
Mama Rina memeluk Aira, dan Aira membalas pelukan itu.
"Saya melakukan ini karena terpaksa ya, Ingat! Saya tidak akan menerima kamu jadi menantu saya," bisik mama Rina di telinga Aira.
"Makasih ya Ma," ucap Aira sambil melepas pelukan itu.
Setelah berpelukan dengan Mama mertuanya, Aira beralih mendekat pada Papa mertuanya.
"Pa, Aira pamit ya. Papa jaga kesehatan dan jangan makan makanan sembarangan," ucap Aira di depan wajah Papa Bambang.
"Iya nak, nanti Papa akan sering-sering main ke Rumah kalian," kata Papa Bambang lalu memeluk tubuh anak
menantunya.
Raka, Dion dan Syakila tersenyum melihat kedekatan Aira dan Papa Bambang.
"Nanti Aira akan Sering-sering kirim makanan untuk Papa," Aira membalas pelukan Papa mertuanya dengan hangat.
Setelah berpamitan dengan Mama dan Papanya, kini Raka dan Aira yang di ikuti oleh Dion juga Syakila pergi meninggalkan Rumah megah milik orang tua Raka.
"Raka pamit ya Pa," ucap Raka saat hendak memasuki mobilnya.
"Iya, hati-hati," kata Papa Bambang "Jaga istri kamu, Raka! Papa selalu berdoa agar di Rumah kalian yang baru, kalian akan selalu di beri tuhan kesehatan dan kebahagian." tambah Papa Bambang.
"Iya Pa." timbal Raka.
"Dion dan Kila juga ikut pamit ya Om," ucap Dion
dan di angguki oleh Papa Bambang.
Setelah kepergian Raka dan Aira, Papa Bambang kembali masuk kedalam Rumah megah itu.
Papa Bambang duduk di sSofa yang berhadapan dengan mama Rina/ Istrinya.
"Huhh.. Ternyata Raka lebih memilih Aira dari pada kita ya Pa," ucap mama Rina dengan wajah lesu.
"Raka sudah dewasa Ma, dia sudah punya kehidupan sendiri. Biarlah dia hidup bahagia dengan keluarga kecilnya," kata papa Bambang.
"Tapi apa sih Pa, Kelebihan Aira perempuan kampung itu. Padahal Mama udah sering ngenalin perempuan cantik dan juga berpendidikan," ucap mama Rina.
"Sudah lah Ma, tidak usah di ributkan!" bentak Papa Bambang lalu pergi meninggalkan mama Rina sendirian.
***
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat puluh menit, kini mobil Raka sampai di depan halaman luas sebuah Rumah mewah.
"Ayo turun!" ajak Raka pada Aira, Dion dan juga Syakila.
Mereka semua turun dari Mobil itu.
"Ini Rumah kita Raka?" tanya Aira
"Iya sayang, ini Rumah mu. Rumah di mana tidak ada lagi orang yang akan menggangu dan mengusik kebahagian kita" timbal Raka.
Aira memeluk tubuh Raka dan menangis di dada bidang itu.
.
"Hey, kenapa menangis?" tanya Raka sambil membelai lembut rambut istrinya..
"Aku bahagia sayang, aku bahagia," ucap Aira.
Dion dan Syskila tersenyum melihat Aira dan Raka.
"Kayaknya, kita harus pindah Rumah juga deh," bisik Dion.
"Kenapa kok pindah?" tanya Syakila.
"Biar kita lebih bebas kalo mau Nga-nu!" bisik Dion, dan membuat mata Syakila mendelik kearahnya.
"Mesum banget sih!" Syakila mencubit perut Dion dengan keras hingga sang empu meringis kesakitan.
"Auuhh.. Sakit," ringis Dion.
__ADS_1
"Kalo kita pindah, emang gak kasian sama ayah dan ibu?" tanya Syakila kemudian.
