Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Ketahuan (Briyan)


__ADS_3

"Kak Fira mau kemana?" tanya Aira pada Safira baru saja pamit ingin pergi.


"Kakak mau cari kontrakan dan juga pekerjaan, gak mungkin kan kakak harus tinggal di sini terus. Dan jadi beban buat kalian berdua," kata Safira.


"Bagus deh.. Sadar diri juga!" ketus Syakila yang baru saja datang dari arah dapur.


Safira hanya tersenyum masam mendengar perkataan kasar dari Adik nya itu. Sejujurnya ia merasa tidak enak hati dengan perkataan Adik nya, namun yang ia fikirkan. Wajar saja Adik nya berkata seperti itu, ia sangat sadar seperti apa dirinya di masa lalu.


"Maafkan semua kesalahan kakak ya Kila," ucap Safira kepada Syakila.


"Hmm.." Syakila hanya merespon dengan ber Hmm panjang.


"Kamu mau cari kontrakan kemana?" tanya Raka dengan expresi datar. "Jakarta itu luas, sedangkan kamu baru beberapa hari saja di Jakarta," sambungnya.


"Kemana saja, Tuan. Asal tidak lagi membebani kalian lagi." timbal Safira sambil menundukkan kepala nya.


"Gimana kalau kamu tinggal di kontrakan yang sebelum nya di huni Aira lalu Syakila," Raka menawarkan kontrakan yang sebelum nya pernah di huni Aira dan Syakila.


"Tidak usah, Tuan." tolak Safira. "Saya bisa cari kontrakan sendiri," sambungnya.


"Kakak pakai aja kontrakan itu, lagi pula sayang dengan kontrakan itu. Jangka waktu nya masih panjang, soalnya dulu mas Raka udah bayar sewa dalam jangka waktu yang lama. Begitupun dengan kak Dion." kata Aira panjang lebar.


Lain hal nya dengan Syakila, ia nampak semakin kesal kepada Safira. Ia fikir Safira sengaja mencari muka pada Aira, Raka dan juga suami nya.


"Benar kata Aira, Masih ada waktu beberapa bulan lagi untuk perpanjangan sewa nya!" sahut Dion.


"Tapi gimana ya?" bimbang Safira.


"Gimana apa nya? Kakak gak perlu lagi cari tempat tinggal, kakak tinggal fikirkan pekerjaan apa yang bisa kakak lakukan," kata Aira.


Lama Safira menimbang, akhirnya ia pun mau tinggal di kontrakan Aira dan Syakila. Walaupun ia tahu, bahwa Syakila sedikitpun tak setuju dan juga suka.


Akhirnya siang hari itu, Safira pindah ke kontrakan yang dulu nya pernah di tinggali Aira dan Syakila. Ia pergi di antar oleh mang Jajang yang sebelum nya sudah di telpon oleh Raka.


***

__ADS_1


"Sebenernya ada apa sih?" tanya Cindy kepada Suami dan anak nya.


"Gak ada apa apa!" sahut Briyan dengan cepat.


"Jujur sama aku, Kak. Aku ini istri kamu!" Cindy menatap wajah suami nya dengan lekat.


"Serius gak ada apa-apa! Emang nya kenapa sih?" tanya Briyan yang pura-pura tak terjadi apa-apa pada dirinya.


"Sekarang Bian jawab ibu, ada apa sama ayah? Apa yang Bian ketahui tentang ayah?" tanya Cindy pada putranya.


Bian yang merasa terintimidasi oleh sang Ibu pun menjadi ketakutan. Pasalnya, ia jarang sekali melihat ibu nya seperti itu.


"Bian jawab Ibu dong! Jangan diam." bentak Cindy, ia kesal kepada putranya yang ikutan tak menjawab.


"Huwaa.. Bian kan gak nakal, kok ibu marahin Bian!" tangis Bian pecah lantaran di bentak oleh sang ibu.


"Cindy..! Gak seharusnya kamu paksa dan bentak dia, dia masih kecil!" Briyan pun membentak Cindy.


