Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Drama Di Pagi Hari.


__ADS_3

Keesokan pagi nya, Aira bangun dari tidurnya dan segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Aduh.. Badan ku sakit semua gara-gara kucing garong ini," ucap Aira sambil meregangkan otot-otonya.


"Sayang.. Kok udah bangun sih," Raka meraba-raba ke samping kiri dan kanannya masih dengan mata terpejam.


"Udah pagi, katanya mau jemput bibi Ratna ke Lampung." kata Aira sambil beranjak dari tepian ranjang itu.


"Hoam.. Jam berapa sih ini?" tanya Raka sambil berusaha membuka kedua matanya.


"Jam setengah lima, buruan bangun nanti kesiangan loh!" teriak Aira yang hendak masuk kedalam kamar mandi.


"Mandi bareng ya," kata Raka.


"Ih, males ya!" sahut Aira dengan cepat.


"Kan biar cepat, kamu kan mandinya lama. Kalo aku kesiangan gimana?" tanya Raka yang kini sudah duduk di tepian ranjang king size itu.


"Modus kamu! Gak, aku gak mau mandi bareng. Bukannya tambah cepat yang ada makin lama dan neko-neko," kata Aira.


Setelah itu Aira benar-benar masuk kedalam kamar mandi, dan memulai ritual mandi paginya.


Sedangkan di lantai bawah, Safira sedang melaksanakan ibadah shalat subuh nya.


Kini ia sedang berusaha membenahi dirinya dan mencoba untuk berbuat baik.


"Asalamualaikum warohmatullah 2x," ucap Safira mengucap salam di akhir shalatnya.


Setelah selesai dengan kewajiban kepada tuhannya, kini Safira segera bergegas menuju dapur.


Namun saat sampai di dapur, ia bingung harus berbuat apa? Karena selama ini, ia tidak pernah memasak atau hal yang berhubungan dengan dapur.


"Ya tuhan, aku harus apa?" tanya nya pada dirinya sendiri.


"Bagaimana ini? Harus ku apakan sayuran ini?" Ia bahkan menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena terlalu bingung.


Tiba-tiba dari arah belakang, ada seseorang yang menepuk pundaknya.


"Aaaaaa..!" Safira berteriak karena terkejut.


"Astaufiraullah kak Fira," ucap Aira yang juga terkejut.


"Ehh Aira, kamu udah bangun," kata Safira.


"Iya, kak Fira ngapain? Kok kayak orang kebingungan?" tanya Aira yang diam-diam memperhatikan gerak-gerik Safira.


"Tadi nya mau masak, tapi kamu tau sendiri kan. Kalau kakak gak bisa masak." timbal Safira dengan kikuk.

__ADS_1


"Ya udah, biar kita masak sama-sama," ucap Aira.


Aira yang di bantu Safira pun segera memulai acara masak mereka. Pagi ini, Aira hanya membuat nasi goreng spesial dan juga ayam goreng.


Namun saat ia hendak menggoreng telur ceplok, tiba-tiba perutnya terasa mual.


Dengan cepat ia berlari ke arah kamar mandi yang ada di area dapur tersebut.


"Aira, kamu kenapa?" tanya Safira yang melihat Aira berlari menjauh.


"Ada apa?" tanya Raka yang baru saja turun dari lantai atas.


"Itu.. Aira tiba-tiba lari ke kamar mandi!" timbal Safira.


Mendengar istrinya yang lari ke kamar mandi, Raka pun segera menyusulnya.


"Sayang, kamu mual lagi?" Raka mendekati istrinya dan mulai memijit tenguk Aira dengan lembut.


"Aku gak papa, udah sana kamu tunggu di luar aja," kata Aira saat keadaannya sudah mulai membaik.


"Aku gak papa kok, aku bakal biasain demi kamu dan anak kita," Dengan setia Raka menemani istrinya yang sedang di landa mual, walaupun dengan menutup kedua matanya.


"Aku gak mau ada telur," ucap Aira.


"Maksud kamu? Telur apa?" tanya Raka yang tidak paham.


"Telur ayam lah, masa telur kamu." timbal Aira dengan sewot.


