
Di meja makan, semua orang sudah berkumpul.
"Raka, kok kamu gak makan?" tanya mama Rina yang memperhatikan perubahan pada diri Raka.
"Nanti aja, Raka belum lapar," timbal Raka.
"Kamu gak suka ya, sama aku," kata Aira sambil nenundukan kepalanya.
"Siapa bilang? Aku lagi gak enak makan sayang!" sahut Raka dengan cepat, ia tidak ingin istrinya terluka lagi. "Sini aku suapin ya, kamu makan yang banyak. Biar bayi kita sehat." sambungnya.
Aira membuka mulutnya, ia menerima suapan dari Raka.
Begitupun dengan Syakila, Dion, mama Rina dan juga pak Bambang. Mereka menikmati sarapan mereka, namun di tengah-tengah makan mereka. Aira berlari ke arah kamar mandi yang berada di ujung dapur itu, sambil menutup mulut dengan kedua telapak tangannya.
Raka menghela nafas pelan, ia beranjak dari duduknya. Namun gerakannya di dului oleh Dion. Dion berlari lebih cepat ke arah kamar mandi.
"Aira," Dion mendekat dan memijat tengkuk leher Aira dengan lembut.
"Kak Dion, udah sana! Aku gak papa," ucap Aira dengan lemah. "Gak enak ama yang lain, nanti di kira kita ada apa-apa lagi," sambungnya.
"Udah, kamu diam! Gak usah banyak omong," kata Dion. "Gimana? Udah mendingan?" tanya Dion kemudian.
Aira menganguk, Dion segera memapah tubuh Aira menuju meja makan. Bahkan Aira dan Dion melewati Raka yang berdiri di ambang pintu kamar mandi.
"Udah mendingan, sayang?" tanya mama Rina pada Aira.
"Udah, ma! Maaf ya, Aira ganggu sarapan kalian," kata Aira.
"Kamu mau makan lagi?" tawar Dion. "Kakak suapin ya," sambungnya.
Syakila hanya menatap heran pada suaminya yang berubah. Dalam hatinya bertanya-tanya.
"Mas Dion kenapa? Ada hubungan apa di antara mereka?" ucapnya dalam hati.
"Aku gak mau makan lagi," tolak Aira, ia mendorong sendok yang di sodorkan oleh Dion.
"Ya udah," kata Dion sambil meletakan sendok itu. "Sayang, kamu kok udahan juga makannya?" tanya Dion pada Syakila kemudian.
Syakila tak menjawab, ia menatap tajam pada suaminya. Namun yang di tatap malah bersikap acuh.
Berbeda dengan Syakila, Raka malah nampak biasa saja menanggapi khawatiran Dion pada Aira. Karena ia tahu apa yang di takutkan oleh Dion.
"Sayang, yuk mas antar ke kamar. Kamu harus istirahat," kata Raka.
Mama Rina dan pak Bambang menatap heran pada dua pasang anak muda yang ada di hadapan mereka.
__ADS_1
Siang harinya, Dion dan Syakila sudah kembali ke apartemen mereka.
"Mas," panggil Syakila pada suaminya yang hendak masuk ke kamar mandi.
Dion membalikan tubuhnya. "Hm, kenapa?" tanya Dion.
"Mas punya hubungan apa sama Aira?" tanya Syakila, seakan-akan menginterogasi suaminya.
"Maksud kamu apa kok tanya gitu, sayang?" Dion balik bertanya.
"Aku ngerasa kamu berlebihan deh sama Aira," kata Syakila.
"Berlebihan gimana?" tanya Dion yang tidak mengerti.
"Jangan-jangan bayi yang di kandung Aira, anak kamu lagi!" ketus Syakila.
Dion membulatkan matanya, ia terkejut dengan ucapan istrinya. Dengan gusar ia mengusap wajahnya.
"Kok kamu ngomong gitu? Kamu nuduh mas selingkuh?" Dion bersikap setenang mungkin, ia mencoba untuk tidak emosi.
"Jawab aja deh! Mas, aku ngerasa kamu berubah saat mendengar Aira mengandung. Bahkan kamu lebih peduli sama dia di bandingkan aku," ucap Syakila dengan suara yang meninggi.
