
"Nama ku Intan, aku adalah anak momy Susi, tapi ternyata bukan anak kandung melainkan anak pungut," Intan tersenyum miring dengan air mata yang kembali menetes.
"Jangan menangis!" Jhony memberanikan diri untuk menghapus air mata Intan.
"Seperti nya kamu orang baik? Tapi kenapa kamu masuk kedalam kandang Singa yang terkutuk ini?" tanya Intan seraya menatap wajah Pria yang mungkin berumur jauh di bawah umur nya.
"Aku terpaksa, ibu ku sedang sakit. Dan butuh banyak uang untuk menjalankan pengobatan nya." jelas Jhony.
"Kenapa tidak cari pekerjaan lain yang jauh lebih baik?" tanya Intan lagi.
"Tidak mudah mencari pekerjaan di kota sebesar ini, Nona. Terlebih lagi pendidikan saya hanya sampai di jenjang SMP karena masalah perekonomian." jelas Jhony lagi.
"Berapa umur mu?" tanya Intan.
"Umur ku 25 tahun." timbalnya.
"Umur mu di bawah ku, pantas saja wajah mu terlihat masih sangat muda. Tapi sangat di sayang kan, kamu malah masuk ke tempat ini," kata Intan "Ku saran kan, lebih baik cepat tinggalkan tempat ini sebelum terlambat," sambung Intan.
"Tapi kenapa? Kenapa kamu bilang terlambat?" tanya Jhony dengan polosnya.
"Momy akan membunuh siapa saja yang menurutnya tidak berguna dan tidak lagi penting, kamu tampan dan juga punya daya tarik tersendiri. Aku takut nasip mu akan buruk setelah ini," kata Intan sambil memandang ke arah lain.
"Maksud mu apa?" tanya Jhony yang semakin tak mengerti.
Saat Intan akan menjelaskan pada Jhony, tiba-tiba Bodyguard yang menunggu di luar memanggil nama Jhony.
"Jhon, jangan lama-lama. Sekuat itu kah dirimu?" teriak seseorang dari luar.
Dan semua bodyguard itu tergelak.
"Aku akan keluar, agar mereka tidak curiga Ku harap Nona akan baik-baik saja disini, aku akan sering-sering melihat keadaan Nona," kata Jhony sambil membuka kancing bagian atas kemeja yang ia pakai. Lalu melonggarkan ikat pinggangnya agar para Bodyguard yang di luar tidak curiga.
"Jaga dirimu Jhony," lirih Intan. Ia tahu nama Jhony dari teriakan orang-orang yang memanggil nama Pria itu dengan sebutan Jhony.
Jhony tersenyum manis dengan lesung pipinya. "Aku akan baik-baik saja, ku harap Nona tidak akan berbuat macam-macam yang akan membahayakan diri nona. Ingat..! Ada aku untuk mu nona," kata Jhony, setelah nya, ia keluar dari Kamar itu.
Setelah kepergian Jhony.
"Benarkan dia akan ada untuk ku? Dia begitu perduli," ucap Intan sambil menatap langit-langit kamarnya. Karena lelah Akhirnya ia pun terlelap.
***
Keesokan harinya.
"Sayang, Bangun! Kamu mau ke kantor enggak?" Aira menggoncang-goncangkan tubuh Raka yang masih terlelap di dalam selimut tebalnya.
"Aisshh.. Dingin lagian harinya juga kan hujan," guman Raka "Aku gak ke kantor, mendingan kamu sini! Kita tidur lagi," sambung Raka sambil mengeratkan selimut di tubuhnya.
__ADS_1
"Ya udah.. Aku hubungin kak Dion dulu ya. Biar dia yang ngurus kerjaan kamu di kantor," ucap Aira, lalu ia menghubungi Dion melalui ponsel Raka.
Setelah menghubungi Dion, Aira turun kelantai bawah. Ia segera menuju dapur.
"Aku bikin Cake Rainbow aja deh! Raka pasti suka," Aira berniat ingin membuat cake di pagi hari yang dingin ini.
Dengan cekatan Aira mengumpulkan bahan-bahanya dan langsung mencampurkan bahan-bahan itu satu persatu.
Dan satu jam kemudian, dua loyang cake rainbow sudah matang.
"Jadi deh! Hmm.. Tinggal nunggu Raka bangun," kata Aira.
