
Seminggu telah berlalu.
Kini Raka sudah mulai masuk ke Kantor lagi, dan mulai mengerjakan pekerjaan nya yang terbengkalai seminggu belakangan ini.
"Sayang, aku berangkat ke kantor dulu ya. Kamu baik-baik di rumah, kalau mama bikin ulah jangan di ladenin," ucap Raka, lalu ia mencium kening istrinya sebelum ia benar-benar berangkat ke kantor.
"Iya, cepat pulang ya Raka. Aku selalu nunggu kamu disini." timbal Aira.
"Mbok Ani, Raka titip Aira ya. Kalau ada apa-apa hubungi Raka segera," ucap Raka pada mbok Ani. Asisten rumah tangga di sana.
"Iya Den, mbok bakal jagain non Aira. Den Raka tenang aja." timbal mbok Ani.
"Ya udah, Raka berangkat dulu ya mbok," ucap Raka setelah itu dia pun berangkat ke kantor.
Setelah melihat mobil Raka menjauh, Aira pun kembali masuk ke dalam. Saat ia hendak melangkah menaiki anak tangga, tiba-tiba mama Rina memanggilnya.
"Aira, mau kemana kamu?" panggil mama Rina.
"Mau ke atas Ma, kenapa?" tanya Aira.
"Enak bener ya kamu, main pergi aja. Sekarang beresin dulu ni dapur habis itu kamu sapu halaman belakang!" mama Rina memerintah Aira dengan intonasi tinggi.
"Iya Ma, nanti Aira beresin. Tapi Aira keatas dulu sebentar." timbal Aira.
"Bukan nanti, sekarang!" bentak mama Rina.
Dengan malas Aira menatap mertua nya lalu ia berjalan ke arah meja dapur. Saat ia ingin membereskan piring kotor yang ada di meja makan. Tiba-tiba mbok Ani datang., lalu mbok Ani mencegah Aira yang hendak membawa piring kotor itu.
"Non Aira, biar mbok aja," ucap mbok Ani.
"Biar Aira aja mbok, nanti mbok kena marah sama Mama." kata Aira.
"Udah Non, jangan. Biar mbok, kalau den Raka sampai tahu nanti mbok bisa di marah" jelas mbok Ani sambil merebut piring kotor yang ada di tangan Aira.
"Biar Aira aja mbok. Aira gak mau mulut mama ributnya sampe kemana-mana." timbal Aira sambil tersenyum pada mbok Ani.
"Ya sudah lah, terserah non aja. Mbok mau ngerjain yang lain," ucap mbok Ani lalu meninggalkan Aira dengan cucian piring itu.
Setelah mencuci piring dan membereskan pekerjaan dapur lainnya. Aira pun langsung menuju halaman belakang dengan membawa sapu lidi beserta sekop di tangan kiri dan kanan nya.
Saat ia sedang menyapu halaman itu tiba-tiba mama Rina dan Intan datang. Lalu mengacak-acak sampah yang sudah di kumpulkan oleh Aira.
Aira yang melihat hal itu pun menjadi geram, tapi emosinya ia tahan karena tidak ingin memperbesar masalah.
Aira pun mendongakkan wajahnya ke atas pohon mangga yang tepat di atas mama Rina dan Intan.
__ADS_1
Seketika ide brilian muncul dari kepalanya, Ia mengambil sebuah batu kerikil yang ada di halaman itu lalu melempar sarang Lebah yang ada di pohon Mangga itu menggunakan batu kerikil yang ia pegang.
Dan lemparan Aira tepat mengenai sarang lebah itu, ia pun tersenyum dan pura-pura tidak terjadi sesuatu apapun. Dengan santainya ia menyapu halaman itu kembali.
Sedangkan mama Rina dan Intan berteriak-teriak minta tolong karena sengatan lebah-lebah itu.
Mereka berdua berlari tunggang langgang entah kemana, setelah kepergian dua wanita iblis itu Aira pun tertawa terbahak-bahak.
Ya..!! Aira tidak terkena serangan lebah itu, karena ia berada di ujung halaman yang cukup jauh dari pohon mangga.
"Kapok, salah siapa jahat," ucap Aira pada dirinya sendiri.
Tak lama kemudian pekerjaan nya telah selesai. Ia pun mendudukkan bokong nya di sebuah kursi yang ada di pinggiran halaman.
"Uhh.. Akhirnya selesai juga," ucapnya.
Tiba-tiba ponsel yang ada di saku nya berdering.
Suamiku, nama seseorang yang menelponnya melalui panggilan video itu.
"Hallo sayang," ucap Aira.
