
"Apa sih Yang?" tanya Syakila yang melihat suaminya cemberut.
"Ini ni.. Kan mati lagi," ucap Dion sambil memegang anak condan nya yang terkulai lemas.
"Terus mau di apain?" Syakila menaik turunkan alisnya.
"Ya di hidupin lagi lah." timbal Dion dan pura-pura merajuk.
Syakila kasihan melihat Suaminya, dan akhirnya ia memulai lebih dulu menggeranyangi tubuh suaminya.
Mereka berdua memulai acara Nga-nu mereka.
Sedangkan Aira, ia kembali ke kamarnya dengan wajah yang tidak bersemangat.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Raka yang melihat istrinya masuk kedalam kamar dengan wajah tak bersemangat.
"Gak papa, yuk kita tidur! Aku ngantuk," ucap Aira lalu membaringkan tubuhnya.
Raka ikut membaringkan tubuhnya di sisi kiri Aira.
Perlahan ia memeluk istrinya, lalu mencium bibir Aira sekilas. Namun Aira malah mendekatkan lagi tubuhnya kepada Raka, Ia menarik leher Raka agar kembali mencuimnya.
Raka menerima ciuman itu walaupun tanpa rasa apapun.
Berbeda dengan Aira, Ia malah menarik tangan Raka dan mengarahkannya pada dua bukit kembarnya.
"Sayang, bantu aku!" lirih Aira.
Raka mengerti maksud istrinya, perlahan ia membuka seluruh pakaian yang Aira kenakan.
Ia memainkan seluruh tubuh Aira, hingga membuat sang empu mengerang nikmat.
"Sayang, maafkan aku ya. Aku sudah mencoba ke Dokter lagi, semoga aku bisa sembuh secepatnya." bisik Raka di telinga Aira, sambil memainkan jarinya di area sensitive sang istri.
Aira tak menghiraukan apa yang di ucapkan oleh Raka, ia terlalu sibuk menikmati setiap sentuhan itu.
"Ayo Raka, lebih cepat," pinta Aira sambil mengarahkan tangan Raka agar lebih dalam lagi.
"Aku sudah berusaha sayang, sabarlah," kata Raka masih terus memainkan jemarinya.
Setengah jam kemudian, Aira sudah mencapai puncak kenikmatannya. Ia pun menjadi lega dan tidak sayu seperti sebelumnya.
Ia tersenyum bahagia sambil memandangi wajah suaminya.
"Terimakasih sayang," ucap nya.
Tapi Raka diam saja, ia tidak membalas ucapan terimakasih sang istri.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Aira, lalu mendekatkan tubuhnya pada Raka dan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Maaf kan aku sayang," lirih Raka sambil mengelus pucuk kepala Aira. "Aku sudah ke Dokter kemarin, dan kata Dokter belum ada perubahan sama sekali," tambahnya.
"Bersabarlah, waktunya pasti akan tiba. Aku yang menunggu saja selalu sabar, kenapa kamu yang menjalani pengobatan selalu putus asa," kata Aira sambil menulis asal di dada suaminya menggunakan jari telunjuknya.
"Kamu memang istri terbaik," kata Raka lalu mencium pucuk kepala itu "Oiya, apa yang membuat istri ku ini tiba-tiba menginginkan nya?" tanya Raka.
"Aku a-ku tadi lihat kak Dion dan Kila saat aku mengantarkan piyama untuk mereka," lirih Aira.
"Lalu?"
__ADS_1
"Sudahlah aku mau tidur," Aira segera menutup kepalanya dengan selimut.
"Kamu malu ya?" Raka menggoda Aira, ia tahu bahwa saat ini Aira sedang malu.
"Aku ngantuk dan lelah, mau tidur," ucap Aira dari dalam selimut.
Setelah itu, mereka berdua tertidur.
Tengah malam.
"Tidak..!!" teriak Raka yang langsung bangkit dari tidurnya.
Aira terkejut dan ikut bangun.
"Sayang, mimpi itu lagi?" tanya Aira dan di angguki kepala oleh Raka.
"Perasaan mimpi itu selalu hadir, saat kamu mencoba melakukan hubungan intim ya," ucap Aira tiba-tiba.
"Kenapa dengan mimpi itu?" Raka mengusap wajahnya dengan gusar.
"Ini minum.. Setelah itu tidur lagi," kata Aira sambil menyodorkan segelas air.
Raka dan Aira tidur lagi, dan terlelap hingga pagi.
Keesokan harinya, di penjara.
"Momy, momy datang.." Intan sangat senang melihat momy nya dengan seorang pengacara.
"Momy akan mencoba mengeluarkan mu dari sini," ucap momy Susi tanpa melirik Intan sedikitpun.
"Apakah momy marah?" tanya Intan, ia menjadi sedih karena momy nya bersikap dingin.
***
Seminggu telah berlalu, dan kini Intan di nyatakan bebas. Entah bagaimana Ia bisa bebas dari jerat hukum, namun yang kini ia alami lebih menakutkan dari pada saat ia di balik jeruji besi.
"Bawa dia masuk!" perintah momy Susi pada dua Bodyguard nya
"Mom, kenapa momy melakukan ini pada Intan?" Intan menangis saat di tarik paksa oleh para Bodyguard momy Susi.
