
"Iya yah, ibu senang sekali," kata bu Yanti "Mudah-mudahan dia bisa cepat membuka hatinya untuk syakila." sambung bu Yanti.
Dion dan Syakila pergi menuju kediaman pak Bambang dengan menggunakan kendaraan roda empat milik Dion.
Di dalam mobil itu, Syakila tampak mengoceh tiada henti. Hingga membuat Dion meringis dan sesekali menutup telinganya.
"Kita mau kemana?" tanya Syakila.
"Kerumah orang tua Raka, yaitu suami Aira mu." timbal Dion.
"Kau tidak berbohong kan pak?" tanya Syakila lagi. "Masih jauh gak rumahnya?" sambungnya.
"Untuk apa aku berbohong pada keong sepertimu," kata Dion "Tidak jauh lagi," sambung Dion masih dengan fokus pada arah jalanan yang ada di hadapannya.
"Keluarga suami Aira baik tidak? Dan disana ada makanan atau tidak?" tanya Syakila lagi dan lagi.
"Keong! Kau bisa diam tidak?" bentak Dion yang semakin pusing mendengar ucapan Syskila.
"Dasar bapak-bapak tua! Main bentak-bentak, emangnya aku takut!" timbal Syakila sambil melolot pada Dion.
Dion menepikan mobilnya dan iya menatap Syakila yang sedang melototinya dengan intens.
"Kenapa malah berhenti? Jadi beneran bapak mau ngajak saya ribut," ucap Syakila.
Tiba-tiba Dion mendekat dan langsung mencium bibir Syakila.
"Sudah! Diam sekarang," kata Dion lalu menjalankan kembali mobilnya.
Mata Syakila semakin melotot pada Dion, namun iya tidak berbicara sepatah katapun lagi.
"Kurang ajar! Sekarang bibirku sudah tidak polos lagi, sekarang aku sudah ternoda. Aku harus memastikan bahwa dia akan menikahi ku, aku tidak akan membiarkan dia dekat dengan wanita manapun setelah dia memperkosa bibir ku yang masih suci ini," ucap Syakila dalam hati sambil memegangi bibirnya.
Diam-diam Dion memperhatikan kelakuan Syakila dari kaca spion. Dia pun tersenyum kecil melihat kelucuan Syakila.
"Dasar keong sawah, kelakuannya sungguh menggemaskan. Kenapa aku sangat senang melihatnya, dan kenapa aku sangat berani menciumnya padahal kan aku baru bertemu dengannya semalam," kata Dion dalam hati.
Tak terasa, setelah menempuh perjalanan selama empat puluh menitan. Akhirnya Dion dan Syakila sampai di depan rumah megah milik pak Bambang.
"Ayo turun keong," ucap Dion tak sabaran.
"Sabar kenapa sih! Dasar bapak-bapak tua," kata Syakila.
Syakila pun segera turun dari mobil Dion "Waow,! Besar sekali rumah ini, rumah peninggalan Alm ayah Aira yang cukup besar di lampung saja tidak ada secuil dari rumah ini," sambung Syakila dengan takjub.
"Udah terpesonanya, mending kita masuk," ucap Dion sambil menarik-narik tangan Syakila.
__ADS_1
"Ihh, kejem banget sih jadi cowok! Gak bisa bersikap lembut apa?" gerutu Syakila "Awas aja kalo beberan jadi suami, aku balas," sambungnya.
Mendengar gerutuan Syakila, Dion pun melepaskan pegangan tangannya dari tangan Syakila. Iya pun beralih memeluk pinggang Syakila.
"Ehh, apaan ni!" kata Syakila.
"Kata kamu pengen aku bersikap lembut," ucap Dion. "Ini aku bersikap lembut dan romantis malah salah." sambung Dion.
"Tapi kan gak usah peluk-peluk juga kalik!" ketus Syakira.
"Ya sudah terserah kamu saja," Dion melepaskan tanganya dari pinggang Syakila, lalu nyelonong masuk kedalam rumah megah itu dan meninggalkan Syakila sendirian.
Syakila menghela nafas dengan kasar "Dasar pria aneh, gila." maki Syakila lalu dia pun berlari mengejar Dion yang sudah ada di dekat pintu utama rumah itu.
