
"Sayang.. Kita mampir dulu, ya cari makan." kata Aira kepada Suaminya.
"Hmm.." Raka hanya ber Hmm saja dan terus menatap lurus kedepan arah jalanan.
"Kok kamu cuman jawab Hmm sih!" protes Aira, ia rasa suami nya itu menjadi agak sedikit pendiam.
"Terus aku harus gimana Sayang?" tanya Raka kepada sang istri dengan sedikit tersenyum.
"Harusnya kamu tanya, aku pengen makan apa? Lagian seharian aku cuman makan sekali doang," kata Aira dengan mata berkaca kaca.
"Hey sayang.. Jangan menangis, kok malah nangis sih!" Raka menepikan dan menghentikan mobilnya.
Di usapnya lembut air mata sang Istri yang mulai menetes, ia menjadi semakin merasa bersalah. Padahal tidak ada niat sedikit pun di hati nya untuk mengacuhkan Aira.
"Aku minta maaf Sayang, aku gak punya maksud apa-apa. Ya udah, kamu pengen makan apa?" tanya Raka dengan lembut.
"Aku pengen pulang, aku udah gak pengen makan." jawab Aira dengan wajah cemberut.
"Ayo dong Sayang, jangan ngambek nanti baby kita ngambekan gimana?" goda Raka.
"Biarin, pokoknya aku mau pulang sekarang!"
"Oke kita pulang sekarang." Raka segera menghidupkan mesin mobil lalu segera melajukan mobil itu menuju Kediaman mereka.
Sedangkan di Rumah mereka, Mr James sedang berkeliling rumah megah itu. Ia tersenyum saat melihat-lihat Foto Aira dan Raka yang tertempel di dinding Rumah itu.
"Mereka sangat serasi," ucap nya sambil tersenyum manis.
Setelah puas memandangi foto Aira dan Raka serta mengelilingi Rumah itu, James segera menuju dapur. Melihat banyak makanan di lemari, akhirnya James memutuskan untuk memanaskan makan itu dan ia berniat untuk membuat satu masakan untuk Raka dan Aira.
Ya..! James pandai memasak, karena di Den Hagg tidak ada yang mengurusnya. Jadi ia Harus mandiri untuk mengurus keperluan dan kebutuhannya sehari-hari. Ibu dan ayah nya sudah lama meninggal jadi ia adalah seorang Yatim piatu.
"Aku akan membuat ayam kebuli untuk Raka dan Istrinya." kata James saat ia membuka kulkas dan melihat seekor ayam di Freezer kulkas tersebut.
"Ku harap mereka akan menyukai masakan ku ini," gumannya.
Setelah masakannya selesai, ia menyusunny di atas meja makan.
Saat ia sedang menyusun masakan itu, tiba-tiba ia mendengar suara Raka yang memanggil manggil Istrinya.
"Aira.. Ayo lah sayang, kamu mau makan apa? Ayo kita cari," bujuk Raka sambil berlari mengejar istrinya yang Sedang ngambek.
"Aku gak mau.. Aku udah gak pengen makan," kata Aira masih dengan berlari kecil.
__ADS_1
Ia hendak naik kelantai atas dan tiba-tiba saja Aira menghentikan langkahnya. "Emmm.. Aroma apa ini? Kenapa wangi sekali," ucap Aira sambil membalikan badannya.
"Sayang.. Yuk kita cari makan," bujuk Raka.
"Aku mau makan ini!" Aira berjalan ke arah dapur dan di ikuti Raka di belakangnya.
"Ini apa?" Raka terus mengekori.
"Raka.. Dia siapa?" tunjuk Aira pada James yang berdiri di samping meja makan.
"Dia yang aku bilang Dewa penolong kita tadi," kata Raka. "Dia Mr James yang mengobati aku di Den Hagg." tambah Raka.
"Wah.." mata Aira berbinar saat melihat ada Ayam yang menggugah selera nya di atas meja makan.
James tersenyum saat melihat Aira mendekatinya. "Kak.. Bolehkan Ai makan ini!?" pinta Aira dan di angguki oleh James.
"Tanpa berkenalan terlebih dahulu, Aira segera duduk di dekat James dan langsung mengambil Paha dari Ayam itu dan mengambil sedikit nasi kebuli yang ada di dalam perut Ayam itu.
"Eumm.. Ini enak banget, besok kakak ajarin aku bikinnya ya," kata Aira tidak jelas karena mulutnya penuh dengan makanan.
Raka dan James ikut makan bersama Aira, Raka pun tak kalah lahapnya dengan Aira. Hal itu tentu membuat James senang.
"Sayang.. Makannya pelan-pelan, nanti tersedak," kata Raka memperingati istrinya.
