
"Maaf in Intan ya Tante, Intan gak bisa masak," ucap Intan dengan kikuk.
Aira menyunggingkan senyum nya saat mendengar pengakuan Intan.
Sedangkan Raka, hanya geleng-geleng kepala melihat Intan yang tidak tahu malu.
Intan pun pura-pura menangis, Ia mencoba mencari simpati Raka dan mama Rina. Tentu hal itu tidak berlaku dan tidak mempan untuk Raka. Tapi tidak dengan mama Rina.
"Sudah Sayang, jangan menangis! Kamu kan bisa belajar masak dari sekarang, tidak ada kata terlambat jika kamu mau belajar," ucap mama Rina dengan lembut pada Intan.
"Iya Tante, Tante emang bisa banget ngerti'in Intan," kata Intan yang nampak sangat sedih.
Aira menatap sendu pada Intan dan mama mertua nya itu, Ia merasa iri. Di dalam hati kecilnya jujur saja Aira juga ingin di sayangi oleh mama mertua nya seperti Intan.
"Yuk sayang, kita keluar aja. Lagian kan mama udah makan," ajak Raka, karena Raka tahu bahwa istrinya iri dengan Intan. Dan ingin di manja juga oleh mama Rina.
Aira pun mengikuti Raka keluar dari kamar mama Rina.
Seminggu kemudian.
Kini mama Rina sudah mulai pulih Dan sudah bisa beraktivitas seperti biasanya namun pola makan mama Rina masih terus di awasi oleh Aira, mama Rina juga sudah tidak menolak masakan yang di buat oleh Aira.
Hari ini, Intan akan memulai rencana nya untuk menghabisi satu persatu penghuni Rumah itu.
"Hmm.. Kayaknya di mulai dulu dari Om Bambang deh," Guman Intan di dalam Kamarnya dengan memegang botol kecil berisikan Racun.
Di dapur, mbok Ani sedang membuat kan Kopi untuk Papa Bambang dan juga untuk Raka.
Setelah Kopi itu jadi, mbok Ani segera meletakan nya di atas meja.
Diam-diam Intan datang dan memberi racun di salah satu cangkir kopi itu tanpa sepengetahuan mbok Ani.
Di aduknya kopi itu, lalu segera pergi dari dapur.
Tak lama, datang lah kang Parmin dan mang Jajang.
"Mbok.. Kopinya kami minum ya," kata mang Jajang
"Itu kopi buat Bapak dan den Raka, sebentar lagi mereka turun." timbal mbok Ani.
Namun kang Parmin langsung menyeruput salah satu dari Kopi di dalam cangkir itu.
"Haduh.. Kenapa di minum to Kang," kata mbok Ani.
"Tinggal bikin lagi to Mbok, Saya mau cepet. Nanti kerja saya kesiangan gimana?" kata kang Parmin ngeles.
"Ya udah.. Kalau gitu! Masa kang Parmin boleh saya tidak," ucap mang Jajang "Kopinya saya minum juga yang ini." sambung mang Jajang dan langsung ikut menyeruput kopi yang satunya lagi.
__ADS_1
Tak lama setelah meminum kopi itu.
"Aduh! Perut saya kok mulas ya," ucap mang Jajang "Saya buang Air dulu ya." sambungnya.
Mang Jajang pun pergi ke toilet, dan cukup lama ia berada di toilet. Saat ia kembali, mbok Ani sedang menangis dan berteriak minta tolong.
"Tolong..! Bapak, den Raka! Semua yang ada di sini, tolongin Mbok!" teriak mbok Ani
"Masyaallah, kang Parmin kenapa Mbok?" tanya mang Jajang yang berlari terbirit-birit sambil menarik sarung yang ia pakai.
"Gak tahu Mang, habis minum kopi tadi dia langsung kejang-kejang dan mulutnya keluar busa." jelas mbok Ani sambil menangis.
Papa Bambang, Raka dan juga Aira berlari kearah suara teriakan mbok Ani.
"Ya alah! Ada apa ini Mbok? Apa yang terjadi dengan kang Parmin?" tanya Papa Bambang
Mbok Ani pun menjelaskan semuanya pada semua orang yang ada di sana.
"Mang Jajang, ayo kita bawa kerumah sakit!" ajak Raka "Denyut nadi kang Parmin masih ada," sambungnya.
