Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Ujian


__ADS_3

Malam harinya.


"Sayang, maafkan mas ya!" pinta Dion pada Syakila.


Syakila menatap dalam netra suaminya, di mata suaminya terlihat penyesalanan yang mendalam.


"Minta maaf buat apa?" tanya Syakila.


"Maaf karena udah bikin kamu sedih kemarin, mas mencintai kamu. Kamu Keong mas satu-satunya, mas memang menyayangi Aira sejak pertama bertemu dia, tapi mas gak cinta kok sama dia, mas cinta nya cuman sama kamu," kata Dion panjang lebar.


"Terus?" tanya Syakila lagi.


Dion terperangah tak percaya, dia sudah berbicara panjang lebar, tapi istrinya hanya merespon sedikit.


"Ya.. Aku di maafin enggak nih!" Dion menaik turun kan alisnya.


"Hmm.. Di maafin gak ya?" Syakila memainkan jari telunjuk nya di dagu, seperti sedang menimbang-nimbang dan berfikir.


"Ya kalau gak di maafin, aku mau tidur!" Dion menjatuhkan tubuhnya di samping sang istri lalu bersembunyi di balik selimut.


"Ah, payah! Masa cuman segitu doang perjuangan minta maaf nya." kesal Syakila. "Iya deh! Aku maafin, tapi jangan tidur dulu. Temenin aku, Mas! Aku gak bisa tidur nih!" sambung Syakila.


Dion tersenyum-senyum sendiri di dalam selimut, "Cepat sekali membuatnya takut, dan merasa bersalah," ucap Dion dalam hati.


"Sayang, jangan tidur dulu! Temenin aku, aku mau nonton Tv nih," ucap Syakila sambil menarik-narik selimut yang menutupi seluruh tubuh suaminya.


"Aku bangun, aku temenin tapi ada Syaratnya," ucap Dion tiba-tiba.


"Apa syaratnya?" tanya Syakila dengan girang. Karena suami nya mau menemaninya.


"Aku mau itu dan yang itu!" tunjuk Dion pada dua bukit dan danau istrinya.


"Kamu MESUM..!" teriak Syakila. Ia mengambil bantal guling dan memukul-mukul tubuh suaminya.


"Kok mesum sih! Katanya mau di maafin terus di temenin, aku kan cuman minta jatah ku yang sudah beberapa hari gak aku dapat, Sayang," kata Dion sambil menghindar dari pukulan Istrinya.


"Aku kan capek! Gak lihat nih, perutnya besar dan ini nya bengkak!" tunjuk Syakila pada perut dan telapak kaki nya.


"Hihihii, kaki kamu kayak kakinya gajah, sayang!" ledek Dion.


"Kamu jahat! Semua kayak gini kan, akar permasalahannya ada di manok kamu! Kalau kamu gak ngeracunin aku tiap malam, gak akan jadi begini!" Syakila meletakan bantal guling yang ia pegang, dan kini ia berkacak pinggang seperti ibu-ibu yang memarahi anaknya.


"Ampun bos!" Dion berlagak seperti orang ketakutan.


"Dasar lelaki, mau enak sendiri," omel Syakila.

__ADS_1


Cup..!


Dion mengecup bibir istrinya yang sedang mengomel itu.


Mata Syakila terbelalak. "Pak tua..!!" teriak Syakila.


"Udah ah, jangan berisik! Ayo mau nonton apa?" Dion menggeser duduknya agar semakin dekat dengan sang istri yang super duper cerewet itu.


***


"Tolong segera urus administrasi biaya perawatan ibu, anda," ucap Seorang suster yang bertugas di rumah sakit jiwa di kota bandar lampung.


"Tapi bagaimana? Saya tidak punya uang, suster." timbal seorang gadis yang tak lain adalah Safira.


"Maafkan saya, saya tidak bisa membantu," kata suster itu lagi "Jika biaya perawatan nya tidak anda lunasi dalam waktu tiga hari kedepan, maka semua fasilitas yang di gunakan untuk ibu Anda akan kami tarik dan hentikan!" sambungnya. Setelah berbicara seperti itu, Suster pun meninggalkan Safira seorang diri.


"Ya tuhan, kemana aku harus mencari uang sebanyak itu," ucap Safira sambil meremas jemarinya.


"Syakila! Iya Syakila, hanya Syakila harapan ku. Dia pasti mau membantu biaya pengobatan ibu," ucap Safira dengan pasti. "Kalau begitu aku harus berangkat ke jakarta hari ini juga," sambungnya.


