
"Tapi kenapa Raka? Apakah kamu takut jika Mama kamu akan menyakiti Istri kamu lagi?" tanya Papa Bambang sambil melirik istrinya yang diam mematung.
"Gak gitu Pa, tapi karena Raka mau ngerasain gimana rasanya tinggal di Rumah sendiri." timbal Raka.
"Huhh.." Papa Bambang mengehela nafas dengan kasar. "Ya sudah kalau itu keputusan kamu, Papa gak bisa ngelarang," sambung Papa Bambang.
"Papa mau nengokin Aira," ucap Papa Bambang.
Setelah di angguki oleh Raka, Papa Bambang segera menaiki anak tangga hendak menuju kamar Raka dan Aira, di ikuti oleh Raka, Dion dan juga Syakila.
Di dalam kamar itu.
Aira mengerjapkan matanya perlahan. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Raka..!" panggil Aira lirih.
Ceklek.. Pintu kamar terbuka.
"Aira, kamu sudah sadar nak," kata Papa Bambang yang melihat Aira sudah sadar.
"Papa, kapan Papa pulang?" tanya Aira lirih.
"Tadi, Papa sempat terkejut karena ada polisi di Rumah kita," ucap Papa Bambang.
"Polisi! Kenapa ada Polisi?" tanya Aira dengan heran.
"Iya, ular yang ada di sini adalah ular yang sengaja di lepas oleh Intan untuk menghabisi kamu!" sahut Syakila.
"Keong!" bentak Dion.
"Upszz..! Maaf," Syakila menutup mulutnya.
"Intan! Tapi Mama gak kenapa-kenapa kan? Intan gak celakain Mama kan?" tanyanya panik sambil melangkah turun dari Ranjang.
"Aira.. Mau kemana kamu?" bentak Raka.
"Aku mau lihat keadaan Mama, Intan pasti mau nyelakain mama lagi," panik Aira.
"Mama baik-baik aja, lagian kenapa kamu perduli sama mama yang jelas-jelas selalu nyakitin kamu!" ketus Raka.
Papa Bambang hanya bisa diam melihat kekesalan pada diri Raka saat ini. Ingin marah pun dia tak bisa, karena semua keberanian Intan berawal dari dorongan istrinya.
"Papa keluar dulu ya, Papa senang Aira gak kenapa-kenapa," kata Papa Bambang, lalu keluar dari kamar itu.
Setelah kepergian Papa Bambang.
"Beneran Intan di bawa Polisi? Terus siapa yang laporin Intan ke polisi?" tanta Aira kepada tiga orang yang ada di hadapannya.
"Aku!" sahut Syakila "Tadi sebelum aku berangkat kesini, pak tua nelpon aku," jelas Syakila.
*Flashback o*n
"Hallo, Keong," ucap Dion di sambungan telpon.
"Iya pak tua!" sahut Syakila.
"Tolong lapor polisi dan segera menuju ke kediaman Om Bambang, Aira dalam bahaya saat ini," jelas Dion.
__ADS_1
"Iya, ini juga aku baru mau nelpon kamu tapi udah keburu di duluin." timbal Syakila.
"Kamu hati-hati di jalan, ini aku ama Raka udah mau sampe," ucap Dion lalu mematikan sambungan telpon itu.
Flashback off
"Jadi gitu! Makasih ya, kalian usah nyelametin nyawa aku," kata Aira.
"Syakila.. Tolong bantu Aira mengemasi barang-barang nya. Hari ini juga aku bakal bawa Aira ke Rumah baru kami," jelas Raka.
Syakila mengangguk dan segera memasukan barang-barang Aira ke dalam koper.
"Pindah kemana?" tanya Aira.
"Ke Rumah kamu." timbal Raka lalu mendekati istrinya yang masih bersandar di sandaran ranjang.
"Ke kontrakan maksudnya? Emang gak papa kalo kamu ikut tidur di tempat kayak gitu," kata Aira.
"Bukan ke Kontrakan sayang, tapi ke Rumah kita, Rumah yang udah aku beli buat kamu," jelas Raka lalu mencium kening istrinya.
"Mulai dah si Raka," omel Dion "Bukannya bantuin beres-beres malah mesra-mesraan di depan orang," sambungnya.
"Mending Pak tua sini deh! Dari pada ngurusin idup orang mending bantuin aku!" bentak Syakila.
