Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Awal pertemuan.


__ADS_3

Rakanda Wiryawan, seorang CEO tampan di perusahan tekstil yang di miliki sang Ayah. Di umurnya 31 bahkan sudah hampir memasuki umurnya yang ke 32, Dia masih saja betah dengan kesendiriannya sebagai pria singgel. Banyak wanita yang mendekatinya bahkan sang Ibu sudah berkali-kali mengenalkan Wanita cantik padanya, namun ia sama sekali tidak tertarik dengan semua Wanita yang di kenalkan sang Ibu.


Hingga suatu ketika, dengan tidak sengaja mobil yang ia kendarai menabrak seorang wanita muda yang tengah melintas.


Melihat orang yang sudah bergerombol di depan mobilnya, akhirnya ia turun dari mobilnya untuk melihat keadaan Wanita yang telah ia tabrak.


"Mas, bagaimana? tanggung jawab dong, masa nabrak orang mau langsung pergi gitu aja!" maki salah satu seorang warga.


"Iya nih! mas, kalau gak mau tanggung jawab bawa mbak ini kerumah sakit, kita laporin aja ke polisi!" sahut warga satunya dan di angguki oleh warga lainnya.


"Semuanya tenang dulu, saya akan tanggung jawab," ucap pemuda itu yang tak lain adalah Rakanda Wiryawan.


Ia pun mendekati wanita yang tak sadarkan diri itu bahkan wanita itu mengalami luka-luka di bagian kepala, tangan dan juga kakinya akibat tabrak oleh mobilnya.


"Tolong, bapak-bapak angkat wanita ini ke mobil saya, saya akan membawanya ke rumah sakit," ucap Raka pada warga yang ada disana.


Warga pun menolong Raka untuk membopong wanita itu kedalam mobilnya. Setelah wanita itu di baringkan di jok bagian belakang dalam mobilnya. Raka pun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju Rumah sakit terdekat.


Lima belas menit kemudian sampai lah ia di depan Rumah sakit X.


Dengan cepat, Ia segera menggendong wanita itu masuk kedalam rumah sakit dan memanggil-manggil perawat.


"Suster! Suster!" teriaknya.


Datanglah dua orang perawat membawa brankar dengan tergesa-gesa ke arahnya.


"Tolong dia suster," ucap Raka


"Tolong bapak isi dulu formulirnya, jika tidak kami tidak bisa menangani pasien," ucap Salah satu perawat itu.


Raka pun kebingungan, bagaimana caranya ia mengisi formulir itu. Mengenal wanita itu saja tidak.


Lalu ia teringat, bahwa ada tas milik wanita itu di mobilnya. Dengan segera ia keluar dan mengambil tas wanita itu.


Di keluarkannya isi tas itu untuk mencari identitas wanita yang sedang tak sadarkan diri di dalam ruangan rawat rumah sakit itu.


Hingga akhirnya ia pun menemukan kartu tanda penduduk wanita itu.


"Oo, jadi namanya Aira kirana, dan dia bersetatus Perawan, perawan di ktp aslinya sudah jebol,hahaa," ucapnya di iringi tawa kecil.

__ADS_1


"Dia tinggal di Lampung, tapi kenapa dia bisa di sini?" pertanyaan itu muncul seketika di otaknya. "Mungkin kerja," sambungnya kemudian.


"Ahh, untuk apa aku memikirkan hal itu. Lebih baik aku isi formulir itu agar dia bisa segera di rawat." kata Raka lalu ia segera masuk kembali ke rumah sakit itu dan mengisi berkas formulir yang di berikan pihak rumah sakit.


Setelah mengisi semua berkas itu, dia pun segera memberikannya pada pihak rumah sakit.


"Ini suster, tolong segera tangani pasien," ucap Raka.


"Baik pak, kami akan segera menanganinya." timbal suster itu lalu ia dan dokter segera masuk ke ruangan di mana wanita itu berada.


Raka pun mondar mandir di depan UGD tempat wanita itu di tangani "Mudah-mudahan wanita itu tidak apa-apa," ucap Raka.


Tiga puluh menit kemudian, Dokter dan kedua suster pun keluar dari UGD.


Raka pun mendekat dan bertanya pada dokter itu.


"Bagaimana dokter, apakah dia baik-baik saja dan Bolehkah saya menemuinya?" tanya Raka pada dokter itu.


"Istri bapak tidak apa-apa, mungkin sebentar lagi ia akan siuman!" timbal dokter itu "Silahkan jika bapak mau menemuinya, tapi jika pasien sadar tolong jangan di ajak banyak bicara dulu." sambung dokter


"Ahh, syukurlah. Kalau begitu saya akan menemuinya dulu," ucap Raka, lalu ia masuk kedalam ruang rawat wanita yang telah ia tabrak.


