
Melihat Raka yang tidak bergerak sedikit pun, Aira berdiri hendak mengambil ponselnya untuk menghubungi Dion dan Syakila, namun matanya membulat sempurna saat melihat sebuah botol Obat yang tergeletak di lantai Kamar mandi.
"Kenapa kamu lakuin ini Raka?" lirih Aira.
Di Apartemen Dion dan Syakila.
"Jangan berenti dong Keong, elusin terus! Aku gak bisa tidur ni." Dion menarik tangan Syakila dan mengarahkan tangan itu ke punggung nya.
"Aku capek loh! Dari sore gak berenti-berenti." keluh Syakila "Sebenarnya yang hamil aku atau kamu?" tanya Syakila.
"Ya udah deh kalau gak mau!" ketus Dion sambil menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya termasuk Kepala.
Semenjak Syakila hamil, Dion selalu manja bahkan suka merajuk bila tidak di turuti. Hal itu membuat Syakila yang hamil menjadi kerepotan.
"Marah ni!" Syakila mencoba membuka selimut yang menutupi tubuh suaminya.
"Enggak!" ketus Dion.
"Ya udah, sini aku elus lagi punggung nya. Tapi Mas cepetan tidur, aku juga ngantuk," kata Syakila sambil menguap.
"Gak usah kalo gak ikhlas," ucap Dion sewot.
Tiba-tiba, ponsel Syakila yang berada di atas nakas berbunyi.
Syakila tidak mengidahkan panggilan itu, ia masih tetap saja membujuk Dion. Namun lagi-lagi ponsel itu terus berdering.
Ia pun melihat nama sang penelpon yang tertera.
"Aira.. Ada apa menelpon malam-malam begini!" guman Syakila.
"Hello Aira, ada apa?" tanya Syakila setelah mengangkat telpon dari Aira.
"Kila, tolong, tolong aku," ucap Aira sesegukan.
Syakila me louspeaker panggilan itu.
"Aira kamu kenapa?" tanya Syakila lagi.
"Tolong, tolong aku. Raka pingsan, tolong aku Kila aku takut," kata Aira terbata-bata.
Dion yang mendengar Raka pingsan langsung bangun, dan segera memakai piyamanya dengan asal. Setelah itu ia mematikan sambungan telpon Syakila, Lalu dengan cepat ia meraih kunci mobil dan menarik Syakila berlari keluar dari Apartemen nya.
"Mas, kenapa?" tanya Syakila.
"Raka dalam bahaya saat ini, kita harus cepat!" Dion sangat panik dan dengan cepat ia menancap gas mobilnya.
Tak sampai Dua puluh menit, mobil Dion sampai di depan kediaman Raka.
Dion langsung berlari meninggalkan Syakila yang masih berada di dalam Mobil.
"Mas, kok aku di tinggal," teriak Syakila. Namun tak di hiraukan oleh Dion.
Ia segera berlari dan membuka pintu Rumah itu menggunakan kunci cadangan yang memang di berikan Raka padanya.
Setelah membuka pintu itu, ia segera berlari menuju lantai atas.
"Aira," panggil Dion.
Aira yang berusaha mengangkat tubuh Raka menoleh pada asal suara.
"Kak Dion, tolong," lirih Aira.
"Raka kenapa?" tanya Dion.
Dan Aira hanya menunjukan botol obat yang telah kosong.
Dion menggeleng, dan dengan cepat ia mengangkat tubuh Raka.
"Kak Raka!" pekik Syakila yang baru sampai tengah tangga.
__ADS_1
"Turun lagi ke bawah. Dan buka pintu mobil," bentak Dion pada Syakila.
Syakila terdiam mendengar bentakan suaminya.
Hatinya nyeri mendengar bentakan itu, tapi dia menyadari bahwa keadaan saat itu sedang tidak baik-baik saja.