Namun ia bingung, dari mana ongkos untuk pergi kesana. Lama ia menimbang, akhirnya ia teringat akan jam tangan yang ia pakai juga ponsel nya.


"Jual.. Aku bisa menjual jam tangan dan ponsel ku!" Safira tidak membuang waktu lagi, ia segera pergi ke toko Aksesoris dan Counter ponsel terdekat.


Tak lama kemudian, ia sampai di toko Aksesoris.


"Mbak!" panggil Safira.


"Iya, ada yang bisa saya bantu, mbak?" tanya pemilik toko itu dengan ramah.


"Begini, mbak! Saya mau menjual jam tangan saya," Ucap Safira sambil melepaskan jam tangan yang ia pakai. "Silahkan di lihat dulu, mbak!" sambungnya sambil menyerahkan jam tangannya kepada pemilik toko.


Pemilik toko itu memperhatikan jam milik Safira. "Hmm, saya gak berani ambil mahal ni! Mbak," kata Pemilik toko itu.


"Berapa aja deh, mbak! Saya lagi butuh uang," ucap Safira.


"500 ribu, gimana?" tawar pemilik toko itu.


"Aduh, di tambah dikit dong, mbak! Saya belinya belum lama, dan harga jam tangan itu 2,5 juta," ucap Safira.


"Saya tambah 200, kalau mbak mau ayo kalau tidak ya sudah. Orang-orang jarang sih, nyari barang bekas," kata pemilik toko itu.


Dengan berat hati, Safira merelakan jam tangan satu-satunya itu.


"Ya udah deh, mbak! 700 ribu," ucap Safira.

__ADS_1


Setelah menerima hasil menjual jam tangan nya, Safira segera pergi ke counter ponsel.


"Mas, saya mau jual ponsel saya. Kira-kira laku berapa ya?" tanya Safira pada penunggu counter ponsel yang ia datangi.


"Coba saya lihat dulu ponselnya, mbak," kata penunggu counter itu. "Hmm, kotak nya mana, mbak?" tanya penunggu counter itu kemudian.


"Kotak nya udah gak ada, mas. Kotaknya tertinggal di rumah yang sudah terjual," jelas Safira.


"Haduh, kalau gak ada kotaknya. Counter ini gak berani ambil mahal, mbak! Takut barang curian, lagian kan mbak tahu sendiri daerah kita seperti apa," kata penunggu counter itu lagi.


"Jadi berani ambil Berapa?" tanya Safira.


"2,3 juta, gimana? Mbak mau?" tawar nya pada Safira.


"Boleh deh!" akhirnya ponsel dan jam tangan Safira terjual murah.


Belum juga Safira pergi dari counter itu, seorang pemuda datang ingin membeli ponsel Secen.


"Mas, ponsel itu bagus! Di jual berapa?" pemuda itu menunjuk ponsel Safira yang baru saja terjual.


"Yang ini!" penunggu counter itu memegang ponsel itu.


Pemuda itu mengangguk, "Yang ini murah aja, separuh dari harga baru, 5juta deh," ucap penunggu counter itu.


"Kurang dikit napa? Saya cuman punya uang segini!" pemuda itu mengeluarkan uang 4,7 juta dari saku jaketnya.


"Gimana ya?" penunggu counter itu nampak berfikir. "Boleh lah," sambungnya.


Safira menghela nafas dengan kasar, "Sungguh kejamnya dunia perbisnisan," ucapnya.


Setelah itu, ia bersiap pergi ke jakarta. Tanpa membawa pakaian ganti atau apapun. Niatnya ke Jakarta sudah bulat, hanya ingin meminta bantuan Syakila.


Pukul Tiga sore Safira sampai di jakarta, tepat di depan gedung menjulang tinggi. Ya..! Perusahan WIRYAWAN GRUP yang ia datangi.


Ia meminta izin masuk kepada security namun security menahannya.


"Tolong pak, izinkan saya masuk! Sebentar saja," ucap Safira memelas.


"Maaf, mbak! Tidak bisa!" tegas pak security.


Safira tetap memaksa, alhasil terjadi lah keributan.


"Ada apa ini?" bariton seseorang menghentikan kegaduhan itu.


"Ini pak, mbak ini maksa buat ketemu sama bu Aira," jelas security itu.

__ADS_1


Raka menyipitkan matanya saat melihat Safira yang berpenampilan lusuh itu.


__ADS_2