
Satu minggu kemudian.
"Pokoknya aku pengen ketemu sama dia. Titik!" teriak Aira pada Raka.
"Sayang.. Apa kamu gak ingat, atas semua yang udah dia lakuin sama kita. Terutama kamu!" Raka berbicara kepada istrinya dengan nada tinggi, berharap istrinya mau mengerti. Namun Aira tetap tidak ingin mengerti.
"Pokonya aku mau ketemu dia," ucap Aira dengan mata berkaca-kaca.
"Ada apa ini?" tanya Papa Bambang yang baru saja memasuki Rumah Raka dan Aira bersama mama Rina.
"Ini loh Pa, Aira maksa pengen ketemu sama Briyan brengsek itu!" adu Raka kepada Papa nya.
"Benar apa kata Raka, Aira?" tanya Papa Bambang kepada Aira yang sedang menangis.
"Aira kan cuman pengen liat kak Briyan sebentar, Pa." jawab Aira.
"Buat apa kamu mau ketemu sama Briyan yang hampir saja merusak hidup kamu, Aira? Apa kamu lupa apa yang udah dia lakuin sama kamu!?" Mama Rina mencoba membuat Aira mengerti.
"Aira cuman pengen ketemu, Ma. Cuman pengen ngobrol sama kak Briyan," kata Aira.
"Ya sudah! Nanti ku suruh orang buat cari dan bawa Dia kesini," kata Raka lalu pergi dari Rumah itu begitu saja dengan perasaan kesal.
Setelah kepergian Raka, Aira tersenyum sambil menghapus air mata nya.
"Ibu hamil ada-ada saja," gerutu Papa Bambang.
"Apa Pa?" tanya Mama Rina yang tidak jelas mendengar hal yang di ucapkan suaminya itu.
"Ibu hamil ada-ada saja," Papa Bambang mengulangi ucapannya. "Kayak Mama dulu, pengen ice cream sekaligus penjual nya," sambung Papa Bambang mengingat kelakuan Mama Rina saat mengandung Raka.
"Kapan Pa? Mama gak pernah seperti itu," kata Mama Rina.
"Nih Papa ingat kan!"
Flash back on.
"Ada apa sih Rin, kok cemberut kayak gitu?" tanya sang suami yang baru saja pulang bekerja.
"Aku pengen Ice cream Mas." timbal sang Istri.
"Kan tinggal beli, di depan gerbang sana kan ada kang Dudung yang suka mangkal," kata sang Suami yang tak lain adalah Papa Bambang.
"Masalah nya, aku pengen beli Ice cream sama penjual nya juga," kata Mama Rina.
Sontak perkataan Mama Rina membuat Papa Bambang terperangah tak percaya.
__ADS_1
"Kamu kok ada-ada saja, suka ngawur," ucap Papa Bambang sambil mendaratkan bokong nya di Sofa samping Mama Rina berada.
"Pokoknya aku pengen Ice cream sama penjualnya, kalo perlu anak dan istrinya juga bawa kesini," kata Mama Rina yang memaksa.
Lama berdebat, akhirnya Papa Bambang pun menyerah dan terpaksa menuruti permintaan sang Istri yang tengah mengidam.
Sore hari nya, Papa Bambang pulang membawa penjual Ice cream yang bernama kang Dudung itu beserta anak istrinya. Dan pada akhirnya, Kang Dudung, istri dan anak harus bermalam selama tiga hari di kediaman Papa Bambang dan Mama Rina.
Flashback off.
"Hahahaha.." tawa Aira pecah mendengar cerita Papa Bambang.
Sedangkan Mama Rina hanya bisa tersenyum kecil, ia merasa lucu dengan kelakuan lucu nya di masa lalu.
"Bagaimana? Mama ingat?" tanya Papa Bambang.
"Hehee.. Iya, mama ingat," Mama Rina terkekeh kecil.
"Itu hanya satu bagian dari ngidam aneh yang Mama alami," kata Papa Bambang. "Hampir setiap malam Papa di buat repot oleh ngidam yang aneh dan tidak masuk akal." sambungnya.
***
"Tolong cari orang ini! Jika bertemu, suruh dia datang ke kediaman Saya secepatnya." kata Raka kepada orang suruhannya.
Setelah itu, Raka segera memerintah orang suruhannya pergi dari kantor nya.
