Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Mendambakan Keturunan


__ADS_3

Menjadi seorang istri adalah impian dari setiap perempuan. Terlebih bagi perempuan shalihah yang senantiasa ingin berlindung di balik punggung suaminya, untuk menjaga dirinya dari segala macam fitnah dunia.


Asiyah salah satunya. Tentu, di dalam benaknya suami terpilih adalah seorang suami yang shaleh, maa syaa Allah. Seorang lelaki yang siap untuk menjadi imam di dalam rumah tangga nya. Menjadi seorang pemimpin di dalam menapaki derasnya arus peperangan dunia melawan hawa nafsu syetan.


Berharap akan perlindungan tetap lah hanya kepada Allah saja. Namun, berikhtiar demi mendapatkan perantara Allah demi rasa aman dan nyaman itu, tetap lah tugas kita sebagai hamba-Nya yang beriman.


Memang tak terlalu tinggi harapan Asiyah dalam menjalani biduk rumah tangganya bersama Pak Sendi. Ia telah mempersiapkan hatinya untuk segala kemungkinan terburuk ke depannya. Apalagi Asiyah sendiri tahu, Pak Sendi belum lah lama memulai untuk belajar agama.


Satu hal yang Asiyah yakini di dalam dunia pernikahan. Yaitu, tidak ada satu pun pasangan yang benar-benar sama, lurus dan sejalan. Ketidakcocokan pasti akan hadir dalam berbagai hal. Tapi, bagaimana caranya agar setiap pasangan tetap bisa saling setia hingga ke jannah-Nya. Itu saja pikir Asiyah.


Mungkin harapan yang Asiyah bayangkan terlalu ringan baginya. Tetapi tidak dengan Pak Sendi.


Secara zahir, Pak Sendi telah hijrah untuk tampak lebih baik sebagaimana seorang muslim yang seharusnya. Pakaiannya lebih rapi, mendewasa. Rambutnya telah tertata elok warna hitamnya dengan sisirannya yang rapi.


Tak ada lagi gaya gaul ala-ala anak muda masa kini yang kebarat-baratan melekat pada diri Pak Sendi.


Yaa, in syaa Allah.. Asiyah mulai belajar mempercayai Pak Sendi, sebagai imam dalam rumah tangganya.


Alhamdulillah, shalat maghrib telah selesai dilaksanakan, Pak Sendi sebagai imamnya, Asiyah mengikuti di belakangnya khusyuk. Bacaan shalatnya cukup baik. Asiyah tersenyum. Awal yang baik baginya. Maa syaa Allah.


Hari-hari berlalu.


Setelah menikah, Asiyah dan Pak Sendi memang langsung tinggal di rumah mereka sendiri. Ini adalah permintaan Asiyah. Pak Sendi pun tak keberatan dengan hal ini.


Tidak ada alasan lain, selain memang karena mereka telah mampu membeli rumah sendiri. Juga menimbang dari segi agama memang lebih baik setelah berumah tangga, pasangan suami istri itu tidak tinggal serumah bersama mertua dan ipar. Lagi-lagi begitu pikir Asiyah, mematokkan segala sesuatunya berdasarkan kepercayaan yang dianutnya.

__ADS_1


Memang lebih nyaman rasanya, pengantin baru yang baru saja mengarungi mahligai rumah tangga untuk tinggal sendiri. Biar bisa lebih leluasa saling mengenal pribadi satu sama lain, tanpa adanya pengaruh dari pihak luar.


Seperti yang Asiyah duga sebelumnya. Tentu pernikahan ini tak akan berjalan mulus seperti jalan tol saja. Pasti ada ujian kenaikan kelasnya yang mesti Ia pertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah.


Sudah sekian bulan menikah. Sudah berjuta angin yang berhembus lembut pada hijab di kepalanya, menyentuh wajahnya.


Namun Asiyah tak bisa berbohong dengan apa yang dirasakannya. Angin dunia yang biasa menghempaskan kerudungnya pada wajah eloknya, terasa sangat kering, sungguh kering, subhanallah.


Kegersangan itu tentu saja muncul dari rasa gelisah di dalam lubuk hatinya. Asiyah mulai bertanya-tanya. Bergumam sendiri di dalam pikirannya. Kenapa belum juga ya Allah? Kehadiran seorang anak, begitu didambanya di usianya yang sudah tidak muda lagi.


