Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Masa lalu Dion.


__ADS_3

"Bu, Dion harus gimana?" tanya Dion pada bu Yanti "Kila malah nuduh Dion selingkuh sama Aira," sambungnya.


"Semua itu salah kamu, kamu harus jelaskan semuanya sama istri kamu. Kasian dia lagi hamil besar. Memangnya kamu gak sayang sama istri dan juga calon anak kamu," kata bu Yanti menasehati Dion.


"Sayang lah bu, tapi Yon gak tega liat Aira sakit dan terluka. Yon gak mau kehilangan untuk yang kedua kalinya," ucap Dion dengan wajah lesu.


"Dia bukan Thata, Thata sudah meninggal Dion!" bentak bu Yanti.


"Dia Thata, bu! Dia Thata," kata Dion tetap kekeuh dengan apa yang ia yakini.


"Terserah kamu, tapi kamu harus ingat! Thata di makamkan di depan wajah kamu, mata kepala kita semua lihat saat dia di kuburkan!" sentak bu Yanti.


"Ada apa ini? Kenapa kalian bertengkar?" tanya pak Budi yang baru saja masuk kedalam rumah.


"Yah, Aira itu Thata ya, dia belum meninggal," ucap Dion dengan mata berkaca-kaca.


"Sadarlah nak, dia sudah meninggal! Thata sudah tenang di sana, Aira bukan lah Thata," jelas pak Budi. "Menyayangi boleh, tapi kamu harus menghargai dan mengerti perasaan istri kamu. Ayah yakin dia sangat terluka dengan sikap kamu yang berlebihan pada Aira," sambung pak Budi.


"Dia Thata, yah! Dia Thata, Dion yakin itu, Thata kecil Dion masih hidup," ucap Dion yang keras kepala.


Bukk,,!! Pak Budi membogem wajah anaknya. Ia kesal, sangat kesal. Ia mengerti dengan kesedihan Dion, mereka juga sedih. Namun kenyataan nya memang benar, Thata si gadis malang nya Dion sudah pergi. Pergi jauh dari muka bumi ini, ia sudah kembali kepada sang pencipta.


"Kalian berdua gak ngerti! Yang selama ini ngerti Dion cuman papa Bambang," ucap Dion sambil memegangi wajahnya yang terkena bogem mentah dari sang ayah.


Setelah itu, ia pergi menuju kantor yang di pimpin oleh pak Bambang.


Tak lama kemudian, ia sampai di induk perusahan WIRYAWAN GRUP.


Dengan langkah gontai ia memasuki perusahan itu.


"Papa Bambang ada?" tanya nya pada Yenni, seorang resepsionis di kantor itu.


"Ada, silahkan masuk, Mas!" Yenni langsung mengizinkan Dion masuk.


Dion memang sering menemui pak Bambang ke kantor, saat ia sedang di landa masalah.


"Om,!" panggil Dion saat memasuki ruang kerja pak Bambang.


Pak Bambang mendongak kan wajahnya. Ia melepas kaca mata nya saat melihat Dion yang datang.


"Yon, kamu kenapa?" tanya pak Bambang saat melihat penampilan Dion yang acak-acakan dengan baju yang ia kenakan semalam dan juga terdapat memar di wajahnya.


"Apakah Dion salah? Jika Dion menyayangi Aira?" tanya Dion pada pak Bambang.


"Sini, duduk sini!" pak Bambang beranjak dan mengajak Dion untuk duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu.

__ADS_1


Dion ikut duduk di samping pak Bambang.


"Kenapa? Kenapa kamu seperti ini?" tanya pak Bambang.


"Ayah, dan ibu gak percaya kalau Aira itu Thata, pa!"


"Dion percaya kalau Aira itu Thata?" tanya pak Bambang lagi.


Dion menganguk pasti. "Dengan percaya nya Dion, bahwa Aira itu Thata. Berarti Dion tidak percaya dengan tuhan yang sudah menggariskan takdir hidup dan mati seseorang," kata pak Bambang dengan lembut.


Dion yang tertunduk lemah langsung mendongak kan wajahnya, ia memandang wajah teduh pak Bambang.


"Jadi Dion salah, karena menyayangi Aira?" tanya Dion.


"Kamu gak salah, tapi keadaan yang salah. Sekarang keadaannya berbeda Dion," ucap pak Bambang, ia mencoba memberi Dion pengertian. "Raka memaklumi posisi kamu, ia mengerti dengan kekhawatiran kamu yang berlebihan. Karena kamu dan Raka sudah bersama sejak kecil dan saling memahami, tapi istri kamu! Syakila tidak akan mudah mengerti dan terima. Ia akan beranggapan negative SAMA SEPERTI READERS YANG BACA🤧. Jadi cobalah untuk mengerti perasaan istri mu, selesaikan lah kesalahpahaman ini pada istri mu,"


"Tapi pa, Syakila kan orangnya keras kepala! Belum apa-apa saja, Dia sudah mau nyekik Dion," kata Dion.


