
"Aku takut Kila, aku takut dia ngelupain aku, udah hampir sebulan ini dia gak pernah ngehubungin aku lagi. Apa mungkin dia udah sembuh dan dapat perempuan yang lebih baik dari aku," tubuh Aira bergetar di dalam dekapan Syakila.
Setelah puas meluapkan kesedihan dan kerinduan nya di taman itu, Aira mengajak Syakila pergi ke cafe yang tak jauh dari taman itu.
"Ayok.. Kila, kita ke caffe itu!" tunjuk Aira pada cafe yang ada di seberang jalan.
Syakila mengaguk, lalu mengikuti langkah Aira menuju cafe itu.
Perlahan mereka menyeberang jalan.
Sesampainya di cafe itu, Syakila memesan banyak makanan.
Dan ternyata pelayan yang mengantar makanan mereka adalah Cindy.
"Ehh, ibunya Bian!" tunjuk Syakila.
"Mbak Syakila apa kabar?" tanya Cindy yang melihat pengunjung itu adalah Syakila.
"Alhamdulilah, baik mbak. Oiya, Bian gak ikut?" tanya Syakila sambil celingak celinguk.
"Enggak mbak, oiya kok saya kayak kenal ya sama mbak yang ini!" tunjuk Cindy sambil tersenyum manis pada Aira. "Oh, iya! Saya ingat, mbak ini istrinya Raka ya! Tapi kok wajah kalian mirip ya," sambung Cindy.
"Iya mbak, saya istrinya Raka. Tapi kok mbak bisa kenal saya ya?" tanya Aira, pasalnya saat Ia di rumah sakit, ia tidak mengingat dan perduli pada siapa pun kecuali Raka dan Dion.
"Waktu itu, saat mbak pingsan di parkiran mall di depan sana! Saya yang membawa mbak ke rumah sakit," jelas Cindy. "Tapi setelah Raka dan Dion datang, saya langsung pergi mbak," tambah Cindy.
"Nama mbak Siapa?" tanya Aira
"Cindy, mbak. Cindy Mardiana." timbal Cindy.
"Oo, jadi mbak pacarnya kak Briyan," setelah mengucapkan kata itu, Aira langsung menutup mulutnya.
Wajah Cindy yang tadi nya cerah kini berubah menjadi sendu. Raut kesedihan terlihat jelas di wajahnya.
"Me-me maafkan saya, saya tidak bermaksud," ucap Aira yang merasa bersalah.
"Gak papa mbak, saya permisi dulu ya," ucap Cindy.
Setelah kepergian Cindy, Aira langsung di bom pertanyaan oleh Syakila.
"Ai, kok kamu tahu Briyan mantan sahabat mas Dion dan kak Raka?" tanya Syakila. "Terus kok kamu tahu kalo Cindy pacarnya Briyan Briyan itu!" sambungnya.
"Itu kak Briyan yang a-nu, A-nuin aku waktu itu." timbal Aira dengan wajah memerah.
"Jadi dia, Briyan yang di maksud mas Dion itu orang yang mau perkosa kamu?" tanya Syakila tak percaya dan di angguki oleh Aira.
Hari-hari di lalui begitu cepat. Kini sudah bulan ke tiga Raka dan Aira berpisah.
Aira masih tetap setia menunggu suaminya pulang. Ia tidak pernah dekat dengan siapapun.
__ADS_1
Ia nampak tenang, karena ia tidak lagi di ganggu dengan kehadiran Briyan.
Ya..! Bagaimana Briyan akan menggangu ya lagi. Jika untuk berjalan saja dengan bantuan tongkat di kaki kirinya.
Pagi itu, di kediaman Raka dan Aira.
Pak Bambang, mama Rina, Dion dan Syakila sedang sarapan. Tiba-tiba Aira yang baru turun dari lantai atas ikut mendaratkan bokongnya di salah satu kursi yang kosong.
"Kak Dion, sampe sekarang masih belum ada kabar ya dari Raka?" tanya Aira tiba-tiba.
Dion menggeleng cepat.
Nampak lah kekecewaan di wajah Aira, Aira langsung beranjak dari duduknya. Namun belum sempat ia meninggalkan meja makan itu.
Dion menghentikan langkah Aira.
"Aira, makan lah dulu. Nanti kamu sakit," kata Dion.
"Aira gak lapar kak." timbal Aira.
