Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Istri Durhaka (Syakila Vs Dion)


__ADS_3

Tiga bulan kemudian.


Tibalah hari pernikahan Dion dan Syakila.


Pernikahan yang di adakan sederhana, hanya di hadiri tetangga dan kerabat terdekat saja.


Ijab qobul sudah di adakan pagi hari, dan malam hari tinggallah acara pestanya, di mana Dion di dampingi orang tuanya, sedangkan Syakila di dampingi oleh Raka dan Aira.


Penampilan Aira dan Raka tak kalah menarik nya dengan pasangan pengantin itu, mereka berdua bak pasangan Ratu dan Raja.


Saat Dion dan Raka, Syakila dan Aira tengah duduk dan asik berbincang, datang lah karyawan kantor Raka, atau bisa di sebut teman wanita Dion yang sama gesreknya dengan Dion saat di kantor.


"Wih..! Selamat ya Dion dan istri, moga langgeng jadi keluarga Sakinah Mawadah dan Warohmah, amin," ucap Tuti sekertaris Raka di kantor sekaligus teman gesrek Dion.


"Iya, makasih dan amin." Dion dan Syakila mengamini bersamaan.


"Jangan lupa Nga-nu nya ya, biar cepet dapet hadiah istimewa dari tuhan," ucap Tuti lagi.


Dion dan Raka terbahak, namun tidak untuk Syakila dan Aira. Mereka berdua mengeryitkan dahi dan saling lempar pandang.


"Tenang aja, nanti aku sama istri ku langsung Nga-nu setelah sepi." timbal Dion di sela tawanya.


"Kalau kamu udah Nga-nu, aku gak punya temen Nganu-nganu di kantor lagi dong," ucap Tuti dengan wajah di buat sesedih mungkin.


"Nga-nu apaan sih?" tanya Syakila dan Aira bersamaan. Mereka berdua penasaran dengan arah pembicaraan Dion dan Tuti.


"Maksud aku itu loh!" Tuti menyatukan kedua jari telunjuknya lalu menggerakan nya.


Syakila jadi tersipu setelah mengetahui maksud ucapan Tuti.


Sedangkan Aira, wajahnya menjadi murung.


Raka melihat raut wajah istrinya yang berubah, ia pun mendekati Aira lalu mengelus punggung Aira perlahan.


"Aira.." lirih Raka dan Aira mendongak kan wajahnya pada wajah Raka.


"Maafin aku ya, aku tahu kamu sangat ingin melakukan itu dan segera mengandung," lirih Raka di telinga istrinya.


Aira hanya menggeleng sambil tersenyum kecut pada suaminya.


"Aku gak papa Raka!" timbal Aira, Raka tahu bahwa di balik kata tidak apa-apa yang di ucapkan istrinya. Tersimpan keinginan yang mendalam seperti istri-istri Oang pada umumnya.


Dion, Syakila dan Tuti tidak mendengar pembicaraan Raka dan Aira, karena mereka sibuk bercanda ria. Di tambah lagi dengan keadaan yang ramai saat itu.


Tidak terasa, malam semakin larut. Semua tamu sudah berangsur-angsur pulang, kini tinggalan keluarga Raka dan Dion di hotel yang menjadi tempat acara pesta pernikahan itu.


"Ajak lah istri mu pergi ke Kamar Yon," ucap bu Yanti.


"Iya, dia pasti sangat lelah." tambah pak Budi.


"Kamu juga Raka, ajak lah Aira istirahat," kata Papa Bambang, dan di angguki oleh Raka.


Di ruangan itu, kini hanya tinggallah Papa Bambang, pak Budi dan para istri. Sedangan di pojok ruangan itu, ada Intan yang memandang iri dengan kebahagian yang tengah di rasakan oleh keluarga itu.


"Ya tuhan! Kapan aku kau beri kebahagian seperti mereka?" keluh Intan. "Apakah aku tidak pantas bahagia? Sedari kecil aku selalu sendiri, bahkan momy ku tidak perduli dengan ku," sambung nya, tak terasa Intan mengeluarkan bulir airmata nya.


"Aku harus mendapatkan Raka, dia harus jadi milik ku. Aku tidak perduli apa pun resikonya, aku akan memperjuangkan cinta ku walaupun momy melarang ku. Saat Raka lengah, aku akan menghabisi Aira!"

__ADS_1


Setelah itu, Intan pergi meninggalkan tempat itu menuju kamar yang memang di pesankan mama Rina untuknya.


🎁🎁🎁


Di dalam kamar pengantin yang bertabur bunga.


"Pak tua! Bantuin dong, susah ini," ucap Syakila.


"Gini ni! Kalau keong ya keong aja, apa-apa minta bantu," kata Dion lalu mendekati Syakila.


Bukan nya membantu Syakila melepaskan pengait baju pengantin itu, Dion malah mencuri ciuman Syakila.


"Pak tua.." teriak Syakila memenuhi kamar Hotel itu.


Dion terkekeh melihat kekesalan wanita yang kini sudah resmi menjadi istrinya.


"Ayo dong..! Bantuin, aku capek tauk," Syakila memajukan bibirnya sambil menghentak-hentakkan kaki nya.


