
Dengan cepat Syakila mendorong tubuh Dion, lalu berlari kekamar mandi.
"Ibu ganggu aja sih! Gak tahu apa kalo anaknya lagi usaha," gerutu Dion. "Kan jadi gagal lagi," imbuhnya.
Dion mengguling-gulingkan tubuhnya di ranjang itu sambil memegangi menutupi pusakanya dengan kedua tangannya.
"Uhh, rasanya lebih sakit dari sakit gigi," omelnya.
Tak lama, Syakila keluar dari kamar mandi. Ia mengernyitkan dahi melihat Dion yang berguling-guling.
"Ngapain sih kok guling-guling kayak gitu?" tanya Syakila.
"Hah," Dion menghentikan aksinya.
"Aku boleh minta tolong gak pak tua?" tanya Syakila.
"Tolong apa?" tanya balik Dion.
"Kerokin aku ya, pake koin ini dan minyak angin," pinta Syakila.
"Ya udah sini!" Dion mengambil koin dan minyak angin dari tangan Syakila.
"Pelan-pelan ya, badan ku gak enak banget. Dulu Aira yang sering ngerokin kalo aku gak enak badan," kata Syakila lalu membuka bajunya dan menutupi dadanya menggunakan kain.
"Ihh, gak usah di tutupin," kata Dion lalu menarik kain yang menutupi dada istrinya.
"Aku malu." timbal Syakila lalu menarik kain itu kembali.
"Gak usah malu, lebih baik malu-maluin aja keong!" Dion menarik lagi kain itu dengan keras hingga kain yang menutupi dada Syakila terlepas. "Nah kan! Kalau gini enak liatnya," sambung Dion lalu melempar kain itu ke lantai.
Syakila memajukan bibirnya, dan tangannya menutupi bagian dadanya yang tidak tertutup apa-apa.
"Heleh, malu-malu. Waktu itu malunya pergi kemana?" tanya Dion sambil tersenyum mengejek kala mengingat Syakila melepas handuknya di depannya saat terikat di dalam hotel.
"Aissh, kenapa nginget masa lalu sih!" gerutu Syakila "Mau ngerokin enggak ni?" sungut nya.
"Iya-iya aku kerokin ni," lalu Dion mengusap belakang Syakila menggunakan minyak angin. Perlahan ia mengerok balakang Syakila menggunakan uang koin.
"Auu, sakit. Pelan-pelan dong!" rintih Syakila.
Dan benar saja yang di ucapkan Dion,bahwa rumah ini tidak kedap suara.
Ayah dan ibunya Dion yang sedang duduk santai di ruang tengah sambil menunggu shalat isya mendengar hal itu.
"Hust!" bu Yanti meletakan jari telunjuknya ke bibir. Menandakan jangan berisik.
"Ada apa bu?" tanya suaminya.
"Coba deh ayah dengar," ucap bu Yanti.
"Iya bu, anak dan menantu kita sedang membuatkan kita cucu." timbal pak Budi.
"Asyik, kalau begitu. Ibu mau buatkan susu dan makan malam yang banyak untuk menatu kita, dia pasti kelelahan," kata bu Yanti sangat antusias.
Segera bu Yanti menuju dapur dan memasak banyak makanan.
Di dalam kamar.
__ADS_1
"Pelan-pelan pak tua! Sakit ini," ucap Syakila.
"Iya ini udah pelan-pelan kok, kamu tahan ya! Bentar lagi juga merah," ucap Dion.
"Auu," pekik Syakila "Masih lama gak sih!" gerutu Syakila.
"Tunggu, tinggal satu lagi ni. Lehernya mau juga gak?" tanya Dion.
"Enggak ah, di belakang aja sakit. Apa lagi di leher." timbal Syakila.
Tak lama kemudian.
"Akhirnya udah!" Syakila menolehkan lehernya ke kiri dan ke kanan.
"Pak tua! Bisa minta tolong lagi gak?"
"Apaan lagi keong?" tanya Dion dengan wajah yang pura-pura kesal.
"Ambilin minum," ucap Syakila dengan nada manja yang membuat Dion menjadi gemas.
"Aku ambilin minum, tapi ada pajaknya," kata Dion dengan seringai liciknya.
"Pajak apaan?" tanya Syakila sambil memakai Bra nya.
"Aku mau minum yang itu," tunjuk Dion pada dada Syakila.
"Dadar mesum!" teriak Syakila.
"Heee, iya-iya ni aku ambilin minum," kekeh Dion lalu berlari keluar dari kamar itu.
"Ehh, sayang nya ibu," ucap bu Yanti saat melihat Dion menuangkan air minum kedalam gelas.