"Iya iya Den," kata mang Jajang lalu ia berlari ke luar dan menyiapkan mobil.
Sedangkan Raka dan papa nya membopong tubuh kang Parmin menuju mobil.
Setelah siap berangkat ke rumah sakit.
"Ayo, cepatlah!" kata Raka
Aira pun segera masuk kedalam mobil bersama Raka.
Sedangkan Papa Bambang, menaiki mobil yang di setir oleh mang Jajang dengan membawa kang Parmin yang sekarat di dalamnya.
Di perjalanan.
"Raka, kamu ngerasa ada yang aneh enggak?" kata Aira membuka pembicaraan.
"Aneh bagaimana Sayang?" tanya Raka.
"Aku ngerasa, penyebab kang Parmin kejang-kejang dan mulutnya mengeluarkan busa adalah racun." jelas Aira.
"Maksud kamu? Ada yang sengaja mau ngeracunin kang Parmin," ucap Raka sambil menatap lurus arah Jalanan.
"Bukan kang Parmin, tapi kamu atau bisa jadi Papa targetnya. Karena kopi yang di minum kang Parmin dan mang Jajang itu adalah kopi untuk kamu dan Papa loh!" jelas Aira lagi.
"Tapi siapa orang nya? Dan apa motifnya kok mau ngeracunin aku sama Papa," kata Raka sambil mengerutkan dahinya.
"Aku gak tahu! Yang pasti, kita semua harus hati-hati," ucap Aira.
__ADS_1
"Aku bakal nyuruh orang buat nyelidikin ini semua," ucap Raka kemudian dia mengelus pucuk kepala Aira Dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memegang setir mobil.
"Setelah ini, aku harus hati-hati sama Intan, bisa jadi targetnya semua keluarga Raka. Aku harus jagain mama, karena Intan dekat sekali dengan mama," ucap Aira dalam hati. "Maafin aku Raka, aku belum bisa bilang sama kamu, aku gak mau bikin kamu semakin panik, Aku bakal cari bukti kalau dalang semuanya adalah Intan." sambung Aira
Setelah menempuh perjalanan ke Rumah sakit sekitar tiga puluh menit, akhirnya mereka sampai.
Empat orang suster datang, dengan membawa Brankar.
Kang Parmin pun di baringkan di Brankar itu dan segera di bawa ke UGD.
"Ya tuhan.. Semoga Parmin selamat," ucap Papa Bambang dengan wajah gusar.
"Papa tenang ya," ucap Aira "Kita doa kan yang terbaik untuk kang Parmin, karena sesungguh nya hidup mati kita sudah di atur sama tuhan Pa." sambung Aira.
"Iya Pa, Aira benar!" sahut Raka.
Tak lama datang lah Intan dan mama Rina dengan tergesa-gesa.
"Apa yang terjadi sama kang Parmin Pa?" tanya mama Rina dengan panik.
"Gak tahu Ma, kata mbok Ani sih. Kang Parmin seperti itu setelah meminum kopi yang baru saja mbok Ani buat." jelas Papa Bambang.
"Ya tuhan.. Kok bisa ya Pa?" ucap mama Rina bertanya-tanya.
"Sial! Seharunya yang sekarat dan berada di dalam saat ini adalah Om Bambang, kenapa malah Parmin sih," gerutu Intan dalam hati.
Diam-diam, Aira selalu mengawasi gerak gerik Intan yang sangat mencurigakan.
Dan tak lama kemudian, Dokter keluar dari UGD tempat kang Parmin di tangani.
"Bagaimana keadaan nya dokter?" tanya Papa Bambang.
"Kami sudah berusaha semaksimal dan semampu kami Pak. Tapi takdir berkata lain, beliau tidak tertolong lagi," ucap Dokter itu.
Semua orang yang ada di sana menghela nafas panjang, kecuali Intan.
"Kalau boleh kami tahu! Apa penyebab kematian pasien Dokter?" tanya Raka.
Deg.. Jantung Intan berdetak tak beraturan, mendengar pertanyaan Raka.
"Bagaimana ini? Kalau sampai ketahuan, mati lah aku," ucap Intan dalam hati dengan penuh ketakutan.
Bersambung..!!
Jangan lupa jejaknya, dan kasih dukungannya ya..😘
Happy reading🤗
__ADS_1