Sampai nya ia di dalam Rungan itu , ia pun mendekat lalu memperhatikan wajah wanita itu.


Tiba-tiba Wanita itu pun sadar. Ia menggenggam tangan Raka dengan sangat kencang seakan-akan takut Raka pergi meninggalkannya.


"Tolong,, tolong aku! Jangan tinggalkan aku, jangan biarkan mereka membawa ku," ucap wanita itu dengan berurai air mata.


"Kenapa kamu menangis? siapa yang akan membawa mu?" tanya Raka bingung pada wanita yang ada di hadapannya.


"Aku aku takut, mereka akan membawa ku pulang dan menikahkan aku secara paksa. Aku tidak mau!" gadis itu semakin mempererat genggamannya.


"Tenanglah, aku tidak akan meninggalkan mu," ucap Raka lalu menarik wanita itu kedalam pelukannya.


Aira, wanita itu adalah Aira. Ia kabur dari Lampung menuju jakarta karena tidak ingin di nikahkan oleh Bibinya kepada Rentenir tua yang ada di kampung halamannya.


Dengan bekal nekat dan sedikit uang tabungannya yang tidak di ketahui oleh Bibinya ia pun pergi meninggalkan kampung halamannya.


"Benarkah? kau tidak akan meninggalkan aku atau menyerahkan aku kepada Rentenir itu?" tanya Aira sambil mendongakkan wajahnya kepada pria yang memeluknya.

__ADS_1


Raka pun tersenyum lalu mengaguk kan kepalanya.


Tangisan Aira pun berhenti, ia merasa agak tenang karena Raka tidak akan menyerahkannya pada Rentenir tua yang ingin menjadikannya istri ke empat.


Tiga hari kemudian, Aira sudah di perbolehkan pulang.


"Terimakasih sudah mau merawat ku," ucap Aira sambil tersenyum kepada Raka.


"Aku yang minta maaf, sudah menabrak mu! Kalau bukan karena aku, kau tidak akan terluka seperti ini." timbal Raka. " Kau mau tinggal dimana setelah ini?" sambung Raka.


"Entahlah, di emperan toko pun bisa. Yang penting tidak kembali ke kampung halaman ku," ucap Aira dengan memandang lurus kedepan.


"Kalau begitu, ini ada uang untuk mu. Dengan uang ini kau bisa mencari tempat tinggal, dan aku berjanji akan sering-sering mengunjungi mu," ucap Raka sambil memberikan sejumlah uang pada Aira.


Dengan terpaksa dan tidak ada pilihan lain Aira pun menerima uang itu, "Suatu saat nanti aku akan membalas kebaikan mu," ucap Aira.


Raka pun mengantarkan Aira mencari kontarakan yang akan menjadi tempat tinggal Aira.


Satu jam mereka berkeliling akhirnya mereka menemukan kontrakan yang menurut Aira cocok, bukan tidak cocok dengan kontrakannya melainkan dengan harga kontrakan itu. Aira tidak ingin Raka menjadi semakin susah karenanya.


"Saya bayar dulu untuk empat bulan kedepan ya buk, dan ini uangnya." Aira memberikan uang sewa itu kepada pemilik kontrakan.


"Iya neng, gak papa. Semoga betah ya, Neng dan ini kuncinya," ucap pemilik kontrakan itu.


Setelah itu pemilik kontrakan pun pergi meninggalkan Aira dan Raka.


"Kenapa gak kamu bayarin aja semua uang itu," ucap Raka sambil menunjuk sisa uang yang ada di tangan Aira.


"Aku makannya gimana? kalau aku kasih uangnya semua ke ibu itu!" timbal Aira sambil menunjuk ibu pemilik kontrakan yang sudah agak jauh dari mereka.


"Kan aku bisa kasih lagi ke kamu, lagian aku udah bilang. Kalau aku akan sering tengokin kamu." kata Raka.


"Aku gak enak, lagian kamu udah banyak bantu aku," ucap Aira sambil menundukan wajahnya.


"Lalu setelah ini, kamu mau ngapain di kontrakan ini?" tanya Raka.


"Aku bisa bikin macam-macam kue, mungkin aku akan jual kue dan juga makanan lainnya," ucap Aira sambil tersenyum manis.


"Ya udah kalau gitu terserah kamu, aku pamit dulu ya. Entar aku kesini lagi." kata Raka dan setelah itu ia pun segera pulang.

__ADS_1


***Bersambung..!!


by: Ema dewi sinta***


__ADS_2