Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Episode 41


__ADS_3

"Kalau begitu! Kapan kalian akan menikah?" tanya pak Budi.


Dan benar saja, hal itu membuat Syakila melototkan matanya. Mungkin kalau bola matanya adalah bola mata pasangan atau buatan China dan jepang. Bola mata itu akan keluar dari tempatnya bersemayam.


"Kalau Dion sih kapan aja yah, besok, lusa atau minggu depan sih Dion udah siap," ucap Dion dan membuat Syakila semakin mendelik. "Tapi itu tergantung Syakila! Dia nya mau apa enggak nikah sama Dion," sambungnya.


"Gimana Syakila?" tanya pak Budi.


"Gimana apa nya om?" tanya balik Syakila pura-pura tidak mengerti dengan arah pembicaraan pak Budi.


"Kamu mau tidak menikah sama Dion?" tanya pak Budi yang membuat Syakila menjadi gugup.


"Syakila mau om." timbal Syakila spontan.


"Tu! Kamu dengar Dion, Syakila mau jadi istri kamu tu!" sahut bu Yanti dengan cepat sambil tersenyum bahagia.


"Aduh ni mulut kok gak bisa di kontrol sih!" gerutu Syakila dalam hati.


"Syakila belum selesai bicara om, tante," ucap Syakila.


"Kamu mau ngomong apa lagi? Tante dan om sudah sangat senang kamu mau menikah dengan anak kami satu-satunya," kata bu Yanti.


"Emm, Syakila belum siap kalau harus menikah bulan-bulan ini," ucap Syakila sambil menunduk.


"Tiga bulan lagi bagaimana!?" kata bu Yanti mengutarakan pendapatnya.


Syakila beralih menatap Dion bermaksud meminta pendapat.


Namun Dion malah tersenyum dan memalingkan wajahnya.


"Iya udah tante, tiga bulan lagi ya," ucap Syakila dengan cengir yang di paksakan.


"Nah bagus, kalau gitu kalian harus akur-akur dan lebih terbuka lagi dari sebelumnya," kata bu Yanti.


"Dosa dong bu, kalau buka-bukaan." timbal Dion.


"Buka-bukaan apa?" tanya bu Yanti.


"Itu kata ibu tadi aku sama Syakila harus lebih terbuka lagi, kan dosa kalau buka-bukaan." timbal Dion.


"Dasar bocah gemlung! Bukan buka-bukaan baju Dion,,! Tapi masalah kalian. Jangan saling menyimpan rahasia yang bakal bikin masalah baru nantinya," jelas bu Yanti sambil menjewer telinga Dion.


"Aduh bu, sakit tauk!" rengek Dion.


Pak Budi dan Syakila terkekeh melihat Dion yang di jewer oleh bu Yanti.


Tak terasa, jam sudah menujukan pukul sepuluh malam.


Syakila pun di antarkan Dion pulang ke kontrakan.


Padahal, bu Yanti sudah meminta Syakila untuk bermalam di rumah itu. Namun Syakila tetap ingin pulang ke kontrakan nya.


***

__ADS_1


"Udah dong jangan di kasih minum lagi, dia udah mabuk," ucap pemuda A


"Gak usah ikut campur tahu gak! Kalau lo gak mau minum ya udah, gak usah ngatur-ngatur," bentak pemuda B


Dan pemuda yang lainnya mendorong tubuh pemuda A hingga terjungkal.


Pemuda A bangun dan kembali mendekati pemuda yang sudah mabuk itu.


"Udah dong Ka, nanti kalau mama dan papa mu tahu! Kamu bisa di marah," ucap pemuda A menasihati. "Mereka pasti kecewa sama kamu." sambungnya.


Pemuda yang sudah setengah mabuk itu meraih ponselnya yang berdering.


Mama, nama pemanggil yang tertera di layar ponselnya.


"Hallo ma," ucap nya.


"Kamu di mana sayang kok sudah larut begini belum pulang?" tanya mamanya.


"Iya-iya. Ini aku bentar lagi pulang." timbalnya lalu mematikan sambungan telpon itu.


Setelah mematikan sambungan telpon itu.


"Woy! Gue pulang duluan ya. Nyokap gue udah nyariin ni," ucapnya kepada seluruh temanya.


"Aku antar ya Ka," tawar pemuda A.


"Gak usah! Lo pulang aja, pasti nyokap dan bokap lo khawatir di rumah," ucapnya dengan sempoyongan.


"Tenang," ucapnya lalu pergi dari gudang tempat mereka pesta miras oplosan itu.


Dia pun segera menghidupkan mesin sepeda motornya.


