Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Mama Rina


__ADS_3

"Aira.." panggil Mama Rina dengan berteriak.


Raka dan Aira yang sedang duduk di ruang makan terkejut mendengar dan melihat mama Rina yang terburu-buru menghampiri mereka dengan wajah merah itu.


Aira langsung berdiri dan bersembunyi di balik tubuh kekar Suaminya.


"Tenang lah! Ada aku di sini, mama tidak akan bisa menyakiti mu," bisik Raka mencoba untuk menenangkan istrinya.


Aira mengaguk dan mencoba untuk tenang.


Mama Rina semakin mendekat. "Aira.." panggilnya sekali lagi sambil berjalan ke belakang Raka.


"Ma, jang-" ucapan Raka terpotong saat melihat mama nya.


Grepp.. Mama Rina memeluk tubuh Aira dengan erat.


Ia menangis sambil memeluk tubuh anak menantu nya.


"Maaf kan mama, Aira. Mama tidak pantas di sebut sebagai seorang mama, mama tidak tahu kondisi putra mama sendiri. Sehingga mama selalu menyalahkan dan menyakiti kamu," ucap mama Rina sambil menangis.


Aira terkejut mendengar ucapan Mama mertua nya itu, ia memberanikan diri untuk membalas pelukan mama Rina.


Papa Bambang berlari mengejar istrinya, ia takut mama Rina akan menyakiti Aira.


Namun saat sampai di dalam Rumah, ia di buat melongo dengan aksi istrinya.


Sedangkan Raka, ia hanya diam mematung menyaksikan kejadian haru yang terjadi tepat di depan mata kepalanya.


Papa Bambang mendekati Raka, dan menepuk pundak putranya itu.


Ia memberikan senyuman pada Putranya.


Pak Bambang dan Raka lega melihat penyesalan pada mama Rina, mereka berharap mama Rina benar-benar berubah dan mau menerima Aira.


"Maaf kan Mama, selama ini sudah jahat sama kamu! Mama janji akan berubah, Aira," kata mama Rina sambil terisak.


"Ma, Aira gak pernah marah sama Mama. Aira sayang sama Mama kayak Aira sayang sama Papa," ucap Aira "Aira seneng banget, akhirnya Mama mau nerima Aira jadi menantu Mama. Makasih ya Ma," sambung Aira.


"Seharus nya Mama yang berterimakasih sama kamu, karena kamu sudah mau menerima dan menutupi kekurangan Putra Mama," kata mama Rina. "Raka, sini nak!" mama Rina memanggil Raka agar mendekat padanya dan Aira.


Raka mendekat, dan ikut berpelukan dengan mama Rina dan istrinya.


"Raka, maaf kan Mama ya nak. Selama ini Mama gak pernah ngerti dengan kondisi dan keadaan kamu, sebagai orang tua, mama adalah mama yang paling buruk di Dunia," ucap mama Rina pada Raka.


"Sudah lah Ma, Raka sudah memaaf kan Mama." timbal Raka.


"Ehemm.. Papa gak di ajak pelukan juga nih!" Suara Papa Bambang membuat mereka bertiga menghentikan pelukan mereka.


"Sini dong Papa nya.. Masa mau pelukan dari jauh, emang bisa," ucap Aira yang membuat Papa Bambang tertawa


Sungguh.. Ini adalah kali pertama nya Aira melihat Papa Bambang tertawa seperti itu.

__ADS_1


"Hari ini Papa sangat bahagia," ucap pak Bambang sambil ikut berpelukan. "Akhirnya Mama sadar dari semua kesalahan yang selama ini Mama perbuat," sambungnya.


"Iya Pa, Raka juga senang sekali. Akhirnya mama berubah jadi mama yang dulu, dan pengaruh Mak lampir yang ada di dalam diri mama sudah hilang," kata Raka sambil terkekeh.


"Raka.." protes mama Rina.


Mereka berempat pun tertawa bersama.


Malam hari nya, mama Rina dan Papa Bambang tidak pulang. Mereka bermalam di kediaman anak mereka.


Mama Rina ingin menemani Aira yang kondisinya masih terbilang buruk paska pelecehan yang terjadi beberapa hari yang lalu.


"Raka.. Papa ingin bicara serius sama kamu," ucap Papa Bambang.


"Mau ngomong apa Pa?" tanya Raka sambil meletakan remot TV yang ia pegang.


"Besok lusa, Papa akan mengirim mu ke Belanda," ucap Papa Bambang.


"Untuk apa Pa?" tanya Raka yang tidak tahu maksud Papa nya.


"Di sana ada Dokter Spesialis penyakit serius seperti yang kamu derita. Papa ingin kamu sembuh," ucap Papa Bambang lagi.


"Tapi Pa, bagaimana dengan perusahaan Raka? Dan berapa lama Raka menjalani Pengobatan itu?" tanya Raka.