Setelah itu, ia membereskan bekas-bekas nya membuat Cake dengan bersenandung merdu.
Raka menuruni anak tangga, masih dengan penampilan yang acak-acakan serta masih menggunakan piyama.
Ia tersenyum melihat istrinya yang nampak sangat bahagia.
"Jika aku sembuh, pasti kamu akan lebih sangat bahagia sayang," kata Raka sambil memandang istrinya dari tangga tempatnya berdiri saat ini.
Setelah puas memandang istrinya, Raka turun dari tangga itu.
Aira membalikan tubuhnya.
"Loh! Kok belum mandi sih!" Omel Aira saat melihat kucing besarnya masih ber penampilan acak-acakan.
Alih-alih, tangan Raka meraih potongan Cake yang paling besar.
Namun baru saja Cake itu menempel di tangannya langsung di jatuh kan nya lagi ke atas nampan.
"Kenapa?" tanya Aira.
"Panas.. Kamu sih gak di tiupin dulu," kata Raka dengan wajah merengut.
"Haha.. Kucing besar ku kesal." Aira tertawa nyaring. "Lagian kok jadi orang rakus banget! Itu kan ada yang aku potong-potong, kenapa malah ngambil yang besar!" sambung Aira.
"Aku kan maunya yang besar, kalau yang kecil kurang nikmat makannya," kata Raka.
"Ni.. Makan dulu yang ini." Aira memberikan potongan yang lain pada Raka. "Habis yang ini, entar yang itu udah dingin juga," tambahnya.
Raka menikmati kue itu dengan secangkir teh hangat. Saat kue yang di berikan Aira sudah habis, ia pun menyuruh Aira meyimpan potongan kue yang besar.
"Sayang, yang itu simpan ya! Buat ku nanti siang, sekarang aku udah kenyang," kata Raka sambil menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.
***
Di ruangan kantor seseorang.
__ADS_1
"Kenapa otak ku tidak bisa berhenti memikirkan Aira. Apakah aku gila!" Briyan berteriak-teriak seperti orang gila.
"Aku harus melihatnya," ucapnya "Kenapa sejak semalam hujan tidak berhenti, ahh kepala ku serasa ingin pecah," kata Briyan seperti orang yang frustasi.
Tok tok tok.
Pintu ruangan Briyan di ketuk.
"Masuk..!" sahut Briyan dari dalam.
Ceklek..
"Tuan.. Ini ada berkas yang harus Tuan tanda tangani," ucap Sekertaris Briyan.
Dengan kasar, Briyan menarik berkas yang di bawa Sekertaris nya dan di tanda tanganinya berkas itu lalu di berikan nya lagi pada sang Sekertaris.
"Sekarang kamu keluar! Jika ada yang ingin bertemu, bilang saja aku tidak bisa di ganggu," kata Briyan saat Sekertarisnya hendak keluar dari ruangan itu.
"Baik Tuan." timbal Sekertaris itu dengan sopan.
Ya.. Briyan adalah pengusaha, walaupun perusahaan nya jauh di bawah Raka. Namun perusahaan nya cukup besar jika di bandingkan dengan perusaha-perusahaan yang lain.
Setengah jam mondar-mandir di ruangan nya, akhirnya hujan pun reda juga.
Tanpa toleh kiri kanan, Briyan segera keluar dan menuju mobilnya.
Ia masuk ke dalam mobil, dan menjalakan kendaraan ber roda empat itu dengan kecepatan tinggi menuju ke kediaman Papa Bambang.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit, akhirnya Ia sampai di depan rumah mewah nan megah itu.
Ia turun dari mobilnya, lalu segera menekan bel.
Tak lama kemudian, pintu Rumah itu di buka oleh Mbok Ani.
"Ehh, ada den Briyan!" kata mbok Ani dengan ramah, padahal di dalam hatinya sangat membenci Briyan, bahkan tak jarang ia mengumpat kan nama Briyan di dalam hati dengan kata-kata kasarnya.
"Aira dan Raka ada Mbok?" tanya Briyan.
"Tuh kan! beneran kata ku, dia pasti ingin ketemu sama non Aira," kata mbok Ani dalam hati.
"Loh! Den Briyan belum tahu! Kalau mereka udah pindah rumah?" ucapan mbok Ani membuat Briyan lemas.
***Bersambung..!!
Happy reading..!!
Kasih author hadiah Dan dukungan..!!
__ADS_1