Keesokan harinya, Raka mendapat telpon dari orang suruhannya. Bahwa mereka melihat Briyan berada di depan sebuah Mall.
"Hallo Tuan, kami melihat orang yang Anda maksud memasuki Mall X. Namun ia tidak sendiri, melainkan bersama seorang anak kecil dan seorang wanita muda." kata Orang suruhannya.
"Benar dia seperti yang di foto?" tanya Raka.
"Benar Tuan, tapi apakah orang yang Anda maksud mengalami kecacatan?" tanya balik Orang suruhannya.
"Tidak, dia sehat sama seperti kita," kata Raka.
"Tapi Orang yang kami lihat, memakai tongkat dan berjalan pincang," jelasnya.
"Kalau begitu, coba kalian tanyakan nama nya. Jika benar dia Briyan, tolong bawa dia ke Kediaman saya," kata Raka lalu mematikan sambungan telpon itu.
Orang suruhan Raka segera mengikuti Briyan beserta istri dan anaknya yang masuk kedalam Mall.
Saat sampai, mereka pun segera to the point.
"Maaf.. Benarkah Anda yang bernama Briyan?" tanya salah seorang suruhan Raka.
__ADS_1
"Benar, ada apa?" tanya Briyan.
"Tuan kami yang bernama Rakanda Wiryawan memerintahkan kami agar membawa Anda ke kediaman nya." jelas Orang suruhan itu.
Cindy yang mendengar suami nya akan di bawa pun menjadi panik dan ketakutan.
"Kak, mau apa mereka?" tanya Cindy yang menambang tangan putra kecil mereka.
"Jangan takut, aku akan ikut mereka." kata Briyan.
"Kakak tidak boleh ikut mereka, jika kakak ikut. Bagaimana aku dan anak kita," ucap Cindy.
"Jangan khawatir, mungkin sudah saatnya aku mempertanggung jawabkan atas hal yang sudah aku lakukan," kata Briyan pada istrinya dengan tenang.
"Kalau begitu, aku dan Bian akan ikut. Aku tidak akan membiarkan kakak sendirian," ucap Cindy.
Setelah itu, Briyan mengikuti Orang suruhan Raka. Begitu pun dengan Cindy dan Bian, dengan setia mereka berdua mengekori Briyan.
"Jangan takut, jika memang nanti aku harus pergi dan kita berpisah. Yakin lah, bahwa aku akan kembali suatu saat nanti," kata Briyan berbisik di telinga istrinya.
"Aku takut kak, bagaimana aku dan Bian jika kakak di penjara," lirih Cindy.
"Sudah sewajarnya aku di penjara, begitu lebih baik. Agar aku tidak selalu di hantui rasa bersalah ini," kata Briyan lagi.
Mobil yang di kendarai Orang suruhan Raka, melaju dengan kecepatan sedang. Tidak ada perbincangan antara dua Orang bayaran itu, Hanya suara Cindy dan Briyan yang terdengar lirih.
Cindy nampak sangat tegang, ia takut sesuatu hal buruk akan terjadi pada suaminya. Tapi tidak dengan Briyan, ia malah nampak sangat tenang.
"Ibu, Om dua itu siapa?" tanya Bian.
"Merka teman nya ayah, Sayang." jawab Cindy.
"Teman ayah kok gak ngajak ngobrol dari tadi? Sebenernya kita mau kemana sih?" tanya Bian lagi.
"Kita mau ke Rumah Om Raka, teman nya Ayah dan Ibu sewaktu sekolah dulu," kata Cindy pada anak nya.
Benar adanya, bahwa Cindy, Briyan dan Raka adalah teman satu sekolah saat SMA walaupun di kelas yang berbeda.
Tak lama kemudian, mobil yang di kendarai orang suruhan Raka berhenti di depan Rumah Mewah yang pernah di masuki Briyan dengan niat Keji dan jahatnya.
Saat melihat Rumah itu, ia menjadi teringat perbuatan kotor nya terhadap Aira di masa lalu.
Briyan, Cindy dan Bian pun mengikuti orang suruhan Raka memasuki Rumah Mewah itu.
"Akhirnya kamu sampai!" Sambut Raka di ruang tamu Rumah itu dengan expresi datarnya.
__ADS_1