
Den Haag (the huage) Belanda.
Di sebuah penginapan, seorang Pria yang bersandar di sebuah kursi. Terlihat sedang memijat pelipisnya.
Penampilannya sangat kusut, wajahnya yang mulai di tumbuhi jambang halus dengan rambut gondrong nya dan juga tubuh nya yang nampak kurus, membuat nya semakin terlihat kacau.
Rasa nya Pria itu sudah sangat tidak betah berada di tempat itu, walaupun ia memiliki dan membawa segalanya ke tempat Asing itu. Namun semua itu tidak ada artinya jika di bandingkan dengan kebersamaan nya dengan sang istri.
Ya..! Dia lah Rakanda Wiryawan. Ia menjalani pengobatan nya dengan serius dan sungguh-sungguh. Bahkan ia tidak menghubungi istrinya sama sekali. Rindu! Tentu ia sangat rindu. Namun semua ia tahan, karena ia ingin fokus pada pengobatannya agar bisa segera kembali ke Tanah Air.
"Maaf kan aku sayang.. Aku sengaja tidak menghubungi mu. Karena aku tidak ingin lemah akibat melihat air mata mu yang terus menetes," ucapnya sembari memandangi foto Aira di layar Ponselnya.
"Aku tahu kau merindukan ku disana! Aku disini pun merasakan hal yang sama, yaitu Rindu..! tapi ini semua ku lakukan agar aku bisa dengan cepat sembuh dan menjadi normal seperti Pria pada umumnya agar kita bisa cepat bersatu dan berkumpul kembali."
Setelah puas memandangi foto sang istri, Raka segera pergi ke salon untuk memotong rambut nya. Setelah itu ia akan memulai lagi terapi nya untuk hari ini.
Setelah selesai dengan urusan rambutnya, kini ia pergi ke tempat ia menjalani Terapi penyakit yang ia derita.
"Wah.. Tuan! Tidak saya sangka perkembangannya akan secepat ini," ucap Mr James yang menangani penyakit impoten yang si derita oleh Raka.
"Kira-kira kapan saya akan sembuh total Mr?" tanya Raka.
"Mungkin tidak lama lagi, hanya menunggu pemulihannya saja," kata Mr James.
"Lalu, apakah saya bisa melakukan pekerjaan berat, seperti lembur kerja dan semacam nya?" tanya Raka lebih menditeal.
"Untuk sementara waktu, anda harus menghentikan aktivitas-aktivitas yang melelahkan. Yang membuat otak anda berfikir keras. Karena hal itu semua akan membuat daya tahan tubuh anda cepat lemah," ucap Mr James. "Dan anda harus berhenti merokok atau meminum minuman ber alkohol, yang harus anda utamakan adalah mengonsumsi makanan bergizi seimbang, seperti sayur-sayuran dan semacamnya," jelas Mr James panjang lebar.
Raka hanya menganguk-angguk kan kepalanya tanda mengerti ucapan Mr James.
"Baikalah, saya rasa penjelasan saya sudah cukup. Sekarang mari kita mulai lagi terapi nya." Mr James memberitahu Raka bahwa terapi untuk hari ini akan segera di mulai.
Raka segera bersiap, dan melakukan terapi nya. Ia selalu bersemangat saat menjalankan terapi itu, ia berharap akan segera sembuh dan bisa segera terbang ke Indonesia.
***
Pagi hari.
Aira sudah bersiap. Rencananya hari ini ia akan pergi ke Taman. Ia ingin merasakan angin sejuk di luar Rumah.
__ADS_1
Saat ia hendak berangkat, tiba-tiba mama Rina memanggilnya.
"Sayang, kamu mau kemana? Kok pagi-pagi sudah rapi dan cantik?" tanya mama Rina.
"Aira pengen ke taman Ma." timbal Aira.
"Terus temen kamu siapa?" tanya mama Rina.
"Sendiri dong ma, Aira mau ajak Syakila. Tapi kayaknya dia capek," ucap Aira.
Syakila meneriaki nya dari lantai atas.
"Hey.. Ai! Siapa bilang aku capek? Orang kamu gak bilang sama aku kalo mau jalan-jalan," kata Syakila, lalu buru-buru ia turun dari lantai atas itu. "Let's go! Kita berangkat sekarang!" Syakila mendekati Aira dengan semangat 45.
"Seriusan kamu mau ikut, pake daster kaya gitu?" tanya Aira sambil tersenyum kecil.
Syakila melihat penampilannya sendiri dari kaki hingga ke tubuhnya. "Ahh, peduli amat. Masalah fasion bukan urusan, yang penting bawa duit banyak! Lihat ini!" Syakila terbahak sambil mengeluarkan card dari saku daster yang ia pakai.
