Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Dion somplak


__ADS_3

"Itu!" tunjuk Raka "Kenapa banyak sekali, pada buncit semua pula!" Raka menatap ngeri pada ibu-ibu yang duduk berjejer di kursi tunggu. Dan semuanya rata dengan perut yang sudah buncit.


Aira terkekeh melihat keanehan suaminya.


"Namanya juga klinik ibu dan anak, mas kok aneh," kata Aira.


"Sumpah! Ternyata kalo banyak kayak gitu, serem!" Raka bergidik ngeri.


Yang tadinya ia berjalan di depan istrinya, kini menjadi berpindah ke belakang.


"Kenapa sih?" Aira mulai risih dengan tingkah Raka, "Kalo mas gak mau diem, kita pulang aja deh!" sambungnya.


"Aku cuman takut, nanti aku di gigit sama wanita-wanita berperut besar itu!" Raka mengacungkan jarinya pada barisan ibu-ibu yang sedang antri.


"Kamu takut ama bumil, terus gimana sama aku entar?" tanya Aira.


"Kalo kamu kan beda, sayang," kata Raka.


Aira menarik suaminya menuju admin, untuk mengambil nomer antrian.


"Ayuk," kata Aira.


"Kita cari rumah sakit besar aja yuk! Biar gak antri kayak gini," ucap Raka. Ia sangat enggan untuk bergabung bersama pasangan suami istri yang juga sedang antri di klinik tersebut.


"Udah, sini aja! Katanya Kamu gak mau ngelewatin momen momen sama aku saat lagi hamil," ucap Aira sambil menggenggam tangan suaminya denga hangat.


Raka pun diam, dan menuruti ucapan istrinya.


Dua jam kemudian, mereka keluar dari klinik itu. Senyum bahagia terpancar dari keduanya. Pasalnya. dokter mengatakan bahwa Aira tengah mengandung 3 minggu saat ini. Dan keadaannya dan juga janin yang ia kandung dalam keadaan sehat.


"Kita ke supermarket aja ya! Gak usah beli baju hamil dulu," kata Aira "Kita belanja bahan makanan dan susu aja dulu," sambungnya.


"Kok gitu! Kenapa?" tanya Raka, ia kecewa karena istrinya menolak untuk berbelanja kebutuhan ibu hamil.


"Besok kalo aku udah hamil 4 bulan, baru deh kita belanja. Mending sekarang kita beli bahan makan nan nya yang banyak, terus kita undang kak Dion dan Syakila, juga ayah dan ibu kak Dion," kata Aira yang sangat antusias.


"Oh, iya! Kita kan belum ngasih tahu mereka." timbal Raka.


Mereka berdua pun segera menuju supermarket, tak lupa. Aira menghubungi Syakila terlebih dahulu.


Ia mengatakan pada Syakila, untuk meminta nya datang nanti malam ke kediaman pak Bambang. Namun ia tidak mengatakan ada apa.


Hal itu tentu membuat Syakila bingung dan bertanya-tanya.


Terlebih lagi, Aira mengatakan. Bahwa orang tua Dion harus ikut serta.


Syakila yang baru bangun tidur di siang hari itu menjadi bingung. Karena telpon Aira yang mengharuskan dia dan keluarga Dion datang.

__ADS_1


"Sayang, kenapa?" tanya Dion yang juga baru bangun tidur.


"Gak tahu! Ni Aira nelpon, katanya kita harus kesana nanti malam. Sama ayah dan ibu juga," kata Syakila.


"Ke sana mana?" tanya Dion.


"Ke rumah papa Bambang!" timbal Syakila.


"Jam berapa sih sekarang?" tanya Dion.


"Jam satu siang," kata Syakila "Ehh, kita belum makan loh!" sambung nya.


"Ya udah, yuk kita makan dulu! Kasian bayi nya kelaparan," kata Dion. Lalu ia beranjak dari ranjang itu terlebih dahulu. Ia membantu istri beranjak.


Kini kandungan Syakila sudah menginjak usia tujuh bulan. Hal itu membuatnya sulit beraktifitas. Namun dengan siaga, Dion pak tua yang gesrek selalu setia membantu dan menemani istrinya, dan jika Dion bekerja. Bu Yanti lah yang gantian menjaga dan menemani Syakila.


Dion dan Syakila menuju dapur, Dion mengambilkan makanan untuk istrinya.