"Iya-iya, sini aku bukain," ucap Dion lalu membuka pengait gaun itu lalu menurunkan resleting nya.


Setelah resleting gaun itu di turunkan, tampak lah kulit punggung Syakila yang putih bersih. Dan hal itu tentu membuat pria normal menginginkan sesuatu.


"Syakila," ucap Dion sambil menelan ludah dengan kasar.


"Hmmm.." Syakila hanya berhemm tanpa menoleh pada Dion.


"Aku mau, boleh!" bisik Dion di telinga Syakila.


Syakila bergidik ngeri, merasakan hembusan nafas Dion yang berat mengenai kulit leher dan telinganya.


"Aku mau mandi dulu," ucap Syakila setelah itu Dia menyambar handuk lalu berlari menuju kamar mandi.


Ia merasa jenuh menunggu Syakila yang tak kunjung keluar.


Sedangkan di dalam kamar mandi, Syakila mondar mandir tak karuan. "Aku harus bagaimana?" tanya Syakila pada dirinya sendiri. "Aha.. Aku punya ide," sambungnya. Lalu ia berjalan keluar hanya dengan lilitan handuk.


Dion mendongakkan wajah nya ke arah pintu kamar mandi yang terbuka.


Dan Glek..!


Ia menelan ludah dengan kasar.


Syakila mendekati Dion dan mendaratkan bokong nya di ranjang samping Dion.


"Keong..!" ucap Dion lalu memegang tangan Syakila.


"Mau apa?" tanya Syakila. Tentu kini jantungnya berdegup sangat kencang.


"Aku mau nga-nu, boleh ya!" pinta Dion dengan wajah sayu.


"Hmm.. Tapi aku yang mulai duluan dan lampunya di matiin," ucap Syakila.


Tentu dengan senang hati Dion mengikuti permintaan Istrinya.


"Kamu beneran?" tanya Dion.


"Iya, masa gak percaya sih!" Syakila meyakinkan dengan membuka sedikit handuknya.

__ADS_1


Dengan cepat Dion melompat dari ranjang dan mematikan saklar lampu.


Setelah itu, Dion kembali keranjang dengan perlahan sambil mencium wajah Syakila sekilas.


Di dalam kegelapan Syakila menyeringai.


Ia tidak masalah berada di dalam kegelapan, karena Ia sudah terbiasa pulang dari bekerja di tengah kegelapan jalan tanpa cahaya lampu.


Biasa di Lampung kan suka mati lampu, jadi jalanan gelap tanpa cahaya penerang rumah warga yang ada di sepanjang jalan.


"Keong! Ayo dong," panggil Dion.


"Iya sabar," ucap Syakila lalu perlahan Ia mendekati Dion dengan dua buah dasi kerja Dion di tangannya.


"Aku buka ya," kata Syakila lalu membuka kancing kemeja putih yang di pakai Dion. Dan kini Dion hanya memakai kaos dalam saja sebagai atasan.


"Celananya," ucap Dion.


Syakila pun membuka celana Dion, dan kini Dion hanya memakai celana boxer dan kaos dalam.


Dion tersenyum bangga pada istrinya yang begitu Agresif.


Namun sesaat kemudian, senyum bangga itu berubah menjadi teriakan.


"Keong..! Kamu mau apa? Kok di ikat sih!" teriaknya.


"Husst! Diem," ucap Syakila dengan lembut.


Dion diam dan tidak banyak bicara lagi.


Tak lama, "Nah! Udah selesai," kata Syakila.


"Keong, kok kaki sama tangan ku di ikat sih!" teriak Dion yang meringkuk tak berpakaian.


Seperti tidak terjadi sesuatu, Syakila turun dari ranjang dan menghidupkan lampu.


"Keong, kok Jahat sih sama suami!" teriak Dion. Lagi lagi Syakila membuatnya semakin tidak tahan.


Dengan tak tahu malunya, Syakila melepas handuk nya di depan Dion dan berjalan menuju koper pakaian nya.


"Syakila..!" teriak Dion dengan kencang.


"Apa?" timbal Syakila seperti tak berdosa.


"Ayo dong! Aku udah gak tahan, sakit ini," ucap Dion sambil mulutnya mengarah pada sesuatu di bawah sana, yaitu pusaka nya.


"Terserah sih! Tapi yang pasti malam ini aku belum siap, aku capek," kata Syakila.


"Kalau aku ngompol gimana? Lagian kan aku belum mandi, badan ku gerah dan lengket," tutur Dion.


Setelah berganti pakaian, Syakila menghempas kan tubuhnya ke ranjang. Ia tidur di samping Dion yang meringkuk tak berdaya seperti anak kucing yang kehilangan induknya.


"Syakila keong istri yang durhaka, awas ya! Kalau aku bisa lepas, kamu gak akan aku kasih ampun!" teriak Dion sekencang-kencangnya.


Untungnya kamar hotel itu kedap suara, jadi tidak ada yang mendengar teriakan Dion.


***Bersambung..!!

__ADS_1


Happy reading..!!


Jangan lupa, kasih dukungan dan vote hari senin kalian nya..!!


__ADS_2