"Tolong buang semua telur yang ada!" perintah Raka pada Safira.


"Telur ini!" tunjuk Safira dan di angguki oleh Raka. "Tapi kenapa?" tanya Safira lagi.


"Buang saja, jangan tanya lagi! Saya tidak mau anak saya membuat ibunya kesusahan," jelas Raka.


Safira pun paham, dan langsung membuang semua telur yang masih utuh dan yang sudah di goreng nya kedalam tempat sampah.


Tiba lah waktu nya sarapan. Dion dan Syakila pun sudah berada di ruang makan.


"Mau kemana kak Fira?" tanya Aira yang melihat Safira hendak pergi dari ruang makan itu.


"Kakak makan di belakang aja ya," kata Safira. Ia masih tidak enak hati, takut membuat Syakila terganggu dan tidak nyaman.


"Gak usah kebelakang, makan di sini aja!" sahut Syakila dengan cuek.


Safira tersenyum, dan kembali duduk di tempat nya. "Terimakasih Syakila," ucap nya.


"Hmm," Syakila hanya menanggapi ucapan Safira dengan ber hm.

__ADS_1


"Sayang, telur ceplok nya mana?" teriak Dion tiba-tiba.


Mata Syakila terbelalak, sedangkan Raka mengulum senyum dan lain lagi dengan Aira. Ia hanya menundukkan kepalanya, sedangkan Safira hanya menjadi penonton.


"Kok gak ada telurnya?" tanya Dion "Cuman ayam dan ini!" Dion mengangkat sepotong ayam goreng dan seiris timun yang ada di piringnya.


"Aku gak mau telur!" sahut Aira.


"Tapi aku mau." timbal Dion sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh meja makan. Berharap menemukan secuil telur goreng.


"Telurnya gak ada. Udah deh, makan yang ada aja," ucap Syakila.


"Aku gak mau makan ini, maunya telur setengah matang," kata Dion merengek pada Syakila.


"Tapi aku gak mau telur," ucap Aira sambil memandang wajah suaminya.


"Iya iya, gak akan ada telur di antara meja makan ini," kata Raka sambil mengusap pipi istrinya yang cemberut.


Safira yang menyaksikan kejadian lucu yang pertama kali ia lihat itu pun menjadi senyum-senyum.


"Aku gak mau makan kalo gak pake telur ceplok setengah matang," ancam Dion.


"Aku juga gak mau makan kalau ada telur di meja ini," Aira ikut mengancam.


Syakila dan Raka saling lempar pandang. Raka menggerakan bahunya, dan di angguki kepala oleh Syakila.


"Kalau tetep mau makan pake telur, kita pulang aja," kata Syakila pada suaminya.


"Iya, kamu pulang aja Yon. Bikin pusing, gak mau ngalah," sambung Raka.


"Kalian kok mojokin aku sih! Harusnya belain aku, kan aku yang duluan ngidam bukan Aira!" tunjuk Dion pada Aira yang berada di sebrang meja tepat di hadapannya.


"Tapi kan kak Dion lebih tua dari pada aku, jadi harus ngalah dong!" timbal Aira tak mau kalah.


"Sudah cukup!" bentak Raka.


Dion dan Aira terkesiap mendengar perkataan Raka.


"Intinya, kalian mau makan atau enggak? Kalo gak mau makan ya udah. Pergi sana!" usir Raka "Udah lebih dari setengah jam berdebat masalah telur, gak ada habis-habisnya," sambung Raka.


Dengan terpaksa, Aira dan Dion memakan sarapan mereka.


Syakila menjadi lega melihatnya, begitupun dengan Safira. Akhirnya mereka berlima menikmati sarapan mereka dengan tenang.


Setelah sarapan, Aira pergi menuju taman belakang dan di ikuti oleh Dion di belakangnya.


"Hustt," Syakila mengkode Raka.

__ADS_1


"Paling-paling ujungnya mereka saling minta maaf," kata Raka menanggapi Syakila.


Syakila mengangguk, "Ya udah! Aku mau mandi dulu," ucap Syakila lalu berjalan meninggalkan meja makan itu.


__ADS_2