"Ibu, kok udah mau makan malam aja. Emang jam berapa?" tanya Dion.
"Ini sudah jam delapan Dion, Oiya,! Ini kamu kasih ke Syakila. Biar badannya seger lagi dan bisa tempur lagi sampai pagi," kata bu Yanti, sontak membuat Dion membekalakan matanya. "Nanti kamu keluar lagi, bawaan makanan inu untuk nya ya!" tambah bu Yanti.
"Ini ni yang aku gak suka, tembok pun punya telinga. Lihat enggak tapi prasangkanya seperti sangat kuat dan yakin," gerutu Dion dalam hati.
***
Setelah selesai dengan ritual makan malam mereka.
Raka segera pamit kepada papa nya dan semua yang ada di meja makan.
"Pa, Raka sama Aira naik ke atas duluan," pamit Raka.
"Hmm, istrirahat lah yang cukup. Papa tahu kalian berdua pasti lelah," kata pak Bambang.
Raka dan Aira menaikai anak tangga. Hal itu tak lepas dari pandangan Intan.
"Kapan aku yang di perhatikan seperti itu oleh Raka? Bahkan selama ini dia tak pernah bersikap manis sedikit pun terhadap ku," batin Intan menangis.
Di dalam kamar.
"Sayang! Aku minum yang mana dulu ya?" tanya Raka sambil membuka bungkusan obat yang mereka beli di Apotek sore tadi.
"Yang mana aja sayang." timbal Aira.
__ADS_1
"Ya udah deh! Yang ini aja dulu," Raka membuka tablet pil lalu menelannya dengan air minum yang di siapkan Aira.
"Udah, yuk kita coba!" kata Raka sambil menaik turun kan alisnya.
"Mana bisa gitu! Baru juga sampe sini obatnya," ucap Aira sambil menyentuh leher suaminya.
"Oh iya ya, semua kan butuh proses," kekeh Raka.
"Mending sekarang kita tidur yuk, aku capek," kata Aira lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Raka ikut membaringkan tubuhnya di samping Aira.
"Sayang! Bagaimana kalau aku gak bisa sembuh," ucap Raka tiba-tiba membuat Aira bangkit dari tidurnya.
"Kok ngomongnya gitu!" ketus Aira.
"Ya kan kalau seandainya," lirih Raka.
"Gimana mau sembuh, kalau kamu aja gak yakin sama kemampuan diri kamu!" bentak Aira.
Raka terkejut mendengar tanggapan istrinya itu.
"Kok kamu marah sayang?" tanya Raka dengan wajah terkejutnya.
"Aku kecewa sama kamu, belum apa-apa kesannya udah pasrah diri," kata Aira dengan raut wajah berbeda dari biasanya.
"Sayang maafin aku," lirih Raka.
"Selama ini aku selalu yakin dan semangat kalau kamu bisa sembuh, aku selalu percaya itu! Tapi kamu, kamu yang ngalamin aja gak ada semangat buat sembuh!"
Entah mengapa malam ini emosi Aira naik begitu saja, padahal Raka hanya berbicara seperti itu yang menurut Raka ucapan yang tidak berlebihan.
"Maafin aku ya, aku gak akan ngomong gitu lagi. Aku akan usahain buat sembuh," lirih Raka dengan wajah memelas.
Namun Aira diam saja, tidak menanggapi ucapan maaf suaminya.
Aira merebahkan tubuhnya kembali ke ranjang, namun ia tidur meringkuk dan membelakangi suaminya.
"Aira, jangan diem dong. Aku tahu kamu belum tidur," ucap Raka di samping tubuh istrinya.
Aira tak bergeming sedikit pun, diam-diam ia menghapus bulir kristal yang mulai menetes di pipinya.
"Kenapa Raka? Kenapa kamu gak ada semangat buat sembuh. Seolah-olah kamu mau selamanya kayak gini," kata Aira dalam hati.
"Sayang jangan nangis, aku tahu aku salah! Aku minta maaf ya, aku cinta sama kamu dan aku janji aku akan berjuang dan gak akan putus asa," kata Raka, ia tahu bahwa saat ini istrinya sedang menangis.
***Bersambung..!!
Happy reading..!!
Buat malam pertama Dion dan Syakila, kita bikin di episode selanjutnya ya..!!
Jangan lupa tinggalkan jejak kepemilikan, ehh maksud author jejak like coment kalian. ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
Jangan lupa juga, kasih Author dukungan ya! Agar oauthor lebih semangat up nya.
See You next episode😘😘😘***
__ADS_1