Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Menikah


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Raka dan Aira melangsungkan pernikahan mereka, Resepsi pernikahan yang di lakukan besar-besaran.


Senyum bahagia terpancar jelas di wajah keduanya, Tapi tidak dengan mama Rina dan juga Intan yang ada disana.


Kebencian seakan-akan menggerogoti jiwa mama Rina.


"Awas kamu Aira! Akan aku buat hidup kamu bagai di neraka di rumah ku," kata mama Rina menatap tajam kepada Aira yang sedang tersenyum pada tamu undangan yang hadir.


"Kita harus lakuin sesuatu Tante," ucap Intan.


"Kamu sabar Intan, kita akan melakukan sesuatu yang bakal bikin dia pergi karena enggak tahan!" sahut mama Rina.


Saat Aira dan Raka tengah menyalami para tamu undangan tiba-tiba ada seseorang yang memanggil nama Raka.


"Raka.." panggil orang itu.


"Hay, Briyan. Kapan kau kembali dari London?" tanya Raka.


"Tadi pagi aku tiba disini, karena mendengar acara pernikahan mu," ucap Briyan lalu tatapannya beralih pada Aira dan ia pun tersenyum manis pada Aira, dan Aira hanya tersenyum sedikit lalu mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Cantik sekali istri Raka, aku jadi ingin memilikinya," ucap Briyan dalam hati.


"Hey.. Apa yang kau fikirkan!" teriak Raka "Jangan bilang kau tertarik pada istri ku, kau tahu istri ku tidak akan pernah mau dengan mu. Dia hanya mencintai ku seorang," ucap Raka dengan gelak tawanya.


Lalu Briyan pun ikut tertawa mendengar ucapan Raka.


"Kau bisa saja, aku tidak akan setega itu pada teman ku." timbal Briyan dengan tawa khasnya. "Hey nona cantik, kenalkan aku Briyan teman lama Raka," sambung Briyan lalu mengulurkan tangannya pada Aira.


"Aira," Aira pun menjabat tangan itu tapi saat Aira ingin melepaskan tangannya, Briyan menahan tangan Aira.


"Lepaskan tangan ku," ucap Aira dengan lirih.


"Oh.. Maaf nona. Saya khilaf." timbal Briyan dengan tertawa renyah


Aira yang mendengar tawa Briyan pun menjadi takut.


"Kenapa pria ini menakutkan sekali, aku rasa dia bukan orang baik-baik." Aira bergeming dalam hati.


"Entah kapan waktunya, aku pasti akan mendapatkan mu," ucap Briyan dalam hati.

__ADS_1


Raka pun menyadari kemana arah pandangan Briyan dan melihat Aira yang risih dan juga ketakutan pada Briyan, akhirnya Raka pun segera memerintahkan pelayan agar mengantar kan istrinya kedalam kamar.


Malam semakin larut, kini tamu undangan yang hadir pun sudah berangsur-angsur pulang.


Raka pun pergi menyusul istrinya di kamar pengantin mereka yang bertaburan kelopak Bunga mawar.


Kamar yang sangat indah untuk pasangan pengantin normal.


Setibanya di Kamar, ia pun masuk dan duduk di pinggir Ranjang yang berukuran king size itu.


"Raka, apa acaranya udah selesai?" tanya Aira lalu ia bangkit dari tidurnya dan duduk di samping sang Suami.


.


"Iya sayang, kamu belum tidur?" Raka beralih bertanya pada Aira


"Belum, aku mungguin kamu Raka." timbal Aira "Ayo cepat mandi, aku siapin pakaian kamu." sambung Aira.


Raka pun mendekat lalu memeluk tubuh Aira "Apa kamu mau kita ngelakuin itu?" lirih Raka di telinga Aira.


Darah Aira pun berdesir hebat, ia merasakan sesuatu yang berbeda.


Perlahan Aira memejamkan matanya.


Dengan perlahan, ia memberikan sentuhan-sentuhan gairah pada Aira, tentu saja Aira seakan-akan melayang terbang saat Raka mulai mengerayangai dan memberikan sentuhan pada tubuhnya.


