
Raka berjalan tergesa-gesa mendekati Aira.
Aira menundudukan kepalanya dan meremas jemarinya sendiri karena ketakutan dengan keadaan yang terjadi saat ini.
Tiba-tiba saja.
Grepp..!! Raka memeluk Aira dengan erat.
"Sayang, kamu gak papa kan? Briyan gak ngapa-ngapain kamu? Apa dia nyakitin kamu?" lirih Raka di telinga Aira.
"Aku gak papa Raka, aku takut sama kak Briyan aku juga takut kamu marah." timbal Aira dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Sedangkan Intan dan mama Rina melongo tak percaya dengan apa yang sedang terjadi di hadapan mereka.
Bukannya marah, Raka justru memeluk Aira di hadapan mereka semua.
Mama Rina dan Intan saling sikut. "Tante, kok Raka gak marah sih?" bisik Intan pada mama Rina.
"Tante juga gak tahu Intan, kok kelihatannya Raka malah khawatir," ucap mama Rina.
"Sial, Aira semakin membuat ku penasaran. Kenapa dia begitu takut dengan ku, apakah aku menyeramkan untuknya? Perasaan aku tidak kalah tampan dengan Raka," ucap Briyan dalam hati.
Perlahan Raka melepaskan pelukannya dengan Aira. Setelah itu dia mendekati Briyan yang pandangannya tertuju pada Aira seorang.
"Briyan kenapa kau kesini?" tanya Raka dengan penuh emosi.
"Aku hanya singgah sebentar, tidak sengaja tadi aku lewat depan rumah Mu. Jadi apa salahnya aku singgah," ucap Briyan berbohong "Lagian apa salahnya kalau aku singgah? Toh biasanya kau tidak pernah mempersalahkan hal itu!" sambung Briyan.
"Sekarang berbeda Briyan, aku sudah memiliki istri. Harusnya kau bilang padaku jika kau ingin kesini, kau lihat! Istriku ketakutan karena mu," ucap Raka sambil mengeretakan giginya.
"Ouhh, kenapa kau takut pada ku Aira? Aku tidak akan memakan mu," ucap Briyan sambil mendekat pada Aira sedangkan Aira yang melihat Briyan maju ke arahnya segera mundur.
"Raka.." panggil Aira.
Raka pun segera mendekat dan memeluk Aira kembali.
"Lebih baik kau pulang Briyan!" tegas Raka.
__ADS_1
"Raka, apa yang sebenarnya terjadi pada Istrimu? Kenapa dia selalu takut jika aku mendekat kearahnya?" tanya Briyan yang mulai heran melihat ketakutan pada diri Aira.
"Dia mengalami Trauma, puas kau!" bentak Raka "Dan sekarang ku pinta padamu Briyan, pulanglah." sambungnya.
"Oke.. Oke aku pulang sekarang," ucap Briyan dengan malas ia keluar dari Rumah megah itu.
"Sudah Aira, Briyan sudah pergi." kata Raka sambil membelai rambut Aira.
"Jangan tinggalkan aku Raka, aku takut," ucap Aira dengan berurai air mata.
"Tenanglah.. Aku gak akan kemana-mana aku akan menemani kamu. Ayo kita keatas dan kamu istirahat." kata Raka lalu ia menuntun istrinya menaiki anak tangga menuju Kamar.
Namun saat sampai di tengah-tengah tangga Raka menghentikan langkahnya. Ia berbalik pada mama Rina dan Intan yang sedang berbisik-bisik.
"Jika aku tahu mama dan Intan berusaha untuk menyakiti Aira lagi, aku yang akan turun tangan untuk membalasnya." tegas Raka pada Mamanya dan Intan.
"Alah.. Raka itu cuman menggretak kita aja," ucap mama Rina setelah melihat Raka dan Aira sudah tidak ada di tangga itu lagi.
Di kantor.
Dion mondar-mandir tak karuan, ia sedang memikirkan Raka dan Aira. Dion pun turun ke lobi untuk menanyakan apakah Raka sudah kembali lagi ke kantor atau belum.
"Belum Pak." timbal Resepsionis itu.
"Ya sudah kalau belum, kamu lanjutkan lagi kerja kamu. Saya mau ke atas lagi," ucap Dion lalu memasuki life dan kembali keruangannya.
Dion pun memutuskan untuk menghubungi Raka.