"Hallo sayang, kamu ngapain kok keringetan gitu?" tanya Raka yang melihat Aira berkeringat di layar ponselnya.
"Ini, aku habis panasan," bohong Aira.
"Iya kucing besarku," ucap Aira "Udah dulu ya aku mau mandi, habis itu aku masakin kamu." sambungnya.
Raka pun terkekeh mendengar ucapan istrinya yang memanggilnya kucing besar.
"Ya sudah, jangan bohong. Aku tunggu ya," ucap Raka lalu iya mematikan sambungan telpon itu.
Di kantor Raka, setelah ia menelpon Aira. Iya pun senyum-senyum sendiri.
"Idih, ni orang kayak orang gila," ucap Dion Asisten sekaligus sahabat dari Raka yang tiba-tiba masuk kedalam ruangan Raka.
"Apaan sih? Kok masuk gak ketuk pintu dulu," ketus Raka.
"Aku udah ketuk pintu beberapa kali, tapi kamu gak denger." kata Dion "Pengantin baru lagi bahagia ya kayaknya." sambungnya.
"Bilang aja ngiri," ucap Raka "Aku habis nelpon Aira minta di anterin makan siang." sambung Raka memberi tahu pada Dion.
"Oo, gitu! Oiya ini ada berkas-berkas yang perlu kamu tanda tanganin," ucap Dion sambil menyerah kan map berwarna coklat pada Raka.
Ponsel Raka berdering, Iya melihatnya ternyata panggilan Video dari sang Mama. Dengan malas ia menekan tombol hijau di ponselnya.
__ADS_1
Belum sempat ia menanyakan tujuan Mama nya menelpon tapi sang mama sudah lebih dulu mengadu.
"Raka.. Lihat ni!" ucap mama Rina menujukan wajah dan tangannya yang bengkak dan memerah tak sampai di situ Intan pun ikutan menujukan bengkak-bengkak pada wajahnya juga pada Raka.
"Ini semua karena istri kampungan kamu itu lo Raka," ucap Intan dengan nada manja.
"Iya Raka, istri kesayangan kamu itu ternyata sangat jahat!" sahut mama Rina "Gara-gara dia mama dan Intan di serang lebah." sambungnya.
"Ya sudah, nanti aku bakal kasih pelajaran sama Aira." kata Raka yang membuat mama Rina dan Intan senang.
"Ya udah, aku matiin dulu. Bentar lagi aku mau metting." kata Raka lalu mematikan sambungan telpon itu.
"Aku percaya sama istri ku, kalau mama sama Intan gak bikin ulah. Gak mungkin Aira macam-macam." kata Raka sambil menyunggingkan senyuman nya.
Di dalam Kamar, Intan dan mama Rina terbahak-bahak mendengar ucapan Raka. Bahwa Raka akan memberi pelajaran pada Aira.
"Rasain tu Aira, pasti Raka bakal kasih dia pelajaran," ucap Intan setelah itu ia tertawa.
"Iya, Tante seneng denger Raka gak belain wanita kampung itu, Tante jadi gak sabar pengen nunggu Raka pulang. Tante pengen lihat tu wanita kampung dimarahin habis-habisan.
Dua wanita jahat itu pun tertawa riang di dalam Kamar.
Sedangakan Aira, dia sedang sibuk berkutat di dapur dengan masakan nya tanpa bantuan mbok Ani ataupun orang lain.
Mbok Ani sudah menawarkan diri untuk membantu namun Aira menolaknya.
"Sini mbok bantuin Non," ucap mbok Ani menawarkan diri.
"Gak usah mbok, Raka minta masakan bikinan Aira." timbal Aira menolak bantuin mbok Ani.
"Mbok, mama sama Intan gak papa kan?" tanya Aira tanpa menoleh pada mbok Ani.
"Gak papa Non, itu pelajaran buat mereka. Salah sendiri jahat sama non Aira." kata Mbok Ani.
Aira pun tersenyum mendengar ucapan mbok Ani.
Sekitar tiga puluh menit Aira pun selesai dengan masakannya.
Ia pun menata makanan itu di dalan rantang, setelah itu ia membawa makanan itu ke kamarnya. Ia takut jika meninggalkan makanan itu di dapur Intan dan mama Rina akan menjahili masakannya.
Setelah ia berganti pakaian ia pun segera memanggil mang Jajang.
"Mang, antar Aira ke kantor ya. Tadi Raka telpon minta makan siang," ucap Aira pada mang Jajang.
Mang Jajang pun segera menyiapkan mobil. Lalu iaa pun segera mengantarkan Aira menuju kantor.
__ADS_1
Bersambung..!!