"Ibu sama ayah pasti setuju." timbal Dion "Apalagi kalau mereka tahu kalau kita ingin bebas bikin kecebong," sambung Dion.
Di tengah-tengah perbincangan Dion dan Syakika. Tiba-tiba Raka memberhentikan perbincangan pasangan gesrek itu.
"Kalian berdua mau ikut masuk enggak?" teriak Raka.
"Ya mau lah!" sahut Dion, lalu ia dan Syakila menyeret koper milik Aira dan Raka memasuki Rumah mewah itu.
Sesampainya Di dalam rumah yang berlantai dua itu.
"Sayang, maaf ya! Rumah ini gak semewah dan selengkap fasilitas di Rumah Papa," ucap Raka.
"Semua ini sudah lebih dari cukup Raka." timbal Aira.
Raka sangat bahagia bisa mendapatkan istri yang baik dan sabar seperti Aira.
"Aku beruntung memiliki kamu sayang," ucap Dion.
"Ehemm," Dion berdehem, sengaja ingin membuat Raka dan Aira berhenti bersikap sok romantis itu.
"Ini kopernya mau di taruh di mana Tuan muda?" Dion sengaja memanggil Raka dengan sebutan Tuan muda.
"Letakan di kamar atas yang urutan kedua, mang Dion!" timbal Raka yang membuat Dion semakin menjadi kesal.
"Emang enak!" kekeh Syakila.
Dengan wajah kesal, Dion menarik koper itu menaiki anak tangga.
Malam hari nya.
"Kami mau pamit pulang," ucap Dion tiba-tiba setelah makan malam.
Aira mendongakkan wajahnya.
"Kenapa pulang?" tanya nya dengan wajah sedih.
"Lalu kamu mau nya gimana?" tanya balik Dion.
"Temani istri ku dulu Kila, untuk 2-3 hari saja," pinta Raka.
"Kalau aku sih mau-mau aja, tapi gak tahu tu Pak tua!" tunjuk Syakila pada Dion.
"Boleh lah! Tapi apakah Kamar disini kedap Suara?" tanya Dion dengan wajah pura-pura polosnya.
Raka tersenyum mendengar pertanyaan sahabatnya itu. "Tentu lah! Jika kau dan istri mu takut kami mendengar aktivitas kalian, kalian tenang saja. Itu tidak akan terjadi," kata Raka.
"Pak tua!" Syakila menyenggol Dion menggunakan sikutnya.
"Kenapa kamu marah? Itu kan demi kebaikan kamu." timbal Dion.
"Aku mau tidur duluan ya," ucap Aira tiba-tiba hingga membuat Dion dan Syakila menatap nya.
"Tidur lah sayang, tubuh mu pasti masih sangat lelah," ucap Raka.
"Kila, kalian pilih lah kamar yang mana aja ya," ucap Aira lalu pergi menaiki anak tangga.
"Iya, istrirahatlah Aira. Sebentar lagi juga kami akan istirahat," kata Syakila.
Setelah kepergian Aira, Syakila juga pamit pada Raka dan Dion yang sedang mengobrol.
"Raka, pak tua. Aku ke atas duluan ya," ucap Syakila.
"Tidur di kamar yang mana?" tanya Dion.
"Kamar yang paling awal," timbal Syakila lalu pergi begitu saja.
Raka dan Dion berbincang serius.
"Raka, apakah kamu gak pengen liihat Intan di penjara?" tanya Dion tiba-tiba.
"Untuk apa?" tanya balik Raka.
__ADS_1
"Untuk memastikan saja," kata Dion.
"Aku tidak perduli dengan nya. Yang aku perdulikan adalah keselamatan istri ku," kata Raka.
"Bagaimana jika ada pengacara ibunya yang datang hendak membebaskannya?" tanya Dion lagi.
"Biarkan saja, jika dia bebas anggap saja itu kemurahan tuhan untuknya agar menghirup udara bebas. Tapi jika dia kembali bertindak untuk menyakiti istri ku lagi, maka saat itu juga aku akan membunuhnya," kata Raka.
