas dulu yaa, mau ngasih tahu Mbak Asiyah dulu, soal ini," ucap Cita seraya berdiri.
"Iya Nak, Umi juga mau lanjut ke belakang lagi menemani Aisyah dan Ali," ucap Umi, juga seraya berdiri. Lalu beranjak meninggalkan tempat itu.
Asiyah yang mendapatkan kabar dari Cita tentang hal ini, mengambil langkah yang sama dengan yang Umi katakan tadi.
Malam pun berlalu. Bulan telah menghilang. Waktu pun persekian detiknya menyampaikan pesan, bahwa sebentar lagi hari yang baru akan segera dimulai. Hari ini akan segera berlalu. Dan hari esok akan segera datang.
"Allahu akbar.. Allahu akbar.." suara adzan telah membangunkan mata-mata seisi rumah Asiyah yang tertidur lelap. Kecuali pak sekuriti yang mendapatkan giliran jaga di rumah Asiyah, hingga habis masa tugasnya di hari ini.
Asiyah membuka matanya. Adzan itu terdengar lembut membangunkannya. Wujud kasih sayang Allah kepada setiap hamba-Nya agar tepat waktu melaksanakan kewajibannya.
Bangkit dari tempat tidurnya. Asiyah merasa sangat lelah pagi ini. Entah hal apa yang mengacaukan pikirannya, hingga membuatnya sedikit tak tenang. Ia segera berwudhu. Berjalan perlahan. Menatap wajahnya terlebih dahulu di depan cermin dekat kran air tempat berwudhu.
"Ya Allah, ada apa ini? Astaghfirullah, hhhhh.." Asiyah mengusap wajahnya. Lalu memulai bersuci, berwudhu dengan tertib.
Tookk.. tookk.. tookkk.. Suara ketukan pintu kamar. Asiyah mengetuk pintu kamar Cita dan Caca setelah selesai sholat.
Pintu kamar itu pun dibuka. Keluarlah Cita yang masih berbalut mukenahnya. Sementara Caca masih di dalam do'a sholatnya.
Asiyah telah terbiasa melihat pemandangan ini. Dulu pas awal-awal mengenal Cita dan Caca, kedua asisten pribadinya itu lumayan sulit untuk dibangunkan untuk sholat subuh. Tapi sekarang, alhamdulillah, mereka telah pandai menjaga perintah Allah yang utama itu di dalam diri mereka.
Tak sia-sia rasanya bagi Asiyah untuk terus menerus mengingatkan mereka di awal bekerja dulu. Sudah seperti Asiyah saja yang menjadi asisten pribadi mereka berdua dalam hal mengingatkan perkara kewajiban agama yaitu sholat dan hijab.
"Iya Mbak," tanya Cita, seketika melihat wajah Asiyah di depan kamarnya.
"Jadwal shooting Saya hari ini jam berapa yaa? Lupa Saya," tanya Asiyah.
"Ba'da dzuhur Mbak," jawab Cita.
"Ooh yaa, kalau begitu pagi ini segera Kamu hubungi pria pemilik koper itu yaa? Kalau memang tidak ada respon juga, kita datangi saja alamat rumahnya yaa, biar Saya yang akan berbicara langsung dengannya," jelas Asiyah.
"Baik Mbak," jawab Cita.
"Mudah-mudahan, in syaa Allah, sebelum berangkat shooting hari ini, kasus ini telah selesai, pusing Saya, soalnya ada beberapa pakaian Saya untuk perlengkapan shooting di dalam koper itu yang baru saja Saya beli saat liburan di Korea kemarin," jelas Asiyah.
__ADS_1
"Iya Mbak, nanti Saya usahakan semuanya, segera," ucap Cita.
"Ya sudah, Saya balik ke kamar lagi," ucap Asiyah. Lalu pergi meninggalkan Cita di depan pintu kamar itu.
Sarapan pagi seperti biasa. Tiga asisten rumah tangga telah menyiapkan semuanya sedari subuh. Pagi ini, nasi goreng sosis dengan telur ceplok. Lalapan kerupuk dan irisan timun.
Aisyah, Ali dan Umi telah terlebih dahulu menyantap sarapan lezat itu. Bergegas agar nantinya tidak terlambat tiba di sekolah. Mereka juga tampak sangat lelah hari ini. Liburan dengan perjalanan yang panjang. Juga memilah oleh-oleh untuk dibagikan kepada sahabatnya di sekolah tadi malam. Membuat tubuh mereka sedikit terkuras kekuatannya. Tapi semangat Aisyah dan Ali justru semakin kuat.
"Sari, Umi sudah pergi ngabarin Aisyah dan Ali ke sekolah yaa?" tanya Asiyah. Seraya mengambil nasi goreng dalam mangkok besar itu.
"Sudah Mbak, barusan," jawab Sari.
"Caca dan Cita sudah sarapan?" tanya Asiyah lagi. Sambil menyantap nasi goreng. Santai.
"Itu mereka Mbak," jawab Sari, seraya menunjukkan ujung jarinya ke arah Caca dan Cita yang berbarengan menuruni tangga.
Asiyah melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Sari. Kemudian melanjutkan makannya.
Caca dan Cita menghampiri meja makan. Hendak sarapan. Menyiapkan nasi goreng lezat itu ke piring keramik berwarna putih nan bulat, untuk mereka santap.
"Mbak, barusan Cita sudah mencoba menghubungi nomor pria pemilik koper itu lagi, sama seperti tadi malam Mbak, Cita mencoba sampai sepuluh kali, tapi tetap tidak direspon, apa kita langsung pergi ke alamat rumahnya saja yaa Mbak?" jelas Cita dengan tanyanya.
Caca menyimak sambil menyantap sarapannya.
Tangg.. ttiinngg.. tangg.. ttiinngg.. suara beradunya sendok garpu ke piring keramik mereka masing-masing.
"Okee, kita tunggu sampai jam sembilan pagi ini, kalau memang tidak ada panggilan balik, kita segera mencari alamat rumah pria itu," ucap Asiyah.
"Siap Mbak," jawab Cita.
Sarapan pagi telah usai. Dua jam telah berlalu. Asiyah, Caca dan Cita pun telah siap siaga untuk berangkat menunaikan aktivitas mereka hari ini.
Hal yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Telepon dari pria pemilik koper itu tak kunjung berbalik.
"Mbak, sudah jam sembilan, kabar dari pria pemilik koper ini belum juga ada, apa sebaiknya kita langsung ke alamatnya saja?" tanya Cita yang menghampiri Asiyah ke kamarnya bersama Caca.
Asiyah melihat jam tangannya. Pukul 09.05. Menarik nafasnya dalam. Diam. Berpikir sejenak.
"Oke, baiklah, Caca, Cita, kita bereskan pagi ini juga kasus koper yang tertukar ini," ucap Asiyah.
"Baik Mbak," ucap Caca dan Cita serentak.
__ADS_1