Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Episode 15


__ADS_3

Siang harinya, Raka berencana membawa istrinya pulang tentunya dengan Izin dokter. Dokter memperbolehkan Aira pulang namun dengan sarat, Aira belum di perbolehkan pergi sendirian dan di biarkan bertemu dengan orang lain.


"Dokter, saya akan membawa istri saya pulang siang ini," ucap Raka.


"Tuan boleh membawa istri tuan pulang, namun anda harus menemani istri anda jangan biarkan dia di dekati oleh orang luar yang tidak dia kenal. Karena istri anda mengalami Trauma. Trauma yang iya derita mungkin bisa jadi karena terlalu sering tertekan," jelas Dokter "Dan ada baiknya, tuan membawa istri tuan menemui psikiater atau psikolog. Agar istri tuan bisa di obati dari trauma yang iya derita." sambung Dokter itu.


Setelah mendengar semua penjelasan Dokter, Raka segera membawa istrinya pulang.


Sekitar empat puluh menit, Raka dan Aira sampai di rumah megah kediaman pak Bambang.


Namun lagi-lagi Raka di buat kesal. Ada mobil Briyan terparkir disana.


"Kenapa dengan Briyan? Kenapa dia tidak tahu diri sekali," guman Raka dengan kesal.


Dengan perlahan Raka menuntun Aira memasuki rumah itu.


"Hay Raka, hay Aira!" sapa Briyan "Dari mana saja kalian? Kata papa mu kalian tidak pulang sejak kemarin," ucap Briyan.


Aira yang melihat Briyan segera bersembunyi dibalik tubuh Raka.


"Raka, aku takut," lirih Aira dengan tubuh gemetar.


"Aira, kamu tidak perlu takut. Briyan tidak akan macam-macam sama kamu ada aku disini." kata Raka berusaha menenangkan Aira.


"Aira kenapa Raka?" tanya pak Bambang.


"Aira mengalami trauma pa." timbal Raka.


Briyan yang mendengar bahwa Aira mengalami trauma , segera mendekati Aira namun saat iya akan menyentuh Aira.


Tiba-tiba Raka menepis tangan itu, "Jangan dekati istri ku Briyan!" bentak Raka.


"Kenapa? Aku hanya ingin melihat keadaan istrinya," ucap Briyan.


Aira yang mendengar bahwa suara Briyan sangat dekat dengannya pun langsung menjerit.


"Jangan dekat-dekat, jangan sentuh aku," teriak Aira seperti orang frustasi. "Raka,,! Bawa aku pergi dari sini aku takut, dia akan membawa ku! Mereka datang Raka," kata Aira sambil menunjuk-nunjuk Briyan yang ada di dekatnya.


Briyan dan pak Bambang keheranan melihat wajah Aira yang berubah menjadi pucat pasi dengan keringat yang keluar dari pori-pori Aira.


"Aira tenangkan dirimu, Briyan tidak akan macam-macam. Dia teman ku, dia tidak akan membawa mu kemana-mana." kata Raka sambil menepuk-nepuk pelan pipi Aira.


"Raka a-ku ta-" Aira hilang kesadarannya kembali.


Sedangkan kedua iblis yang tengah mengintip kejadian itu menjadi sangat senang dan bahagia. Mereka tidak tahu dan tidak merasa bahwa sebentar lagi mereka akan menerima akibat dari perbuatan mereka.

__ADS_1


"Intan seneng banget deg tante, akhirnya perempuan kampung itu menjadi stres," ucap Intan dengan tertawa renyah.


"Iya, tante seneng banget! Dan sebentar lagi dia akan masuk ke rumah sakit jiwa." timbal mama Rina.


Melihat Aira yang tak sadarkan diri, Briyan berinisiatif untuk membantu Raka membopong tubuh Aira.


Baru saja tangan Briyan menyentuh baju yang Aira kenakan dengan cepat Raka menepisnya.


"Stop Briyan! Jangan sentuh istriku, menjauh lah. Kau tahukan dia sangat takut melihatmu," ucap Raka dengan emosi.


"Baiklah, aku akan menjauh aku tidak akan menyentuhnya." kata Briyan sambil mundur perlahan.


Dengan cepat Raka membopong tubuh Aira lalu menaiki anak tangga menuju kamar mereka.


"Sayang bangun, jangan buat aku semakin khawatir," lirih Raka lalu menciumi seluruh wajah Aira.


Lalu setelah itu Raka bangkit dan menghubungi Dion.


"Hallo Yon," ucap Raka dari sambungan telpon.


"Hallo, kenapa Ka?" tanya Dion.


"Kamu dimana?" tanya balik Raka.


"Tolong cari psikiater untuk mengobati Aira secepatnya Yon. Keadaan Aira menjadi semakin parah setelah melihat Briyan." kata Raka.