Syakila memakan makanannya dengan sangat lahap, hal itu tentu membuat Dion sangat senang.


Namun tiba-tiba di tengah acara makan Syakila, ia merintih kesakitan.


"Ahkk,"


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Dion penuh kekhawatiran.


"Sakit, perutku keram," rintih Syakila.


Dengan perlahan ia memapah istrinya, saat sampai di depan mobil. Tiba-tiba Syakila menghentikan langkahnya.


"Kenapa?" Dion ikut menghentikan langkahnya. Ia menatap wajah lesu istrinya.


"Udah gak sakit, hee!" cengir Syakila seperti orang tak berdosa.


"Gak sakit lagi! Berarti belum mau keluar dong!" Wajah Dion terlihat kecewa.


"Enggak, ya belum lahir lah! Kan baru masuk tujuh bulan." timbal Syakila.


"Emang harus berapa bulan?" tanya Dion dengan mode asal. "Setahun kah?" sambungnya.


"Setahun! Kamu kira anak kerbau!" Syakila mencubit pusat suaminya.


Mata Dion mendelik hebat saat dua jari Syakila menyentuh perutnya.


"Aduh..! Ampun! Jangan itu dong yang di cubit, burung kakak tua ku ikutan sakit dan ngilu!" Satu tangan Dion menahan tangan istrinya sedangkan yang satunya memegang burung kakak tuanya.


"Ampun! Aku kan serius, bukan bercanda!" Lagi-lagi Dion berteriak.

__ADS_1


Orang-orang yang berada di sekitar apartemen itu sudah terbiasa dengan kejadian-kejadian aneh dan lucu yang sering mereka lihat.


Karena bukan sekali dua kali lagi, Dion dan Syakila menujukan keanehan mereka di luar apartemen.


Bahkan tetangga-tetangga mereka menjuluki Dion SUAMI TAKUT ISTRI.


Bahkan ada kejadian lucu yang pernah terjadi pada Dion dan Syakila.


Dan kejadian itu, di saksikan oleh banyak orang.


FLASHBACK ON


"Aduh, jangan dong! Kalo aku keluar gak pake celana begini, nanti burungku di patok janda!" seloroh Dion yang baru saja di usir oleh Syakila.


"Udah sana! Sana pergi jauh-jauh, aku gak mau lihat kamu! Awas kalo balik lagi!" ancam Syakila.


Dengan malu, Dion berjalan keluar dari apartemen itu. Bagaimana tidak malu! Ia keluar dari tempat tinggalnya hanya menggunakan celana boxer dan kaos dalam. Bahkan rambut basahnya belum ia sisir.


"Eh, mas Dion! Habis di marah sama pawang nya ya?" ledek ibu-ibu yang baru pulang belanja.


"Diem deh bu! Nanti ku karet tu mulut," ucap Dion dengan nada sewotnya.


Ia menggedor pintu apartemen itu dengan keras. Namun Syakila tidak membuka nya ataupun menyahuti.


"Awas ya! Burungnya bakal ku lepas!" teriak Dion dengan kesal.


Ia pun pergi menuju apartemen yang di huni tetangga yang paling akrab dengannya.


"Bang, pinjem sarung dong," kata Dion saat sang pemilik apartemen itu membuka pintu.


"Astaga! Kenapa kamu begini?" tanya bang Doyok pada Dion.


"Itu, si mak lampir marah-marah!" adu Dion.


"Emang kamu habis ngapain kok dia bisa marah?" tanya bang Doyok.


"Perasaan aku gak salah, aku tadi habis mandi cuman nyari pakaian yang menurutku cocok," kata Dion.


Bang Doyok pun menyimak dengan khikmat.


"Terus-terus," kata bang Doyok.


"Karena gak ada yang cocok, aku pun mengacak-acak isi lemari. Dan ku pindahkan semua ketempat cucian baju kotor," cerita Dion.


Bukannya kasian, bang Doyok malah tertawa sambil memukul kepala Dion dengan koran yang sebelumnya ia baca.


"Aduh, kok di pukul sih bang!"

__ADS_1


"Wajar saja dia ngamuk! Kalo istri ku yang kamu begitu kan, mungkin aku di sembelih setelah itu di goreng pake tepung, agar jadi Doyok goreng. Hahahaa," kata bang Doyok dan setelah itu ia terbahak-bahak.


FLASHBACK OFF


__ADS_2