Dengan malas Dion membantu istrinya yang super duper cerewet itu. Sedangkan Aira dan Raka hanya tersenyum melihat kekocakan pasangan pengantin baru itu.
***
"Lepaskan saya pak! Saya tidak bersalah, kalian akan menyesal nanti," teriak Intan.
"Gak tahu ni! Orang baru kok belagu!" bentak tahanan lain yang juga ikut terganggu.
Melihat para tahanan yang wajahnya sangar-sangar, nyali Intan menciut. Seketika dia terdiam.
"Momy, momy pasti datang buat bebasin aku," harap Intan dalam hati.
"Pak, pak polisi!" panggil Intan.
"Ada apa?" polisi itu mendekati Intan.
"Pinjam Ponsel sebentar Pak, saya mau menghubungi momy saya," ucap Intan.
"Saya pinjamkan Ponsel saya, tapi kamu cuman punya waktu tiga menit," kata Polisi itu sambil mengeluarkan ponselnya.
Intan segera menerima Ponsel itu, dan dengan cepat ia menekan nomer ponsel momy Susi.
Setelah terhubung.
"Hallo Mom, ini Intan. Tolong bantuin Intan Mom, Intan di kantor Polisi," ucap Intan tanpa jeda.
"Momy akan kesana, dan bakal cari pengacara buat bebasin kamu," kata momy Susi lalu mematikan sambungan telpon itu.
"Mudah-mudahan Momy cepat datang," bukan Intan.
"Sudah belum?" tanya Polisi.
"Sudah Pak, terimakasih," ucap Intan lalu mengembalikan ponsel itu.
__ADS_1
Di tempat lain, tepatnya Rumah Bordir.
"Dasar anak sialan!" umat seseorang yang tak lain adalah momy Susi.
"Bogel!" teriak Momy Susi pada anak buahnya.
"Ada apa bos?" tanya Bogel yang datang dengan tergesa-gesa.
"Hubungi Charles, perintah kan dia untuk membebaskan gadis bodoh itu dari penjara! Jika kita tidak membebaskannya, aku takut dia akan buka mulut," kata Momy Susi.
"Baik Bos!" Bogel langsung pergi dari sana untuk menghubungi Charles, seorang pengacara hebat yang bernaung di bawah kekuasan birahi Momy Susi.
"Aku akan membuat mu menderita setelah ini," seringai mommy Susi.
***
Setelah selesai berkemas, Raka dan Aira yang di ikuti pasangan kocak di belakangnya menuruni anak tangga dengan koper besar di tangan mereka.
"Apa kalian akan pergi sekarang juga?" tanya Papa Bambang.
"Iya pa, Raka udah suruh orang bersihin rumah yang akan Raka dan Aira tempati." timbal Raka.
"Ma, mama harus minta maaf sama Aira," ucap Papa Bambang pada mama Rina yang berada di sampingnya.
"Loh! Kenapa mama harus minta maaf." protes mama Rina.
"Kenapa kata mama!" bentak Papa Bambang. "Kalau bukan karena Aira, mungkin sekarang mama hanya tinggal nama." sambungnya.
Mata mama Rina melolot seakan mau keluar dari tempatnya.
Dengan terpaksa, mama Rina minta maaf pada Aira.
"Saya minta maaf, Aira," kata mama Rina.
"Yang tulus Ma, bukan seperti itu caranya minta maaf," ucap Papa Bambang.
Dion dan Syakila saling lempar pandang lalu tersenyum. Mereka merasa lucu dengan kekesalan mama Rina.
Mama Rina menghentak-hentakan kakinya. Lalu ia meminta maaf kembali pada Aira.
"Mama minta maaf ya Aira, udah jahat sama kamu selama ini," ucap mama Rina sambil menundukkan wajahnya karena malu bercampur kesal.
"Aira udah maafin Mama kok, Aira juga minta maaf ya Ma. Karena udah jadi menantu yang gak Mama inginkan." Aira mendekat pada Mama Rina lalu menggenggam tangan itu.
Mama Rina memeluk Aira, dan Aira membalas pelukan itu.
"Saya melakukan ini karena terpaksa ya, Ingat! Saya tidak akan menerima kamu jadi menantu saya," bisik mama Rina di telinga Aira.
"Makasih ya Ma," ucap Aira sambil melepas pelukan itu.
***Bersambung..!!
Sambil nunggu Aouthor up, singgah ya ke karya kakak online othor***.
__ADS_1