Dion hanya diam, ia memilih meninggalkan istrinya yang berdiri dengan wajah dan mata memerah di tepian ranjang kamar mereka itu.
Setelah kepergian Dion, Syakila menangis. Ia tidak menyangka dengan semua ini. Dadanya terasa sesak, berulang kali ia mengusap dadanya, namun rasa sesak itu tak kunjung hilang.
Sedangkan Dion, dia pergi entah kemana.
***
"Bagaimana saksi, sah," kata seorang penghulu.
"Sah," timbal seluruh saksi yang ada.
Alhamdulilah, kini Briyan dan Cindy sudah resmi menjadi pasangan suami istri yang sah.
"Horee, kalau ibu dan ayah sudah menikah. Berarti Bian akan segera di beri adik," ucap Bian dengan riang.
Sontak, perkataan Bian mengundang tawa seluruh saksi dan tamu yang menghadiri acara ikrar janji suci itu.
Malam hatinya, di kamar pengantin Briyan dan Cindy.
"Maaf, untuk semua yang sudah aku lakukan," kata Briyan sambil menatap wajah Cindy.
"Aku juga minta maaf, kak." timbal Cindy.
__ADS_1
"Emm, apa kamu udah siap," Briyan menaik turunkan alisnya.
Cundy tersipu malu, ia mengerti apa maksud dari perkataan Briyan.
Briyan membelai wajah istrinya dengan lembut. "Dulu kita melakukannya hanya dengan nafsu, dan kini! Aku ingin kita melakukannya dengan cinta," ucap Briyan.
Setelah itu, ia mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Cindy. Ia menciumi seluruh bagian wajah istrinya dengan lembut.
Cindy memejamkan matanya, "Kak, Cindy takut," lirih Cindy.
"Takut apa?" tanya Briyan di telinga Cindy.
"Sudah sangat lama kita tidak melakukannya," ucap Cindy.
Perkataan konyol itu keluar begitu saja dari mulutnya, itu menandakan bahwa dulu mereka sering melakukan hubungan terlarang itu.
"Dulu saat belum halal saja nikmat, apa lagi sudah halal," bisik Briyan.
Akhirnya mereka melangsung malam pertama mereka dengan pertempuran panas.
Pukul dua dini hari, kedua insan itu baru terlelap.
Mereka berdua tidur dengan saling berpelukan.
Sinar mentari pagi masuk melalui celah-celah jendela kamar itu, membuat kedua insan yang tengah tertidur menjadi terbangun.
Perlahan Cindy menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Ia ingin beranjak dari ranjang itu, namun tiba-tiba tangannya di tarik oleh Briyan.
"Mau kemana?" tanya Briyan.
"Mau mandi, hari sudah siang. Nanti Bian bangun dan menangis," kata Cindy pada suaminya.
"Maaf, aku gak bisa gendong kamu ke kamar mandi. Kayak pasangan pengantin lainnya," kata Briyan. "Sini aku liat dulu," sambung Briyan sambil menarik selimut yang menutupi tubuh istrinya.
"Gak papa, apa yang mau di liat!" Cindy menarik kembali selimut tebal itu, lalu beranjak neninggalkan Briyan yang masih berbaring di atas ranjang.
Briyan terkekeh melihat Cindy yang nampak malu-malu.
Setelah Cindy masuk kedalam kamar mandi, Briyan memegangi kaki kirinya yang sudah keram sejak tadi.
"Kenapa akhir-akhir ini sering sakit lagi," gumannya "Apakah karena aku terlalu banyak beraktivitas, jadi menyebabkan urat-uratnya kencang." sambungnya.
"Cindy dan Bian tidak boleh tau hal ini, mereka pasti akan sedih," ucapnya "Kau harus kuat dan semangat, Briyan kau pasti bisa," Briyan memijat pangkal kakinya dengan perlahan.
Tak lama kemudian, Cindy keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Kak, sana mandi! Cindy udah siapin air hangat," kata Cindy, Briyan terkejut dan langsung menutupi kakinya yang nampak gemetar dengan selimut.