"Bohong! Dari kemarin siang kamu gak makan apa pun!" sahut Syakila.
"Aku emang belum makan, tapi aku gak lapar!" timbal Aira.
"Kalau kamu gak mau makan, kami berempat akan pergi dari rumah ini!" ancam Dion.
"Ia, Aira makan," ucap Aira sambil menundukkan wajahnya dengan mata berkaca-kaca.
Dion mengambil piring yang ada di depan Aira, dan mengisi piring itu dengan penuh.
"Habiskan!" tegas Dion sambil menyodorkan piring itu.
Aira menggaguk. Sedangkan pak Bambang, mama Rina dan Syakila hanya diam. Mereka hanya bisa memandang Aira dan Dion secara bergantian.
Dengan air mata yang terus menetes, Aira memakan sarapannya. Syakila yang merasa kasihan pun hendak mendekati Aira, tapi Dion melarangnya.
"Diam di tempat mu!" Dion menatap tajam istrinya.
"Tapi kasian Aira, mas," ucap Syakila.
"Biarkan dia menghabiskan sarapannya! Karena dia bukan anak kecil yang harus selalu di bujuk dan hanya menghabiskan waktunya untuk menangis," kata Dion.
Aira menghabiskan makanan yang ada di piringnya, setelah itu ia naik ke lantai atas tanpa pamit dengan siapa pun.
Ia menaiki anak tangga dengan cepat, sesampai nya di kamar. Ia menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, ia menangis sesegukan.
"Benarkah aku seperti anak kecil?" tanya nya pada diri nya sendiri.
"Kenapa kak Dion memarahi ku? Kenapa?"
__ADS_1
Tiba-tiba, seseorang menepuk pundaknya.
"Aira..!" suara itu memanggil namanya. "Maafin aku ya, aku gak bermaksud buat marahin kamu! Aku ngelakuin itu semua demi kebaikan kamu," ucapnya orang itu yang tak lain adalah Dion.
Aira bangkit dan menghadap pada Dion yang berbicara kepadanya.
"Kak Dion gak salah, Aira lah yang salah. Selama ini selalu bersikap ke kanak-kanakan," ucap Aira.
Perlahan Dion mendekat dan memeluk tubuh Aira.
"Kamu harus kuat dan yakin bahwa Raka akan kembali, ini ujian untuk kalian berdua. Dan aku yakin kalian pasti mampu melewati ini semua," ucap Dion dengan suara lembut.
"Sudah tiga bulan setelah kepergian kak Raka, tapi hanya bulan pertama dia menghubungi Aira, kak!"
Aira terus menangis, ia takut sangat takut bahwa suaminya akan melupakannya.
Syakila yang berada di pintu kamar itu, tersenyum kecil. Ia berharap suaminya bisa membujuk Aira agar melepaskan beban rindu di hatinya dan tidak terus-terusan terpuruk seperti itu.
Setelah Aira agak tenang, Dion segera pamit berangkat ke kantor.
Sedangkan Aira, ia menghapus air matanya. Dan segera turun kelantai bawah.
Ia berjalan menuju dapur, dan mengeluarkan semua peralatan membuat kue nya.
Terdengar senandung kecil dari bibirnya.
Mama Rina dan Syakila merasa lega melihat keadaan Aira.
Hari itu, Aira menghabiskan waktunya dengan membuat macam-macam kue. Mulai dari brownis sampai cake rainbow, ia membuat semua kue itu sendirian.
Mama Rina dan Syakila menjadi juri chef, yaitu tukang icip-icip. Ehh bukan tukang icip-icip tapi tukang menghabiskan🤭
Malam harinya.
Aira tertidur dengan lampu yang menyala sambil memeluk foto suaminya.
Tiba-tiba, ada seseorang yang diam-diam masuk ke dalam kamar nya. Orang itu mematikan lampu, ruangan yang tadinya terang benderang kini berubah menjadi gelap gulita tanpa sepercik cahaya pun.
Perlahan orang itu membekap mulut Aira.
Aira mencoba menjerit minta tolong, namun karena mulutnya di bekap. Membuat ia menjadi kesulitan untuk berteriak.
**Bersambung..!!
Maaf, dua hari ini up nya telat 🙏 othor lagi sibuk😂
Insyaallah nanti othor akan usaha buat up lagi, tapi othor gak janji ya🤗
Happy reading😘**
__ADS_1