
“Ssssrrrrrrr..”suara adonan pisang goreng yang
dicemplungkan ke dalam minyak goreng panas di dalam kuali.
Pagi ini Umi membuat cemilan di dapur. Pisang goreng. Untuk sarapan.
Abi duduk di kursi rodanya, di depan rumah.
Ali dan Aisyah bermain ayunan di sebelah rumah. Abi melihat ke arah mereka saja.
Abi senyum-senyum sendiri melihat kelakuan anak kembarnya.
Ali dan Aisyah bergantian naik ke ayunan yang bergelantungan di pohon sebelah rumah. Mereka
asik dorong-dorongan. Terjatuh, terguling, namun mereka dengan riang gembiranya malah tertawa terbahak-bahak.
Abi pun juga ikut terbawa suasana. Sesekali Abi mengeluarkan suara. Hanya bunyi yang tak beraturan. Ikut tertawa. Suara tawa Abi masih belum jelas.
Umi keluar membawa pisang goreng. Pisang gorengnya sudah jadi.
“Alii, Aisyah, pisang gorengnya sudah jadi nii, nanti lagi mainnya,” panggil Umi. Berteriak kearah ayunan.
“Wahh pisang goreng, ayoo Kak kita makan pisang goreng dulu,” ajak Ali pada Aisyah.
Mereka berlari ke teras rumah. Abi dan Umi sudah di sana dari tadi.
Umi menyuapi Abi makan pisang goreng.
Ali dengan cepat mengambil pisang goreng. Langsung tiga dipegangnya. Cepat sekali Ali melahapnya. Kata Ali harus cepat, nanti kehabisan.
Aisyah duduk di kursi sebelah Abi. Aisyah sibuk saja menciumi pipi Abi sambil mengunyah pisang gorengnya. Berminyak pipi Abi karena bekas bibir Aisyah yang menempel. Manja sekali Aisyah pada Abi. Aisyah sangat menyayangi Abi.
“Kak Asiyah kemana Mi? Nanti pisang gorengnya dihabiskan Ali,” ucap Aisyah pada Umi. Kasihan Kak Asiyah kalau sampai tidak kebagian pisang gorengnya.
Dari kejauhan terdengar suara motor. Makin lama makin mendekat. Sayup-sayup tampak seorang perempuan yang mengendarainya. Berhijab syar’i. Kulitnya Putih. Cantik sekali.
Sepertinya Aisyah kenal. Dikejarnya sampai ke tengah halaman rumah.
“Kakkk Asiyaaahhhh..” ternyata perempuan itu adalah Asiyah. Mengendarai motor.
Ali menyusul ketengah halaman, berlarian. Ikut berteriak memanggil, “Kak Asiyaaahhh.”
Asiyah tiba tepat di depan rumah kontrakan mereka. Senyum-senyum. “Assalamu’alaykum,” ucapnya
“Wa’alaykumussalam,” jawab Umi, Ali dan Aisyah berbarengan.
Kini Kak Asiyah berada di tengah-tengah Ali dan Aisyah, di tengah halaman.
Asiyah turun dari motornya.
Kini motornya terparkir indah di depan rumah.
Motor itu adalah motor milik Asiyah yang dibelinya tadi pagi. Motor bekas. Asiyah membelinya kontan dengan pemilik sebelumnya.
Tadi pagi mereka bertemu di rumah yang punya motor. Jadi Asiyah adalah tangan kedua pemegang motor ini. Surat-suratnya lengkap. Body motornya juga masih mulus. Kata Asiyah, yang menjual motor ini orang kaya. Baru dua tahun mereka memakainya sudah mau dijual lagi. Mau ganti baru lagi, karena sudah bosan.
Mendekati Umi dan Abi. Ali dan Aisyah mengikuti. Asiyah mengambil pisang gorengnya.
“Ini memang rezeki Asiyah ya Mi, uang sudah terkumpul, eehh langsung ada yang menawarkan motor bekas,” ucap Asiyah pada Umi. Sambil mengunyah pisang gorengnya.
“Alhamdulillah ya Nak, Asiyah tidak perlu berjalan kaki lagi ke simpang sana untuk menemukan angkot dan ojek.”
“Alhamdulillah Umi, ini rezeki Ali dan Aisyah juga Umi, kan Asiyah bisa mengantarkan mereka ke sekolah menggunakan motor ini sebelum Asiyah berangkat kerja Umi, ini juga berkat do’a Umi dan Abi,” Asiyah tersenyum.
“Ayoooo siapa nanti yang mau Kakak boncengin keliling-keliling naik motor?” tanya Asiyah mengeraskan suaranya. Memancing adik-adiknya.
“Aliiii, Aisyaaahhh..” mereka berdua berteriak menyebutkan namanya masing-masing. Bergantingan. Mengacung-acungkan ujung jari telunjuknya. Melompat-lompat.
“Yeeeaaayy.. keliling-keliling, naik motor Kak Asiyah,” senang sekali nampaknya mereka. Sangat bersemangat.
