Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Alhamdulilah


__ADS_3

Satu bulan kemudian. Di apartemen Dion dan Syakila, Dion di buat panik dengan keadaan Syakila.


"Mas.. Sakit.." pekik Syakila dengan suara tertahan.


"Sayang.. Kamu kenapa?" panik Dion.


"Perut ku mulas, sakit sekali.." rintih nya.


"Darah.. Ada darah.. Kayak nya kamu mau lahiran," bukan nya membantu Istrinya, Dion malah berlari kesana kemari.


"Mas.. Tolong.. Cepat hubungin Ibu atau Aira.." jerit Syakila.


"Haduh.. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lalukan?" bingung Dion.


"Kamu sini dulu.. Mas cari pertolongan dan cari cara, mas gak bisa bawa kamu ke Rumah sakit sendirian. Mas takut," kata Dion sambil meyandarkan kepala istrinya di bantal yang telah ia susun tinggi.


"Mas.. Ayo cepat, hubungin Ibu dan Aira. Aku udah gak tahan," kata Syakila sambil meringis menahan sakit.


Melihat Istrinya yang berkeringat dingin dengan wajah pucat. Dion segera menelpon Raka, dan juga Ibu dan Ayahnya.


Setelah menghubungi Raka dan Keluarganya, Dion kembali menemani Istrinya yang terbaring telentang di atas Kasur.


"Sayang.. Bertahan lah, demi Aku dan anak kita," ucap Dion sambil menggenggam tangan sang Istri. Istrinya tersenyum sambil menahan sakit saat melihat mata suaminya yang sudah menganak sungai.


"Aaakhh.. Sakit.." pekik Syakila.


"Aku harus bagaimana? Aduh.. Bagaimana ini? Aku harus bagaimana?" Dion menjadi semakin takut dan bingung. Air mata yang sedari tadi sudah menganak sungai pun tak terbendung lagi.


"Ayo Sayang.. Tarik nafas dalam-dalam, lalu keluarkan.." perintah Dion pada Istrinya.


Dengan segala sisa Ke kuatannya Syakila pun menarik nafas dalam-dalam lalu mengghembuskannya.


"Sayang.. Kepala anak kita keluar," kata Dion sambil menangis. "Ayo Sayang.. Lakukan lagi, yakin lah Tuhan akan membantu kita," sambung Dion.


"Ahkk.. Mas, aku udah gak tahan lagi.." jerit Syakila. "Huh..Huhh.." nafas Syakila tersengal-sengal.


Dan tiba-tiba saja.. Oekk.. Oekk..


"Alhamdulilah.." ucap Syakila dan Dion bersamaan.


"Mas.. Anak kita lahir.." lirih Syakila dengan suara lemah.


"Iya.. Iya sayang. Mas bersihkan dulu, setelah itu kita telpon Dokter," kata Dion sambil mengambil Kain untuk membersihkan Anaknya yang baru lahir berjenis kelamin Laki-laki itu.


Setelah ia membersihkan putra kecilnya, ia segera mengambilkan air hangat untuk sang Istri.


"Ini sayang, kamu minum dulu. Setelah itu, beri putra kita Asi untuk pertama kalinya," ucap Dion kepada sang Istri.

__ADS_1


"Apa gak baiknya di Azan'in dulu, Mas." kata Syakila.


"Ahh.. Yang mana aja duluan lah, kasian dia. Beri dulu sedikit Asi setelah itu baru Mas Azan'in." Dion memberikan Bayi mungil itu kepada Istrinya.


Drap.. Drap.. Drap.. Suara langkah kaki memasuki Apartemen mereka.


"Ayo.. kita bawa Syakila ke Rumah sakit," ucap Bu Yanti yang baru saja masuk bersama Pak Budi.


"Hah.. Sudah lahir!" kejut Bu Yanti kemudian.


"Sudah Bu, Alhamdulilah lahirannya lancar walaupun tanpa bantuan Dokter dan Alat medis!" sahut Dion.


"Alhamdulilah.." Kata Bu Yanti dan Pak Budi bersamaan.


Dan tak lama Kemudian, Raka dan Aira juga tiba di Apartemen itu.


"Kak Dion.. Kok belum di bawa Ke Rumah Sakit?" tanya Aira yang yang juga baru masuk ke Dalam kamar.


"Bayi nya udah lahir, Ai..! Baik nya kita telpon Dokter aja, biar Dokter yang kemari." jawab Dion.


"Lalu.. Siapa yang membatu Syakila bersalin?" tanya Aira.


"Aku lah.. Siapa lagi? Hanya ada aku dan Syakila di tempat ini." bangga Dion.


"Wah.. Ternyata kak Dion sudah jadi Dukun beranak," puji Aira dengan mata berbinar.