Bagian adegan itu nya, author potong. Bayangkan sendiri aja.


Setelah puas, Raka pun mencoba melakukan hubungan badan. Namun sudah beberapa kali ia mencoba, dan hasilnya selalu gagal.


Ia menyelimuti tubuh istrinya, lalu beranjak dari ranjang itu.


Ia merasa menjadi pria yang tidak berguna, Aira yang memejamkan matanya sadari tadi kini mulai membuka mata nya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Aira.


"Maafkan aku Aira, aa-ku gak bisa," lirih Raka sambil meremas jemarinya dengan kuat dan kasar.


Aira pun bangkit dan menutupi tubuhnya dengan balutan selimut, lalu perlahan ia mendekat pada suaminya yang duduk ditepian ranjang.


"Sayang, jangan salahkan dirimu! Kita bisa mencobanya lain kali, lagian pula. Aku tidak mempersalahkan hal itu," ucap Aira sambil menyandarkan kepalanya pada dada suaminya.

__ADS_1


"Maafkan aku Aira, aku tahu kamu sangat kecewa sama aku" ucap Raka sambil mengelus pucuk kepala Aira.


"Sudah sering aku bilang bukan, aku mencintai kamu tulus dari hati ku. Kita berdua akan melewati ini bersama-sama." kata Aira sambil menulis lambang hati di dada Raka.


"Sungguh aku beruntung memiliki kamu Aira, aku gak tahu! Jadi apa aku jika menikah dengan orang lain," ucap Raka lagi lalu mengecup puncak kepala istrinya dengan lembut.


"Ya sudah, jangan fikirkan itu lagi sayang. Sekarang kita tidur ya, hari sudah sangat larut," kata Aira, lalu menarik tangan suaminya agar kembali berbaring di ranjang yang berukuran king size itu.


Lalu mereka berdua pun tidur pulas dengan saling berpelukan.


Keesokan paginya.


Raka dan Aira menuruni anak tangga dengan mesra, tentu hal itu membuat Papa Bambang tersenyum bahagia tapi tidak dengan mama Rina.


"Enak ya pengantin baru, bangun siang tidak memikirkan pekerjaan orang lain," ucap mama Rina dengan ketus.


"Mama, sudahlah! Jangan bikin keributan pagi-pagi." bentak Papa Bambang.


Lalu mereka berempat pun memulai sarapan mereka.


Namun di tengah-tengah sarapan mereka, tiba-tiba Intan datang.


"Hay tante, hay Om, hay Raka. Aku boleh gabung sarapan bareng kan?" ucap Intan dengan tak tahu malu.


Pak Bambang dan Raka tidak menghiraukan kedatangan Intan tapi lain dengan mama Rina, dia sangat senang dengan kedatangan Intan bahkan wajah yang tadinya kesal dan di tekuk kini berubah tersenyum lebar.


"Hey sayang, sini kamu duduk dekat Tante. Disamping Raka," ucap mama Rina sambil menepuk kursi kosong yang ada di sisi kiri Raka.


Aira yang melihat hal itu pun diam saja tak menghiraukan kelakuan Intan dan juga ibu mertuanya.


Dengan tingkah centilnya Intan mendudukkan bokongnya di kursi yang ada di samping Raka.


"Raka, biar aku ambilin makan untuk kamu ya!" tawar Intan.


"Gak usah, aku mau makan barengan sama Aira." ketus Raka lalu ia menggeser kursinya agar lebih dekat dengan istrinya.


Bak Bambang tersenyum bahagia melihat ke romantisan anak dan menantu nya.


Ia juga senang sekali melihat wajah dongkol Intan. Karena jujur saja, pak Bambang memang tidak pernah suka dengan Intan yang menurutnya tidak sopan. Terlebih lagi melihat pergaulan bebas Intan, tapi pak Bambang tidak bisa menghalangi kemauan istrinya yang keras kepala.


"Tambah lagi sayang," ucap Raka dan dengan telaten Aira melayani suaminya.

__ADS_1


Bersambung..!!


Jangan lupa tinggalkan jejak.


__ADS_2