
Setelah berbincang-bincang dengan Cindy, Dion kembali berjalan masuk kedalam rumah sakit dengan berjalan gontai.
"Boleh aku masuk," ucap Dion dengan wajah masam pada Raka.
"Masuklah Yon, Aira juga sudah mulai tenang." kata Raka "Kenapa wajahmu lesu seperti itu?" tanya Raka.
"Kau tahu siapa yang membawa Aira kemari? Dia adalah Cindy, Cindy bilang dia menemukan Aira tergeletak tak sadarkan diri di samping mobil seseorang." jelas Dion.
"Siapa yang sudah benari-beraninya menggangu istriku!" geram Raka mendengar perkataan Dion.
"Kita lihat saja melalui CCTV yang ada di mall itu! Lalu kita cari pelakunya," ucap Dion.
"Kau benar, segera selesaikan masalah ini Yon. Dan tangkap orang itu!" Raka memerintah Dion untuk segera bertindak.
Setelah mendapat perintah dari Raka, Dion pun segera bertindak.
Sedangkan di kediaman pak Bambang.
"Bagus sekali, ini sisa bayaran untuk kalian yang sudah ku janjikan," ucap Intan sambil memberikan amplop berisi uang pada preman bayaran dengan di dampingi mama Rina di sampingnya.
"Terimakasih bos, kalau butuh bantuan kami jangan sungkan. Hubungi saja kami," ucap salah satu dari preman itu.
"Sudah sana! Cepat pergi dari sini nanti ada yang lihat kalian," ucap mama Rina mengusir ketiga preman itu.
Ketiga preman itu pergi meninggalkan kediaman pak Bambang.
"Yes, akhirnya kita berhasil mengerjai perempuan kampung itu tante," ucap Intan dengan girang.
"Iya, pasti sekarang dia lagi nangis di pinggiran jalan sambil berteriak-teriak." timbal mama Rina.
Tiba-tiba pak Bambang mengejutkan kedua wanita Iblis itu.
"Siapa yang berteriak-teriak di tengah jalan?" tanya pak Bambang dari arah belakang mereka.
"Ehh, om! Bukan siapa-siapa kok, mungkin om salah denger," ucap Intan dengan wajah pucat. "Iya kan tante?" sambung Intan.
"Iya pa, kita lagi ngomongin video yang lagi viral itu lo," kilah mama Rina.
"Awas ya kalau kalian bohong! Mana Aira? Sejak pagi papa gak lihat dia?" tanya pak Bambang yang membuat raut wajah kedua iblis di hadapannya itu menjadi berubah.
"Tadi Aira pamit keluar." timbal mama Rina dengan gugup.
Pak Bambang merasa aneh melihat tingkah istrinya dan Intan.
__ADS_1
"Kalau sampai terjadi apa-apa sama Aira, kalian berdua lah yang akan papa salahkan," ucap pak Bambang lalu meninggalkan dua wanita iblis yang diam mematung itu.
***
"Sayang, Ibu pulang," ucap Cindy memanggil putranya.
"Ibu,,!" teriak anak itu menghambur kepelukan Cindy.
"Anak ibu nakal enggak hari ini?" tanya Cindy dengan lembut.
"Enggak dong bu, Bian kan anak pintar!" sahut anak itu.
"Makasih ya mbak, udah mau jagain Bian," ucap Cindy pada mbak Yana yang mengasuh Bian.
"Iya Cindy gak papa, lagian mbak seneng bisa bantu kamu dan si kembar juga ada temenya mainan." timbal mbak Yana yang memiliki anak kembar seusia Bian.
"Oiya mbak, ini tadi Cindy beli bakso buat si kembar," ucap Cindy sambil memberikan kantung kresek berisi bakso pada mbak Yana.
"Repot-repot banget lo Cindy, setiap sore kamu selalu beli makanan buat si kembar." kata mbak Yana.
"Gak papa mbak, lagian cuman itu yang bisa Cindy kasih," ucap Cindy.
Mbak Yana bisa mengasuh Bian karena memang mbak Yana tidak bekerja karena mempunyai anak kembar. Lagi pula karena kontrakan mereka bersebelahan, tiap bulannya Cindy memberikan 400 ribu dari gajinya pada mbak Yana. Itung-itung untuk tambahan jajan anak kembar mbak Yana.
Setelah itu Cindy mengajak putranya masuk kedalam rumah kontrakan yang sederhana tempat tinggalnya itu.
