Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Episode 13


__ADS_3

Hari-hari berlalu, kini mama Rina dan Intan mengetahui hal yang paling di takuti oleh Aira.


Aira mengalami trauma, dia akan takut saat di dekati oleh lelaki yang tidak di kenalnya dan menurutnya tidak baik.


Mama Rina dan Intan sudah merencanakan kejutan terbaik untuk Aira.


Dua wanita Iblis itu membayar sekelompok pria untuk menakut-nakuti Aira.


"Ini target kalian bertiga, tapi ingat! Tugas kalian hanya menakut-nakuti hingga dia menjadi seperti orang gila. Jangan sentuh sedikitpun," ucap Intan pada tiga orang preman yang sudah di bayar olehnya dan mama Rina.


"Siap bos, kami akan lakukan seperti yang bos perintahkan!" sahut salah satu dari preman itu.


"Dan ini bayaran buat kalian, sisanya setelah tugas kalian beres. Jika tugas kalian berjalan dengan baik maka saya anak memberikan bonus tambahan untuk kalian semua," ucap Intan lagi.


Ketiga preman itu segera menerima uang pemberian Intan dengan senang.


Keesokan harinya.


"Raka, nanti aku keluar belanja ya. Aku pengen ke mall beliin kemeja buat kamu," ucap Aira pada Raka.


"Iya, tapi hati-hati ya." timbal Raka.


Setelah itu, Raka pamit berangkat ke kantor karena hari sudah mulai siang.


Aira mengantarkan Raka sampai depan pintu.


"Ya udah, aku berangkat dulu. Ingat! Kalau sudah belanja cepat pulang, jangan ngeluyur nanti kamu hilang." canda Raka sambil mengacak-ngacak rambut Aira dengan gemas.


"Ihh, Raka! Kamu kok gitu sih? Emangnya aku anak kecil apa," ucap Aira sambil memonyongkan bibirnya.


"Aku berangkat dulu ya," ucap Raka lalu mencium kening Aira setelah itu dia segera berangkat.


Setelah kepergian Raka kekantor, Aira bersiap-siap hendak pergi berbelanja ke mall.


"Mau kemana kamu Aira?" tanya mama Rina yang menghentikan langkah Aira di depan pintu.


"Mau ke mall ma, tadi Aira sudah izin sama Raka." timbal Aira. "Apa mama pengen sesuatu, nanti Aira belikan." sambung Aira.


"Ya udah sana berangkat! Enggak saya gak pengen apa-apa." ketus mama Rina lalu pergi meninggalkan Aira.


Aira segera berangkat ke mall di antar oleh mang jajang.


Selepas kepergian Aira, mama Rina dan Intan menelpon preman bayaran mereka untuk segera beraksi.


Tiga puluh lima menit kemudian. Aira sampai di depan mall X yang cukup besar di kota itu.


Iya pun segera masuk, dan memilah milih pakaian pria dalam sebuah toko.


Setelah menemukan baju yang menurutnya cocok untuk Raka, iya beralih menuju toko pakaian wanita. Iya membeli pakaian yang tidak terlalu mahal namun menurutnya pantas iya gunakan.

__ADS_1


Setelah merasa puas berkeliling akhirnya Aira memutuskan segera pulang.


Saat iya sudah berada di luar parkiran mall itu tiba-tiba tiga orang pria berbadan besar datang mendekat padanya.


Aira ketakutan, badannya menjadi lemas seketika. Iya berteriak-teriak meminta bantuan tapi tidak ada satu pun orang yang mau mendekat. Aira berlari dan bersembunyi di belakang mobil seseorang dengan wajah pucat pasi dan berkeringat.


Namun tiga pria itu menemukannya, dan kembali mendekatinya. Dan selang beberapa menit kemudian Aira tak sadarkan diri dan tergeletak begitu saja di tempat itu.


Beberapa jam kemudian.


Aira membuka matanya, setelah iya benar-benar sadar. Iya kembali berteriak minta tolong dan memanggil-manggil nama Raka.


Mendengar Aira yang berteriak-teriak Dokter dan Seorang wanita yang telah menolong Aira masuk kedalam ruang rawat itu.


"Nona, sadarlah. Anda ada di rumah sakit sekarang," ucap Dokter itu.


"Mana Raka," jerit Aira. "Raka,,! Aku takut." sambung Aira sambil turun dari ranjang pasien dan duduk memegang kedua lulutnya di pojok ruangan itu dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya.


Wanita yang melihat Aira histeris itu, segera mencari ponsel Aira. Untungnya saja wanita itu tadi sempat membawa barang belanjaan dan tas milik Aira.


"Maafkan aku, sudah lancang membuka dan mengambil ponselmu," ucap Wanita itu "Raka, tadi wanita itu menyebut nama Raka. Ah ini dia." sambung Wanita itu dengan menekan nomer yang bernama Rakaku di ponsel milik Aira.


Di kantor, Raka yang sedang duduk santai sambil menikmati makan siangnya bersama dengan Dion. Tiba-tiba iya menghentikan makannya karena ponselnya berdering.


Raka tersenyum melihat nama seseorang yang menelponnya. Airaku wanita yang sudah hampir setengah tahun ini menemaninya.