Saat sampai di pertigaan, tiba-tiba ada sebuah mobil bermuatan yang melaju dengan kecepatan tinggi.


Dan kecelakaan pun tidak dapat di hindari.


"Tidakkkkk,,,!!" teriaknya.


"Raka, Raka bangun!" Aira mencoba membangunkan Raka dengan menepuk-nepuk pipi Raka.


Raka bangun dan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Kamu mimpi lagi sayang," lirih Aira sambil mengusap keringat di kening suaminya.


"Iya, mimpi yang sama," kata Raka.


"Mimpi apa? Apa yang selalu ganggu tidur kamu?" tanya Aira.


"Masa lalu, masa lalu Aira. Masa lalu itu menakutkan," ucap Raka.


Aira segera mengambil gelas air minum yang ada di atas nakas dekat ranjang lalu memberikan air itu pada Raka.


Dengan sekali teguk Raka menghabiskan isi gelas itu.

__ADS_1


"Cerita sama aku Raka, apa yang ganggu kamu beberapa bulan terakhir ini. Mimpi buruk apa yang udah ganggu tidur kamu setiap malam?" tanya Aira.


"Udah sayang, bukan apa-apa. Mending kita tidur lagi," ucap Raka.


Dia masih enggan menceritakan masa lalu nya yang kelam dan terbilang buruk pada Aira. Ia takut istrinya akan menjadi lebih kecewa setelah mengetahui masa lalunya yang begitu buruk.


Aira mengaguk, lalu Raka menarik kepala istrinya agar bersandar di dadanya.


Tak lama, nafas Aira sudah terdengar teratur. Itu tandanya Aira sudah menyelami alam mimpinya.


Raka meletakan kepala istrinya dengan perlahan ke bantal, agar tidak terbangun. Setelah itu ia beranjak dari ranjang, Ia mengambil korek dan rokok yang ia simpan di dalam laci lalu pergi menuju balkon kamar.


Raka berdiri di balkon. Di bakarnya ujung rokok itu, lalu di hisapnya rokok itu dengab perlahan.


Di pandanginya langit malam yang hitam tanpa adanya bintang malam itu.


"Kenapa? Kenapa masa lalu itu kembali menghantui ku?" tanyanya pada dirinya sendiri.


"Mimpi itu kembali setelah aku menikah dengan Aira, dan sebelum itu aku tidak pernah bermimpi tentang kecelakaan yang merenggut gejolak gairah dalam diriku ini. Ada apa sebenarnya? Bisa kah aku kembali normal seperti dulu, jika tidak bisa bagaimana dengan masa depan Aira? Apakah aku harus menceraikannya?" kata Raka sambil menengadahkan wajahnya ke langit malam.


"Oh tuhan! Tolong beri aku kesempatan untuk membahagiakan istri ku, aku ingin hidup layaknya pasangan normal," ucap Raka.


Setelah merasa puas di balkon itu, ia pun masuk kembali kedalam kamar.


Di pandanginya wajah Aira dengan intens. Ia tersenyum, di belainya wajah itu dengan kembut dan penuh kasih sayang.


"Kau bidadari yang di kirimkan tuhan untuk ku Aira, aku mencintaimu. Walaupun aku tidak bisa merasakan nafsu, tapi aku bisa merasakan cinta ini! Getaran ini membuatku bahagia, aku takut kehilangan mu," lirih Raka.


Setelah itu, ia ikut memejamkan matanya sambil memeluk tubuh Aira dengan erat.


Mereka berdua tidur lelap hingga pagi.


Pagi itu, Raka lebih dulu membuka matanya. Ia kembali memandangi wajah istrinya yang masih terlelap.


Tiba-tiba muncul lah ide untuk mengusik kedamaian Aira.


Ia menoel-noel pipi Aira dengan jari telunjuknya.


Aira mengerjakan matanya perlahan, namun saat Aira bangun ternyata suaminya masih terlelap di sampingnya.


"Apa tadi? Jika Raka masih tidur, lalu apa yang memainkan pipi ku," guman Aira lalu ia kembali tidur dan menutupi kepalanya dengan selimut.


Raka terkikik geli melihat kelakuan istrinya yang bangun siang tidak seperti biasanya.


Raka kembali menoel-noel pipi Aira, dan sekarang bukan hanya pipi melainkan juga hidung Aira.


Aira yang menyadari hal itu, langsung memegang tangan Raka dari dalam selimut.


"Raka,,!! Kamu nakal ya!" teriak Aira.


**Bersambung..!!!


Happy reading..!! 😘😘😘**

__ADS_1


__ADS_2