Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Kesulitan Safira.


__ADS_3

Raka menyipitkan matanya saat melihat Safira yang berpenampilan lusuh itu.


"Tolong, tolong beri saya waktu untuk berbicara. Sebentar saja, tuan," ucap Safira memelas pada Raka.


Raka berfikir sejenak dan beberapa menit kemudian. "Lepaskan dia, beri dia waktu untuk mengutarakan keinginannya!" perintah Raka pada sang security.


"Baik, tuan!" Security itu mengikuti perintah Raka dan melepaskan Safira.


"Katakan! Apa yang kamu inginkan?" tanya Raka to the point.


"Maafkan saya, karena sudah mengacau. Saya datang kemari ingin bertemu Syakila," ucap Safira sambil menundukkan kepalanya. "Saya tahu, Syakila pasti ada di daerah ini, dia pasti menyusul Aira karena dia sangat menyayangi Aira," sambungnya.


"Mau apa bertemu Syakila?" tanya Raka lagi.


"Saya ingin meminta bantuannya untuk mem biaya'i pengobatan ibu kami yang saat ini berada di rumah sakit jiwa," jelas Safira.


Namun sepertinya Raka tidak percaya. "Apakah perkataan kamu bisa di percaya?" tanya Raka seperti mengintrogasi tawanan.


"Bisa, tuan! Saya tidak berbohong, sungguh," ucap Safira dengan pasti. " Saya ingin meminjam telpon kantor ini sebentar saja, itu juga kalau tuan mengizinkan," sambung Safira.


"Berikan dia pinjam telpon kantor kita!" perintah Raka pada resepsionis kantor itu "Ingat, hanya lima menit!" sambung Raka dan di angguki oleh Safira.


Tak menyia-yia kan waktu, Safira segera menelpon pihak rumah sakit jiwa. Yang nomer nya sudah ia cacat dan ia simpan di saku celana jeans lusuh yang ia pakai.


Tepat lima menit berbicara, Safira mematikan sambungan telpon itu.


Raka yang mendengar pembicaraan itu, menjadi sedikit iba.


"Terimakasih, tuan," ucap Safira sambil membungkukan tubuhnya.


"Hmm, sekarang kamu ikut saya!" perintah Raka.


Safira hanya mengangguk, dan mengikuti langkah kaki Raka.


Raka segera keparkiran dan memasuki mobilnya. Setelah dia masuk ke jok kemudi, Safira tidak bergerak dari tempatnya berdiri, yaitu samping mobil Raka.


"Cepat, masuk! Kalau tidak, akan saya tinggal kamu di sini!" bentak Raka.


"Benarkah? Saya boleh masuk dan duduk di dalam mobil, tuan?" tanya Safira tak percaya.


Ia takut, sangat takut. Karena pertemuan pertama mereka terkesan tidak baik, Bahkan saat itu Raka tidak mengizinkan Safira dan ibunya menyentuh mobil mewah berwarna hitam itu.


"Ya! Cepat masuk, istri ku pasti sudah menunggu di rumah," ucap Raka.


Dengan cepat Safira memasuki jok bagian belakang mobil itu.


"Ckk, jadi supir sekarang!" Guman Raka namun masih terdengar di telinga Safira.

__ADS_1


"Kalau tuan tidak nyaman, saya bisa naik ojek saja," kata Safira tak enak hati.


Bagaimana pun, Safira tetaplah manusia dan setiap manusia memiliki kesempatan untuk berubah. Terkadang manusia lupa, lupa akan tata cara kebaikan hidup. Di saat mereka dalam kesulitan, di sana mereka akan ingat atas segala kesalahan yang telah mereka perbuat di masa lalu.


Untuk para readers, cukup! Jangan menghakimi Safira berlebihan karena kita bukan hakim😂, semua orang punya masa lalu. Sama seperti Autor, Autor juga punya masa lalu buruk dan mungkin tidak akan pernah terlupakan.


"Tidak usah turun, tetaplah di situ! Saya akan membawa kamu menemui Aira dan Syakila," kata Raka "Tapi ingat! Jangan sampai terlintas sedikitpun kelicikan di otak mu!" sambung Raka.


Degg,, Perkataan yang terucap dari mulut Raka sungguh memohok hati Safira. Sungguh jahat dan licik kah ia di masa lalu?


"Tuan, tenang saja! Saya tidak akan berbuat macam-macam lagi, niat saya kemari hanya ingin meminta bantuan adik saya," ucap Safira sambil meremas jemari nya.


Kalau saja ia bisa berubah menjadi kecil sekecil kecilnya, ingin rasa nya ia bersembunyi dari Raka, pria yang sangat menakutkan baginya.


Raka segera melajukan mobilnya membelah jalan raya yang tidak terlalu ramai dan macet.


Saat di perjalanan, Raka menghidupkan sesuatu yang ada di mobilnya, setelah itu terdengar ia berbicara pada seseorang.


"Iya, ini aku bawa kerumah. Ho'oh, tapi hati-hati jangan sampai anu, kasian Syakila," ucap Raka.