"Masalah perusahaan, kamu bisa membalik namakan nya atas nama Dion sementara. Papa yakin Dion akan bersedia," ucap Papa Bambang. "Dan untuk waktu pengobatan mu, papa tidak bisa memastikan. Mungkin membutuhkan waktu setengah sampai setahun," sambung Papa Bambang.


"Berarti aku dan Aira harus pindah ke Belanda sementara waktu," kata Raka.


"Tapi ma-," ucapan Raka di putus oleh mama Rina.


"Tidak ada tapi-tapian! Mama dan Papa ingin kamu fokus pada pengobatan kamu, agar bisa cepat sembuh dan bisa kasih mama cucu yang lucu," kata mama Rina.


"Sayang," Raka memandang istrinya dengan wajah memelas.


"Kamu dengerin omongan papa dan mama, aku bakal nunggu kamu disini," kata Aira.


"Huhh.. Baiklah!" Raka menghela nafas dengan kasar.


"Tuh kan! Orang Aira juga gak papa kalo kamu pergi," ucap mama Rina.


"Beneran nih! Raka gak boleh bawa istri Raka kesana?" tanya Raka lagi, siapa tahu Mama dan Papa nya khilaf.


"Tidak boleh!" sahut Mama dan Papa nya bersamaan.


"Ciee.. Udah kompak lagi kayak dulu!" Raka berucap sambil mencibik kan bibirnya.


Aira tersenyum, ia bahagia melihat keluarga mertuanya rukun seperti itu. "Ternyata bener kata Alm kang Parmin. Kalo mama Rina sebenernya baik dan hangat, aku bahagia. Semoga kau akan selalu memberiku kebahagian setelah ini THOUR," ucap Aira dalam hati.


***


Keesokan harinya.

__ADS_1


Di perusahaan Raka.


"Gimana?" tanya Dion tiba-tiba.


"Gimana apanya?" tanya Raka.


"Emm, itu loh! Kapan terbang ke Belanda?" tanya Dion.


"Belanda? Kok kamu tahu!" Raka menunjuk wajah Dion.


"Bagaimana tidak tahu!" Dion menoyor kening Raka dengan telunjuknya. "Aku yang mencari Dokter itu, jika menunggu mu sendiri yang mencari. Mungkin sampai bulu Aira berubah menjadi putih kau tidak akan menemukan nya. Maka nya kalo punya Otak di pake mikir yang dalam, jangan cuma kerja-kerja dan kerja yang ada di Otakmu!" Dion mengolok-olok Raka semaunya.


"Kau! Jangan sentuh kepala ku! Atau akan ku potong gaji Mu 50%," acam Raka.


"Potong saja, dan aku akan membawa Aira pindah Rumah!" Dion mematahkan ucapan Raka.


"Besok aku dan Om Bambang akan mengirim mu ke Belanda, dan aku doakan kau cepat sembuh," ucap Dion.


"Hmm.. Tolong ubah kepemilikan perusahaan ini dengan nama mu," ucap Raka.


"Untuk apa?" tanya Dion.


"Tentu agar tidak merepotkan mu! Dasar bodoh!" ketus Raka.


"Bodoh ku dimana? Kenapa aku yang bodoh!" Dion mulai kesal pada Raka.


"Kau kan asisten ku! Apakah kau tidak berfikir bahwa akan banyak tanda tangan ku yang di butuhkan?" Raka menaik turun kan alisnya.


"Oh iya.. Tapi kenapa harus aku?" tanya Dion lagi.


"Karena aku dan Papa sangat percaya pada mu!" timbal Raka.


"Ya sudah, aku akan urus semua nya hari ini juga," kata Dion "Tapi kemungkinan, kau akan terbang tiga hari lagi ke Belanda jika menunggu pengalihan surat ke pemilikan perusahaan ini jadi." sambung Dion.


"Tidak masalah." timbal Raka "Sana kembali ke tempat mu, jika tidak ada yang perlu di bicarakan lagi!" Raka mendorong tubuh Dion agar keluar dari ruangan nya.


"Huh.. Baik jika ada perlunya saja," gerutu Dion.


Begitu lah Dion dan Raka, mereka memang seperti Tom and Jerry. Namun dengan begitu mereka tidak pernah memperpanjang masalah mereka.


Prinsif mereka, jika sudah ya sudah!


Dion selalu menjadi tameng Raka selama ini, mulai di bangku SMA hingga saat ini.


Seringkali Raka salah melangkah, namun Dion selalu mengingatkan.


Seperti kejadian saat pelecehan Aira, Dion sudah memperingati Raka bukan? Tapi Raka tidak mengidahkan perkataan Dion. Hingga hal itu pun terjadi, dan akhirnya Raka terkena amukan Singa Jantan itu.


Bersambung..!!


Uhuhuu otak othor makin gesrek, alur makin ngawur dan gak uwu lagi๐Ÿ˜‚

__ADS_1


Happy reading๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜***


__ADS_2