"Betul itu Kila, mama juga dulu seperti ini saat mengandung Raka. Mama selalu jalan-jalan dan menghabiskan uang papa!" tiba-tiba mama Rina menyahuti perkataan Syakila.
"Ya udah, yuk kita berangkat!" Aira keluar dari rumah itu.
Syakila mengekori Aira. "Ai, tapi kita gak ke taman doang kan! Nanti kita makan-makan juga ya, terus kita shopping ke mall," kata Syakila.
"Mang, kita ke taman yang ada di dekat cafe X ya," ucap Aira pada mang Jajang.
Ya.. Setelah Raka ke Belanda. Mama Rina mengajak mang Jajang ikut tinggal di rumah putra dan menantunya. Agar mudah jika ingin kemana-mana.
Tentunya mang Jajang sangat senang, saat ia mendengar akan ikut ke rumah Raka dan Aira.
Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit, akhirnya mang Jajang menepikan mobil yang ia kendarai di pinggir jalan yang tak jauh dari taman yang di maksud Aira.
"Ai, kok kita ke taman ini sih!" Syakila mengekori Aira dengan lambat. Karena perutnya yang mulai membuncit. "Ai, jangan cepet-cepet dong! Aku susah nih jalannya." protes Syakila.
"Ya udah! Aku pelan-pelan nih!
Setelah sampai di dalam taman, Aira menyapu seluruh bagian taman itu dengan matanya.
Dan akhirnya pandangan mata itu tertuju pada sebuah kursi panjang yang berada di bawah pohon rindang.
__ADS_1
Ia tersenyum lalu mendekat ke arah kursi itu.
Syakila hanya bisa melihat apa yang di lalukan oleh Aira, sepupu yang sudah di anggap sebagai adik kandungnya itu.
Aira duduk sambil mengeusap-usap kursi itu, lalu ia menerawang jauh. Saat Raka mengajaknya ke taman itu.
Flashback on.
"Kita mau kemana sih! Kok dari tadi gak nyampek-nyampek!" protes Aira, karena ia dan Raka sudah jauh berjalan kaki.
"Ada deh, pokonya aku bakal tunjukin sesuatu sama kamu!" Raka terus menggenggam tangan Aira.
Dan tak lama kemudian, Raka dan Aira sampai di sebuah taman. Ribuan bintang menghiasi langit malam saat itu.
Raka mengajak Aira duduk di sebuah kursi panjang yang ada di taman itu.
"Sini, duduk disini dan kamu lihat bintang-bintang itu!" Raka mendaratkan bokong nya lalu menunjuk bintang-bintang yang menghiasi malam indah itu.
"Terus kenapa dengan bintang-binatng itu?" tanya Aira.
"Indah bukan?" tanya Raka dan di angguki oleh Aira.
"Bintang itu indah, tapi masih indah kamu di mata aku! Dan kamu harus tahu, bintang hanya datang di malam hari dan akan hilang di siang hari. Tapi yang harus kamu ingat! Kalau cinta aku sama kamu gak kayak bintang-bintang itu. Cinta aku gak akan pernah hilang sedetik pun untuk kamu, cinta ini akan bertambah setiap waktu nya," ucap Raka sambil menggenggam jemari Aira dengan sangat erat.
"Raka, aku gak takut buat selalu mencintai kamu, aku juga gak takut buat selalu nyayangin kamu dan aku juga gak takut buat selalu nemenin kamu tapi yang aku takut cuman satu, aku takut kehilangan kamu dan juga cinta kamu," ucap Aira "Ku harap, kita akan terus sama-sama sampai maut misahin kita," sambung Aira.
Flashback off
Aira tersenyum saat mengingat malam itu, malam dimana ia dan Raka menghabiskan malam bersama sebelum mereka menikah.
"Ai, kamu gak papa kan?" Syakila menepuk bahu Aira.
"Aku gak papa." timbal Aira "Kila, apa penantian ku ini gak akan sia-sia?" tanya Aira tiba-tiba.
"Ai, kok kamu bilang gitu sih! Kamu gak percaya sama suami kamu sendiri? Kamu ngeraguin dia?" Syakila mendekati dan merengkuh tubuh lemah itu.
"Aku takut Kila, aku takut dia ngelupain aku, udah hampir sebulan ini dia gak pernah ngehubungin aku lagi. Apa mungkin dia udah sembuh dan dapat perempuan yang lebih baik dari aku," tubuh Aira bergetar di dalam dekapan Syakila.
Bersambung..!!
__ADS_1
Happy readingππ
AWAS ADA TYPOπββοΈπββοΈπββοΈ***