Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Positif


__ADS_3

Mata Aira berkaca-kaca saat melihat hasil dari alat itu.


"Sayang,!" panggil Raka dengan lirih.


"Raka, aku beneran hamil!" Aira tersenyum dan menangis haru.


Raka menghujani pucuk kepala istrinya dengan ciuman bertubi-tubi.


Setelah itu dia menggendong tubuh istrinya keliling-keliling rumah sambil berteriak-teriak.


"Ma, pa! Raka berhasil! Kecebong Raka jadi. Sebentar lagi mama dan papa bakal punya cucu!" teriaknya kegirangan.


Mama Rina dan pak Bambang yang baru saja akan keluar kamar, menjadi sangat terkejut.


"Kita mimpi kah, pa?" tanya mama Rina keheranan.


"Entah lah ma, sejak kapan mereka di sini?" pak Bambang sama terkejutnya dengan sang istri.


Langsung saja, mama Rina dan pak Bambang mengikuti Raka yang sudah mulai gila itu menuruni anak tangga.


Raka terus berteriak tanpa menghiraukan ketakutan Aira.


"Raka, aku takut! Udah turunin, nanti jatuh," kata Aira pada suaminya, namun mau bicara seperti apa juga. Tidak akan di hiraukan.


Berkali-kali Aira berkata demikian, namun sama sekali tidak dapat respon oleh Raka.


Dan hingga akhirnya, sampai lah Raka di meja dapur.


"Nah! Kamu turun disini!" Raka mendudukan bokong istrinya di atas meja makan.


"Raka, turunin! Kenapa di sini? Ini kan tempat makanan," kata Aira, ia hendak turun dari meja itu. Namun Raka mencegahnya.


"Iya tempat makanan, kan kamu makanan mas," kata Raka sambil Menggenggam tangan Aira dengan erat.


"Den, kenapa non Aira di dudukan di situ?" tanya mbok Ani. Ia tidak habis fikir dengan perubahan Raka yang menurutnya sungguh berlebihan.


Dulu saat Raka masih kanak-kanak hingga di jenjang pendidikan SMA, ia memang gesrek dan suka usil. Namun ke gesrekan dan ke usilannya hilang begitu saja, dan ternyata kini keusilan dan ke gesrekannya bertambah 2x lipat setelah sembuh dari penyakit yang ia derita.


Di dalam hati mbok Ani, sebenarnya sangat bersyukur walaupun di luar dia sering memarahi anak majikannya itu. Baginya, Raka tetaplah Raka kecil yang sejak bayi sudah mbok Ani urus. Seperti darah dagingnya sendiri.


"Ayo den, nanti kalau bapak sama ibu lihat! Non Aira bakal di marah juga, termasuk mbok," kata mbok Ani.


"Mereka gak akan marah mbok! Mereka kan masih di kamar, bikin adik lucu untuk Raka," cerocos Raka.


Mama Rina dan pak Bambang mendelik di belakang Raka dan Aira, sedangkan mbok Ani hanya tersenyum-senyum melihat kejadian lucu yang sudah lama tidak nampak dalam keluarga pak Bambang.

__ADS_1


"Emang den Raka masih mau punya adik?" tanya mbok Ani, ia sengaja ingin membuat Raka terkena jeweran maut sang mama.


"Mau lah mbok!" sahut Raka dengan cepat. "Tapi Raka ragu sama papa, dia kan sudah tua! Kalau suka menunggangi mama, pasti encoknya akan kumat," sambung Raka.


Mbok Ani dan Aira sudah tak kuasa menahan tawa, dan akhirnya tawa mereka pecah. Mama Rina ikut menutup mulutnya, sedangkan pak Bambang, ia hanya bisa mendengus kesal.


"Den. Kalo seandainya perkataan den Raka tadi di denger sama ibu dan bapak, gimana?" tanya mbok Ani yang tawanya sudah redam.


"Raka bilang aja lah, kalau mereka salah dengar. Kan biasanya karena faktor umur, pendengaran dan penglihatan akan berkurang," kata Raka dengan entengnya, ia masih tidak tahu. Jika di belakangnya ada sang papa dan mama.


Tiba-tiba saja, kedua tangan mama bergerak ke arah telinga Raka.


"Tuman! Sejak kapan bayi besar mama dan papa pintar berkelakar seperti ini?" tanya mama Rina sambil menarik telinga putranya seperti menarik karet.


"Aduh.. Ada orang nya," kata Raka sambil memegangi telinganya yang panas.