Sesaat kemudian panggilan pun terhubung.
"Hallo Raka! Bagaimana dengan Aira? Dan apakah Briyan sudah pergi?" tanya Dion
"Aira ketakutan saat Briyan mendekatinya, sepertinya Aira mengalami trauma dan alhamdulilah sekarang keadaannya sudah lebih baik. Briyan juga sudah pergi." jelas Raka.
"Ya sudah, kamu gak usah kemari dulu. Kamu temani aja Aira biar aku yang menghandel semuanya," ucap Dion.
Dan setelah itu Dion memutuskan sambungan telpon itu.
__ADS_1
Dion duduk di kursi kerja miliknya, sejenak ia memikirkan Cindy dan bayi yang sedang di kandung Cindy saat itu.
"Dimana Cindy? Apakah dia dan Bayinya baik-baik saja saat ini." guman Dion.
"Ahh.. Untuk apa aku mengingat-ingat dirinya. Semua yang ia dapat adalah karmanya sendiri." sambungnya.
Di tempat lain.
Seorang wanita yang sedang berada di taman bersama seorang anak laki-laki berumur hampir empat tahun sedang bermain.
Tiba-tiba telinga wanita itu berdengung.
"Ya tuhan! Siapa yang sedang membicarakan aku, mudah-mudahan orang itu membicarakan kebaikan ku bukan keburukan ku," ucap wanita itu sambil memegang telinganya.
"Ibu.. Dimana Ayah Bian?" tanya anaknya.
"Ibu kan sudah bilang, bahwa ayah Bian sedang bekerja dan jauh dari tempat ini," ucap wanita itu yang tak lain adalah Cindy dan anak yang bersamanya adalah anak yang ia peroleh dari hubungan terlarangnya dengan Briyan.
"Tapi kok ayah gak pernah datang?" tanya anak itu lagi.
"Percayalah Nak, bahwa suatu saat nanti ayah akan datang untuk mu." kata Cindy pada putranya.
Terbesit rasa bersalah pada Dion di hati Cindy yang teramat dalam. Dan kini ia merasakan karma itu, benar kata Dion Karma.. Karma nyata yang kini ia Rasakan dan terima. Ia harus menerima kenyataan mengandung, melahirkan dan membesarkan seorang anak sendirian tanpa sosok orang tua dan juga suami disampingnya.
Orang tuanya mengusirnya saat mengetahui bahwa ia sedang mengandung. Setelah itu ia menemui Briyan dan Briyan tak mau bertanggung jawab, harapan terakhirnya adalah Dion. Ia berharap Dion mau membantunya tapi kenyataanya Dion sudah benar-benar terluka oleh nya.
"Ah.. Tuhan aku menikmati semua yang sudah kau gariskan untuk ku. Aku menyadari bahwa aku adalah wanita yang tidak tahu diri, walaupun aku tidak memiliki siapa-siapa setidaknya aku masih memiliki Bian, putra kecilku. Dan aku yakin kelak kami akan di limpahkan kebahagian." kata Cindy dengan tersenyum kepada putra kecilnya yang sedang bermain sendirian.
Wajah Bian sangat mirip dengan ayahnya yaitu Briyan yang membuat Cindy tidak dapat melupakan masalalu yang telah ia lakukakan.
Kesalahan, kesalahan fatal yang tiada ampun. Ampun di hadapan tuhan karena ia telah berzina, melukai hati kedua orang tuanya, melukai hati Dion sebagai tunangannya dan merusak masa depannya sendiri.
Kini ia bekerja menjadi pelayan Cafe hanya untuk mencukupi hidupnya dan juga putranya dengan serba pas-pasan.
"Di mana Briyan saat ini? Apakah dia mengingat ku? Apakah dia memikirkan anaknya dan apakah dia sudah berubah? Entahlah aku harap dia datang keesokan hari untuk menjemputku dan putranya," ucap Cindy "Aku menunggu mu Briyan aku akan menunggu janji mu yang kau katakan akan kembali suatu saat nanti." sambungnya.
"Aku akan tanggung jawab Cindy, tapi tidak sekarang tapi percayalah aku akan datang untuk mu dan bayi yang kau kandung," ucap Briyan saat ia pergi meninggalkan Cindy yang sedang menangis tersedu-sedu karena telah mengandung.
__ADS_1
Bersambung..!!