
Pagi harinya, Aira bangun lebih awal. Ia memandangi wajah Suaminya dengan penuh cinta, di belainya wajah Pria yang masih damai dalam tidurnya pagi itu.
"Aku sayang kamu Raka, maafin aku yang udah bikin kamu sedih. Aku cinta sama kamu, aku akan belajar untuk lebih sabar lagi menunggu saat itu tiba. Aku yakin Tuhan punya rencana lain untuk kita," lirih Aira sambil membelai pipi Raka dengan lembut.
Raka terjaga dari tidurnya, karena merasakan sentuhan di wajahnya.
Perlahan ia membuka matanya, pemandangan yang pertama ia lihat saat membuka matanya adalah wajah manis istrinya.
Ia tersenyum pada Aira. "Kamu udah bangun Sayang?" tanya Raka.
"Hmm.. Maaf untuk yang semalam sayang," kata Aira.
"Maaf untuk apa?" tanya Raka.
"Maaf karena aku udah bersikap dingin sama Kamu." timbal Aira.
"Harusnya yang minta maaf itu aku, karena aku kamu merasakan penderitaan dan siksaan batin seperti ini," ucap Raka, lalu ia merubah posisinya dan kini ia bersandar pada dinding Ranjang.
"Jangan ngomong kayak gitu lagi! Aku janji akan lebih sabar lagi nunggu kamu sembuh," kata Aira dengan wajah memerah menahan tangis.
"Aku juga janji, mulai hari ini kita akan mencoba berjuang lebih keras lagi. Aku akan coba konsumsi Obat, siapa tahu bakal dapat Khasiat," kata Raka dengan semangat 45.
"Aku sayang kamu Raka," ucap Aira lalu memeluk leher Raka.
"Kita mandi dulu yuk, habis itu kita kebawah nyari sarapan," ucap Raka dan di angguki oleh Aira.
Setengah jam kemudian, Aira dan Raka turun ke lantai bawah Hotel itu.
Mereka segera menghampiri para pelayan yang di sediakan pihak Hotel selama dalam masa Bokking keluarga Papa Bambang dan pak Budi.
"Maaf Tuan.. Hidangannya akan siap sebentar lagi," ucap salah Seorang pelayan saat Raka dan Aira menghampiri mereka.
"Tidak apa-apa, kami akan pergi Keluar sebentar." timbal Raka lalu menggangeng tangan Aira keluar dari Hotel itu.
Sedangkan di dalam Kamar Syakila dan Dion.
"Pak tua! Bangun," kata Syakila sambil mengguncang-guncangkan tubuh Dion.
"Hmmm.. Lima menit lagi," Guman Dion.
"Udah siang, ayo bangun!" ucap Syakila kemudian.
"Aku masih ngantuk Bu, nanti aja. Lagian hari ini Dion gak kerja," guman Dion tak menyadari jika yang berbicara padanya adalah Syakila wanita yang sudah jadi istrinya.
"Pak tua bangun! Kalau gak mau bangun, ku guyur sama air dingin ni.." kesal Syakila lalu menarik selimut yang menutupi tubuh Suaminya.
"Hmm," Dion semakin mempererat tarikan selimutnya.
__ADS_1
"Awas ya! Aku kerjain," seketika ide Kotor dan licik muncul di Otak Syakila.
Perlahan ia mengangkat baju Dion, di elusnya dada Dion yang berbentuk kotak-kotak dengan lembut.
Lalu ia mencium leher suaminya sekilas, seketika hal itu membuat si Empu menggeliatkan tubuhnya.
"Hmm.." Dion menggeliat lalu mengerjapkan matanya. "Keong! Ngapain sih kok gangguin aku? Kamu pengen?" tanya Dion yang nyawanya mulai kumpul.
"Enggak, aku cuman mau kamu bangun!" teriak Syakila.
"Masih pagi, aku masih ngantuk!" timbal Dion sambil mengucek-ngucek matanya.
"Pagi apanya? Ini udah jam tujuh tauk gak!" ketus Syakila sambil berkacak pinggang.
"Iya-iya, aku bangun ni! Tapi kamu harus tanggung jawab, bukan cuman aku yang bangun tapi pusaka yang ada di bawah juga ikut bangun karena ulah kamu," kata Dion sambil menujuk sesuatu di bawah sana yang ikut ter bangun.
"Apaan sih! Udah sana mandi." usir Syakila.
"Emang kamu gak kasihan sama aku?" tanya Dion sambil bangkit dari tidurnya.
"Enggak!" sahut Syakila.
"Bentar aja ya!" pinta Dion.
"Dosa kali ya! Tapi aku takut, nanti sakit gimana?" ucap Syakila dalam hati.