"Kamu tadi bilang apa? Encok papa kumat! Mama kuda, terus pendengaran dan penglihatan mama dan papa sudah berkurang! Itu tanda nya mama dan papa sudah mulai buta tuli ya," kata mama Rina sambil berkacak pinggang. Ia melepaskan tarikan telinga itu, karena mama Rina anggap sudah cukup merah.


"Ampun mah, mama beneran salah dengar deh!" timbal Raka. "Pa, mama salah denger kan?" sambung Raka.


Ia mencoba meminta perlindungan pada sang papa, Dan ternyata, pak Bambang hanya menggeleng.


"Papa tadi, dengernya juga begitu," kata pak Bambang kemudian.


"Gak mau!" sahut mbok Ani dan Aira bersamaan.


Setelah drama pagi itu, kini mereka sarapan bersama.


"Hmm, papa dengar tadi ada kecebong. Kecebong apaan?" tanya pak Bambang di tengah-tengah sarapan pagi itu. Ehh.. Maksud nya sarapan siang karena hari sudah tidak pagi lagi.


"Kecebong Raka, pa!" sahut Raka "Sebentar lagi Raka bakal punya katak!" Raka mengistilahkan bayi menjadi katak.


Sungguh menggelikan, dari mana jalurnya. Bayi menjadi katak, jika bayi nya di sebut katak berarti dia dan Aira adalah katak dewasa😂


"Katak! Maksudnya?" tanya pak Bambang yang tidak konek.


Aira mengeluarkan tespeck dari saku celananya.


"Ya allah, terimakasih!" mama Rina mengucap syukur pada tuhan. "Kamu hamil sayang," kata mama Rina sambil beranjak dari duduknya. Ia segera memeluk tubuh anak menantunya.


"Iya ma, Aira hamil," kata Aira.


"Selamat ya sayang, mama ikut bahagia. Itu tandanya, mama dan papa akan segera jadi oma dan opa," kata mama Rina.


"Iya ma, terimakasih!" timbal Aira.

__ADS_1


"Kok cuman Aira yang di peluk, Raka enggak nih!" rajuk Raka.


"Meluk kamu, mama gak sudi! Mama kan kuda," kata mama Rina dengan mode jutek nya.


"Papa gak mau meluk Raka?" Raka beralih pada sang papa yang sedang asyik menyuap makanannya.


"Nanti papa encok!" sahut pak Bambang.


Raka mendengus kesal mendengar jawaban dari mama dan papanya.


Namun sungguh, dalam hatinya bahagia sekali.


"Nanti siang kita kedokter ya! Kita periksa keadaan bayi kita," kata Raka kemudian.


Aira pun mengangguk, setelah itu. Mama Rina kembali ke kursinya, dan menyelesaikan sarapan mereka.


Setelah sarapan itu selesai, Raka dan Aira membersihkan diri. Rencananya, mereka akan pergi ke Dokter kandungan.


"Sayang, nanti setelah ke Dokter kandungan. Kita ke mall ya," kata Raka sambil menyisir rambutnya yang basah, sehabis mandi.


"Ngapain ke mall?" tanya Aira.


"Kita beli susu, terus beli koleksi baju hamil!"


"Aku baru hamil, sayang! Baju yang sekarang masih pada muat," kata Aira.


Ia tidak habis fikir dengan ke antusiasan suaminya.


Ia merasa, suaminya menjadi bodoh dan konyol saat berada di dekatnya. Namun saat di kantor Raka terlihat berwibawa dan sangat cerdas.


Benarkah kata orang! Bahwa cinta kadang tak ada LOGIKA?


Entah lah! Tapi akhir-ahkir ini sikap Raka memang sangat konyol dan terbilang bodoh😂


Setelah bersiap, mereka pun segera berangkat ke tempat dokter kandungan. Setelah mereka sampai, Raka segera menggandeng tangan istrinya untuk masuk ke klinik kandungan itu.


Namun saat sampai di dalam, ia menelan ludah dengan susah payah.


Aira yang menyadari ketakutan suaminya itu pun menghentikan langkahnya.


"Kenapa sayang?" tanya Aira.


"Itu..!" tunjuk Raka "Kenapa banyak sekali, pada buncit semua pula!" Raka menatap ngeri pada ibu-ibu yang duduk berjejer di kursi tunggu. Dan semuanya rata dengan perut yang sudah buncit.


Awas! Banyak typo🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️

__ADS_1


__ADS_2