"Ibu gak marah sama Bian, ibu cuman pengen tahu. Apa yang di sembunyiin ayah dari kita, itu aja." kata Cindy pada anaknya tanpa menghiraukan bentakan dari sang Suami.


"Sa-sa-sakit, ayah sakit!"


"Iya, ayah sakit. Tapi ayah gak mau kasih tahu kita," kata Bian di sela tangis nya.


"Benar kakak sakit?" tanya Cindy pada Briyan.


"Eng-gak." timbal Briyan terbata-bata.


"Tapi Bian bilang kamu sakit, anak kecil gak mungkin bohong," kata Cindy dengan raut wajah yang sulit di artikan.


"Ayah sakit bu, Bian lihat sendiri ayah nangis di temani Om Vino!" jelas Bian lagi.


"Di mana Bian lihat nya?" tanya Cindy lebih lanjut.


"Di sana!" tunjuk Bian pada ujung ruang tengah. "Waktu ibu ke Supermarket kemaren, ayah dan Om Vino pulang. Dan Bian lihat ayah nangis sambil megangin kaki nya," kata Bian yang tangis nya sudah mulai redam.

__ADS_1


"Kakak masih gak mau kasih tahu aku! Kakak anggap aku apa? Orang lain?" Tanya Cindy pada Briyan dengan raut wajah kecewa.


"Maafin aku," ucap Briyan dengan lirih.


"Ternyata kakak masih sama kayak Briyan yang dulu, yang gak pernah anggap aku ada!" Air mata Cindy mulai menetes, ia beranggapan bahwa suami nya tak menggap nya ada.


"Kamu salah mengartikan Cindy, aku sayang sama kamu dan anak kita. Aku sengaja gak kasih kasih tahu kamu mengenai kaki ku, karena aku gak mau kamu banyak fikiran, dan susah gara-gara ngurus aku yang cacat ini," ucap Briyan dengan mata yang memerah.


"Harusnya kakak kasih tahu aku, aku ini istri kakak." kata Cindy. "Dengan kayak gini, emang kakak fikir kakak bisa melewati ini sendirian?" sambung Cindy.


Di tengah-tengah pertengkaran mereka, tiba-tiba Asisten Vino datang.


"Ada apa ini?" tanya Asisten Vino yang baru saja masuki Rumah itu.


"Om, bantuin ayah. Ibu marahin ayah," adu Bian kepada Asisten Vino.


"Ibu kamu marah kenapa?" tanya Vino.


"Ibu marah karena ayah sakit." jawab Bian.


"Bian masuk kamar dulu ya, biar Om yang selesaikan masalah Ibu dan Ayah Bian," kata Asisten Vino sambil menggendong Bian dan berjalan menuju kamar milik Bian.


Setelah itu, Asisten Vino kembali ke ruang tengah tempat Cindy dan Briyan berada.


"Tuan, Nyonya!" panggil Asisten Vino.


"Kak Vino, tolong jelaskan! Kenapa dengan kaki kak Briyan?" tanya Cindy yang mendekat pada Asisten Vino.


"Mungkin Nyonya tahu penyebab terjadinya mengapa kaki Tuan Briyan sampai seperti itu," ucap Asisten Vino dan di angguki oleh Cindy.


"Kaki Tuan Briyan harus menjalankan terapi rutin agar cepat pulih, tapi akhir-akhir ini Tuan sudah jarang menjalankan terapi. Dan hal itu membuat kaki nya menjadi kembali sering sakit seperti saat baru pertama mengalami kecelakaan dulu," sambung Asisten Vino.


Cindy kembali menangis, ia bingung harus bagaimana?


"Aku berjanji akan melakukan terapi lagi agar aku bisa sembuh," ucap Briyan tiba-tiba.

__ADS_1


"Kembali lah seperti Briyan yang dulu, yang penuh semangat dan keinginan," ucap Asisten Vino. "Kalau begitu, saya mohon undur diri. Saya yang akan mengurus semua pekerjaan kantor untuk sementara waktu ini, agar Tuan bisa fokus pada pengobatan kaki Tuan," sambung Asisten Vino dan setelah itu ia pergi meninggalkan sepasang anak manusia yang saling diam di tempat mereka masing-masing.


__ADS_2