
Deg.. Jantung Intan berdetak tak beraturan, mendengar pertanyaan Raka.
"Bagaimana ini? Kalau sampai ketahuan, mati lah aku," ucap Intan dalam hati Dengan penuh ketakutan.
"Begini Pak, beliau seperti nya terkena Penyakit jantung," ucap Dokter itu.
"Apa tidak ada gejala aneh pada diri beliau Dokter?" tanya Raka.
"Maksud Bapak?" tanya Dokter itu yang tidak mengerti dengan maksud Raka.
"Begini Pak! Apa tidak ada gejala-gejala aneh dengan Kematiannya, seperti terkena Racun begitu!" kata Raka.
Deg deg deg.. Jantung Intan berdegub semakin kencang.
"Aduh! Apa Raka tahu ya kalau aku lah penyebab kematian itu," ucap Intan dalam hati.
"Tidak ada hal yang aneh ataupun ganjil di sini Pak, mungkin tubuh kejang-kejang dan mulutnya mengeluarkan busa itu adalah hal yang aneh jika di lihat dari pandangan biasa. Namun hal serupa sudah sering terjadi, hal itu dapat terjadi juga. Saat kita meminum Obat dengan Dosis berlebih dan hal semacamnya, hingga Orang yang mengonsumsi Obat berlebih itu bisa di katakan Overdosis dan menyebabkan ia banyak mengeluarkan Air liur yang menjadi busa dan tubuhnya kejang-kejang. Hal ini juga lah yang menyebabkan kematian." jelas Dokter itu.
Mendengar penjelasan Dokter, Intan menjadi lega.
"Ternyata, racun yang di berikan momy adalah racun yang terhebat. Bekerja cepat dan tanpa gejala," ucap Intan dalam hati, dan diam-diam ia menyunggingkan senyuman nya.
"Kenapa tidak ada gejala seperti di racun? Ahh, aku harus cari tahu," ucap Aira dalam hati, sambil mengamati tingkah Intan.
Setelah itu, Jenazah kang Parmin langsung di bawa ke kediaman Papa Bambang untuk di ke Bumikan. Karena kang Parmin hidup sebatang kara, sejak kecil ia sudah ikut dengan orang tua Papa Bambang. Keluarga Papa Bambang menemukan kang Parmin di pinggirian jalan sedang memulung. Saat itu ayah dari Papa Bambang kebetulan ke Copetan, dan yang membantunya adalah kang Parmin. Setelah itu, ayah dari Papa Bambang mengajak kang Parmin ikut ke Rumah mereka.
Raka mengabari Dion, untuk datang di acara tahlil malam nanti.
Tentunya, Dion akan membawa Syakila bersamanya.
Dion bersiap untuk menjemput Syakila terlebih dahulu di Kontrakannya.
Ya..! Karena hanya dua malam saja Syakila tinggal di Rumah Dion, setelah dua malam itu, dia pamit untuk mencari Kontrakan kepada Aira. Dan Aira menawarkan Kontrakannya dulu, karena Raka sudah membayar Kontrakan itu tiga tahun. Dan masih tersisa dua tahun lagi. Syakila juga berjualan kue disana, seperti yang di lakukan Aira dulu.
Di kontrakan Syakila.
"Kami bersyukur deh, ada Mbak Syakila yang jualan kue di sini gantiin Mbak Aira. Rasa kuenya juga seperti rasa kue buatan Mbak Aira," ucap Ibu A
"Iya ni Mbak Syakila, dulu kami sering order sama Mbak Aira. Kalau ada acara pengajian atau kumpul-kumpul Arisan," sambung Ibu B
"Oiya Mbak Syakila, ngomong-ngomong Mbak Syakila sama mbak Aira kembar ya?" tanya Ibu C
__ADS_1
"Kami enggak kembar Bu, bahkan kami saudara sepupu. Almarhum Ayahnya Aira itu kakak dari Ibu saya," jelas Syakila.
Di tengah obrolan mereka, tiba-tiba mobil Dion datang.
"Permisi ibu-ibu, saya mau menemui Keong sawah saya. Ehh salah! Calon istri maksudnya," ucap Dion sambil melewati Ibu-ibu yang berkerumun di depan Kontrakan Syakila.
"Uuhh gantengnya calon suami Mbak Syakila," ucap Ibu D yang paling muda di antara Ibu-ibu itu.