Tanpa permisi atau tanpa mengucap salam Dion langsung masuk kedalam rumah itu.
"Tidak sopan," ucap Syakila "Masuk rumah orang tidak mengucap salam." sambungnya.
Dion tidak menghiraukan gerutuan Syakila, dia terus saja berjalan menuju kearah dapur rumah itu.
"Eh, den Dion! Pagi-pagi sudah kesini, ada apa?" tanya mbok Ani.
"Raka dan Aira ada mbok?" tanya balik Dion.
"Tu mereka ada di sana," ucap mbok Ani sambil menunjuk ke arah kolam renang.
"Eh, ini siapa den? Kok mirip sama non Aira ya," kata mbok Ani sambil mengamati wajah Syakila.
"Hehee, mbok jangan gitu dong ngeliatin saya. Saya tahu kalau saya cantik," ucap Syakila dengan PDnya sambil terkekeh.
"Udah gak usah kePDan disini," ucap Dion "Katanya mau ketemu sama Aira." sambung Dion sambil menarik tangan Syakila dan berjalan kearah kolam renang.
Saat sampai di dekat kolam renang itu, Dion memanggil Raka dan Syakila yang sedang besantai di pinggir kolam dengan merendahkan kaki mereka.
"Raka, Aira!" panggil Dion
Raka dan Aira menoleh kearah suara yang memanggil mereka.
"Syakila / Aira," kata Aira dan Syakila bersamaan.
Aira berdiri dari duduknya, dan hendak berlari kearah Syakila.
"Sayang, hati-hati! Nanti jatuh," ucap Raka.
Begitu pula dengan Syakila.
__ADS_1
"Keong! Jangan lari-lari, nanti kamu jatuh aku yang jadi repot," omel Dion.
Syakila dan Aira tidak mendengarkan ucapan Dion dan Raka.
Mereka berdua berpelukan.
"Syakila, aku kangen! Kok kamu bisa sampe sini," uvao Aira sambil memeluk tubuh Syakila dengan erat.
"Aku juga kangen sama kamu," kata Syakila "Aku kesini mau minta maaf sama kamu dan suami kamu. Dan kebetulan aku ketemu sama bapak-bapak ngeselin itu!" sambung Syakila sambil melepas pelukannya dan menunjuk wajah Dion.
"Eh! Siapa yang bapak-bapak?" tanya Dion sambil menatap tajam Syakila.
"Kamu yang bapak-bapak!" sahut Syakila.
"Enak aja! Untung kamu ketemu sama aku, kalau ketemu sama orang lain mungkin kamu udah di jual ke rumah bordir," kata Dion "Dan yang perlu kamu tahu ya! Aku itu lebih muda dan tampan dari pada Raka." sambungnya lagi.
Raka yang di sebut sudah tua pun jadi kesal mendengarnya.
"Enak saja!" sahut Raka "Begini-begini aku sudah laku ya, gak kayak kamu." timbal Raka.
Syakila dan Aira saling pandang, lalu Aira mengode Syakila agar ikut bersamanya dan meninggalkan Raka dan Dion yagg sedang berdebat masalah ketampanan mereka masing-masing.
"Aku lebih tampan dari kamu," kata Dion tak mau kalah.
"Ya sudah! Ayo kita votting, kita minta pendapat semua orang yang ada di rumah ini," ucap Raka sambil menggerakkan tangannya ke kiri dan ke kanan.
"Ya gak bisa, orang di sini semua keluarga kamu. Ya pasti mereka bilangin kamu tampan, apa lagi mama, papa dan Aira." timbal Dion.
Sesaat kemudian, Dion dan Raka sadar.
"Kemana Aira?" tanya Raka.
"Kemana ni di keong sawah?" tanya Dion
Mereka berdua pun celingak celinguk, Namun tidak lagi menemukan Aira dan Syakila.
"Dasar wanita! Kita berdua di tinggal," ucap Raka.
"Ya sudah lah, kita tidak usah bertengkar lagi. Kita di lahirkan sama-sama tampan," kata Dion sambil merangkul pundak Raka.
Lalu kedua sejoli itu masuk kedalam rumah dengan saling merangkul.
***Bersambung..!!
Happy reading..!!
__ADS_1
KASIH DUKUNGAN YA UNTUK OTHOR YANG GESREK INI..!!
😘😘😘***