
Jam lima sore, Raka pulang dari kantor.
"Sayang, aku pulang!" teriak Raka saat sudah memasuki rumah mereka.
"Iya mas, kerjaan kantor udah beres?" tanya Aira pada suaminya yang pulang cepat.
"Belum, aku suruh Dion yang nyelesain." timbal Raka sambil mendaratkan bokong nya di kursi ruang makan. "Kita harus siap-siap, Aditia temen lama mas ngajakin makan malam di rumahnya," sambung Raka yang tangannya memanjang ke arah ayam goreng yang ada di atas meja makan itu.
"Husst, tangan nya tuman!" Aira memukul punggung telapak tangan suaminya.
"Heee, aku pengen," ucap Raka dengan nyengir.
"Jam berapa makan malam nya?" tanya Aira kemudian. "Kalo mau makan sesuatu biasain cuci tangan dulu, mas," sambung Aira, mengingatkan suaminya yang suka sembrono.
"Habis magrib entar kita berangkat." timbal Raka "Iya-iya, ni aku cuci dulu," Raka mencelupkan tangannya kedalam mangkuk cucian yang memang sudah di siapkan oleh istrinya.
Raka mulai menyantap ayam goreng dan sambal hijau yang di buat istrinya, tak lupa dengan nasi putih hangat.
"Pelan-pelan makannya mas!" Aira memperingati suaminya lagi.
"Iya, kamu gak makan?" tanya Raka pada istrinya yang duduk di sampingnya.
"Enggak, aku lagi gak nafsu makan!" timbal Aira.
"Sejak kapan? Jangan-jangan kamu hamil, kayak Syakila dan istrinya Aditia, sayang!" Raka mengentikan makannya, dengan cepat ia mencuci tangannya lalu mulai mengelus perut rata Aira.
"Aku gak hamil mas," ucap Aira dengan wajah sedih. "Aku baru aja datang bulan tadi pagi," sambung Aira.
Raka, menghentikan gerakannya mengelus perut sang istri.
Tanpa Raka sadari, bahwa perbuatannya telah melukai hati Aira.
"Oh, mas fikir kamu hamil," kata Raka, setelah itu ia melanjutkan acara makannya.
Aira pergi dari ruang makan itu, ia berlari ke lantai atas dan segera masuk kamar dan menutup pintu itu.
"Maafkan aku mas, aku belum bisa kasih mas anak," Aira menangis di balik pintu kamar itu.
Raka yang selesai makan, baru menyadari bahwa istrinya tidak ada di sampingnya.
"Sayang!" panggil Raka.
Ia menaiki lantai atas untuk mencari keberadaan istrinya.
"Sayang.." panggil Raka saat sudah berada di depan kamar.
Aira membuka pintu itu, setelah menghapus air matanya.
"Sayang kamu kenapa?' tanya Raka yang melihat wajah istrinya memerah.
__ADS_1
"Enggak, aku gak papa," kata Aira, lalu berjalan kearah kamar mandi. Meninggalkan Raka yang masih berdiri di ambang pintu.
Raka mengeryitkan dahi, "Kenapa Dia? Apa aku salah bicara?" tanya Raka pada dirinya sendiri.
Saat Raka hendak mencari baju couple untuk ia dan Aira kenakan untuk makan malam di kediaman Aditia. Tiba-tiba, bendah pipih kecil terjatuh mengenai kakinya.
"Ini!" Raka termenung saat melihat benda pipih itu. "Ya tuhan! Ternyata ini yang membuat istri ku menangis," Raka memejamkan matanya sejenak, ia menyadari bahwa perbuatannya tadi telah membuat hati istrinya terluka.
Tespack yang sudah di gunakan, namun hasilnya negative.
Raka mengurungkan niatnya mencari pakaian. Ia segera masuk kedalam kamar mandi yang tidak di kunci oleh istrinya.
"Mas! Kenapa kesini? Bikin kaget tau gak!" Aira sedikit terkejut karena suara bantingan pintu kamar mandi.
"Maafkan mas, sayang!" Raka memeluk tubuh istrinya dengan erat.
Aira menjatuhkan sikat gigi yang ia pegang. "Kamu kenapa mas? Kok tiba-tiba minta maaf," tanya Aira dengan heran.
"Mas minta maaf, atas sikap mas tadi. Mas udah bikin kamu sedih," ucap Raka. "Mas tahu, kalo kamu sangat-sangat ingin punya Anak, melebihi keinginan mas," sambung Raka.
"Kita kan, bisa usaha lebih keras lagi mas. Mungkin tuhan belum kasih kita kepercayaan untuk saat ini," kata Aira.