“In syaa Allah nanti sore kita keliling-keliling yaa,” ucap Asiyah.
__ADS_1
Aisyah dan Ali tidak sabar lagi sepertinya. Setiap saat berulang kali bertanya pada Asiyah.
“Kak apa ini sudah sore?” tanya Aisyah.
“Belum sayang,” jawab Asiyah.
“Kak sorenya kapan? Kok lama banget?” tanya Ali.
“Sebentar lagi Aliii,” jawab Asiyah, tersenyum.
Asiyah paham betul akan tingkah Ali dan Aisyah yang dari tadi bertanya tentang kapan datangnya sore.
Tidak sabar ingin dibonceng. Mereka sudah tidak sabar ingin keliling naik motornya Kak Asiyah. Soalnya tadikan Kak Asiyah bilangnya tunggu sore. Makanya mereka terus saja bertanya tentang kapan datangnya waktu sore.
Mereka tampak kagum dengan Kak Asiyah saat mengendarai kendaraan roda dua tadi.
Sebelumnya memang Ali dan Aisyah belum pernah melihat Kak Asiyah mengendarai motor.
Dulu Asiyah diajari Abi mengendarai motor keliling komplek perumahan elite mereka.
Waktu itu ada satu unit motor milik perusahaan Abi yang dititipi di rumah, karyawan Abi yang membawanya. Sudah terlalu banyak motor di perusahaan Abi, soalnya perusahaan sempat salah menganggarkan dana untuk pembelian motor, sehingga terjadi kelebihan 1 unit kendaraan yang dibeli. Jadi motornya dititipi di rumah Abi saja dulu menjelang terjual. Ya sudah jadi sekalian saja Abi mengajari Asiyah mengendarai motor.
Waktu itu Asiyah masih kelas dua SMA. Lumayan lama Asiyah belajar motor sama Abi, empat bulan. Kata Abi, mana tahu Asiyah membutuhkan motor untuk dikendarai suatu saat nanti. Dan ternyata perkataan Abi saat itu benar, saat ini Asiyah sangat membutuhkan motor untuk kelancaran aktivitasnya pulang pergi.
Sore yang cerah. Angin sejuk berhembus.
Ali dan Aisyah sudah mandi. Rambut mereka tersisir rapi. Aisyah tidak lupa mengenakkan kerudungnya. Bedaknya tampak putih sekali di wajah mereka. Pakai baju yang paling bagus untuk keliling bersama Kak Asiyah. Pokoknya harus tampil cantik dan tampan.
“Aliii cepatlah, lama sekali memakai sepatunya,” marah Aisyah pada Ali, yang dari tadi tidak sudah-sudahnya memakai sepatunya.
Ali mencari sepatu terbaik untuk jalan-jalan sore ini.
“Iyaa, tunggu sebentar,” Ali melipat dahinya. Bergerak cepat. Berlari menuju motor Kak Asiyah.
“Siaappp?” teriak Asiyah pada dua adiknya yang sudah duduk di belakangnya. Di atas motor.
Aisyah duduk di tengah, memeluk Kak Asiyah erat.
Mereka duduknya maju sekali. Berdempetan. Kata Kak Asiyah duduknya majuan, dempetan, biar bisa memeluk orang yang di depannya erat, biar tidak jatuh.
“Siiiaaaappppp..” teriak Ali dan Aisyah. Bersemangat sekali mereka.
“Umi Kami berangkat dulu yaa, assalamu’alaykum..” teriak Asiyah. Diikuti Ali dan Aisyah.
“Wa’alaykumussalam, hati-hati yaa Nak, jangan ngebut-ngebut,” jawab Umi. Senyum-senyum dari depan pintu rumah mereka melihat ketiga anaknya itu.
“Iya Umi, daaaa Umi..” jawab Asiyah, Ali dan Aisyah, serentak.
Menelusuri lorong rumah.
Melewati warung Wak Dayat, tempat Umi biasa menitipkan kue-kuenya.
“Assalamu’alaykum Wak,” Asiyah tersenyum menyapa Wak Dayat yang sedang duduk di depan warungnya.
Wak Dayat tersenyum membalas, “Wa’alaykumussalam, mau kemana Asiyah?” teriak Wak Dayat.
“Jalan-jalan sebentar Wak,” jawab Asiyah juga sambil berteriak.
Belok kekiri, keluar lorong. Asiyah santai mengendarai motornya.
Ali dan Aisyah sibuk saja menoleh ke kiri, menoleh ke kanan, tertawa-tawa terus di belakang, entah apa yang mereka bicarakan.
“Bisik-bisik apa sih tu di belakang?” tanya Kak Asiyah.
Mereka masih saja tertawa.
“Kakak duduknya miring,” ucap Aisyah sembari tertawa.
“Iya Kak Asiyah miring,” sambung Ali juga tertawa.
__ADS_1
“Masa sih miring, bentar-bentar,” Asiyah memperbaiki posisi duduknya.