"Itu urusan kamu! Sekarang pulang lah, papa gak bisa bantu kamu!" timbal pak Bambang.


"Pa, tapi wajah Aira itu kayak Thata kecil pa. Dion gak bohong loh!" lagi-lagi Dion membuat pak Bambang menghela nafas panjang.


"Di dunia ini banyak orang yang mirip, kamu bisa menyayangi Aira. Tapi jangan anggap bahwa Aira adalah Thata, itu akan membuat Ayah dan ibu mu ikut bersedih," kata pak Bambang. "Sudah sana pulang, papa mau kerja," usir pak Bambang.


Setelah itu, Dion keluar dari ruangan pak Bambang dan pergi meninggalkan perusahaan itu. Namun ia tidak pulang ke apartemen nya melainkan menuju sebuah taman yang tidak jauh dari induk perusahan WIRYAWAN GRUP.


FLASHBACK ON.


"Kak, Thata boleh ngomong sesuatu enggak?" tanya Thata si gadis kecil yang saat itu bersekolah menengah pertama, tepatnya kelas dua SMP.


"Kamu mau ngomong apa?" tanya Dion sambil mengusap kepala Thata.


"Kalau Thata suka sama kakak, dosa gak?" tanya gadis kecil itu.


"Kamu kok ngelantur sih, De?" tanya Dion.


"Thata gak ngelantur, Thata cuman pengen kita pacaran kayak orang-orang itu!" tunjuk Thata pada pasangan anak sekolah yang bersenda gurau bersama.


"Thata kan adiknya kakak, mana mungkin kita pacaran!"


"Hmm, kan adik bohong-bohongan! Kita kan saudara jauh, jadi boleh dong," kata Thata sambil tertawa garing.


Hening, Dion tidak lagi menyauti perkataan adik kecilnya yang cerewet itu.


"Kak, jawab dong! Waktu Thata udah hampir habis nih!" tiba-tiba Thata kembali berbicara.

__ADS_1


"Kakak gak bisa, kakak sayang sama Thata walaupun kita gak pacaran," kata Dion.


Dion sudah cukup dewasa saat itu, bagaimana tidak! Thata kelas dua SMP sedangkan Dion sudah ujian semester akhir pendidikan SMA nya.


Jadi ia tahu, mana yang benar dan salah! Di agama islam, tidak boleh memiliki hubungan dengan saudara sendiri. Apalagi kakak adik ayah, seperti ayahnya dan ayah Thata.


"Walaupun kakak gak bisa nerima Thata jadi pacar kakak, tapi Thata harap. Kakak jangan lupain Thata ya," pinta Thata.


"Thata akan selalu ada di sini!" Dion menarik tangan Thata dan meletakan tangan itu di dadanya. "Selamanya, sampai akhir hayat kakak," sambung Dion.


"Thata cinta kakak," ucap Thata sambil tersenyum manis.


Entah dari mana asalnya, anak seumur Thata bisa mengerti cinta.


Sore harinya, mereka berdua beranjak pulang dari taman tempat mereka bersenda gurau seharian.


Namun saat di jalan raya, kejadian na'az menimpa Dion dan Thata.


"Thata, awas! Jangan di sana!" teriak Dion pada Thata yang berdiri di badan jalan.


"Gak papa kak, waktu Tahta udah gak banyak! Thata pengen nikmatin lalu lalang kendaran di sore hari," kata Thata yang berteriak membalas perkataan Dion.


"Thata, nanti ada kendaran ya-" ucapan Dion terpotong.


Selang beberapa detik kemudian. Brukk,,! "Thata,,!!!" teriak Dion histeris.


Mobil bus yang melaju dengan kencang menabrak tubuh Thata begitu saja. Tubuh Tahta tergeletak tak dasarkan diri dengan bersimbah darah di jalan raya beraspal itu.


Dion berlari mendekati tubuh Thata yang sudah di geromboli semut. Ehh salah bukan semut tapi orang-orang sekitar tempat kejadian itu.


"Tha, bangun! Jangan tinggalkan kakak, kata kamu mau pacaran sama kakak. Kok kamu malah pergi!" kata Dion dengan tubuh bergetar.


Thata tewas di tempat, hal itu terjadi di depan mata kepala Dion sendiri. Setelah kejadian itu, Dion sempat depresi beberapa bulan.


Keluarga sangat sedih kehilangan Thata, kesedihan bertambah dengan keadaan Dion yang memprihatinkan.


Keluarga pak Bambang juga hadir di tengah-tengah duka keluarga pak Budi.


Namun hal serupa sama-sama terjadi, Raka juga saat itu mengalami kecelakaan dan keadaannya belum pulih benar. Jadi ia tidak bisa membantu dan menghibur Dion.


**FLASHBACK OFF.


Yang gak suka sama ceritanya, gak papa!


Othor cuman mau bilang! Kalau seudzon itu tidak baik!

__ADS_1


Maaf🙏 alurnya tidak seperti yang kalian harapkan**.


__ADS_2