Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Jhony si hitam manis


__ADS_3

Mata Syakila berkaca-kaca menyaksikan kejadian itu.


Mama Rina, pak Bambang dan Raka menghela nafas dengan kasar melihat hal itu.


"Kak Dion, Lepas! Aira sesek nih!" sungut Aira, karena Dion yang tiba-tiba memeluknya dengan sangat erat.


"Thata, kakak yakin ini kamu! Tolong jelaskan sama mereka semua, kalau ini kamu! Kamu masih hidup!" Dion menangis terisak.


"Thata siapa? Ini Aira dan Aira bukan Thata, kak!" tegas Aira.


Perlahan Dion melepaskan pelukannya, ia menatap dalam mata Aira.


"Kenapa kamu seperti ini, Tha? Kamu membuat kakak gila," ucap Dion dengan lirih.


"Aku bukan Thata, aku ini Aira!" tegas Aira lagi.


"Dion! Sadarlah nak, eling! Kenapa kamu bisa seperti ini lagi? Adik mu sudah meninggal," ucap bu Yanti yang baru datang.


"Bu, siapa Thata? Kenapa Kila gak tau?" tanya Syakila yang berada di pojokan kamar itu.


"Nanti ibu jelaskan! Sekarang kita tenangin Dion dulu!" sahut bu Yanti "Hm, Yah! Apa kita perlu bawa Dion ke pusat rehabilitasi lagi? Ibu takut, masa itu akan kembali," sambung bu Yanti dengan wajah gusar.


"Tidak perlu! Dia hanya butuh pengertian, Aira dan Raka bisa mengatasinya!" sahut pak Bambang. "Sekarang kita tinggalkan mereka bertiga," sambungnya.


"Tapi, Kila mau disini! Kila mau tahu apa yang sebenarnya terjadi sama mas Dion," kata Syakila.


"Katanya mau tau, ya ayo! Kita cerita di luar," ucap bu Yanti.


"Bu, Kila mau nemenin mas Dion!"


"Percayakan suami mu pada Raka dan Aira! Mama yakin Dion akan segera membaik!" sahut mama Rina sambil menepuk pundak Syakila dengan pelan.


Syakila menganguk, ia berjalan gontai mengikuti Irang sunior dalam keluarga itu.


Semua orang yang ada disana keluar, dan tinggallah Aira, Raka dan Dion.


"Yon!" panggil Raka.


"Ka, ada apa?" tanya Dion dengan tatapan kosong.


"Apa ada sesuatu yang mengganjal di dalam hati mu? Atau ada beban yang kau sembunyikan?" tanya Raka dengan sangat hati-hati.


"Maksud mu?" tanya Dion.


"Kita duduk di sana ya," kata Aira sambil menunjuk arah ranjang.


Sungguh kakinya sangat pegal, berdiri sejak tadi.


Akhirnya mereka bertiga duduk ditepian ranjang.

__ADS_1


"Aku punya ini! Coba lihat!" Raka menyerahkan dua lembar foto.


Yang satu foto Thata pemberian bu Yanti dan yang satu foto masa kecil Aira, yang di dapat dari media sosial milik Aira.


"Foto siapa ini?" tanya Dion sambil menerima foto itu.


"Coba kau ingat! Wajah siapa ini?" tunjuk Raka pada foto mendiang Thata.


"Ini foto Thata!" sahut Dion "Lalu yang ini!" tunjuk bya lagi.


"Yang ini foto Aira! Aira ku, istri ku!" timbal Raka.


"Jika ini Thata dan ini Aira, berarti Thata ku benar-benar sudah meninggal!" Kata Dion, kini bicaranya sudah mulai normal.


Tak terasa, satu jam lebih mereka bertiga ada di kamar itu, tiba-tiba Dion bangkit.


"Mau kemana?" tanya Raka.


"Mau mandi, aku sadar! Bahwa bau masam itu berasal dari tubuhku." timbal Dion dengan sedikit senyum.


"Gila! Berapa hari kau tidak mandi?" tanya Raka.


"Sejak kemarin!" sahutnya, setelah itu ia pergi menuju kamar mandi.


Setelah kepergiannya. Aira dan Raka saling lempar pandang.


"Dia sudah sadar ku rasa," ucap Raka.


"Umur mu, sikap mu, bentuk tubuh mu, senyum mu itu khas milik Thata dan juga nasip mu!" sahut Raka. "Dion hafal, hafal dan ingat bagaimana Thata kecil," sambungnya.


"Oh," Aira hanya ber-oh ria saja.


Dua puluh menit mereka menunggu, akhirnya Dion keluar dari kamar mandi dengan wajah segar bugar.


Setelah berganti pakaian, ia mengajak Aira dan Raka keluar untuk menemui orang tua mereka.