"Ya ya ya, boleh ya sebentar aja," ucap Dion.
Jantung Syakila berdetak semakin kuat, niat hati hanya ingin mengerjai Suaminya agar bangun tidurnya. Ehh.. Apalah daya, dia sendiri lah yang harus masuk dalam perangkap nya.
"Aku be-" ucapan Syakila terpotong. Dengan tidak sabaran dan penuh gairah Dion membekap bibir Syakila dengan bibirnya.
Syakila tidak menerima permainan Dion, hingga membuat Dion berusaha membuka bibir Syakila yang terkunci. Dan lama Kelamaan Syakila membuka bibirnya yang terkunci.
Setelah bibir Syakila terbuka. Dengan perlahan Dion memasukan lidahnya kedalam mulut Syakila.
Tangan kanan Dion tidak tinggal diam, perlahan tangan itu masuk menuju piyama yang di gunakan Syakila. Sedangkan bibirnya masih asyik bermain dengan bibir istrinya.
Setelah puas menikmati bibir istrinya, Dion melepaskan ciuman itu.
Kini nafas mereka sama-sama terengahnya.
Mereka menghirup Oksigen sebanyak mungkin karena hampir kehabisan nafas.
Perlahan Dion membaringkan tubuh istrinya ke ranjang. Ia segera membuka kancing piyama yang di gunakan Syakila.
Glek.. Dion menelan ludahnya dengan kasar saat piyama yang di kenakan Syakila terbuka.
__ADS_1
Tanpa meminta Izin terlebih dahulu, Ia segera meyambar dua bukit kembar yang masih terbungkus bra berwarna pink yang ada di depan matanya.
Syakila tidak melawan ataupun berontak.
Ia hanya pasrah dengan permainan Dion, pikirnya! Toh lambat laun Dion akan melakukan nya juga. Tidak hari ini, mungkin hari esok.
Dion mainkan lidahnya di leher Syakila, Ia menyapu bersih kulit leher Syakila yang halus putih bersih, lama kelamaan lidah Dion turun pada bagian dada istrinya. Dan perlahan tangannya mencari pengait bra yang di gunakan Syakila.
"Ketemu akhirnya!" ucapnya kegirangan.
Setelah Bra itu terlepas, dengan secepat kilat ia memagut pu*uk bukit kembar itu dengan bibirnya.
Kini Dion seperti anak kecil yang sedang kelaparan ingin menete pada ibunya. Iya kini itu lah yang sedang di lakukan oleh Dion.
Kini tangan Dion beralih lagi pada bagian bawah istrinya. Tentu hal itu membuat si empu menggelinjang dan mengerang.
Dion tak menyia-nyiakan kesempatan ini, ia langsung membuka CD yang di pakai oleh istrinya. Di usapnya area sensitive istrinya dengan penuh Gairah.
Kini tibalah Dion akan memasukan tongkat kejantanan nya kedalam goa milik Syakila.
Namun sebelum memasukan tongkatnya, ia beralih pada wajah Syakila.
Syakila menggeleng dengan air mata yang sudah menetes di pipi nya. Wajahnya memelas seperti minta di kasihhani.
Dion pun tidak tega melihatnya. Ia segera menyudahi aksinya.
Dengan wajah lesu ia pergi menuju kamar mandi, meninggalkan istrinya yang sedang menangis.
Setelah dua puluh menit kemudian, Dion keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah bugar tidak layu seperti tadi.
Namun Syakila masih belum menyudahi tangisnya.
Dion mendekati istrinya yang masih menangis itu.
"Hey! Jangan menangis lagi," ucap Dion dengan lembut.
"Maafkan aku.."kata Syakila dengan sesegukan. "A-ku takut," sambungnya.
"Aku enggak marah Keong! Harusnya aku yang minta maaf, melakukannya tanpa izin dari kamu," ucap Dion "Aku akan menunggumu sampai benar-benar siap." tambah nya.
Syakila memberanikan diri mendongak kan wajahnya, Dion tersenyum saat Syakila berani menatapnya.
"Aku janji.. Aku bakal kasih semuanya ke Kamu. Tapi enggak sekarang," ucap Syakila.
"Iya, aku bakal nunggu. Walaupun benih ku harus ku tanam di kamar mandi sebelum ku tanamkan di sini," kata Dion cekikikan sambil mengelus perut rata Syakila.
"Pak tua.."" jerit Syakila, ia merasa geli saat Dion mengucapkan kata benih yang artinya air dari pusaka milik Dion.
__ADS_1
***Bersambung..!!
Happy reading..! Mohon tinggalkan jejak, jangan lupa kasih othor dukungan sebanyak-banyaknya. 😘😘😘***