Aira ikut berlari mengikuti arah langkah Dion, Dion membaringkan Raka di jok belakang, dengan kepala beralaskan paha Aira.
"Kak Dion, Kila. Tolong cepat sedikit, aku gak mau terjadi sesuatu sama Raka," kata Aira dengan air mata yang mengalir tiada henti.
"Tenang Aira, sabar. Gak lama lagi kita sampe," Syakila mencoba menenangkan Aira. "Emangnya kenapa kok kak Raka bisa sampe kayak gitu?" tanya Syakila, namun Aira tidak menjawab.
Dion menoleh pada Syakila, dan menggeleng. Syakila yang mengerti dengan gelengan itu langsung terdiam.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di rumah sakit.
"Suster.. Suster! Tolong!" teriak Aira.
Dua orang perawat dan satu Dokter datang dengan membawa brankar.
"Tolong suami saya Dokter!" pinta Aira
Ia pun berlari mengikuti Dokter dan perawat membawa Raka.
"Mbak tolong tunggu disini, biar kami yang menangani pasien," ucap Seorang Perawat pada Aira, saat Aira hendak ikut masuk kedalam IGD.
"Tapi Saya mau menemani Suami Saya Suster," kata Aira memohon pada Suster itu.
"Tidak bisa Mbak, silahkan Mbak tunggu saja di sini!" suster itu masuk dan menutup pintu Ruang rawat itu.
"Aira, sabar. Jangan seperti ini, Raka akan sedih melihat keadaan kamu yang kayak gini," kata Syakila sambil mengelus bahu Aira.
"Kila, Raka bakal sembuh kan? Iya kan kak Dion," kata Aira sambil menghapus air matanya.
"Raka pasti sembuh, itu pasti." timbal Dion penuh keyakinan.
Syakila menuntun Aira duduk di Kursi tunggu yang ada di depan ruang IGD itu.
Mata Syakila melotot melihat pakaian Suaminya.
"Kenapa?" tanya Dion pelan, saat melihat Syakila melototinya.
"Baju kamu kebalik Mas," kata Syakila.
"Puff puff," Dion menahan tawa menggunakan telapak tangannya.
Aira mendongakkan wajahnya, "Ada apa Kila?" tanya nya.
"Enggak ada apa-apa." timbal Syakila.
Lalu Aira beralih pada Dion, ia menatap Dion dari ujung kaki dan saat pandangan matanya sampai pada baju Dion. "Kak, bajunya kebalik," ucap Aira tanpa expresi.
Dion kembali menahan tawanya.
"Udah sana.. Benerin dulu. Lihat tuh! Orang-orang pada ketawa lihat kamu," omel Syakila.
Dengan cepat Dion pergi menuju toilet untuk membenahkan bajunya.
"Ai, kamu gak ngehubungin Mama dan Papanya Raka?" tanya Syakila.
"Raka pasti bakal marah kalo lihat Mama ada di sini," kata Aira "Lagian aku takut, Papa akan ikut sakit kalo tahu keadaan Raka," sambungnya.
"Ya udah kalo gitu! Kamu yang sabar ya," ucap Syakila.
"Kadang aku bingung mikirin takdir yang di kasih Tuhan ke aku Kila, kenapa Tuhan selalu kasih cobaan berat untuk aku. Sebenarnya apa salah ku? Kok Tuhan kasih hukuman kayak gini. Jujur aku udah lelah, lelah segala-galanya," tangis Aira pecah kembali.
"Kamu gak boleh ngomong gitu Ai, Tuhan kasih kamu cobaan kayak gini. Karena Tuhan tahu kamu mampu, mampu nerima semuanya," kata Syakila yang ikut menangis.
Sedari kecil Aira memang selalu mendapat cobaan, mulai dari kehilangan Adik nya, Nenek dan kakeknya, lalu di tambah kedua orang tuanya. Mereka semua meninggal dalam keadaan mengenaskan.