"Jadi kamu bakal biarin dia bebas begitu aja?" tanya Dion lagi.
"Hmm" Raka hanya berdehem.
"Ya udah, aku mau menyusul istriku," ucap Dion lalu mengangkat bokongnya dan berlari kelantai atas.
Sesampainya di lantai atas, Dion membuka pintu kamar yang berada di deretan pertama dengan perlahan.
Nampak lah istrinya yang sudah berbaring diatas ranjang, dan hanya mengenakan tentop dan celana pendek.
"Kenapa memakai pakaian seperti ini!" protes Dion.
"Lalu aku harus pakai apa? Aku kan gak bawa pakaian. Lagian Aira udah tidur, aku gak mau ganggu tidurnya," kata Syakila.
"Bilang aja kalo kamu sengaja mau membangunkan barang mati ini," tunjuk Dion pada pusaka mikinya yang mulai hidup.
"Kamu mesum, Pak tua!" jerit Syakila kala Dion mencubit payu**ra nya yang tidak memakai bra.
Dion segera memeluk istrinya lalu tubuh mereka berdua berguling di atas Ranjang.
"Pak tua, Aku capek loh!" protes Syakila.
"Sebentar aja sayang, semalam kan aku sudah puasa karena kamu tidur lebih awal," kata Dion.
Syakila pun pasrah saat Dion mulai menggerayangi tubuh Istrinya.
Dengan cepat, Dion membuka tentop yang di kenalan Istrinya.
Dia mulai bermain-main di bukit kembar itu, Ia memberikan sentuhan-sentuhan yang penuh sensasi hingga membuat sang empu merasakan kenikmatan yang luar biasa. Dion mencium bibir Syakila dengan lembut, dan Syakila membalas ciuman itu. Hingga lama kelamaan ciuman itu semakin dalam dan terjadi lah lum**an yang panas.
Kini Dion pun sudah membuka kemeja yang ia kenakan dan saat ia hendak membuka celananya, tiba-tiba pintu kamar itu diketuk.
Tok tok tok.
"Sayang, ada yang ngetuk pintu," kata Syakila.
"Sialan! Si Raka ni kayaknya iseng," gerutu Dion lalu bangkit dan berjalan ke arah pintu.
Cekrek, pintu di buka oleh Dion.
"Kila mana kak Dion?" tanya Aira sambil memasukan kepalanya kedalam kamar.
Mata Aira mendelik saat melihat Syakila bersandar di sandaran Ranjang dengan tubuh polos dan hanya di balut selimut putih yang tebal.
"Aira," ucap Syakila dengan wajah merah karena malu dan dengan cepat Ia menutup seluruh tubuhnya dan hanya kepalanya saja yang timbul.
"Heheehe, maaf! Aku datang di saat yang tidak tepat," kekeh Aira "Ini, aku mau ngasih ini." sambung Aira sambil memberikan baju piyama pada Dion.
Dion hanya garuk-garuk kepala, ia menjadi canggung menanggapi adanya Aira.
"Maaf ya," ucap Aira "Huss.. Huss.. Sana kak Dion masuk dan lanjutin pertempuran yang sempat tertunda," sambung Aira lalu mendorong perut rata Dion yang tidak memakai baju, masuk kedalam kamar.
Setelah itu dia keluar tak lupa ia menarik gagang pintu itu agar tertutup kembali.
"Huhh.." Dion menghela nafas "Mati lagi deh yang udah sempat bangun," gerutu nya.
"Apa sih yang?" tanya Syakila yang melihat suaminya cemberut.
"Ini ni, kan mati lagi," ucap Dion sambil memegang anak condannya yang terkulai lemas.
***Bersambung..!!
Maaf jika alur semakin tidak jelas 🙏🙏🙏
Happy reading..!!
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya..!! Beri othor dukungan agar othor makin rajin update.
😘😘😘***