
Briyan dan Cindy berpamitan dengan pemilik cafe itu, sekalian Cindy langsung pamit undur diri. Pemilik cafe pun memahami keadaan Cindy saat ini, dan langsung memperbolehkan Cindy keluar.
Setelah ber pamitan, Cindy dan Briyan langsung menuju kontrakan di mana tempat Cindy dan putra mereka tinggal selama ini.
"Masih jauh enggak?" tanya Briyan.
"Enggak, di depan situ!" tunjuk Cindy pada rumah yang berjejer di tempat yang padat penduduk.
"Apakah putra kita mau nerima aku?" tanya Briyan dengan ragu.
"Pasti lah! Setiap malam Bian selalu nanyain kakak," kata Cindy. "Mobil gak bisa masuk kesana kak, jalannya masuk gang," sambung Cindy.
"Don't worry, kita kan bisa jalan!" timbal Briyan.
"Emang kaki kakak gak apa-apa di pake jalan kaki? Sekitar sepuluh menitan lagi loh!" kata Cindy.
"Gak papa! Kita turun di sini," kata Briyan saat mobil mereka berhenti.
"Iya, yuk kita turun!" Cindy membantu Briyan turun dari mobil itu.
Mereka memasuki gang sempit itu, yang hanya bisa di lalui oleh motor dan pejalan kaki saja.
Jalan yang berlubang dan juga becek.
"Pelan-pelan kak, awas jatuh!" Cindy menuntun Briyan yang kesusahan.
"Hmm, susah ya jalan sama orang cacat," ucap Briyan tiba-tiba.
"Loh! Kakak ngomong apa sih!" bentak Cindy. "Kalo kakak ngomong kayak gitu di depan anak kita, dia bakalan sedih tau gak!" imbuh Cindy.
"Iya maaf," kata Briyan.
Tak lama kemudian, mereka sampai di depan kontrakan yang di maksud Cindy.
Banyak mata para ibu-ibu yang menatap heran pada Briyan dan Cindy.
"Siapa itu Cindy?" tanya seorang ibu-ibu.
"Ini lah suami Cindy bu! Ayah nya Bian." timbal Cindy pada ibu itu.
"O, emang ayah Bian dari mana? Kok sudah sekian tahun baru datang?" tanya ibu itu lagi dengan sopan tapi berniat ingin mempermalukan Cindy.
"Maaf ibu-ibu, saya baru pulang dari luar negeri, dan pekerjaan saya di sana tidak bisa di tinggalkan. Maka dari itu saya tidak pernah pulang," kata Briyan "Dan karena suatu insiden, Saya teringat dengan istri dan anak saya yang sudah lama saya tinggalkan. Maka saya putuskan untuk pindah dan menetap di Indonesia." sambung Briyan pada kerumunan ibu-ibu itu.
"Menikah tapi tidak serumah," ledek pada ibu-ibu yang tidak suka kepada Cindy. Bukan tidak suka apa-apa, melainkan mereka iri dengan kecantikan yang di miliki oleh Cindy.
Cindy dan Briyan melewati para ibu-ibu itu.
Cindy mengetuk pintu kontrakan mbak Yani.
__ADS_1
Tok tok tok..
Beberapa kali mengetuk, pintu itu pun di bukakan oleh mbak Yani.
"Loh! Kok jam segini sudah pulang Cin?" tanya mbak Yani pada Cindy, karena tidak biasanya Cindy pulang awal.
"Bian mana mbak?" tanya Cindy "Oiya, Cindy sampe lupa. Ini kenalin mbak, ayah nya Bian," sambung Cindy, memperkenalkan Briyan pada mbak Yani.
"Oh, ini papanya Bian. Tampan ya! Pantes aja Bian tampan, ternyata bener kata kamu Cin, Bian mirip papanya," kata Mbak Yani.
"Kenalkan, saya Briyan, mbak," kata Briyan sopan. "Bisa tolong panggilkan Bian mbak?" sambung Briyan.
"Oh, iya saya panggilkan sebentar. Mari masuk dulu," kata Mbak Yani mempersilahkan Cindy dan Briyan masuk.
Namun belum juga mereka masuki rumah itu, Bian si pangeran kecil sudah lebih dulu berlari keluar.
"Ibu..!" Bian berlari dan bergelayut manja di pinggang sang Ibu.
"Sayang, kamu nakal enggak? Gak berantem kan sama si kembar RR?" tanya Cindy pada anaknya.
"Enggak dong, Bian kan gak boleh nakal. Kalo Bian nakal, nanti ayah gak pulang-pulang," kata Bian dengan polosnya.
Perkataan Bian, sukses membuat Briyan menjadi semakin merasa bersalah.