"Iyo, gak kalah ganteng karo Bojone Mbak Aira yo," sambung ibu E Dengan logat Jawa khasnya.
"Ehh, Pak tua ngapain kesini?" tanya Syakila.
"Jangan Bapak dong manggilnya, kan aku malu," kata Dion dan para Ibu-ibu itu tergelak mendengar pembicaraan Syakila dan Dion.
"Terus manggilnya apa? Mau apa juga sore-sore kesini? Kan tadi pagi udah." kata Syakila.
"Gini, kita harus kerumah Raka malam ini, mau tahlilan," ucap Dion
"Loh, siapa yang meninggal?" tanya Syakila.
"Itu kang Parmin, salah satu ART di sana," kata Dion.
"Ibu-ibu, Syakila tinggal dulu ya!" kata Syakila pada kerumunan ibu-ibu itu.
"Mau kerumah Aira bu, ARTnya ada yang meninggal." timbal Syakila.
"Ya sudah, sana Mbak Syakila pergi aja," ucap Ibu B.
Syakila segera bersiap-siap, sedangkan Dion menunggunya di luar bersama dengan Ibu-ibu itu.
"Mas nya kapan menikah sama Mbak Syakila?" tanya Ibu-ibu A "Gak baik lama-lama pacaran Mas," sambungnya.
"Insyaallah bulan depan abu, kalau gak ada halangan." timbal Dion sambil tersenyum simpul.
"Ehemm, ngomongin apaan sih?" tanya Syakila yang baru saja keluar dari dalam.
"Ehh.. Keong udah siap. Gak ngomongin apa-apa kok, yuk kita berangkat," kata Dion.
"Syakila pergi dulu ya Ibu-ibu, titip Kontrakan. Siapa tahu dia kabur," kekeh Syakila yang membuat gelak tawa semua Ibu-ibu itu.
Mereka berdua segera berangkat menuju kediaman Papa Bambang.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalan sekitar tiga puluh lima menit, akhirnya mereka sampai di depan Rumah megah yang sudah di kerumuni oleh warga yang datang melayat.
"Asalamualaikum," ucap Syakila dan Dion bersamaan.
Seluruh warga yang sudah duduk untuk membaca doa tahlil pun menjawab serempak salam Dion dan Syakila.
"Waalaikum salam,"
Dion langsung duduk di antara warga sedangkan Syakila langsung pergi kebelakang mencari keberadaan Aira.
"Aira," panggil Syakila pada Aira yang sedang sibuk berkutat dengan dapur.
"Syakila, kamu datang?" tanya Aira.
"Iya, tadi aku di jemput sama Dion," kata Syakila.
"Ehh.. Non Syakila sudah datang," ucap Mbok Ani.
"Iya mbok, Oiya emang kang Parmin sakit apa?" tanya Syakila "Bukannya kemarin sehat-sehat aja ya?" sambung Syakila.
Mbok Ani, Syakila dan Aira pun berbisik-bisik.
"Non, sini geh deket sama Mbok," ucap Mbok Ani, Aira dan Syakila pun mendekat.
"Kalau menurut Mbok, itu kang Parmin kena Racun yang di tuju seseorang untuk Bapak dan Den Raka deh," ucap Mbok Ani pada Syakila dan Aira.
"Iya mbok, Aira juga mikir gitu! Apa jangan-jangan racun itu, racun yang sama yang di kasih buat Aira waktu itu?" ucap Aira tiba-tiba dan hal itu membuat mata Syakila mendelik sempurna.
"Maksud kamu? Kamu mau di Racun orang?" tanya Syakila.
"Huss.. Jangan keras-keras Non. Di sini cuman Mbok dan Non Aira yang tahu," ucap Mbok Ani.
"Iya Syakila, ini aku juga lagi cari bukti. Biar bisa giring dia ke Penjara," kata Aira.
"Emang siapa orangnya?" "Mamanya Raka atau Perempuan Gatel itu?" ucap Syakila sambil menunjuk Intan yang sedang duduk di Sofa dengan Ponsel di tangannya.
Mbok Ani dan Aira mengaguk bersamaan.
***Bersambung..!!
Happy reading..!!
__ADS_1
Jangan lupa jejaknya ya..!! dan juga kasih dukungan, biar otrhor gesrek ini tambah semangat..!! 😘😘😘***