"Mas.. Ini udah, ayo Azan'in dulu.


"Setelah di Azan'in Dion, Aira meminta nya dari tangan Dion. Dion pun memberikan anaknya.


Aira menciumi wajah mungil Bayi itu. "Emm.. Cantiknya ponakan Tante.." kata Aira dengan gembira.


"Ai.. Bayi nya laki-laki!" Seru Dion.


"Masa sih! Tapi kok Cantik," kata Aira.


"Huwaa.. Mata Aira mulai rabun," Ucap Dion sambil pura-pura menangis.


"Hahahaha.." tawa Semua Orang yang ada di dalam kamar itu termasuk Syakila.


Tak lama kemudian, Dokter yang sebelumnya sudah di hubungi oleh Dion pun tiba di Apartemen itu.


"Wah wah.. Bayi nya lahir dengan sehat, Ibu nya juga sehat setelah melahirkan. Jadi Ibu dan Bayi tidak perlu di Rawat di Rumah sakit ya, Saya hanya perlu memberikan suntik kesehatan dan juga Vitamin. Selebihnya, Ibu dan Anak cukup di Rawat dan Istirahat di Rumah." kata Dokter itu.


"Iya Dokter." timbal Dion.


"Lalu.. Apakah Bayi nya sudah di beri Asi Eklusif untuk pertama kali nya?" tanya Dokter itu.

__ADS_1


"Sudah Dokter.. Selepas saya bersihkan tadi, langsung kami beri Asi." jawab Dion.


"Nah, kalau begitu! Ini Vitamin nya jangan lupa di habiskan. Dua hari lagi, saya akan kembali memeriksa keadaan Ibu dan Bayi nya," ucap Dokter itu sambil memberikan bungkusan yang berisi Vitamin. "Kalau begitu Saya pamit dulu," sambungnya.


"Apa tidak baiknya di antar Dokter.." tawar Dion. "Hari sudah semakin larut," tambah Dion.


"Tidak usah, terimakasih. Saya kemari bersama Suami saya kok, Dia menunggu di Mobil," timbal Dokter itu.


"Kenapa tidak di ajak masuk?" tanya Bu Yanti.


"Tadi saya sudah mengajak nya masuk, Bu. Tapi Suami saya tidak mau, dia agak sedikit pemalu, Hehee." jelas Dokter itu. Setelah itu, ia benar-benar pamit meninggalkan Apartemen Dion dan Syakila.


Keesokan pagi nya.


"Ayo Pa. Mama udah gak sabar," ucap Mama Rina yang tergesa-gesa turun dari Mobil dan hendak berlari ke arah Apartemen Dion dan Syakila.


"Iya.. Tapi hati-hati dong, kalau jatuh kan gak cuman sakit tapi juga malu di lihat orang," kata Papa Bambang.


"Papa tidak mengerti.. Mama pengen cium cucu pertama Mama," ucap Mama Rina. "Lelaki tahu apa kalau soal beginian!" sambung Mama Rina.


Dan "Asalamualaikum.." ucap Mama Rina dengan semangat.


"Waalaikum salam!" timbal semua Orang bersamaan, kecuali Aira.


"Mana? Mana Bayinya? Mama mau gendong," kata Mama Rina yang langsung nyelonong mendekati Syakila.


"Ma.. Tolong kecilkan suara Mama, Aira dan juga Bayi nya sedang tidur," kata Raka sambil mengerucutkan bibirnya.


"Oo.. Aira tidur," ucap Mama Rina sambil menengok pada Aira yang tidur di kaki Raka di kasur lantai yang di bentang di ujung kamar Syakila dan Dion.


"Sini.. Sini Bayi nya, Mama mau gendong cucu pertama Mama," kata Mama Rina sambil memanjangkan tangannya pada Dion.


"Ini Ma, dia masih tidur," kata Dion sambil memberikan Bayi nya.


"Ulu ulu.. Cantiknya, wajahmu seperti wajah Dion saat kecil, tapi kenapa hidung mu pesek seperti Ibu mu Gadis kecil," ucap Mama Rina sambil menciumi hidung pesek Bayi itu.


"Ma.. Bayi nya laki-laki, kenapa kalian bilang dia perempuan yang cantik!" protes Dion untuk yang kesekian kali nya.


"Hahahaha.."Semua orang kembali tergelak.


"Ada apa? Kenapa?" tanya Aira yang terkejut dan terbangun dari tidurnya.


Bersambung..!


Jangan lupa, tinggalkan jejak dan Beri Author remahan kerupuk melempem ini sedikit dukungan. Agar lebih semangat untuk up😊


Gak maksa kok, buat yang mau ngasih aja😂

__ADS_1


__ADS_2