Maklum lah Asiyah sudah lama tidak memboncengi orang di atas motor yang dikendarainya. Apalagi kini Ia memboncengi dua adiknya yang begitu lasak di atas motor.
Asiyah terus mengendarai motornya melewati SD tempat Ali dan Aisyah bersekolah.
“Sekolahannya siapa iniiiii?” tanya Asiyah dengan sedikit teriakannya.
“Sekolahnya Aisyah,” jawab Aisyah.
Diikuti Ali, “Sekolah Ali.”
Tampak di sebelah kanan mereka Sekolah Dasar yang kecil, terlihat kumuh, karena memang biaya sekolahnya murah di sana. Hanya sekolah seperti itu yang mampu dibiayai Umi saat ini untuk mereka.
Asiyah terus melajukan motornya. Masih santai.
Mengerem. Asiyah menghentikan motornya. Asiyah turun.
“Ayoo.. turuunn.. kita makan bakso dulu,” ucap Asiyah.
“Yeeaayyy makan baksoo,” teriak Aisyah dan Ali kegirangan.
Mereka turun. Duduk di pinggir jalan. Di bawah tenda jualan baksonya Mang Kipli.
Tiga puluh menit berlalu.
Mereka selesai juga makan baksonya.
Yang pertama kali menghabiskan tentulah Ali. Sampai kering kuah baksonya dihirup oleh Ali.
“Yookk kita pulang, nanti Umi nyariin,” ajak Asiyah pada adik-adiknya.
Kembali berboncengan, mereka berputar arah, menuju kerumah.
Di perjalanan pulang Asiyah bertemu Mak Tiam. Mak Tiam yang biasanya mengantarkan telur-telur bebek peliharaannya kerumah-rumah warga sekitar.
“Assalamu’alaykum Mak Tiam..” ucap Asiyah. Dengan sedikit teriakannya.
“Wa’alaykumussalam Asiyah, habis dari mana Asiyah?” jawab Mak Tiam. Melambaikan tangannya.
“Habis jalan-jalan aja maakk..” jawab Asiyah lagi. Tersenyum ramah. Membalas lambaian tangan Mak Tiam.
Asiyah terus melaju. Sementara kepalanya masih menoleh ke arah Mak Tiam.
Tanpa disadari oleh Asiyah, tepat di depannya ada lubang genangan air yang lumayan besar. Licin. Jalannya memang belum diaspal. Tengah hari tadi hujan turun sebentar, jadi lubang-lubang yang ada di jalanan tertutup oleh air.
Dalam hitungan detik motor Asiyah masuk ke dalam lubang. Satu dua tiga. Motornya jatuh. Terbenam badan mereka setengah. Baju mereka kotor dengan genangan air. Bau sekali. Kini pakaian bagus yang dikenakan Ali dan Aisyah tadi sudah berubah menjadi pakaian yang kotor. Sepatu yang dipilih Ali sekian lama tadi pun juga sudah tidak tampak lagi kegagahannya.
Mereka segera berdiri dari genangan becek itu. Beruntung memang karena mereka tidak mengalami luka sedikitpun. Alhamdulillah.
Bukannya menangis, kesal atau marah, mereka malah tertawa terbahak-bahak di pinggir jalan itu. Ali tidak kuasa menahan tawanya melihat wajah Kak Asiyah dipenuhi lumpur. Asiyah dan Aisyah juga mentertawakan Ali, wajah Ali juga dipenuhi lumpur. Aisyah pun juga begitu. Mereka bertiga sebenarnya sedang mentertawakan diri mereka sendiri.
“Ayokk cepat, bantu Kakak, malu dilihat orang, nanti kelamaan, Umi nyariin.”
Mereka bersama-sama mengeluarkan motor dari genangan becek yang licin itu. Asiyah memegang stangnya, mendorong ke depan. Sementara Ali dan Aisyah membantu mendorong dari belakang.
Brrummm.. brruumm.. suara motor Asiyah sayup-sayup.
Umi dan Abi duduk santai di depan rumah menunggu anak-anaknya.
Umi kaget seketika melihat anak-anaknya pulang dalam keadaan kotor dan bau. Motor yang baru dibelipun juga penuh dengan lumpur.
“Lohh ada apa ini? Kenapa anak-anak Umi jadi begini? Habis nyebur di mana?” tanya Umi. Umi khawatir.
Tetapi tidak dengan tiga saudara itu. Mereka malah tertawa. Kemudian menceritakan kejadiannya tadi. Umi pun juga ikut tertawa. Abi melihat saja, hanya bisa tersenyum dan mengeluarkan sedikit suara.
__ADS_1
Sejak Kak Asiyah punya motor, Aisyah dan Ali tidak lagi berjalan kaki saat pergi ke sekolah. Mereka di antar Kak Asiyah. Kalau pulangnya mereka barulah berjalan kaki. Karena Kak Asiyah sedang bekerja, tidak mungkin bisa menjemput mereka.