"Briyan? Kenapa dengan Briyan? Di mana Aira melihatnya?" tanya Dion


"Tadi saat kami pulang, ternyata ada Briyan di sini." timbal Raka. "Dan saat Aira melihatnya, dia menjadi syok dan kembali pingsan." sambung Raka.


"Ya udah, aku akan bawa psikiater kesana secepatnya," ucap Dion lalu mematikan sambungan telpon tersebut.


Di lantai bawah rumah megah itu.


"Briyan, om mau ke atas dulu ya mau nengokin Aira. Gak papa om tinggal sendiri," ucap pak Bambang pada Briyan, karena pak Bambang ingin melihat keadaan menatunya.


"Iya om gak papa, lagian ini Briyan juga udah mau pulang." timbal Briyan.


Setelah itu, pak Bambang langsung pergi meninggalkan Briyan di ruang tamu itu sendirian.


Karena Briyan merasa tak ada kesempatan untuk dekat dengan Aira, dia pun memilih untuk pulang.


"Saat keadaannya sudah lebih baik, aku akan kemari lagi. Lebih baik sekarang aku pulang." guman Briyan.


Saat dia hendak melangkah keluar dari rumah itu, tiba-tiba Intan memanggilnya.

__ADS_1


"Briyan tunggu!" panggil Intan.


Briyan membalikan tubuhnya kearah orang yang memanggil namanya.


"Aku mau bicara sama kamu, tapi ga disini," ucap Intan.


"Mau ngomong apa? Aku gak punya waktu buat ngeladenin perempuan macam kamu!" sahut Briyan dengan wajah datar karena tidak menyukai Intan.


"Aku punya penawaran untuk kamu," ucap Intan. Lalu dia merarik tangan Briyan keluar dari rumah itu menuju gerbang rumah.


"Gak usah berbelit-belit! Cepet omongin apa yang perlu kamu omongin," ketus Briyan.


"Wah, wah aku gak nyangka ya. Kamu bisa kasar juga sama perempuan, padahal kalau aku lihat-lihat saat kamu dekat Aira kamu jadi seperti peliharaan yang jinak dan takut dengan tuannya," ucap Intan dengan senyum mengejek.


Briyan mendekat pada Intan lalu mencengkram pipi Intan dengan kasar. "Jaga ucapan kamu, bicara omong kosong sekali lagi. Ku rusak wajah wajah mu ini!" geram Briyan yang membuat Intan menjadi ketakutan.


"Lepas Briyan, aku cuman mau buat penasaran untuk kamu," ucap Intan yang sedang kesakitan.


Perlahan Briyan melepaskan cengkramannya.


"Penawaran apa?" tanya Briyan.


"Kamu kan kalau aku lihat-lihat suka sama Aira dan aku sendiri ingin Raka jadi milik aku. Aku mau kita kerjasama buat misahin mereka, gimana?" kata Intan mengutarakan keinginannya pada Briyan.


"Hahaha, apa yang kau katakan?" tawa Briyan menggema terdengar mengerikan oleh orang lain.


"Aku serius Briyan, aku mau kita kerja sama," ucap Intan lagi.


"Maaf, aku gak butuh bantuan siapa pun dan aku gak mau kerja sama dengan perempuan bodoh kayak kamu!" timbal Briyan lalu pergi meninggalkan Intan seorang diri.


"Briyan,! Kurang ajar kamu." teriak Intan memaki-maki Briyan dengan kesal.


Briyan mengeluarkan mobilnya dari halaman rumah itu dan hendak pergi, namun sebelum dia pergi dia mengatakan sesuatu pada Intan yang sedang mengomel di tempatnya berdiri tadi.


"Perlu kamu tahu! Aku bisa melakukan apa yang aku mau sendirian, tanpa batuan siapa pun," ucap Briyan sebelum dia benar-benar meninggalkan rumah itu.


"Ah, sial! Aku fikir Briyan bisa di bodohi, dengan adanya kerja sama aku dan dia aku jadi lebih mudah mendapatkan Raka beserta seluruh aset kekayaan om Bambang. Tapi ternyata Briyan sangat sulit di rayu dan di pengaruhi seperti tante Rina." omel Intan.


Setelah itu Intan memilih untuk menemui mama Rina yang sudah lebih dulu pergi kekamar.


***Bersambung..!!


Mohon maaf 🙏🙏🙏, othor udah bilang di deskripsi kalau cerita ini beralur lambat. Nah lambatnya ini berada di tengah-tengah jadi mohon bersabar ya buat yang nunggu apa yang sebenarnya terjadi sama Raka! Othor akan buat cerita ini semenarik mungkin dan buat kalian gregetan.


Happy reading ya, jangan lupa berikan othor like dan hadiah yang banyak 😘😘😘***

__ADS_1


__ADS_2