"Bu, aku ingin kemakam Thata!" kata Dion.


Semua orang menoleh kearah suara, dan tiba-tiba saja semua orang tersenyum puas. Mereka semua bersyukur kepada tuhan yang secepat itu menyadarkan Dion.


"Mas, aku ikut ya!" pinta Syakila yang duduk di sebuah kursi.


"Emm, nanti kamu capek, mas gak mau kamu kelelahan," kata Dion, kini ia sudah Berbicara lembut lagi pada Syakila, istrinya.


"Aku janji! Gak akan bikin repot," ucap Syakila.


"Ya sudah, ayo!" Ajak Dion.


Raka, Dion, Aira dan Syakila segera pergi ke makam.

__ADS_1


Setengah jam kemudian, mereka telah sampai di pemakaman umum.


"Thata, kakak datang! Maaf kan kakak yang sudah melupakan mu," ucap Dion sambil mengusap batu nisan yang bertuliskan Thata kumala binti Kasino. (JANGAN FOKUS SAMA NAMA BAPAKNYA ALM THATA YA, HANYA SEDIKIT PEMANIS) "Kakak tidak bermaksud seperti itu, kakak sangat menyayangi mu," sambungnya.


"Mas, jangan menangis! Thata pasti akan sedih di sana!" Syakila mengelus punggung suaminya yang bergetar sambil memeluk batu nisan itu.


"Thata! Kakak kesini,bawa istri dan anak kakak yang sebentar lagi akan lahir! Istri kakak adalah wanita cantik dan sangat cerewet, setiap hari ia memarahi kakak. Bahkan tidak segan-segan mengusir dari rumah,"


Mendengar perkataan Dion, mendelik sempurna lah mata Syakila. Kalau saja sekarang mereka sedang tidak di pemakaman, mungkin sekarang Syakila akan berteriak nyaring seperti Tarzan yang memanggil Ghimba😂. Jadi Dion selamat dari amukan sang raja rimba itu untuk saat ini.


Aira dan Raka tersenyum kecil melihat kekesalan Syakila.


"Walaupun dia sangat cerewet, tetapi kakak sangat mencintai nya. Kakak sangat takut jika dia pergi!" lanjut Dion. Kekesalan Syakila berkurang sedikit mendengar lanjutan dari cerita Dion.


"Kau tahu, Thata! Kakak tanpa kakak iparmu itu. Seperti lagu Rumor. Aku tanpa muuu, butiran debuuuu!Nah begitu lah, Kakak sangat-sangat mencintainya,"


"Yon! Hari mau hujan," kata Raka "Dari pada panjang lebar bercerita pada batu nisan, lebih baik kita kirim Al-fatihah untuk mendiang Thata kecil," sambung Raka.


Dion mengangguk, dan akhirnya ke empat insan itu membaca surat-surat pendek dan doa tahlil untuk mendiang Thata.


Setelah itu, mereka ber empat segera pergi dari pemakaman. Karena hari sudah sangat gelap, pertanda bahwa akan turun hujan.


***


"Benar pak! Tempat ini adalah tempat maksiat yang berkedok hotel bintang lima," ucap seseorang pemuda kepada pihak kepolisian.


"Terimakasih atas kerja sama, anda!" kata salah seorang dari polisi.


"Terimakasih, Jhony! Berkat keberanian mu, kini aku dan para wanita itu terbebas dari jerat momy Susi," kata Intan sambil menatap lekat wajah pemuda yang berkulit hitam manis di hadapannya itu.


"Hanya berterimakasih! Itu saja, Nona!" Ketus Jhony sambil menaik turun kan alisnya.


"Lalu, kamu mau apa? Aku gak punya apa-apa buat balas kebaikan kamu," ucap Intan sambil menundukkan kepalanya.


"Aku minta imbalan istri, kamu mau gak jadi imbalan dari kebaikan ku?" goda Jhony si pemuda hitam manis itu.


Mendengar perkataan Jhony, Intan segera mengangkat kepalanya.


"Aku mau!" sahutnya secepat kilat.


"Sungguh!" Jhony meyakinkan.


Intan mengangguk, "Tapi apa kamu gak jyjyk dan malu menikahi perempuan kayak aku," kata Intan dengan raut wajah sedih dan malu.


"Kenapa harus malu dan Jyjyk? Jika aku jyjyk dan malu bersama mu, mungkin aku tidak akan dekat-dekat dengan mu, sejak awal, Nona yang malang!" Jhony menoel hidung mancung Intan.


Kini ia sudah berani berkelakar pada Intan.


SEMOGA INI MENJADI AWAL KEBAIKAN UNTUK INTAN DAN JHONY🤲🤲

__ADS_1


***Bersambung!


AWAS! BANYAK TYPO🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️***


__ADS_2