__ADS_1
Adiknya meninggal karena terjatuh dan masuk kedalam sumur, nenek dan kakeknya tertabrak kereta api saat hendak melintas. Sedangkan Ayah dan ibunya meninggal karena kecelakaan kendaraan yang mereka kendarai. Setelah kematian keluarganya, ia di siksa oleh ibu dari Syakila. Dan kini ia menikah dengan pria IMPOTEN seperti Raka.
Oh Aira.! Sungguh malang hidup mu🤧
Tak lama kemudian.
Dokter keluar dari Ruangan rawat Raka.
Aira segera beranjak, dan menghampiri Dokter itu.
"Dokter, bagaimana keadaan Suami saya?" tanya Aira.
"Kalian semua keluarganya?" tanya Dokter.
Dan di angguki oleh Aira, Dion dan Syakila.
"Kalau begitu, kalian ikut Keruangan saya!" Dokter itu berjalan ke arah ruangan nya di ikuti oleh Aira, Dion dan Syakila di belakangnya.
"Bagaimana keadaannya Dokter?" tanya Dion, saat telah sampai di ruangan Dokter itu.
"Begini Pak! Pasien Over dosis Obat Perangsang," kata Dokter itu.
Mata Syakila membulat mendengar ucapan dokter itu.
Sedangkan Dion dan Aira masih menyimak penjelasan Dokter tersebut.
"Apakah Pasien mengalami kelainan?" tanya Dokter itu.
Aira terdiam dan menundukkan Kepalanya.
Sedangkan dengan Dion. "Kelainan maksud Dokter?" tanya nya sambil mengerutkan dahi.
"Sepertinya pasien mengidap penyakit sulit untuk ereksi, hal itu lah yang membuat Pasien sering mengonsumsi Obat perangsang atau sejenis Obat kuat lainnya, dan sepertinya pasien mengonsumsi Obat itu dalam jumlah banyak secara bersamaan," jelas Dokter itu. "Hal itu lah yang membuat Pasien tak sadarkan diri, beruntung pasien masih dapat bertahan dan selamat. Karena biasanya Orang yang mengonsumsi Obat dengan dosis tinggi atau jumlah yang banyak seperti pasien akan langsung mengalami kebakaran jantung," sambung Dokter itu.
Dion dan Syakila terkejut mendengar penjelasan Dokter.
Termasuk Aira yang tidak tahu bahwa suaminya sering mengonsumsi Obat seperti itu.
Air mata Aira lagi-lagi kembali menetes.
"Aira.. Jawab! Sebenarnya penyakit apa yang di derita Raka?" tanya Dion sambil menatap wajah Aira yang sedang menangis.
"Jawab Aira!" teriak Dion lalu mengguncang kan tubuh Aira.
Aira begitu terkejut mendengar teriakan Dion, pasalnya sudah hampir setahun setengah mengenal Dion. Tapi baru kali ini, dia mendengar ucapan kasar dari mulut Dion.
"Raka menderita Impoten!" timbal Aira dengan lirih.
Mata Syakila dan Dion membulat, mulut mereka berdua ter buka lebar.
Tiba-tiba, Suster berlari dan memanggil-manggil Dokter itu.
"Dokter, dokter, pasien di ruangan B Dokter," kata Suster itu.
"Kita kesana sekarang!" Dokter itu segera berlari.
Aira yang mendengar ruangan B, menjadi panik.
"Raka..! Kak Dion. Itu ruangan Raka," tiba-tiba tubuh Aira ambruk, untungnya Dion berhasil menangkap tubuh mungil itu.
***Bersambung..!!
Mohon sabar menanti ya..!!
Othot jadi ikutan baper ni. Percaya gak sih? kalo othor nulis sambil ikut nangis kayak si Aira!
Happy reading..!! 🤗🤗🤗
Kalau berkenan tengok juga karya baru kakak othor ya🤗🤗🤗
__ADS_1
See you next up..!! 😘😘😘***