"Kamu tidak berguna! Aku sudah mengurusmu sejak bayi, tapi kamu tidak memberi ku keuntungan sedikit pun. Aku fikir dengan memungut mu dari tempat sampah dan membesarkan mu, akan menguntungkan untuk ku. Ternyata aku salah, untuk menghabisi keluarga Bambang yang telah membunuh adik ku saja kamu tidak bisa," kata momy Susi sambil menjambak rambut Intan.
"Jadi, Intan bukan anak momy?" tanya Intan di tengah isak tangisnya.
Hatinya perih, sangat perih! Sakit rasanya mendengar bahwa ia bukanlah anak momy nya, melainkan anak pungut. Terlebih lagi ia di besarkan hanya untuk menjadi pion sang Momy untuk melancarkan aksi balas dendam.
"Ya.. Kamu bukan anak ku! Dan sekarang jangan pernah panggil aku dengan sebutan Momy lagi!" bentak momy Susi. "Kamu harus menuruti semua perintah ku, paham!" tambah momy Susi lagi.
Intan mengaguk pasrah, ia ketakutan sangat-sangat ketakutan. "Ya tuhan! Bodohnya aku, selama ini telah mengikuti perintah wanita iblis ini orang yang sangat aku kasihi dan aku hormati, dan dengan bodohnya aku mau di jerumuskan nya ke dalam lubang ke nista'an, ya tuhan! Bantu aku, aku ingin menjadi orang yang lebih baik dan merubah hidup ku," rintih Intan dalam hati, ingin rasanya ia berteriak namun ia tak mampu.
"Kalian bawa dia, lakukan apapun yang kalian ingin kan. Asal dia tidak tewas," ucap momy Susi kepada semua Bodyguard nya yang ada di dalam ruangan itu.
"Baik bos," ucap mereka serempak.
Para bodyguard itu saling melempar senyum.
"Aku duluan," ucap bodyguard A, sebut saja namanya Udin.
Bodyguard yang lainnya menggaguk.
__ADS_1
Udin segera menghempaskan tubuh Intan ke ranjang kamar Intan dengan kasar, lalu ia menindih tubuh Intan.
"Tolong, jangan lakukan. Aku mohon," pinta Intan.
"Diam sayang, aku hanya ingin menikmati tubuhmu yang sudah lama aku inginkan," kata Udin, lalu ia menjulurkan lidahnya pada leher Intan.
"Tidak! Jangan!" teriak Intan.
Udin melakukan pergulatan yang penuh perlawanan dari Intan, setelah Udin puas, ia segera keluar dari kamar itu, karena di luar masih ada Empat orang temannya yang menunggu giliran.
"Sudah din?" tanya bodyguard B, sebut saja namanya Cecep.
Udin mengaguk, Cecep masuk bersama satu temannya yang lain.
"Mau apa lagi?" tanya Intan dengan suara parau dan lemah.
"Kami mau juga merasakan tubuh indah mu Nona, ehh mantan Nona maksudnya," Cecep dan temannya tergelak.
"Jangan lakukan itu lagi aku mohon," pinta Intan dengan memelas.
Namun kedua Pria berbadan besar itu tidak menghiraukan perkataan Intan.
Mereka berdua segera melepaskan pakaian mereka bersama-sama. Dan mereka berdua menggempur tubuh Intan bersama-sama.
Cecep memaksa Intan meng**m pusakanya, namun Intan memberontak, Cecep menjadi geram dan menampar wajah Intan, tangis Intan semakin menjadi.
"Cepat lakukan!" bentak Cecep, sementara teman Cecep sudah lebih dulu menenggelamkan pusakanya di goa milik Intan.
Intan menuruti perintah Cecep dengan isak tangis yang tiada henti.
Setelah Cecep dan temannya puas, Mereka berdua meninggalkan Intan yang terbaring lemah tak berdaya.
"Jon, kau dulu atau aku!" kata Bodyguard yang belum mendapatkan gilirannya kepada satu Bodyguard lainnya yang bernama Jhony.
"Kau saja duluan, aku ingin lebih lama menikmatinya," ujar Bodyguard yang bernama Jhony dan paling muda di antara para Bodyguard itu.
Bodyguard itu masuk, dan mulai menikmati tubuh Intan yang masih menggoda walaupun dalam keadaan acak-acakan dan tak berdaya.
Setelah puas, ia keluar dan sekarang tiba giliran Jhony.
Jhony masuk perlahan kedalam kamar itu, Ia tersenyum miring melihat keadaan Intan.
"Mau apa lagi? Apakah kamu mau melakukannya seperti mereka?" tanya Intan dengan suara lemah. "Jika kau ingin, maka lakukanlah," sambung Intan.
"Hustt," Jhony meletakan jari telunjuknya di bibir.
Intan memandang Jhony dengan mata sembabnya.
"Sini ku obati!" Jhony merengkuh tubuh tak berdaya itu, Intan hanya menurut pada Jhony.
Jhony mengeluarkan salep dari saku celananya, lalu dengan perlahan ia mengobati luka lebam di sekujur tubuh Intan.
"Auhhh.." rintih Intan, kala salep itu di oleskan Jhony pada kulitnya.
"Siapa namu mu Nona?" tanya Jhony "Lalu kenapa Bos bisa melakukan ini pada mu?" sambungnya.
"Nama ku Intan, aku adalah anak momy Susi, tapi ternyata bukan Anak kandung melainkan Anak pungut," Intan tersenyum miring dengan air mata yang kembali menetes.
Bersambung..!!
__ADS_1
Happy reading..!!