Ya Allah, apa yang harus Aku lakukan? Jadwal shooting semakin padat saja. Pundi-pundi uang tak pernah kurang, bahkan semakin menggunung. Apalagi setelah Asiyah menikah dengan Pak Sendi, tentu menjadi berita yang sangat menghebohkan jagat maya.


Wajarlah. Semua orang tahu bahwa sebelumnya Pak Sendi telah menikah. Dengan jarak waktu yang bisa dibilang belum terlalu lama, lalu Pak Sendi tiba-tiba menikah dengan Asiyah.


Pertanyaan demi pertanyaan muncul di tengah masyarakat.


Kenapa bisa Pak Sendi dan Asiyah tiba-tiba menikah?


Lalu mengapa dari sekian banyak pria, Asiyah malah memilih Pak Sendi untuk menjadi suaminya?


Apa mungkin Asiyah lah yang merebut Pak Sendi dari istri pertamanya? Dengan kata lain disebut 'Pelakor'.


Asiyah hanya diam seribu bahasa. Tak menanggapi sama sekali banyaknya tuduhan yang dilemparkan kepada dirinya.


Ahh sudah lah. Cukup lah semua cerita tentang kehidupan rumah tanggaku, hanya aku dan orang-orang terdekatku saja yang tahu. Yang baik dan benar akan tetap begitu layaknya di mata Allah, begitu pun sebaliknya. Kedudukanku di hadapan Allah tidak akan berubah hanya karena penilaian manusia. Begitu pikir Asiyah.

__ADS_1


Polemik ini lah yang membuat Asiyah semakin dikenal dan terkenal. Banyak brand ternama yang bermunculan untuk menjalin kerjasama dengannya.


Banyak acara TV yang mengundangnya hanya untuk berbincang. Tentu Asiyah tidak mau ada pembahasan mengenai kisah rumah tangganya.


Yaa, kisah pribadi Asiyah rupanya malah menjadi skandal yang benar-benar menguntungkan financial rumah tangganya.


Tetapi, inti dari kehidupan rumah tangga yang diinginkannya belum lah tercapai. Asiyah menginginkan keturunan hadir di dalam keluarga yang baru saja dibangunnya.


Pembahasan ini sampai pada suaminya, Pak Sendi. Ternyata Pak Sendi menangkap kekhawatiran pada diri Asiyah. Mereka berdua memutuskan untuk melakukan program hamil, agar segera mendapatkan keturunan.


Tak cukup sekali, ikhtiar ini ternyata mengharuskan Asiyah dan Pak Sendi untuk berjuang lebih keras. Hingga pekerjaan mereka berdua seringkali terbengkalai. Nama baik mereka mulai dipertanyakan oleh berbagai pihak.


Mungkin keputusan terbaik saat ini, memang fokus saja dulu untuk mendapatkan keturunan.


Menunda beberapa pekerjaan tidak akan jadi masalah, pikir Asiyah. Toh Pak Sendi bisa menangani semuanya.


Waktu terus berlalu. Usaha telah dijalankan, do'a pun telah menjunjung setinggi langit di sepertiga malam mereka. Namun tanda-tanda keberhasilan akan ikhtiar mereka belum juga muncul.


"Maaf sebelumnya Pak, Bu, Saya harus sampaikan hal ini kepada Bapak dan Ibu," perempuan itu menarik nafasnya lalu menghembuskannya kembali dengan dengus lembutnya. Berhenti sejenak dari bicaranya.


Pak Sendi dan Asiyah menatap Dokter itu. Hanya diam. Pak Sendi memandangi wajah Asiyah sejenak.


"Tidak ada jalan lain, sepertinya memang Ibu Asiyah harus benar-benar menghentikan seluruh aktivitasnya, yaa.. tidak cukup dengan hanya mengkonsumsi vitamin saja. Juga dengan beberapa terapi, in syaa Allah ikhtiar ini akan berhasil," jelas dokter spesialis kandungan yang sudah tidak diragukan lagi kredibilitasnya ini di kalangan atas.


Wajah keduanya tampak murung seketika mendengar penjelasan dokter itu. Menghentikan semua aktivitasnya berarti Asiyah harus berhenti bekerja. Lalu bagaimana caranya pundi-pundi uang bisa masuk, sementara masih banyak kebutuhan yang harus dicukupi financialnya.

__ADS_1


Pak Sendi juga tampak berat dengan keputusan yang harus diambilnya. Ia juga sangat mendambakan hadirnya keturunan, tapi di sisi yang lain berat rasanya jika harus mematikan karir Asiyah untuk sementara waktu.


__ADS_2