"Ah, kamu ini Cindy. Ya udah sana pulang kamu juga pasti sangat capek!" sahut mbak Yana.
"Ya udah mbak, Cindy pulang dulu ya. Sekali lagi makasih udah mau di repotin terus." kata Cindy lalu menuju pintu rumahnya.
Malam harinya.
Cindy termenung sambil mandangi wajah putra kecilnya yang sudah terlelap.
"Wajah mu tidak ada bedanya sedikitpun dengan ayah mu nak, malang sekali nasib mu. Semua ini karena kesalahan ibu yang bodoh ini." setitik kristal bening lolos begitu saja dari pelupuk mata Cindy.
Dulu saat Briyan mengatakan untuk pergi. Dia benci sangat benci pada Briyan. Namun hari demi hari iya kikis kebencian itu dan perlahan menghilang dari hatinya, yang iya harapkan saat ini adalah kehadiran Briyan kembali.
Jika Briyan tidak kembali bagaimana masa depan anaknya yang tidak memiliki setatus dan identitas.
Seperti akta kelahiran layaknya anak yang mempunyai orang tua.
Bagaimana bisa mempunyai akta kelahiran? sedangkan bisa di bilang Bian adalah anak haram yang Cindy peroleh di luar nikah.
__ADS_1
"Sekarang umur mu sudah menginjak empat tahun nak, Tidak lama lagi kau akan memasuki sekolah kanak-kanak dan bagaimana kau akan menjalani pendidikan mu?" Cindy mengusap Air matanya dengan kasar. "Nasi sudah menjadi bubur, menyesal pun tak ada gunanya. Yang ibu harapkan adalah kehadiran ayah mu yang menyelamatkan mu dari hinaan orang-orang." sambung Cindy masih dengan Air mata penyesalan itu.
***
Di rumah sakit.
Dion datang membawa informasi tentang preman yang sudah menggangu Aira.
"Aku ingin bicara denganmu berdua saja Ka," ucap Dion menatap serius pada Raka.
"Sayang, aku keluar sebentar ya," pamit Raka pada Aira. Aira pun mengaguk.
Di luar ruangan rawat itu.
"Ka, aku sudah mengintrogasi preman yang menggangu Aira siang tadi, dan kata salah satu dari preman itu mengatakan bahwa mereka di bayar oleh Intan dan mama mu." jelas Dion.
"Kurang ajar, aku harus beri pelajaran pada mama dan Intan, mereka sudah sangat keterlaluan." ucap Raka dengan wajah berapi-api menahan amarah.
"Tenanglah dulu, baiknya masalah ini kau bicarakan di depan papa mu. Agar dia tahu dan dapat menengahi masalah ini," ucap Dion.
"Besok aku akan membawa Aira pulang, dan disitulah aku akan memberi pelajaran pada mama dan Intan. Agar mereka jera." kata Raka.
"Ya sudah, begitu lebih baik," ucap Dion "Aku pamit pulang ya, kau jaga istrimu baik-baik dan saran ku. Setelah dia lebih baik sebaiknya kau bawa dia ke psikiater untuk mengatasi traumanya." sambung Dion.
Setelah itu Dion pulang ke kediamannya. Dan Raka masuk lagi menemui istrinya.
"Tidur sayang, hari sudah semakin larut," ucap Raka sambil mencium kening Aira.
"Jika aku tidur, kau tidak akan pergi meninggalkan aku sendirian kan?" tanya Aira menengadahkan wajahnya pada wajah Raka.
"Aku tidak akan meninggalkan mu kemana-mana, aku akan tidur disini juga dengan memelukmu." timbal Raka.
Lalu Raka dan Aira tidur di ranjang pasien yang sempit untuk dua orang itu dengan berpelukan.
Mereka terlelap sampai pagi.
Keesokan paginya, Dokter masuk keruangan rawat Aira untuk memeriksa keadaan Aira.
Namun karena melihat sepasang manusia yang tidur dengan berpelukan, Dokter itu mengurungkan niatnya.
Dokter itu keluar dari ruangan itu dengan senyum-senyum tidak jelas. Pasalnya sampai saat ini dokter yang sudah berumur itu masih jomlo.😂😂😂
***Bersambung..!!
__ADS_1
Cukup dulu ya untuk hari ini, tangan othor keriting 😂😂😂
Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak. 😘😘😘***