"Bian.. Anak ayah," panggil Briyan dengan mata memerah.
"Bu, apa om ini ayah Bian?" tanya Bian.
Dan di angguki oleh Cindy. "Iya, dia ayah Bian. Ayah datang buat jemput kita," kata Cindy dengan senyuman yang di iringi dengan tetesan air mata.
Bian melepaskan pelukannya dari Cindy, dan beralih pada Briyan.
"Apa Bian boleh peluk ayah?" tanya nya pada Briyan.
"Sini sayang," ucap Briyan sambil merentangkan tangannya.
Bian mendekati Briyan, lalu memeluk kaki sang ayah dengan erat.
"Ayah jangan pergi lagi," kata Bian "Bian gak mau jaga ibu sendirian lagi," sambungnya sambil menangis.
"Maafkan ayah sayang, ayah janji gak akan ninggalin kamu dan ibu lagi," ucap Briyan.
Ingin rasanya ia menggendong tubuh putranya. Namun ia tak mempunyai kekuatan. Memiliki tenaga yang banyak pun percuma, jika kakinya tidak mampu bertahan.
"Yuk, kita pulang!" ajak Cindy. "Gak enak sama ibunya RR, kita ganggu ketenangan mereka," sambung Cindy.
"Iya, lebih baik, kamu ajak Ayah Bian istirahat dulu, Cindy. Kasian dia kan baru sampai," kata mbak Yani.
"Makasih ya mbak, Cindy pulang dulu," pamit Cindy.
__ADS_1
"Sini sayang, gendong ibu," kata Cindy pada putranya yang menempel pada sang ayah.
"Bian mau gendong ayah, bu!" timbal Bian.
Briyan tersenyum kecut, keinginan hatinya memang ingin memeluk dan menggendong tubuh kecil itu. Namun ia tidak bisa.
"Bian gendong ibu, kaki ayah masih sakit," ucap Cindy, memberi pengertian kepada putranya.
"Kaki ayah sakit?" tanya Bian dan di angguki oleh Briyan. "Kalau gitu, Bian jalan aja bu! Bian mau bantuin ayah jalan," sambung bocah polos itu.
Ia pun berjalan sambil memegangi tangan kanan Briyan.
Kontrakan Mbak Yani dan Cindy memang hanya berjarak beberapa meter saja.
Sesampainya mereka di dalam kontrakan mereka, Cindy segera membuatkan teh hangat untuk Briyan.
"Duduk dulu di sini kak, Cindy mau buat minum dulu," kata Cindy sambil menyuruh Briyan duduk di kursi rotan yang ada di dalam kontrakan itu.
"Sejak kapan kalian berdua tinggal disini?" tanya Briyan sambil duduk perlahan di kursi rotan itu.
Bian pun ikut serta duduk di samping sang ayah.
"Sejak umur Bian 2 tahun setengah." jawab Cindy.
"Sebelumnya?" tanya Briyan lagi.
"Sebelumnya, aku pindah-pindah tempat. Karena di usir oleh warga, mereka tidak mengizinkan aku tinggal di lingkungan mereka karena hamil tanpa suami," kata Cindy dengan menundukkan wajahnya. "Sebelum Bian lahir hingga umur 2 tahun setengah, mungkin lebih dari tujuh kali aku pindah-pindah." sambungnya.
Briyan menghela nafas dengan perlahan.
"Maafkan aku," ucap Briyan penuh dengan penyesalan.
"Bukan salah kakak sendiri, ini semua juga salah ku," kata Cindy sambil tersenyum kecil.
"Kenapa kamu pergi dari rumah dan memilih berpindah-pindah tempat?" tanya Briyan lagi.
"Bukan pergi kak, tapi di usir. Mama dan papa sangat malu dengan keadaan ku yang mengandung saat itu, jadi mereka mengusirku dari rumah," jelas Cindy dan membuat Briyan semakin bersalah lagi.
"Sungguh Cindy, maafkan aku yang tidak punya hati ini," kata Briyan. "Aku janji, mulai saat ini! Aku akan mencoba untuk menebus semua khilaf dan kesalahan ku di masa lalu." sambungnya.
"Ayah sama ibu berantem ya? Makanya pisahan?" tanya Bian yang menyimak obrolan ibu dan ayahnya.
"Enggak sayang, ibu sama ayah pisah. Karena ke hendak tuhan, dan sekarang kita di satuin lagi. Kita harus berdoa sama tuhan, supaya gak di pisahin lagi," kata Cindy sambil mengelus pucuk kepala putra kecilnya.
***Bersambung..!!
Nyempetin up😂😂
AWAS BANYAK TYPO🏃♀️🏃♀️🏃♀️***
__ADS_1