Setelah selesai makan, Raka membereskan meja makan dengan bantuan James. Sedangkan Aira sudah di suruh Raka naik kelantai atas untuk berganti pakaian.
"Kau sudah menyelamatkan aku dari amukan istri ku James," kata Raka sambil mengelap meja makan.
"Memangnya istrimu kenapa?" tanya James.
"Kau tahu! Setelah hamil, dia cepat sekali marah dan berfikir yang tidak-tidak," Raka pun menceritakan semua yang terjadi di jalan tadi. James pun hanya bisa menertawakan.
"Hahaha.. Nama nya juga sedang hamil, kau harus banyak bersabar menghadapi wanita yang sedang Hamil. Karena emosi mereka cepat sekali naik turun," terang James.
Merek pun pergi dari meja dapur dan menuju ruang tengah.
"Aku sudah menyiapkan Mobil untuk mu, setelah kau siap kau bisa melamar pekerjaan di Rumah sakit X," kata Raka. "Tapi jika kau berubah fikiran, kau bisa ikut kerja di perusahan yang aku kelola," sambung Raka.
"Terimakasih Raka, kau baik sekali. Tapi ku rasa aku tidak cocok bekerja di kantor. Aku lebih suka hidup di lingkungan Rumah sakit," kata James.
Tak terasa sudah cukup lama mereka mengobrol, mulai dari yang ringan hingga obrolan berat. Dan akhirnya, ngantuk mulai menyerang kedua orang itu.
Mereka berdua pun membubarkan diri, James segera masuk kedalam kamar nya untuk beristirahat sedangkan Raka menyusul istrinya ke kamar mereka yang berada di lantai atas.
__ADS_1
Cekrek.. Raka membuka pintu kamarnya dengan perlahan. Ia melihat istrinya sedang duduk di depan cermin sambil mengelus perut ratanya.
"Sayang.." bisik Raka di telinga Aira sambil memeluk leher nya.
"Kenapa?" tanya Aira sambil mendongak kan wajahnya kepada sang suami.
"Kau tidak keberatan kan kalau James tinggal disini," kata Raka lalu mencium sekilas bibir sang Istri.
"Kenapa aku harus Keberatan?" tanya Aira. "Dia orang baik," tambah Aira.
"Hmm, syukurlah! Tadinya aku takut kalau kamu gak suka sama dia," kata Raka menghembuskan napas kelegaan.
"Kamu udah siapin apa aja buat kak James?" tanya Aira.
"Mobil, pekerjaan dan juga Apartemen jika dia tetap keleuh ingin keluar dari rumah ini," kata Raka. "Tapi kayak nya, dia gak mau kerja sama aku. Dia pengen tetap kerja di Rumah Sakit. Karena Rumah sakit adalah lingkungan nya," sambung Raka.
"Biarin dia milih kerjaan yang dia mau, kalo kita maksa dia buat kerja di perusahan kan. Kesannya gak baik, entar dia malah mikir kita manfaatin dia lagi," kata Aira sambil menatap bibir suaminya.
"Kamu mau apa?" tanya Raka pura-pura tidak tahu apa. yanh di inginkan istrinya.
"Emm.. Mau ini!" tunjuk Aira pada bibir suaminya.
Tanpa aba-aba, Aira segera menyerang bibir suaminya. Ia pun bangkit dan perlahan mendorong tubuh suaminya ke atas ranjang.
"Sayang.. Biar aku yang mulai, nanti kamu capek!" kata Raka.
"Tapi aku pengen." jawab Aira sambil menggerayangi tubuh suaminya.
Aira menciumi seluruh wajah suaminya hingga turun ke leher.
"Sayang.." panggil Raka dengan mata terpejam.
"Hust..! Diam," bisik Aira setelah melepas ciuman di leher suaminya.
Karena semakin merasa tidak tahan, Raka pun mengubah posisi dan kini ia yang memegang kendali permainan.
Ia segera melepas piyama yang di kenakan sang istri, Setelah itu ia juga melepas Pakaian yang menempel di tubuhnya.
Ia pun mencium bahkan melu*at bibir Istrinya dengan beringas lalu turun pada dua bukit kenyal sang istri, ia meremas bukit itu dengan lembut dan memberikan sedikit sentuhan bibirnya yang lembab di sana. Setelah puas bermain-main akhirnya Raka melakukan penyatuan kepada tubuh Aira. Dan malam yang dingin itu di habiskan Aira dan Raka dengan permainan ***-*** yang panas di malam yang dingin itu.
**Happy readingš¤
Jangan lupa like coment dan vote, dukungan kalian sangat berarti untuk Authorš**
__ADS_1