"Sana keluar! Aku mau mandi," Aira melepaskan pelukan suaminya, lalu mendorong tubuh kekar itu keluar dari kamar mandi.
"Kok ngusir! Ayo kita mandi bareng dan bikin kecebong nya," kata Raka.
"Aku lagi haid mas, udah sana pergi!" usir Aira.
Jam setengah tujuh malam mereka segera meluncur ke kediaman Aditia.
Sekitar satu jam kemudian, mereka sampai di kediaman Aditia.
Mereka berdua di sambut hangat oleh Aditia.
"Wah..! Aku kira kau dan istrimu tidak jadi datang, istri ku sudah masak banyak sekali!" Aditia sangat antusias dengan kehadiran Raka dan Aira.
"Mana mungkin ku tidak datang, makan gratis!" Canda Raka. "Oiya, kenalan dulu dong dengan bidadari ku," sambung Raka memperkenalkan istrinya pada Aditia.
"Aku sampai lupa, sangking senangnya," kata Aditia "Saya Aditia," Aditia menyodorkan tangannya pada Aira.
"Aira," ucap Aira dengan ramah sambil menyambut uluran tangan itu.
"Ya sudah, ayo kita langsung menuju dapur saja. Istri ku sedang menata makanan nya," kata Aditia langsung menuju dapur dan di ekori oleh Aira dan Raka.
Sesampai nya mereka di ruang makan.
"Sayang..!" panggil Aditia. "Ini tamu kita sudah datang," kata Aditia pada Farida yang sedang menata makanan di atas meja dengan perut buncitnya.
"Mas," Farida mendekat dengan perlahan pada Suaminya.
__ADS_1
"Kenalkan, ini teman mas, Raka dan Istrinya," ucap Aditia pada istrinya.
"Farida," ucap Farida menyalami Raka dan Aira bergantian.
"Ayo kita duduk dulu, sebentar lagi siap!" Aditia dan Raka duduk di kursi ruang makan itu.
Sedangkan Aira, ia ikut membantu mbok Yuyun dan Farida.
Acara makan malam hanya di isi dengan dua pasang anak manusia itu, sedangkan mbok Yuyun pembantu di rumah itu, memilih untuk makan malam di belakang.
"Wah, masakan mu enak sekali, Ida," puji Aira sambil mengacungkan jempol.
"Ah.. Mbak Aira bisa saja. Masakan Ida hanya masakan kampung mbak, Ida gak bisa masak kayak di lestoran itu," kata Farida.
"Istri ku ini, jago sekali membuat kue. Ia bisa membuat berbagai macam kue loh!" Raka memamerkan kepandaian istrinya.
"Kalo gitu, Ida boleh minta ajarin dong Mbak," kata Farida penuh harap.
"Mas Raka bohong," ucap Aira dengan tersenyum kecil.
Di tengah-tengah obrolan mereka sambil makan malam itu, tiba-tiba Karina datang dengan keadaan mabuk ke ruangan makan itu.
"Ehh, pelakor! Kamu bawa siapa kesini?" cerocos Karina tanpa sadar.
Mendengar pelakor, Farida langsung mendundukan wajahnya.
Sedangkan Raka dan Aira terkejut, Mereka tidak mengenal siapa wanita mabuk itu.
"Dit, siapa wanita itu?" tanya Raka.
"Dia istri pertama ku!" timbal Aditia.
"Kau beristri dua!" Raka terkejut mendengar jawaban Aditia.
"Iya, dia istri pertama ku." timbal Aditia lagi.
Tak lama kemudian, Masuk lagi seorang pria yang tak lain adalah Bara.
"Maaf menggangu kenyamanan kalian!" Bara segera membawa Karina yang mabuk ke lantai atas.
Lagi-lagi, Raka dan Aira di buat semakin bingung.
Setelah acara makan malam itu, Aditia menceritakan semua masalah hidupnya yang rumit. Dan juga pertemuannya dengan Farida.
Akhirnya, Raka dan Aira mengerti dengan posisi Aditia. Mereka berdua ikut mendoakan Aditia dan Farida agar selalu bahagia, dan juga mendoakan agar Karina cepat sadar dan di beri tuhan hidayah.
Tak terasa, hari semakin larut. Raka dan Aira segera pamit pulang.
***Bersambung..!!
__ADS_1
Yang mau tahu siapa itu, Aditia, Farida dan Karina. Bisa tengok cerita othor yang judulnya "Pengorbanan terakhir istri kedua sang CEO"