Safira hanya menyimak. Dan tak lama kemudian, mobil Raka berhenti di depan rumah mewah.


"Turun!" perintah Raka pada Safira.


Dengan cepat Safira turun, dan berjalan tergesa mengikuti langkah Raka.


"Sayang, sudah pulang?" Aira bergelayut manja di bahu suaminya.


"Enggak, tadi pagi mang Jajang anter bauh jeruk asem baut aku, terus mama nitipin jamu beras kencur," ucap Aira dengan senyum bahagianya.


Semua itu tak lepas dari pandangan Safira, ia tersenyum kecil menyaksikannya kebahagiaan pasangan itu.


"Ehh, tunggu dulu!" Aira berbalik pada wanita di belakang mereka.


Mata Aira melolot, ia segera bersembunyi di balik tubuh kekar suaminya.


"Sayang, kok ada kak Fira!" tunjuk Aira yang bersembunyi di balik punggung suaminya.


"Maafkan aku, Aira. Aku tau, kamu pasti sangat takut," lirih Safira. "Aku kemari, hanya ingin bertemu Syakila," sambungnya.


Mendengar perkataan Safira, Aira perlahan menyembulkan kepalanya dari balik punggung suaminya.


Di tatapnya lekat wajah kusut dan lelah Safira, di dalam hatinya bertanya-tanya "Kenapa kak Fira seperti ini?" tanyanya pada dirinya sendiri dalam hati.


"Sayang, ajak dia masuk!" perintah Raka "Suruh dia membersihkan dirinya, setelah itu beri ia makan," sambung Raka.


"Ingat! Jangan macam-macam! Rumah ini di penuhi dengan keamanan," tegas Raka.

__ADS_1


"Kau urus lah dia, jangan takut! Dia tidak akan macam-macam," ucap Raka pada istrinya, ia mengecup kening istrinya. Dan masuk kedalam rumah duluan.


Kini tinggalkan Aira dan Safira di luar rumah itu.


"Ayo masuk, kak Fira," ajak Aira "Aku yakin, sebentar lagi, Syakila pasti akan kemari," sambungnya.


Safira mengikuti langkah Aira memasuki rumah megah itu.


"Nah, ini kamar tamu. Kak Fira bisa mandi dan istirahat di sini, aku akan cari kan pakaian untuk kak Fira," ucap Aira sambil membuka pintu kamar yang ada di lantai bawah itu.


"Terimakasih, Aira. Kamu memang baik," kata Safira penuh dengan penyesalan.


Aira hanya menanggapi ucapan terimakasih Safira dengan senyuman.


Setelah itu, ia keluar dan menyusul suaminya kelantai atas.


Sesampai nya di lantai atas, suaminya hendak mandi.


"Sayang,!" panggil Aira.


"Hmm, kenapa?" Raka menoleh pada Aira.


"Kok kamu bisa ketemu kak Fira?" tanya Aira.


"Tadi dia ke kantor, dan bikin keributan. Katanya dia pengen ketemu sama Syakila." timbal Raka "Dan setelah dengar Penjelasan nya, aku jadi kasian jadi aku ajak dia kesini," jelas Raka "Kamu gak keberatan kan?" tanya Raka.


"Enggak, aku gak keberatan! Tapi aku khawatir sama Syakila, dia kan keras kepala," ucap Aira. "Kalo seandainya Syakila gak mau bantu kak Fira, kita harus gimana?" tanya Aira yang meminta pendapat suaminya.


"Aku ikut gimana kamu aja, apapun keputusan kamu, aku akan ikut," kata Raka. "Aku mandi dulu ya, emuah," Raka mencium pipi istrinya, setelah itu ia masuk ke kamar mandi.


Aira kembali lagi ke lantai bawah, dengan membawa pakaian ganti untuk Safira.


Ia duduk di tepian ranjang, menunggu Safira selesai membersihkan diri.


Lima menit Aita menunggu, akhirnya Safira keluar dari kamar mandi.


"Ini baju ganti buat kak Fira," kata Aira sambil meletakan baju ganti itu ke atas ranjang.


Safira mengangguk. "Setelah berganti pakaian, kak Fira bisa istirahat, Aira mau masak bentar," sambung Aira.


"Aku bantuin kamu, ya!" Safira mengikuti langkah Aira menuju dapur.


Tak terasa sore hari telah berganti gelap. Kini Raka, Aira dan Safira sedang makan malam.


Safira makan dengan sangat lahap, sampai-sampai membuat Raka terperangah.


Lapar, Safira memang lapar. Sejak pagi tadi ia memang belum makan nasi, saat ia berangkat ke jakarta, ia hanya makan dua bungkus roti dan juga meminum satu botol teh dingin.

__ADS_1


Saat isi piring nya sudah hampir habis, tiba-tiba suara seseorang menghentikan makannya.


"Kamu,,! Kenapa kamu kesini?!" teriak seseorang yang baru masuk kedalam rumah itu.


__ADS_2