Segera dia menggeser tombol hijau di ponselnya.


"Hallo, apa benar dengan pak Raka?" tanya wanita di seberang telpon.


"Benar, kamu siapa? Kenapa ponsel istri saya bisa ada di kamu?" tanya Raka


"Maaf pak, saya tadi menemukan istri bapak di parkiran mall tak sadarkan diri. Dan sekarang istri bapak ada di rumah sakit X yang tak jauh dari mall itu, saat istri bapak sadar iya berteriak histeris dan memanggil-manggil nama Raka." jelas Wanita itu.


"Apa?" teriak Raka terkejut.


Dion yang berada di dekat Raka pun menjadi ikut terkejut.


"Ada apa Raka? apa yang terjadi dengan Aira?" tanya Dion


"Aira di rumah sakit X, sepertinya ada sesuatu yang terjadi saat dia di mall hingga dia menjadi seperti itu," ucap Raka sambil berjalan keluar dari kantin yang ada di perusahaan Wiryawan gruop menuju parkiran.


"Biar aku yang menyetir," ucap Dion


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat puluh lima menit, akhirnya mereka sampai di rumah sakit tempat Aira di rawat.


Dengan tergesa-gesa Raka berlari masuk dalam rumah sakit lalu menanyakan keberadaan istrinya.


Setelah mengetahui tempat istrinya di rawat. Raka pun menuju ruangan rawat Aira, setelah dia sampai di dalam ruangan rawat Iya sedih melihat keadaan istrinya yang berada di pojok ruangan itu dengan menekuk kedua lututnya.

__ADS_1


"Aira," lirih Raka, namun Aira tidak merespon "Aira, ini aku," lirih Raka lagi sambil mendekati istrinya yang tengah ketakuatan. "Aira sayang, aku datang aku ada disini." sambung Raka.


Perlahan Aira mendongakan wajahnya "Raka," ucap Aira lalu menghambur kepelukan Raka. "Mereka datang Raka, mereka ingin menangkap ku dan membawa ku kembali ke tempat itu, aku takut." sambung Aira dengan menangis histeris.


"Mereka siapa? Mereka tidak akan bisa menangkap mu, ada aku disini aku tidak akan membiarkan mereka membawamu," ucap Raka sambil mengusap-usap punggung Aira.


Dion yang berdiri di depan pintu ruang rawat iti menatap Aira dengan iba, "Kasian kamu Aira, seperti apa sebenarnya masa lalu mu? Kenapa kau bisa setakut ini!" guman Dion.


Tiba-tiba saja wanita yang membawa Aira kerumah sakit itu memanggil Dion.


"Maaf, apakah bapak suami wanita yang ada didalam?" tanya Wanita itu dari arah belakang Dion.


"Saya asisten suami Nona yang ada di dalam, dan suami nona itu sudah didalam menenangkan istrinya." timbal Dion sambil membalikan tubuhnya.


Deg, jantung Wanita itu berdetak kencang saat Dion membalikan badannya menghadap padanya.


"Dion," ucap Wanita itu terkejut.


"Cindy! apa yang kau lakukan disini?" tanya Dion yang sama terkejutnya dengan Cindy.


"Aku tadi membawa seorang wanita yang tak sadarkan diri di parkiran, apakah dia istri Raka?" tanya Cindy.


"Iya dia istri Raka." timbal Dion


"Ya sudah, karena kalian sudah datang aku pamit," ucap Cindy dan langsung berlari pergi dari tempat itu.


"Cindy tunggu!" teriak Dion


Namun Cindy tak menghiraukan panggilan itu, karena dia sangat malu bertemu dengan Dion. Mengingat pengkhianatan yang telah iya lakuakan di tambah lagi saat iya datang menemui Dion dalam keadaan tengah mengandung dan meminta bantuan dengan tak tahu malunya.


Saat Cindy sampai di parkiran. Dia menangis terisak disana, Iya merutuki kebodohannya sendiri.


"Maafkan aku Dion, maafkan aku. Aku malu pada mu," ucapnya pada diri sendiri.


Tiba-tiba Dion menepuk bahunya, "Aku sudah memaafkan mu," ucap Dion tiba-tiba.


"Dion, kenapa kau bisa ada disini?" tanya Cindy dengan air mata yang membasahi pipinya.


"Aku memanggil mu tapi kau tidak mendengarnya jadi aku mengejarmu." timbal Dion


"Maafkan aku Dion, aku telah melukai hati mu dan kini aku tengah menjalani karma yang pernah kau ucapkan dulu," ucap Cindy dengan suara parau.


"Maksud mu?" tanya Dion dengan mengerutkan dahinya.


"Kini aku memiliki seorang anak tanpa setatus, dan kau tahu anak itu adalah anak yang ku kandung dulu. Dia mirip sekali dengan Briyan." jelas Cindy dengan tersenyum kecut.


"Apakah kau belum menikah?" tanya Dion lagi.


Cindy menggeleng lalu berkata "Dulu dia pernah berjanji, bahwa dia akan kembali suatu saat nanti dia akan menemui ku dan anaknya," ucap Cindy masih dengan tersenyum kecut.

__ADS_1


Bersambung..!!


__ADS_2